NovelToon NovelToon
TENTANG KITA YANG NGGAK SENGAJA

TENTANG KITA YANG NGGAK SENGAJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: grayen

Berawal dari tabrakan di koridor sekolah saat terlambat, hidup Alya yang tenang mendadak berubah jadi penuh drama gara-gara Raka, si kapten basket populer yang hobi mengganggunya. Situasi makin kacau saat foto candid Alya tak sengaja masuk ke story Instagram Raka dan membuat satu sekolah gempar.

Namun, dari benci jadi chattingan. Di balik sikap usil Raka, Alya pelan-pelan menemukan sisi rapuh cowok itu yang tersembunyi dari dunia.

Sayangnya, saat benih perasaan mulai tumbuh, kehadiran Kevin—murid baru yang mendekati Alya—menyalakan api cemburu Raka. Ditambah rumor sekolah dan kesalahpahaman masa lalu, Alya mulai ragu dengan perasaan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon grayen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Basket dan Kamera

Senin pagi, sekolah terasa lebih ramai dari biasanya.

Spanduk besar bertuliskan “Turnamen Basket Antar SMA” sudah terpasang di depan aula. Beberapa siswa sibuk menghias tribun, sementara anggota OSIS mondar-mandir memastikan semuanya siap.

Nadya yang baru datang langsung menghampiri meja Alya.

“Eh, nanti sore lo ikut nonton, kan?”

Alya mengangkat kepala dari bukunya.

“Nonton apa?”

“Ya pertandingan basket. Sekolah kita lawan SMA Bintang.”

“Oh…”

“Jangan bilang lo lupa.”

“Sedikit.”

Nadya menggeleng pelan.

“Parah. Temen sendiri main.”

Alya refleks menjawab, “Raka doang kali.”

“Ya itu maksud gue.”

Alya memilih pura-pura fokus membuka buku lagi agar Nadya tidak semakin menggoda.

 ---

Menjelang siang, guru multimedia menghampiri kelas mereka.

“Untuk dokumentasi acara nanti, saya butuh beberapa siswa yang bisa memotret.”

Beliau melihat ke arah Alya.

“Alya, kamu bisa bantu?”

Alya mengangguk.

“Bisa, Bu.”

“Nanti ambil foto pertandingan, penonton, sama momen penyerahan piala ya.”

“Siap.”

Dari bangku belakang, Nadya menyeringai lebar.

“Wah, rezeki banget.”

Alya sudah tahu maksud senyum itu.

“Jangan mulai.”

 ---

Sore harinya, aula sekolah dipenuhi sorak-sorai.

Suara sepatu berdecit di lantai lapangan bercampur dengan teriakan para pendukung.

Alya berdiri di dekat garis samping sambil memegang kamera.

Ia mengambil gambar para pemain yang sedang pemanasan.

Saat lensa kameranya mengarah ke Raka, cowok itu kebetulan menoleh.

Bukannya kembali fokus latihan, Raka malah mengangkat dua jari membentuk tanda damai.

Klik.

Foto itu berhasil tertangkap.

Alya tanpa sadar tersenyum.

“Masih sempat gaya,” gumamnya.

Tak lama kemudian peluit pertandingan berbunyi.

Permainan berlangsung cepat.

Raka beberapa kali mencetak poin dan disambut sorakan dari tribun.

Alya sibuk berpindah-pindah posisi demi mendapatkan sudut foto yang bagus.

Sesekali ia lupa kalau sebenarnya sedang memotret pertandingan, bukan seseorang.

Karena tanpa sadar, kamera itu lebih sering mengikuti pergerakan Raka.

 ---

Babak kedua berlangsung semakin sengit.

Skor kedua tim hanya terpaut dua angka.

Saat Raka berhasil mencuri bola dan melakukan lay-up, seluruh aula bergemuruh.

Alya refleks menekan tombol kamera berkali-kali.

Hasilnya bagus.

Sangat bagus.

Momen ketika bola hampir masuk ring, ekspresi fokus di wajah Raka, sampai sorakan penonton di belakangnya tertangkap jelas.

“Dapet,” bisiknya puas.

Tak lama kemudian peluit panjang berbunyi.

Tim sekolah mereka menang.

Anak-anak basket langsung berlari ke tengah lapangan saling berpelukan.

Dion melihat Alya di pinggir lapangan lalu melambaikan tangan.

“Foto, Alya!”

Ia menghampiri mereka dan mengambil beberapa gambar kemenangan tim.

Begitu selesai, Raka mendekat sambil menyeka keringat dengan handuk kecil.

“Gimana? Gue keren nggak?”

Alya pura-pura berpikir.

“Lumayan.”

“Lumayan lagi?”

“Iya.”

“Berarti belum maksimal.”

“Masih bisa latihan.”

Raka tertawa.

“Kalau fotografernya lo, gue semangat latihan.”

“Hubungannya apa?”

“Biar sering difotoin.”

Alya menggeleng pelan.

“Alasan aja.”

 ---

Setelah aula mulai sepi, Alya duduk di tribun untuk mengecek hasil fotonya.

Ratusan foto memenuhi layar kamera.

Ia menghapus beberapa yang blur lalu berhenti di satu gambar.

Foto itu memperlihatkan Raka yang sedang tertawa lepas setelah pertandingan selesai.

Tidak sedang berpose.

Tidak melihat kamera.

Hanya tertawa bersama teman-temannya.

Entah kenapa, menurut Alya, justru foto itu yang paling bagus.

“Bagus ya?”

Suara dari samping membuat Alya sedikit terkejut.

Raka sudah berdiri di sebelahnya.

“Kaget.”

“Maaf.”

Raka melihat sekilas layar kamera.

“Itu gue?”

“Iya.”

“Kirimin dong.”

Alya ragu beberapa detik.

“Nanti aja.”

“Kenapa?”

“Mau gue edit dulu.”

“Oke. Gue tunggu.”

Ia mengangguk lalu berbalik hendak pergi.

Namun sebelum benar-benar menjauh, Raka menoleh lagi.

“Oh iya.”

“Apa?”

“Terima kasih udah datang.”

Alya tersenyum tipis.

“Kan emang tugas.”

“Iya. Tapi gue tetap senang.”

Kalimat itu sederhana.

Tidak terdengar seperti rayuan atau candaan.

Justru karena terdengar tulus, Alya tidak tahu harus menjawab apa.

Ia hanya mengangguk pelan.

Malam harinya, saat memindahkan foto-foto ke laptop, Alya kembali melihat gambar Raka yang sedang tertawa itu.

Tanpa sadar, ia memilih foto tersebut sebagai wallpaper sementara di folder editannya.

Lalu buru-buru menggantinya lagi.

“Kenapa jadi kepikiran sih…” gumamnya sambil menutup laptop.

Di tempat lain, Raka juga sedang membuka ponselnya, berharap ada notifikasi dari Alya.

Belum ada.

Tapi ia tidak keberatan menunggu.

Karena belakangan ini, hal-hal kecil seperti menunggu balasan chat atau melihat Alya memegang kamera sudah cukup membuat harinya terasa lebih menyenangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!