Demi melunasi hutang sang ayah, Maureen terpaksa menggantikan kakak nya sebagai mempelai. la dinikahi oleh Alarick Carlson, pria yang digambarkan kejam dan buruk rupa, hingga keluarga nya enggan menyerahkan Maura putri kesayangan mereka.
Kini Maureen harus menghadapi pernikahan yang sarat misteri dan ketidakpastian dari suami nya. Mampukah ia menjalankan takdir yang dipaksakan kepada nya? Dan mampu kah Maureen bertahan dengan pernikahan yang dilandasi keterpaksaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ausilir Rahmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Maura sangat kesal, saat mendengar perkataan Alya yang seolah ingin menakuti diri nya. "Kau ini terlalu banyak ikut campur dalam urusan orang lain." Maki nya.
Alya terkejut dengan ucapan Maura yang tidak terima saat di ingatkan oleh nya. "Aku ti....." Belum sempat perkataan nya tuntas. Maura lebih memilih untuk tidak menghiraukan nya dan mengajak pacar nya untuk kembali bersenang-senang.
"Menyebalkan!" ucap Maura begitu kesal.
Kening Devan mengerut saat melihat ekspresi wajah Maura yang terlihat badmood. "Sayang! Kamu kenapa? Ku dengar siapa yang tidak jadi menikah?" tanya Devan.
Pertanyaan Devan membuat Maura terdiam, dia tidak ingin hubungan mereka terganggu hanya karena membahas soal perjodohan diri nya bersama Arik.
"Akh sayang, tidak ada hal penting, memang lagi rese aja teman aku." Maura mengalihkan topik pembicaraan. Jemari lentik nya perlahan mengalungkan erat di rahang lelaki yang menjadi kekasih nya itu.
Devan pun tidak ingin ambil pusing juga dengan pembicaraan kekasih dan teman nya. "Aku menemani mu ke sini agar kita bisa bersenang-senang, jadi sudah lupakan saja teman yang membuat mu kesal." ucap Devan.
Maura mengangguk dan memancarkan senyum tipis, dia mematuhi semua kata Devan. Kedua insan itu pun kembali menari bersama.
"Kau benar honey," ucap Maura setuju.
Arik menyeringai, lengan besarnya kembali meraih dan melingkar tepat di pinggang ramping Larisa. Mereka kembali berdansa menikmati alunan musik yang bisa melupakan kepenatan mereka dalam gemerlap nya dunia malam.
"Maura-Maura! Aku hanya mengingatkan mu. Tapi sudahlah." teriak Alya menggelengkan kepala nya, karena kecewa jika niat baik nya malah di respon negatif oleh sahabat nya.
***
Keesokan hari nya, cahaya matahari menyinari dan masuk ke celah-celah jendela. Maureen yang masih tertidur di atas ranjang pengantin, yang masih di hiasi ornamen-ornamen kelopak bunga mawar merah.
Perlahan kedua pupil mata indah nya terbuka, hingga tangan mungil nya menutup wajah nya karena terkena silau cahaya.
"Ternyata sudah siang," Lirih Maura perlahan terbangun, setelah duduk bersandar sejenak melihat gaun nya yang sudah robek, ia mengedarkan pandangan nya di kamar mewah dan besar itu tampak sepi tidak ada tanda-tanda keberadaan suami nya.
Membuat gadis manis itu beranjak dan bergegas ke kamar mandi, untuk membersihkan dan merapihkan diri setelah apa yang terjadi semalam.
Setelah menyalakan air shower, Maureen kembali mengingat bagaimana semalam membuat ia kembali sedih. Tapi mau tidak mau dia harus tetap berusaha untuk melindungi ayah nya.
"Aku tidak boleh sedih, ini semua demi Papa," tegas Maureen seraya mengepalkan kedua tangan nya dengan penuh keyakinan.
Tiga puluh menit berlalu, Maureen yang baru saja keluar dari kamar mandi mengingat diri nya yang lupa tidak membawa beberapa barang yang di perlukan oleh nya. Tampak kebingungan harus memakai baju apa.
"Apa ibu lupa tidak mengantarkan barang-barang ku?" ucap Maureen berpikir sejenak.
Melihat lemari besar yang ada di depan nya, membuat Maureen memberanikan diri untuk membuka nya beharap ada pakaian yang bisa dia pakai untuk sementara.
Kedua bola mata sipit Maureen melebar, dan tampak kagum saat melihat begitu banyak stel kemeja formal milik Arik.
"Semua pakaian nya bagus dan terlihat sangat mahal." ucap Maureen menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan nya pelan, meskipun ia sangat ragu, tapi tidak ada pilihan lain meminjam kemeja putih Arik untuk dia pakai.
