NovelToon NovelToon
Menyamar Demi Kamu

Menyamar Demi Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Idola sekolah
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Umi Nurhuda

Rui Naru sebenarnya capek jadi pewaris yang hidupnya diatur-atur kakeknya. Baru bahagia sebentar saja bisa pulang ke Indonesia untuk memeluk sang bunda, kakek masih saja menjadi bayang-bayang yang terus mengekangnya.

Satu-satunya hiburan buat dia cuma Nuha, cewek polos berkuncir air mancur yang diam-diam dia taksir. Setiap kali bertemu, ada saja kesan yang membuatnya kian ingin mendekat.

Makanya, waktu tahu Nuha lagi diincar dan mau dimanfaatin sama cowok narsistik paling populer di sekolah, Naru enggak bisa tinggal diam lagi. Ini saatnya dia bertindak.

​Naru nekat lepas total atribut mewahnya dan menyamar masuk ke sekolah Nuha lewat jalur yayasan ibunya. Dia rela jadi cowok "biasa" demi bisa jagain Nuha dari dekat sekaligus jadi pembatas dari gangguan Dilan.

Bisa tidak Naru sukses melakukan penyamarannya tersebut sampai akhir? Apa sih yang dia cari sebenarnya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 09. Penolakan & Ambisi

​Dika berbisik, "Mereka anak-anak Multimedia 2, Bos. Kelas mereka itu sempat dicap paling bermasalah di angkatan kita, tapi sekarang kabarnya sudah didisiplinkan."

"Bayangin aja, setiap bulan ada saja masalahnya. Anak-anaknya kerap dipanggil massal ke ruang BK. Dan ada aja orang tua murid kelas mereka yang dipanggil BK."

​"Sungguh rekor yang luar biasa," tawa Dilan pecah seketika, terdengar meremehkan. "Malu-maluin banget. Baru jadi jurusan baru aja udah belagu. Oke, next. Sekarang siapa cewek-cewek ini?" Dilan menunjuk dagunya ke arah kuartet tersebut.

​"Yang dandanannya paling modis itu, Sifa," tunjuk Dika. ​Hal itu otomatis membuat Sifa makin percaya diri melempar senyum terbaiknya.

​"Dia bisa dibilang cewek blogger-nya angkatan kita, Bos. Relasinya luas dan selalu eksis di tiap kegiatan sekolah, tapi anehnya dia enggak masuk pengurus OSIS. Denger-denger, dia emang lagi nyari celah buat mengincar posisi strategis di pemilu nanti."

​"Mengincar posisi gue?"

​Sifa langsung menyela atensi Dilan dengan nada genit, "Eits, karena sekarang gue ketemu cowok sekeren lo, Dilan, gue ralat deh. Gue enggak berniat jadi saingan lo. Tapi kalau jadi Wakil Ketua OSIS buat dampingin lo, gue siap lahir batin. Gue rela ada di posisi satu tingkat di bawah lo."

​Dilan menyeringai tipis, tatapannya tampak penuh perhitungan. "Menarik. Next."

​"Si cewek ketus di sebelahnya itu Asa. Jangan coba-coba bikin masalah sama dia, kalau enggak--"

​"Kalau enggak apa?!" potong Asa galak. Ia melangkah maju, meluncurkan tinju mainan ke udara tepat di depan wajah Dika hingga cowok berkacamata itu spontan mundur ketakutan. "Cowok-cowok kurang kerjaan, mending minggir sana!"

​"Tenang, Sepupu," sela Dilan santai. Ia mengulurkan tangan, menepis pelan kepalan tangan Asa dengan gerakan tenang. "Sebagai saudara, gue tahu batas. Gue enggak akan cari perkara sama lo. Next, Dik."

​"Yang megang novel tebal itu, Fani. Ya ... tipe cewek kutu buku standar, sih. Selalu ranking satu di kelasnya, tapi sejauh ini enggak punya riwayat organisasi yang menarik."

​"Next!"

​"Em ... terus, cewek kuper itu ..."

​"Imut," potong Dilan cepat.

