NovelToon NovelToon
SKETSA PUTIH BIRU

SKETSA PUTIH BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:274
Nilai: 5
Nama Author: Aurentina Bulolo

Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Payung Untuk Dua Remaja

Momen manis di hari Senin sore itu melekat erat di kepala Auren. Catatan tulisan tangan Evan di lembar pertama buku sketsa birunya selalu berhasil membuat dadanya berdesir setiap kali ia membuka tas. Namun, seiring berjalannya waktu, bulan November datang membawa perubahan suasana di sekolah menengah mereka. Langit di atas kelas 7-B seolah tidak pernah kehabisan stok awan mendung.

Hari itu, hari Kamis yang melelahkan setelah ujian harian sejarah selesai, ramalan langit benar-benar terbukti. Begitu bel panjang tanda pelajaran usai berdering nyaring, gemuruh petir langsung menyahut di kejauhan. Hanya dalam hitungan menit, air tercurah sangat deras dari langit, menciptakan tirai air raksasa yang mengurung seluruh murid di selasar bangunan kelas lantai satu.

Auren berdiri di dekat pilar beton koridor, memandangi halaman sekolah yang kini berubah menjadi genangan air yang luas. Gadis itu meremas tali tas ranselnya dengan cemas, merutuki kecerobohannya sendiri karena lupa memasukkan payung lipat kecilnya ke dalam tas tadi pagi. Teman-teman sekelasnya satu per satu mulai dijemput, atau nekat menerobos hujan dengan melipatkan jaket di atas kepala mereka.

Saat Auren sedang menimbang-nimbang apakah ia harus menunggu hingga hujan reda—yang tampaknya akan memakan waktu berjam-jam—sebuah langkah kaki yang santai mendekat ke arahnya.

Tok... tok...

Bukan mengetuk meja, melainkan ketukan jari pada pilar beton tepat di sebelah bahu Auren. Gadis itu menoleh dan mendapati Evan sudah berdiri di sana. Cowok itu tersenyum tipis, memamerkan lesung pipitnya yang samar, sementara tangan kanannya memegang sebuah payung berukuran sedang dengan warna biru tua yang senada dengan warna rok SMP mereka.

"Gak bawa payung lagi ya, Sekretaris?" tebak Evan jahil, menyenggol pelan lengan Auren dengan sikunya.

"Iya, lupa," jawab Auren pelan, menyembunyikan wajahnya yang mendadak sedikit memanas. "Kamu mau langsung balik, Van?"

"Tadinya sih mau nunggu, tapi kayaknya hujannya makin awet," Evan menatap langit abu-abu di atas mereka, lalu membuka payung biru tuanya dengan satu sentakan mantap. Suara deru air yang menghantam kain payung terdengar begitu riuh. Evan melangkah satu kaki ke area yang terkena air hujan, lalu menoleh ke arah Auren sambil memiringkan payungnya ke arah gadis itu.

"Yuk, balik bareng. Gue anterin sampai halte depan komplek."

Auren sempat ragu, matanya melirik ke arah ukuran payung Evan yang tidak terlalu besar. "Gak kekecilan, Van? Nanti baju kamu malah basah setengah."

"Enggak bakal. Sini dekat-dekat, makanya jangan jauh-jauh," kata Evan, nadanya melunak namun terdengar sangat menuntut.

Auren akhirnya melangkah masuk ke bawah naungan payung biru tersebut. Begitu tubuhnya mendekat, jarak di antara mereka seolah lenyap. Bahu kiri Auren bersentuhan langsung dengan bahu kanan Evan, mengirimkan rasa hangat yang kontras dengan udara sore yang sangat dingin. Mereka mulai melangkah beriringan keluar dari selasar sekolah, menembus derasnya rintik hujan yang mengguyur bumi.

Suasana di bawah payung itu mendadak terasa begitu sunyi, padahal di sekeliling mereka suara gemercik air terdengar sangat bising. Auren bisa mendengar dengan jelas suara napas Evan yang teratur di sebelahnya. Setiap kali langkah sepatu mereka menginjak genangan air, detak jantung Auren rasanya berdegup jauh lebih kencang daripada suara guntur di langit.

Di tengah jalan menuju gerbang luar, sebuah mobil melintas dengan cukup cepat di samping mereka, mencipratkan air genangan yang cukup tinggi.

"Eh, awas, Ren!"

Dengan gerakan refleks yang sangat cepat, Evan melingkarkan lengan kirinya di bahu Auren, menarik tubuh gadis itu merapat ke arah dadanya untuk melindunginya dari cipratan air. Payung biru di tangan kanan Evan sengaja ia miringkan sepenuhnya ke arah Auren, mengorbankan sebagian besar bahu dan lengan seragam putihnya sendiri terendam air hujan yang dingin.

