NovelToon NovelToon
Dicampakkan Suami, Aku Jadi Pengusaha Sukses

Dicampakkan Suami, Aku Jadi Pengusaha Sukses

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Penyesalan Suami / Orang Disabilitas
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Kania mengira pernikahannya dengan Firman adalah takdir bahagia. Selama dua tahun, Firman menjadi suami sempurna sekaligus pahlawan yang menyelamatkan ekonomi keluarganya.

Meski hidup dengan disabilitas pada kaki kirinya akibat sebuah kecelakaan, Kania tak pernah menyerah menjalani hidup. Ia percaya, selama Firman tetap berada di sisinya, semua kekurangan itu bukanlah penghalang untuk meraih kebahagiaan.

Namun, saat perusahaan Firman bangkrut, badai besar menghantam rumah tangga mereka.

Pria yang pernah berjanji akan terus menggenggam tangannya mendadak berubah dingin. Lalu, seorang wanita dari masa lalu Firman datang menawarkan suntikan dana untuk menyelamatkan perusahaan dengan satu syarat, Firman harus membuang Kania dari hidupnya.

Demi mengembalikan kejayaan dan mempertahankan ambisinya, Firman tak ragu mengkhianati janji suci pernikahan mereka.

Terluka hebat, Kania memutuskan pergi meraih kebahagiaannnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 9 Dianggap Pembantu

Kania meletakkan empat kantong plastik besar yang penuh sesak ke atas meja makan dengan napas terengah-engah.

Keringat sebesar biji jagung membasahi dahinya.

Belum sempat ia duduk untuk mengistirahatkan kakinya yang terasa kebas, sebuah suara melengking sudah lebih dulu menyambutnya dari arah ruang tengah.

"Darimana saja kamu? Kenapa lama sekali?!" omel Tuti yang berjalan menghampiri dengan wajah ditekuk dan tangan berkacak pinggang.

Matanya menatap tajam ke arah kantong belanjaan, lalu beralih menatap Kania dari atas sampai bawah dengan tatapan meremehkan.

Kania menunduk, mencoba mengatur napasnya.

"M-maaf, Bu. Tadi di pasar antreannya panjang. Lagipula, kan aku nyari bahan-bahan yang Ibu suruh harus mewah kualitasnya. Daging sapi impornya susah dicari, udang windu yang ukurannya besar juga harus pindah ke tiga los pasar dulu baru ketemu," jawab Kania dengan nada selembut mungkin, berusaha membela diri tanpa terkesan melawan.

Tuti mendengus kasar, memutar bola matanya malas.

"Alasan saja kamu ini! Bilang saja kamu jalannya memang lelet karena kakimu yang pincang itu, kan? Makanya, kalau disuruh itu geraknya yang cepat, jangan letoy!"

Hati Kania mencelos mendengar hinaan fisik yang keluar dari mulut ibu mertuanya sendiri. Namun, pantang bagi Kania untuk membalas ucapan wanita yang telah melahirkan suaminya itu. Ia hanya diam, menelan ludah yang terasa sepahit empedu.

"Ya sudah! Berdiri saja terus di situ seperti patung!" bentak Tuti lagi, membuyarkan lamunan Kania. "Masak sana! Jangan sampai teman-temanku datang ke sini nanti siang, tapi belum ada apa-apa di meja makan! Aku bisa malu dibilang tuan rumah yang pelit!"

Kania mengangguk pelan. Ia mengikat rambut panjangnya ke belakang dan memakai celemek.

Saat melihat bahan masakan yang menggunung dan waktu yang tersisa tinggal dua jam, Kania memberanikan diri menoleh.

"Ibu nggak mau bantu Kania potong-potong sayurannya? Bahannya banyak sekali, Bu. Takutnya Kania kewalahan dan waktunya tidak cukup," pinta Kania dengan ragu-ragu.

"Apa kamu bilang?!" Suara Tuti meninggi seketika. Matanya melotot seolah Kania baru saja meminta nyawanya. "Ogah! Ibu mau mandi terus dandan yang cantik. Masa nyonya rumah tangannya bau bawang dan amis ikan pas menyambut tamu? Dengar ya, Kania, aku ini yang punya rumah, jadi tugasku cuma duduk manis. Kamu kerjakan semuanya sendiri!"

Setelah mengatakan itu, Tuti melenggang pergi begitu saja meninggalkan Kania sendirian di dapur yang sunyi.

Kania hanya bisa menghela napas panjang. Ia mengusap sudut matanya yang tiba-tiba memanas, lalu mulai meraih pisau daging.

Meski kakinya tidak sempurna dan sering terasa nyeri jika dipaksa berdiri terlalu lama, kedua tangan Kania sangat cekatan. Beruntung, ia mewarisi bakat memasak dari almarhumah ayahnya.

Pisau di tangannya bergerak lincah mengiris bumbu. Aroma harum dari tumisan bawang, rempah-rempah sapi lada hitam, hingga wangi gurih udang saus padang mulai menguar memenuhi seluruh sudut rumah.

Kelebihan Kania di dapur seolah mampu menutupi segala kekurangan fisiknya. Ia memasak dengan sepenuh hati, berharap mertuanya akan bangga padanya hari ini.

***

Tepat pukul satu siang, suasana ruang tamu sudah riuh rendah oleh tawa belasan ibu-ibu sosialita. Mereka tampil mewah dengan perhiasan emas yang sengaja dipamerkan.

Tuti duduk di tengah-tengah mereka, tersenyum bangga memamerkan kalung barunya.