​Tanpa ada yang menyadari, sejak awal melangkah ke koridor ini, arah pandangan mata Dilan memang tidak pernah lepas dari gadis berambut bob dengan kunciran kecil mirip air mancur di atas dahinya itu.

​Tepat pada saat yang sama,

seorang pemuda yang baru saja melangkah masuk melewati gerbang sekolah mendadak menghentikan langkah. Pendengarannya mendadak panas begitu menangkap suara cowok lain yang sedang mencoba merayu gadis ceroboh yang ia kenal.

​Di tempatnya, Nuha spontan meremas genggaman tangannya sendiri. Mode defensifnya aktif total, membuat kuncung rambut di atas dahinya tampak ikut menegang.

​Melihat reaksi spontan itu, seringai Dilan justru semakin lebar. "Menarik," gumamnya sambil maju satu langkah, mengikis jarak. ​"Ini baru definisi four in one. Ada cantiknya, galaknya dan ... diam-diam menghanyutkan. Dalam satu tahun dia berhasil nyumbang 4 piala untuk sekolah. Benar-benar monster. Kombinasi yang sempurna buat dirinya. Siapa nama si imut ini?"

​"Nuha," jawab Dika patuh.

​Seketika, Dilan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Suaranya yang lantang menggema di sepanjang koridor, "NUHAAA!! Nama yang manis. Mulai hari ini, gue putuskan lo yang bakal jadi calon Wakil Ketua OSIS gue!"

​"Apa?!" Pekik seisi koridor spontan menyuarakan keterkejutan yang sama. Sifa bahkan melotot tak percaya.

​"Gimana, Imut? Kalau lo jadi wakil gue, lo otomatis bakal jadi cewek paling populer di sekolah ini. Bersama gue, kita bakal jadi pasangan paling sempurna di angkatan," tawar Dilan dengan rasa percaya diri yang melambung tinggi.

​"Nggak mau."

​"Penolakan yang luar biasa," komentar Dilan, namun sedetik kemudian ekspresinya berubah syok. "Tunggu ... APA?! Lo nolak gue? Ck, enggak bisa dipercaya. Rabun nih cewek."

​Dilan mendengus remeh, lalu berbalik menghadap kerumunan siswi yang masih setia menonton di halaman koridor. ​"Hei, kalian semua! Ada yang mau maju jadi pasangan gue di pemilu OSIS nanti?!" serunya lantang.

​"Aku! Mau banget, Dilan!"

​"Gue, Dilan! Pilih gue aja!"

​"Aku! AKU! DILAN!"

"AKU PADAMUUU!!"

​Jeritan histeris itu bersahut-sahutan, membuat koridor mendadak bising. Dilan kembali berbalik, menatap Nuha dengan senyum jemawa yang terkembang lebar.

​"Dengar sendiri, kan, Imut?" Dilan mencondongkan tubuhnya. "Mereka semua antre buat bertekuk lutut sama gue. Apa sih yang kurang dari gue? Tampan, jelas. Kaya, iya. Cerdas? You know-lah, menyabet juara olimpiade puuun nggak kalah sama lo. Dan gue jago basket, semua orang di sekolah ini tahu kalau gue ini cowok idaman."

​Mendengar narsisme yang meluap-luap itu, ego Nuha mendadak tersulut. Ia membalas tatapan Dilan dengan sorot menantang, meski nada suaranya sedikit bergetar menahan luapan emosi yang siap pecah.

​"AKU BILANG ENGGAK MAU YA ENGGAK MAU! JANGAN COBA-COBA MENGGANGGUKU DASAR COWOK SOMBONG--"

​"Eits tetetetet!" Sifa langsung melompat ke depan, menyela kalimat Nuha yang hampir lepas kendali. Sebagai sahabat, ia paham betul kalau mode frontal Nuha sudah aktif, kalimat kasarnya bisa memicu perang dunia di sekolah. "Nuha tenang, tarik napas. Biar gue yang selesaikan ini. Tenang, oke?"

​Jauh di ujung koridor dekat gerbang, Naru yang sedari tadi menyaksikan seluruh drama itu hanya bisa menahan tawa ringannya. Sudut bibirnya terangkat, menyiratkan rasa kagum yang samar.

