"Meja bundar.. apa itu??"
"Meja yang jadi mitos kelam warga sini. Katanya, kalau sampai ada pendatang yang masuk ke sini dan hilang, udah pasti nggak akan balik, mereka semua pasti mati."
"Siapa kakek sebenarnya??"
"Kakek bukan orang biasa, dia.."
Kara, seorang gadis berusia tujuh belas tahun, terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan pindah ke desa terpencil bersama ayahnya. Desa itu sunyi, tertutup, dan dipenuhi tatapan curiga dari warga yang enggan berbicara tentang masa lalu. Di rumah peninggalan kakeknya, Kara menemukan sebuah meja bundar tua yang tergeletak di ruang bawah tanah berukuran pas untuk delapan orang, dengan ukiran aneh di setiap sisinya yang seolah menyimpan rahasia terpendam.
Bisakah Kara mengungkap apa sebenar nya meja bundar itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.9. Dua Nurmala
Kara manggut - manggut setelah mendengar jawaban dari Putri, jawaban itu seolah mengonfirmasi bahwa memang Nurmala Sari dan Nurmala Putri adalah dua kakak beradik, meski memang Nurmala yang kemarin datang agak - agak membuat Kara tidak nyaman dengan gerak gerik dan tatapan juga senyuman nya, Nurma yang ini Normal.
Kara bahkan tidak merasa terintimidasi sama sekali dengan Putri yang baru datang ini, dia tidak merasakan merinding sama sekali, tidak seperti yang dia rasakan saat Nurma yang datang kemarin..
"Putri, kamu kan warga asli sini.. boleh nggak aku tanya - tanya tentang warga sini?" Tanya Kara, sambil memakan sup buatan Putri yang rasanya ternyata lumayan enak.
Putri yang kembali datang sambil membawakan ayam goreng pun tersenyum menanggapi pertanyaan Kara, dia kemudian duduk di meja makan itu bersama Kara.
"Boleh, sok atuh teteh mau tanya apa?" Tanya Putri sambil tersenyum menunjukan langsung pipit nya.
"Mmm.. kemarin aku keluar rumah, aku jalan - jalan ke sekitar buat liat - liat lingkungan.."
"Teteh keluar dari gerbang rumah!?" Tanya Putri terkejut sambil wajah nya menunjukan kepanikan, mendengar itu Kara pun juga jadi terkejut dan kemudian mengangguk.
"Mm.. teteh makan dulu saja ya, nanti kalo sudah kelar makan Putri ceritain." Ucap Putri dia bangun dari duduk nya dan berjalan keluar sambil mengeluarkan hp nya dan menelepon seseorang.
"Kenapa dia.." Gumam Kara kebingungan, karena reaksi kaget dari Putri yang menurut Kara terlalu berlebihan.
Kara lanjut memakan makanan yang di masak oleh Putri, rasa makanan nya enak menurut nya dan dia lega karena akhir nya dia bisa mengisi tenaga nya. Setelah selesai makan, Putri baru kembali dari luar dan kembali duduk di depan Kara dengan wajah nya yang serius.
"Teteh kemarin keluar dari gerbang rumah?" Tanya Putri, Kara pun mengangguk.
"Teteh ada ketemu sama orang sini?" Tanya Putri lagi, merasa Putri bertanya padanya dengan serius.. Kara pun menjadi merasa memang ada yang tidak beres dengan warga kampung itu.
"Ada, ibu - ibu.. Tadi nya dia ramah, tapi pas tau aku tinggal di rumah ini, dia mendadak jadi galak dan mandang aku sinis." Ucap Kara, Putri menelan ludah nya.
"Lain kali teteh jangan keluar sendirian, ya.. kalo mau jalan - jalan bisa minta Putri buat temani teteh." Ucap Putri dengan hati - hati, seolah memag ada yang akan terjadi jika Kara tidak mendengar kan apa yang Putri katakan.
"Kenapa?" Tanya Kara, dia penasaran.
"Mm.. intinya teteh nggak boleh bertindak sembarangan di sini, kampung ini teh dulunya kampung jagal teh." Ucap Putri, Kara mengernyit.
"Kampung Jagal.. apa itu?" Tanya Kara makin penasaran.
"Dulunya kampung ini terkenal sama ternak nya yang banyak teh, seperti kambing, sapi.. di sini teh banyak. Jadi mayoritas orang di sini teh pekerjaan nya ya dari sana, jagal kambing dan sapi." Ucap Putri.. Tapi dari gestur tubuh Putri, dia mesara tidak nyaman jika harus bercerita.
Putri berulang kali menelan ludah nya seolah dia merasa tidak berani menceritakan lebih banyak lagi tentang apa yang dia tahu mengenai masalalu kampung itu, Kara yang melihat kegelisahan di mata Putri pun akhir nya tersenyum dan menepuk tangan Putri.
