Terlukanya hati Istri dan Anak saat Ayahnya memilh lebih memperhatikan kebahagian saudara dan keponakannya, dan mengabaikan tanggung jawabnya kepada istri dan anak anaknya.
"Sedikit sedikit uang sedikit sedikit yang kalian minta, kalian pikir saya ini mesin pencetak uang." Bentak pak Galih kepada anak sulungnya yang minta uang bayar SPP.
"Ini lagi mama kalian nggak becus jadi ibu, taunya cuma nadang doang, nggak bisa usaha cari uang, bisanya cuma mengemis sama suami." hina pak Galih kepada sang istri.
Ingin tau kelanjutannya, ikuti terus cerita mamak ya..... 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon devi oktavia_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Sembilan
Laras dan Gibran pulang ke rumah dengan wajah murung, karena ulah ayahnya tadi, masih terbayang bayang oleh ke dua anak itu bagaimana perlakuan sang ayah ke pada ke dua sepupunya tadi, sungguh membuat hati ke dua anak kecil itu sakit luar biasa, namun berusaha terlihat baik baik saja di depan orang banyak.
"Kak, sepertinya mobil yang di pakai papa tadi, mobil baru ya? " tanya Gibran yang masih saja memikirkan ayah mereka.
"Mmm... Sepertinya iya, orang warnanya masih kinclong banget, kaya mobil pak RT." polos Laras.
"Mobil itu milik siapa ya kak, apa papa beli mobil?" tanya Gibran makin penasaran.
"Nggak tau, mungkin iya papa beli mobil, tapi nggak di izinkan di bawa pulang ke rumah kita, takut kita minta naik ke mobil itu." ujar Laras dengan perasaan sakit.
"Enak ya kak. Bisa menikmati semua milik papa, kita yang anaknya aja nggak pernah dapat apa apa dari papa, jangankan naik mobil mewah itu, dapat perhatian aja nggak." kekeh Gibran penuh luka.
"Nggak apa apa, kita nggak dapat perhatian dan kasih sayang dari papa, tapi dari mama dan abang kita di curahkan kasih sayang yang banyak dan tulus, abang dan mama nggak pernah marah marah sama kita, apa pun yang kita ingin kan mereka akan memenuhi keinginan kita, jadi nggak usah meminta lebih banyak lagi, perhatian dan kasih sayang dari mama dan abang sudah cukup untuk kita." ucap Laras
Bu Soraya menggigit bibirnya kuat kuat, sungguh sakit hati bu Soraya mendengar keluhan ke dua anaknya.
"Tega kamu menyakiti hati anak anak mu, mas." gumam bu Soraya penuh ke bencian.
"Jangan salahkan, klau suatu saat nanti anak anak membenci mu, kau sendiri yang telah membuat mereka seperti itu." gumam bu Soraya dengan mata berkaca kaca.
Dengan cepat bu Soraya mengubah ekspresi wajahnya, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
"Haiii.... Anak anak mama, sedang apa kalian? " ucap bu Soraya berpura pura tidak tahu.
"Mama.... " pekik kakak beradik itu memeluk sang mama.
Bu Soraya membalas pelukan ke dua anak anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Ada apa dengan anak anak mama, mukanya kok sedih banget? " ucap bu Soraya yang berpura pura tidak tahu.
"Tadi kami melihat papa....... " keluar lah obrolan ke dua anak itu dengan tatapan sendu.
Bu Soraya yang mendengarnya juga menahan sesak di dadanya.
"Sudah, nggak usah di ambil hati, kalian ada mama dan abang yang sangat menyayangi kalian, kalian tidak perlu mengemis perhatian dan kasih sayang kepada orang yang tidak pernah mau menyayangi kalian, dan nggak usah iri dengan milik orang lain, andai mobil itu ada hak kalian biarkan saja tangan Allah yang membalasnya, kalian nggak usah bersusah susah untuk itu membalasnya." ucap bu Soraya dengan penuh kelembutan, dan di angguki oleh ke dua anaknya.
"Iya mama, kami nggak akan mengemis perhatian kepada orang yang tidak mencintai kami, dan kami juga tidak butuh kasih sayang yang terpaksa, sudah cukup kasih sayang dari mama dan abang." ucap Laras.
"Anak pintar, ya sudah bantu mama beres beres ya, kita samper abang ke tempat kerjanya trus kita ke pasar malam bersama." ucap bu Soraya ingin menyenangkan hati anak anaknya.
"Horeee.... Beneran ma, kita ke pasar malam?! " sorak Gibran senang, secara anak anak Soraya memang jarang sekali pergi ke pasar malam atau tempat bermain lainnya, bukan tidak ingin Soraya mengajak Sang anak, hanya saja ekonominya yang terbatas,
Jangankan untuk ke pasar malam, bisa memenuhi kebutuhan hari hari keluarganya saja Soraya susah sangat bersyukur, dan hari ini berkat kerja kerasnya beberapa minggu ini, dia bisa menabung sedikit demi sedikit uang.