Gadis itu memang penuh kejutan, batinnya. Setelah satu tahun tidak bertemu, sekalinya tak sengaja berpapasan kembali, Nuha tidak pernah absen meninggalkan kesan mendalam.

Semakin lama ia memperhatikan Nuha, semakin banyak hal yang tidak berhasil ia pahami dari gadis itu. Ada sesuatu pada gadis itu yang membuat Naru terus ingin mengetahui jawabannya.

​Suara Sifa kembali mengambil alih atensi, mencoba bernegosiasi dengan Dilan. ​"Dilan, lo enggak bisa maksa. Pemaksaan itu bentuk intimidasi dan bisa kena pasal pelanggaran di buku saku tata tertib sekolah, lho. Mending gue aja yang jadi wakil lo. Gue menawarkan diri secara sukarela nih, tanpa paksaan. Lo enggak perlu buang-buang tenaga lagi buat frustrasi."

​Dilan terdiam sejenak, menimbang-nimbang usulan itu sambil melirik Sifa dari atas ke bawah. Ia mengembuskan napas panjang. ​"Oke. Gue terima lo jadi pasangan pemilu gue," jawab Dilan, yang seketika membuat senyum Sifa mengembang sempurna penuh kemenangan.

​"Tapi ..." Dilan sengaja menggantung kalimatnya. Senyum licik mendadak terukir di wajah tampannya saat ia kembali menunjuk Nuha tanpa ragu. "Sifa, lo resmi jadi calon wakil gue. Tapi dia ... dia harus jadi pacar gue."

​"Apa?!"

​Bukan hanya kuartet Multimedia yang tersentak, melainkan Naru yang berada di kejauhan. Pemuda klan Rui itu syok berat mendengar pernyataan tidak masuk akal yang dilontarkan Dilan di depan umum.

​Tanpa sadar, kakinya melangkah maju satu langkah. Namun, egonya langsung menarik paksa kesadarannya kembali. Tunggu ... apa yang terjadi padaku? Naru membatin, merutuki reaksinya sendiri. Tidak. Aku tidak perlu ikut campur. Ini bukan urusanku.

​"Menjijikkan," suara Nuha terdengar bergetar, namun sarat akan cemoohan yang menampar telinga. "Di mana harga dirimu? Kamu menyombongkan diri hebat dalam segala hal, tapi kamu malah menjadikanku sebagai alat tawar-menawar? Cari aja cewek lain yang mau kamu jadiin pajangan. Aku enggak sudi."

​Tanpa menunggu balasan, Nuha berbalik dan melangkah pergi dengan menghentakkan kaki.

​"Nuha, tunggu!" Fani dan Asa kompak berseru, buru-buru mengekor di belakang sahabat mereka.

​Dilan mematung di tengah koridor. Untuk pertama kalinya, sang charming boy harus menahan malu karena ditolak mentah-mentah di depan puluhan pasang mata murid lain. Emosinya mendadak naik ke ubun-ubun, rahangnya mengeras karena egonya terluka.

​Namun sebelum cowok itu sempat mengejar Nuha untuk meluapkan amarahnya, Sifa dengan sigap menepuk pelan lengan Dilan, meredam tensi yang memanas.

​"Aduhai, dia marah deh," goda Sifa dengan nada santai, berusaha mengalihkan perhatiannya. "Sudahlah, Dilan. Emosi cuma bakal merusak reputasi lo sebagai cowok idaman. Benar kata Nuha, lo bisa cari cewek lain yang lebih 'penurut'."

Sifa berjalan anggun sejenak, "Lagian, lo kan gampang banget tebar pesona dan bikin siswi-siswi di sini antre ciuman lo. Gue enggak mau sahabat gue cuma lo jadiin bahan taruhan ego. Mending sekarang kita fokus ke pemilu, dan gue siap jadi pasangan OSIS lo."

​Dilan tidak langsung menjawab.