Auren terpaku di tempatnya. Untuk beberapa detik, langkah kaki mereka terhenti di tengah jalan yang basah. Wajah Auren tenggelam di dekat dada seragam Evan, membuatnya bisa mendengar detak jantung cowok itu yang ternyata... berdegup sama kencangnya dengan detak jantungnya sendiri. Aroma wangi parfum bercampur rintik hujan dari tubuh Evan menguar kuat, membuat Auren seolah lupa bahwa mereka sedang berada di tengah badai sore hari.

Evan perlahan melepaskan rangkulannya di bahu Auren, namun jemarinya beralih menggandeng pergelangan tangan Auren dengan lembut, menuntunnya kembali berjalan dengan langkah yang lebih hati-hati.

"Gak apa-apa? Ada yang basah gak?" tanya Evan, suaranya terdengar sangat cemas saat melirik ke arah rok Auren.

Auren menggeleng pelan, wajahnya kini dipastikan sudah merona merah jambu sempurna. "Aku gak apa-apa, Van. Tapi... baju kamu jadi basah setengah begitu."

Evan melirik bahu kanannya yang kini basah kuyup karena melindungi Auren, lalu cowok itu tertawa kecil seolah hal itu sama sekali bukan masalah besar baginya. Ia mempererat sedikit genggamannya pada pergelangan tangan Auren, memastikan gadis itu tetap berada dalam jarak terdekatnya di bawah payung biru mereka.

"Cuma basah gini doang gak bakal bikin ketua kelas sakit, Ren," bisik Evan pelan, menatap mata Auren dengan sorot mata hangat yang begitu dalam. "Yang penting sekretaris gue gak kehujanan."

Di bawah naungan langit sore bulan November yang abu-abu dan dingin itu, mereka terus berjalan beriringan dengan jemari yang saling bertautan erat. Air hujan yang mendinginkan bumi sore itu tidak mampu mengurangi rasa hangat yang kian tumbuh membesar di dalam dada dua remaja berusia dua belas tahun tersebut. Sebuah momen sederhana di balik tirai air, yang diam-diam dicatat oleh Auren sebagai lembaran paling romantis dalam sketsa putih-birunya yang abadi.

Auren menunduk, menatap jemari Evan yang melingkar hangat di pergelangan tangannya. Gesekan pelan dari kulit mereka terasa begitu nyata di tengah derasnya rintik hujan yang menghantam payung biru di atas kepala. Air hujan yang mengalir di aspal menciptakan aliran-aliran kecil di dekat sepatu mereka, namun bagi Auren, dunia seolah menyempit hanya seluas lingkaran payung ini.

"Van, halte depan masih agak jauh. Seragam kamu bisa basah kuyup semua kalau payungnya terus dimiringin ke aku," kata Auren setengah berbisik, mencoba mengalahkan suara gemuruh air di sekitar mereka.

Evan tidak langsung menjawab. Ia justru sedikit merapatkan jarak berdiri mereka hingga lengan mereka kembali bersentuhan. "Kan tadi gue udah bilang, Ren. Sini, makin dekat aja biar lo gak kena tampias angin. Lagian, seragam basah itu urusan gampang, tinggal dijemur juga kering lagi besok."

Auren merasakan dadanya kembali bergejolak oleh debaran yang kencang. Di bawah kungkungan langit abu-abu November, ia bisa mencium aroma samar minyak wangi Evan yang menguap hangat karena suhu tubuh cowok itu. Rasanya aneh, di tengah cuaca sedingin ini, pipi Auren justru terasa terbakar hebat.

Mereka melanjutkan langkah dengan ritme yang lambat dan sengaja diperlambat. Evan tampaknya tidak terburu-buru untuk sampai ke halte, dan Auren pun diam-diam berharap jalanan ini memanjang tanpa ujung. Setiap kali genangan air yang agak dalam menghadang di depan mereka, Evan akan mempererat genggamannya pada pergelangan tangan Auren, menuntun langkah gadis itu dengan sangat hati-hati layaknya menjaga sesuatu yang sangat rapuh.

"Ren," panggil Evan tiba-tiba, memecah kesunyian di antara mereka.

"Iya, Van?"

"Buku sketsa dari gue... semalam lo bawa pulang, kan?" tanya Evan sambil melirik sekilas ke arah tas ransel Auren yang digendong di belakang.

Auren mengangguk pelan. "Iya, selalu aku bawa di dalam tas kok."

Evan tersenyum tipis, memamerkan lesung pipit tipis di pipi kanannya yang basah terkena sedikit percikan air. "Bagus deh. Nanti malam kalau hujannya masih turun di rumah lo, coba buka halaman kedua ya."