"Ya udah, nanti lain kali aku nggak akan keluar sembarangan lagi Put." Ucap Kara, Putri sejenak tersenyum tapi masih menunjukan kekhawatiran di mata nya.
"Putri teh nggak boleh cerita ini sebener nya, tapi Putri juga nggak mau teteh kenapa - kenapa. Soal nya teh warga di kampung ini sudah nggak seperti dulu, mereka teh benci sama pendatang. Jadi kalo teteh mau kemanapun.. teteh boleh minta Putri temani teteh." Ucap Putri, akhir nya Kara mengangguk tanpa banyak bertanya lagi.
Jawaban Putri seolah mengonfirmasi atas apa yang Kara alami saat dia keluar dari gerbang rumah kakek nya dan mendapati tatapan yang sinis dari warga.. Terlebih saat ibu - ibu itu tahu bahwa Putri tinggal di rumah kakek nya, dan langsung berubah ekspresi sambil mengatai nya Setan.
"Teteh.. Putri pulang dulu ya, besok Putri datang lagi." Ucap Putri, Kara tertegun..
Tapi Kara jadi teringat degan Nurma yang memang mangatakan akan datang lagi pada sore sampai pagi hari untuk menemani nya.. Kara tidak bertanya apapun, dia langsung mengangguk saja.
"Hati - hati di jalan ya, Put." Ucap Kara, Putri tersenyum dan mengangguk.
"Kalo malem teteh laper, ada makanan di kulkas.. Putri juga bawakan camilan - camilan ada di lemari dapur barang kali teteh mau makan camilan malam, ada susu dan jus juga di kulkas." Ucap Putri, Kara manggut - manggut.
"Putri cuci piring dulu, baru pulang." Ucap Putri, dan mengambil piring kotor yang ada di depan Kara.
Sementara Kara, dia kemudian duduk di sofa dna mengeluarkan hp nya.. Kara berusaha lagi menghubungi ayah nya yang tidak tahu kenapa tidak bisa juga di hubungi. Tapi karena tidak juga mendapat jawaban.. Kara pun jadi diam memikirkan semua hal aneh yang terjadi padanya semalaman dan sampai pagi tadi.
''Teh.. Putri pulang dulu ya, besok Putri kesini lagi." Ucap Putri yang sambil mengeringkan tangan nya yang basah setelah mencuci piring.
"Iya, makasih Putri." Jawab Kara sambil juga tersenyum.
Putri terlihat menulis sesuatu di kertas berwarna kuning, dan kemudian memberikan kertas itu pada Kara yang rupanya itu berisi sederat angka nomor hp..
"Kalo teteh perlu apapun, teteh bisa telpon Putri ke nomor ini ya.." Ucap nya sambil memberikan kertas itu pada Kara, Kara pun menerima kertas itu dan mengangguk.
"Oke, kamu hati - hati di jalan.." Ucap Kara dan Puri mengangguk, dan akhir nya pergi masih dengan wajah nya mengguratkan ke khawatiran.
Putri pun kemudian pergi dari sana, dan tinggal lah Kara sendirian lagi di rumah itu. Kara yang semua sempat memikirkan apa yang terjadi padanya dan juga cerita tentang kampung Jagal dari putri akhir nya mencari di internet tentang info yang mungkin ada di internet tentang kampung jagal itu.
Tapi.. Kara tidak menemukan artikel yang aneh yang seperti Putri katakan, memang ada di internet yang menyebutkan kata "Kampung Jagal" Tapi itu hanya sebagian dari sejarah dan tidak tertulis secara spesifik tentang keseluruhan dari artikel itu yang dikaitkan dengan hal mistis, hanya sekedar sejarah. Jadi.. Kara pun berpikir mungkin keanehan yang ada di kampung itu bukan bagian dari apa yang di ceritakan di sejarah.
"Kampung ini punya sejarah sendiri yang nggak tertulis di artikel manapun, jadi mungkin orang sini lah yang tau spesifik sejarah dari kampung ini." Gumam Kara..
Karena tidak menemukan artikel yang memuaskan pertanyaan di pikiran nya, Kara kemudian dengan ragu mengetik satu lagi pertanyaan yang mengganggu pikiran nya.. "Seperti apa hantu?" Itu yang Kara tulis dan ia pun mencarinya..
Yang kemudian muncul lah sederet jawaban yang panjang di sertai juga dengan gambar - gambar yang seram yang mendeskripsikan penampilan hantu, melihat itu.. Kara pun jadi bingung sendiri, hantu yang di jabarkan di internet memiliki rupa yang mengerikan, jadi dia pun bingung dengan apa yang dia lihat.
"Jadi yang aku liat apa?" Gumam Kara, Karena Kara tidak pernah sekalipun melihat hantu dalam hidup nya, dia sangat tumpul.
"Memang Kara lihat apa?"
"Hhh!!"
BERSAMBUNG!
di aku g ada notif lho kk