Ia melangkah maju sangat dekat hingga memotong jalur jalan Sifa, merendahkan suara agar hanya didengar olehnya, lalu tersenyum dingin. ​"Lo mau posisi wakil itu, kan?" bisik Dilan, menyipitkan mata penuh kelicikan.

"Kalau lo mau tetap jadi pendamping gue di pemilu, buat cewek berkuncir air mancur itu jadi pacar gue. Titik. Gue enggak suka penolakan."

​Sifa mendecak sebal, menyadari bahwa cowok di hadapannya ini ternyata jauh lebih keras kepala dan manipulatif dari yang ia kira. ​"Ck, kampret memang," umpatnya dalam hati, bimbang antara ambisinya atau keselamatan sahabatnya.

.

.

. Next》Bab 10. Jumpa lagi besok 👋

1
Surya Alfian
WKWKWK "BAMBANG" gue ngakak.
🤣🤣 Udah dibangun tegang, romantis, deg-degan, eh ditutup dengan panggilan Bambang.
Surya Alfian
gue kira mau dicipok ini ciwi, deg-degan woy!! 😳❤️ Kelihatan kalau dia udah mulai jatuh hati tanpa sadar.
Surya Alfian
Gue jadi pengen tahu pas Kakeknya nanti turun tangan bakal segila apa. 🍿😏
Surya Alfian
Ending-nya manis banget, asli bikin senyum. 😆💕 Waduh, fix ini mah udah masuk fase salah tingkah. 😂🌸
Surya Alfian
Scene Muha sama Nuha di meja makan tuh adem banget. 🥹☕ Kakaknya galak tapi kelihatan banget sayangnya tulus, sementara Nuha polos banget sampai bikin gue senyum-senyum sendiri. Chemistry kakak-adiknya enak dibaca.
Surya Alfian
Wkwkwk Naru ini licik level dewa.
🤣 malah ngajak tinggal bareng di kos biar bisa nyiksa mentalnya pelan-pelan. Musuh paling bahaya emang yang senyumnya paling kalem. 😭👌
Surya Alfian
😭📖 Doa Naru ke kakeknya kerasa tulus banget. Gue fix lanjut baca cuma buat tahu kenapa dia sampai harus minta "kebebasan". 🚀
Surya Alfian
🤔❤️ Dia perhatian banget sampai hafal detail-detail kecil tentang Nuha, tapi kalimat "cuma gue yang boleh memahami dia" itu vibes-nya agak posesif. Gue jadi penasaran dia bakal jadi green flag atau malah red flag nantinya. 👀
Surya Alfian
Dilan akhirnya kena mental. 😮‍💨👏
Selama ini dia kebanyakan gaya dan ngerasa semua bisa diselesain pake duit, eh giliran nama bokapnya dibawa langsung ciut. Karma emang nggak pernah salah alamat. 😂🔥
Muft Smoker
mereka lucuu kan ,, 😂😂😂😂 ,,



kak nama2 tokoh mu unik2 yx ,,
lanjut kak
Mega Siregar
padahal sebagai seorang dokter jiwa seharusnya tahu bahwa memanjakan anak tanpa ada kasih sayang dan perhatian dan pengajaran tentang hidup dari orang tua, hanya membuat seorang anak menjadi rusak
ginevra
ketikannya.... sumpah alay banget ini dilan....
ginevra
kakeknya keterlaluan sih... nggak heran baru jadi nggak betah. kasih kelonggaran dikit lah ...
Xlyzy
sumpah keterlaluan banget, pengen tak ketuk pala nya pakek martil
Xlyzy
Jahat ih kalian jangan gitu lah aku ketuk nih kening nya kalau nakal
Filan
gimana kalau diajak pacaran sama Naru? apa dia ga mikir ke sana?
Kan dia suka sama Naru.
Miu.Nuha: iya nanti dilemanya disitu...
Nuha blm sadar kalo dia suka, dia cuma lagi seneng2nya jatuh cinta #eh
total 1 replies
Filan
btw, Muha ini emang gampang marah juga ya.
Filan
ya ampun, tidur dua hari?
Filan
'persahabatan' yang punya arti lain,
Filan
tanggung jawabnya macam apa, aslinya lu ga punya apa-apa.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!