Kening Auren berkerut halus karena penasaran. "Halaman kedua? Emangnya ada apa? Kan masih kosong, belum aku gambar apa-apa."

"Ada sesuatu," jawab Evan misterius, sengaja menahan tawa kecilnya agar Auren semakin penasaran. "Pokoknya nanti malam lo lihat aja sendiri pas lagi belajar."

Percakapan misterius itu terhenti saat langkah kaki mereka akhirnya sampai di area teduh halte depan kompleks sekolah. Evan perlahan menutup payung biru tuanya, mengibaskan sisa-sisa air yang menempel di kain payung dengan satu sentakan kuat, lalu menyandarkannya di tiang halte.

Saat berdiri di bawah lampu halte yang remang, Auren baru menyadari betapa parahnya kondisi Evan. Seluruh bahu kanan hingga lengan baju seragam putih cowok itu sudah basah kuyup, bahkan rambut poninya tampak lepek dan menempel di dahi akibat air hujan yang tertiup angin kencang selama perjalanan tadi. Sementara itu, kondisi Auren benar-benar bersih dan kering tanpa terkena setetes air pun.

Auren langsung didera rasa bersalah yang teramat sangat. Tanpa berpikir panjang, ia membuka tasnya, mengambil sebungkus tisu kering yang selalu ia bawa, lalu menyodorkannya ke hadapan Evan. "Van... tuh kan, basah semua baju kamu. Rambut kamu juga lepek gitu. Nih, pakai tisunya buat ngeringin muka dulu."

Evan menerima tisu itu, namun bukannya membersihkan wajahnya sendiri, ia justru menggunakannya untuk menyeka beberapa butir air yang sempat menempel di ujung tas ransel Auren dengan gestur yang sangat lembut. Setelah selesai, barulah ia mengusap sisa air di kening dan rambutnya sendiri sambil terkekeh pelan.

"Gak apa-apa, Sekretaris. Cowok mah kuat, gak bakal langsung meriang cuma gara-gara air hujan," ujar Evan santai, mencoba menenangkan kekhawatiran Auren yang terpancar jelas dari sepasang matanya.

Tak lama kemudian, angkutan umum yang ditunggu Auren perlahan menepi di depan halte. Auren menoleh ke arah Evan dengan berat hati, merasa tidak tega meninggalkan cowok itu sendirian di halte dalam kondisi baju yang basah setengah.

"Aku... duluan ya, Van. Kamu langsung balik ya, buruan mandi pakai air hangat biar gak masuk angin," pesan Auren penuh perhatian sebelum melangkah masuk ke dalam angkutan.

"Iya, bawel. Hati-hati di jalan ya, Ren," jawab Evan sambil melambaikan tangan kirinya, sementara tangan kanannya kembali memegang payung birunya yang masih basah.

Sepanjang perjalanan pulang di dalam angkutan umum yang bising oleh suara rintik hujan yang menghantam atap besi, pikiran Auren sama sekali tidak bisa lepas dari sosok Evan. Dan begitu sampai di kamarnya yang hangat, hal pertama yang ia lakukan adalah langsung membuka tas ranselnya, meraba bagian terdalam, lalu mengeluarkan buku sketsa tebal berwarna biru langit pemberian Evan

Dengan jantung yang berdegup kencang karena rasa penasaran yang memuncak, Auren perlahan membuka lembar pertama yang berisi gambar siluet Evan tempo hari. Kemudian, jemarinya membalik kertas tebal itu ke halaman kedua yang seharusnya masih kosong melompong.

Kedua mata Auren seketika membelalak. Di sana, di tengah halaman putih yang bersih, ternyata sudah ada sebuah tulisan tangan yang digoreskan menggunakan pulpen gel hitam milik Evan—tulisan yang tampaknya sengaja ia buat secara rahasia sebelum menyerahkan buku itu kepada Auren hari Sabtu lalu.

“Untuk lembar kedua dan seterusnya, gue pengin tahu... di sketsa putih-biru lo nanti, posisi gue bakal tetap jadi ketua kelas biasa, atau udah berubah jadi seseorang yang paling berharga di hidup lo?”

Auren membekap mulutnya sendiri dengan tangan kanan, merasakan letupan kebahagiaan yang luar biasa hebat membuncah di dalam rongga dadanya. Di balik jendela kamarnya yang buram karena basah oleh rintik hujan bulan November, Auren tersenyum sangat manis sambil memeluk buku biru itu erat-erat di dadanya. Sore itu, di bawah dinginnya guyuran air hujan, satu hal yang ia ketahui dengan pasti: hatinya telah benar-benar jatuh sepenuhnya pada cowok yang berbagi teduh bersamanya di bawah langit abu-abu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!