Melihat anak anaknya bersedih hati ulah ayah dan sepupu sepupunya, bu Soraya ingin mengajak anak anaknya untuk bermain ke pasar malam yang sangat jarang mereka datangi.
"Bener sayang, kita hari ini akan ke pasar malam, do'ankan warung mama makin laris, mama bisa mengumpulkan uang lebih, kita bisa jalan jalan ke tempat yang kalian suka." ucap bu Soraya lembut.
"Makasih mama, mama yang terbaik." sorak Gibran kegirangan, namun tidak dengan Laras.
"Kakak kenapa hm....? " tanya bu Soraya mengusap sayang wajah sang putri.
"Memang mama punya uang? " tanya Laras dengan hati hati, dia takut mamanya akan memaksakan diri untuk membahagiakan mereka, anak kecil itu tidak ingin menyusahkan mamanya.
Bu Soraya terkekeh lucu sekaligus terharu, anak perempuannya dan anak sulungnya selalu seperti itu, mungkin karena mereka sudah besar dan mengerti keadaan dirinya selama ini.
"Tentu saja mama punya uang, kan mama udah punya usaha sekarang, kan anak anak mama ini rajin sekali membantu mama, dan alhamdulillah... mama punya uang untuk menyenangkan kalian." sahut bu Soraya lembut.
Laras tersenyum lega dan memeluk sang mama "Terimaksih mama, sudah berusaha keras untuk kami, kami sayang mama." ucap Laras terisak.
"Mama juga sayang kalian." balas bu Soraya ikut berkaca kaca.
"Ayo.. Bantu mama, biar kita cepat ke pasar malamnya." ucap bu Soraya.
Ke tiga ibu dan anak itu bersemangat merapikan warung sederhana mereka, piring piring kotor di cuci oleh bu Soraya sendiri, sementara Laras dan Gibran sibuk mengelap etalase, meja dan kaca, mereka juga menyapu dan mengepel lantai warung dengan penuh semangat.
"Haaa.... Kelar juga." ucap Gibran sehabis menyapu sekeliling warung.
"Wahhh.... Anak ganteng tante sudah rapi aja beres beresnya." seru bu Rini yang datang dari pintu samping rumahnya.
"Iya dong tante, kita mau ke pasar malam sama mama." senang Gibran.
"Wahhh.... Benar kah?! " ucap bu Rini ikut senang.
"Iya tante, mama ajak kita gara gara tadi pas pulang sekolah kita lihat papa jemput keponakannya naik mobil baru, mau main ke Timezone katanya, timezone itu apa sih tan? katanya ada di mall." ucap Gibran bertanya kepada Bu Rini.
Sungguh hati bu Rini ikut sakit mendengar ucapan anak sembilan tahun itu, bapaknya banyak uang, namun anaknya tidak pernah di ajak ketempat bermain, justru membahagiakan keponakannya yang masih mempunyai keluarga utuh.
"Ohhh... Itu, wahana bermain yang lebih bagus dari pasar malam, di sana banyak permainannya, Gibran mau ke sana? " tanya bu Rini hati hati.
Gibran menggelengkan kepala lemah, "Nggak tan, klau main di sana pasti mahal." ujarnya.
"Kalian berangkat ke pasar malamnya kapan? " tanya bu Rini lagi.
"Selesai dari warung kami mau berangkat, tapi mandi dulu." polos Gibran.
Bu Rini mengangguk tanda mengerti, lalu berbalik arah masuk ke dalam rumahnya lagi.
"Ihhh... Si tante aneh." ucap Gibran mengangkat bahunya acuh, karena melihat bu Rini kembali masuk ke dalam rumahnya, biasanya bu Rini akan mencari mamanya.
Setelah memastikan warung benar benar rapi dan bersih, baru lah bu Soraya pulang bersama anak anaknya untuk mandi dan rapi rapi mau ke pasar malam.
"Kalian sudah mau berangkat? " tanya bu Rini yang sudah duduk manis di dalam mobil.
"Loh kok kamu tau? " kaget bu Soraya yang belum sempat cerita kepada sahabatnya itu.
"Tau dong, ayo naik." ajak bu Rini menyuruh ibu dan anak itu naik ke dalam mobilnya.
Bersambung.....
Haii.... Jangan lupa like komen dan vote yaa... 😘😘😘
yg bnyyyykkkk doooongggg
hal yang dah gak pernah terjadi sekarang di rasakan lagi. tapi apa semua akan kembali kesemula atau dah terlambat??
gimana galih, anak yang masih kecil aja paham duwit yang kamu kasih tak seberapa, tapi sakit ya luar biasa karena uang itu
kaka mu tak berani nanya, tapi kamy luar biasa berani😘
pucat pasi atau serangan jantung🤭
jangan sampai nyesel nanti