Baru saja Maureen melepas handuk dan memakai kemeja putih, terlihat kebesaran dan longgar untuk nya yang berada di atas lutut tampak terlihat seksi dan membuat nya tidak nyaman.
"Bagaimana ini?" ucap Maureen memutar badan saat melihat gambaran diri nya yang berada di pantulan cermin.
Tiba-tiba saja dia di kejutkan oleh kedatangan Arik yang membuat nya sangat kaget. Begitu juga dengan lelaki berpostur tubuh tinggi dan kekar itu.
"Tu-tuan..." Pekik Maureen. Menyilangkan kedua tangan di dada, terlihat begitu ketakutan.
Arik yang masih merasakan pusing setelah semalam begitu banyak minum anggur merah. Dia berusaha memperjelas pandangan yang masih buram ke arah Maureen.
Terlihat Maureen yang begitu seksi saat mengenakkan kemeja nya, sampai membuat wajah di balik topeng nya itu seketika memerah.
"Kamu! Siapa yang mengijinkan mu menyentuh barang-barang ku?" Ketus Arik dengan tatapan dingin nya.
Maureen tersentak, ia menarik napas dalam-dalam gadis lalu mengeluarkan nya pelan, manis itu berusaha tenang lalu menjawab dengan suara penuh kelembutan.
"Ma-maafkan aku tuan, aku lupa tidak membawa pakaian ganti, jadi aku meminjam kemeja mu." ucap Maureen gugup.
Arik memijat kening, sungguh kesabaran nya sangat di uji. Selain mempelai pengantin wanita di ganti kini melihat barang nya yang tidak suka di sentuh sembarangan membuat nya naik pitam dan kesal.
Namun tiba-tiba saja pengelihatan Arik gelap sampai kehilangan kesadaran nya, dan tubuh nya terbaring di atas ranjang karena terlalu banyak minum alkohol.
Bruk!
"Tuan! Apa yang terjadi pada mu?" teriak Maureen terkejut, ia terlihat sangat cemas dan panik lalu segera menghampiri untuk memastikan kondisi sang suami.
Meskipun Maureen tidak di sambut sebagai seorang istri, tapi dia takut jika sampai terjadi apa-apa pada Arik.
Hampir saja tangan mungil Maureen menyentuh wajah lelaki yang bergelar suami itu, terlihat bi Siti yang baru datang membawakan semangkuk sup pereda mabuk dan sebuah paper bag hitam mewah.
Membuat Maureen begitu antusias, karena dia bingung harus melakukan apa.
"Selamat pagi nyonya," sapa bi Siti, Seraya memancarkan senyum ramah nya.
"Bibi, tolong. Aku tidak tahu kenapa tuan tiba-tiba seperti ini?" ucap Maureen begitu panik.
Bi Siti terlihat sangat kagum saat melihat sosok gadis manis seperti Maureen yang begitu lembut dan terlihat sangat penyayang.
"Nyonya tenang dulu, tuan seperti nya terlalu banyak minum semalam. Nanti tolong di bantu meminum nya, oh iya. Ini pakaian untuk nyonya. Sebentar lagi tuan dan nyonya besar akan datang ke sini," Bi Siti memberikan paper bag yang sudah sengaja di siapkan oleh tuan nya malam tadi.
Tak hanya itu saja, dia mengingatkan jika Maureen sebaiknya tidak memanggil kata tuan untuk suami nya.
Maureen pun mencerna beberapa kata-kata wejangan kepala pelayan yang sangat ramah dan baik pada nya. Lalu tanpa membuang waktu lagi segera mengganti pakaian sebelum membantu sang suami meminum sup- nya.
"Seperti nya tuan muda tidak menyukai istri nya, tapi nyonya terlihat sangat baik. Semoga saja ia bisa meluluhkan hati tuan," batin Bi Siti penuh harap. Lalu pergi dan kembali menutup pintu.
Setelah Maureen memakai dress mewah brand terkenal, membuat nya sedikit tidak nyaman. Karena ini kali pertama nya memakai pakaian mahal.
Meskipun tidak ada rasa cinta dalam pernikahan ini, sebagai seorang istri Maureen berusaha untuk menjalani kewajiban nya yang harus di jalani.
"A-aku tidak boleh membuat Papa dan Mama kecewa," ucap Maureen mengingatkan dirinya sendiri. Karena masih terngiang ucapan ibunya jika dia harus menjadi istri dan menantu yang baik.
Dengan langkah pelan, Maureen menghampiri Arik lalu duduk tepat di samping nya. "Ma-mas, bangun. Minum dulu sup-nya," Panggil Maureen begitu lembut, suara nya hampir tak terdengar.
Jantung Maureen berdegup sangat kencang, saat tangan nya ingin membuka. Sungguh ia sangat penasaran sosok seperti apa yang berada di balik topeng itu.
\*
Bersambung.................