Kania yang masih mengenakan baju sederhana, meski sudah mencuci muka dan merapikan rambut, lalu berjalan tertatih keluar dari dapur. Tangannya membawa nampan berisi teko es sirup dan gelas. Ia menatanya dengan sangat hati-hati di meja ruang tamu, lalu melangkah mundur untuk memberikan ruang.

Di meja makan yang terletak tak jauh dari ruang tamu, hidangan sudah tersaji lengkap dan cantik bagai di restoran bintang lima.

"Wah, Jeng Tuti! Ini makanan di meja baunya menggugah selera banget, sih!" puji Tante Rina, salah satu teman arisan Tuti yang baru saja mengambil piring. Ia menyendok daging sapi lada hitam ke mulutnya.

"Ya ampun! Jeng, ini dagingnya empuk banget! Masakannya enak-enak sekali, bumbunya meresap sampai ke dalam!"

"Iya benar! Udang saus padangnya juga juara. Bintang lima ini mah!" timpal Tante Sisca ikut mencicipi. "Siapa yang masak ini, Jeng? Catering dari mana? Mau dong nomor teleponnya."

"Ah, masa catering sih?" sahut seorang ibu lain yang duduk di sofa. Ia melirik sekilas ke arah Kania yang sedang berdiri menunduk sopan di dekat nakas.

"Pasti menantunya Jeng Tuti yang masak, ya? Wah, beruntung banget Jeng Tuti punya menantu rajin dan pintar masak begini."

Mendengar pujian itu, Kania tak kuasa menyembunyikan rasa senangnya. Wajah lelahnya seketika merona. Ia menunduk malu sembari tersenyum kecil.

Ada sebersit harapan di hatinya bahwa hari ini, untuk pertama kalinya, mertuanya akan mengakui keberadaannya dan menghargai kerja kerasnya di depan orang banyak. Kania sudah siap jika Tuti memanggilnya untuk mendekat.

Namun, harapan itu hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.

Tuti meletakkan cangkir tehnya dengan kasar. Matanya melirik sinis ke arah Kania, penuh peringatan tajam, sebelum akhirnya ia menoleh ke arah teman-temannya dengan tawa renyah yang dibuat-buat.

"Hahaha! Menantu apanya, Jeng?" sahut Tuti lantang, nada suaranya terdengar meremehkan. "Bukan! Masakan ini yang buat pembantuku!"

Jantung Kania seolah berhenti berdetak saat itu juga.

Senyum di bibirnya perlahan luntur, berganti dengan getaran samar di dagunya.

Pembantu?

Setelah semua keringat, rasa sakit di kakinya yang dipaksa berdiri berjam-jam, dan rasa cintanya untuk menyiapkan hidangan terbaik demi menjaga nama baik keluarga ini... mertuanya dengan mudah menyebutnya pembantu?

Suasana mendadak sedikit canggung. Beberapa teman Tuti saling pandang, jelas-jelas mengetahui status Kania sebagai istri dari putra Tuti. Namun, tak ada yang berani bersuara lebih jauh.

Tuti kembali tertawa riang, melanjutkan obrolan pamer hartanya seolah baru saja tidak menghancurkan hati manusia lain.

Kania menelan rasa sesak yang mencekik tenggorokannya. Matanya memerah menahan bulir air mata yang memaksa turun. Tapi ia tetap diam sembari meremas ujung bajunya erat-erat, lalu membungkuk hormat dengan sangat sopan sebelum melangkah kembali ke dapur, membawa luka yang semakin menganga di hatinya demi menghargai mertuanya.

"Sabar Kania, sabar," batinnya perih.

1
Ma Em
Ayo Kania semangat tunjukan pesonamu didepan mantan suamimu dan pelakor bahwa setelah Kania dibuang oleh firman , kania makin sukses .
Nice1808
cie cie pak abimanyu ada rasa tapi msh gengsi😂😂😂
tinie
ok mas abii
sambil tanganku nelambai🤣🤣🤣
Dede Maesaroh
mantap mas abi😍
MamDeyh
Siap mas Abi/Tongue/
Itin
disini saya melihat seorang kakak yang menyayangi adiknya dan mau mendidiknya. walaupun dengan cara yang menyakitkan.
Itin
nikmatilah pilihanmu....
Deasy Suryandari
wuuiihh mantap
Dede Maesaroh
keren abiyu🥰
tinie
apakah mawar adik tiri🤔🤔
TPI dia bilang adik satu satunya

dari awal fillingku itu menggunakan firman pasti ingin merebut sesuatu dari sang Abang
hemm
Nice1808
bagus abi biar mawar gk sok lagi🤣🤣merebut suaminya kania dan skrg kania bersama kakaknya mawar🤣😂
Nice1808
hahhaha Firman distir oleh mawar mampuskan gara2 uang milyaran buat perusahaannya
Heni Setiyaningsih
/Rose/
Heni Setiyaningsih
dasar suami pecundang
Heni Setiyaningsih
semoga pita suara nya rusak bisr gak bisa teriak lg 🤣🤣🤣🤣
MamDeyh
Lanjuuut
Nice1808
biarkn firman dgn mawar kania, km dgn abngkya si boss abimanyu🤣🤭🤭
tinie
semangaat Kania
kamu pasti bisa bangkit kembali😭😭
MamDeyh
Lanjuuut lagi kak
Ma Em
Semoga Kania jadi sukses setelah diterima kerja , firman kamu pasti akan menyesal karena sdh membuang Kania istri yg baik dan berbakti meskipun selalu dihina dan direndahkan sama Bu Tuti sang mertua .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!