NovelToon NovelToon
The Red Dragon'S Whisper

The Red Dragon'S Whisper

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:720
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

Di tengah pusaran takdir yang gelap, Kai terjebak di antara kutukan membara dan bisikan mistis Sang Naga Merah. Namun, bahaya terbesar justru datang dari keanggunan empat wanita penuh misteri di sekelilingnya:

Yuki, dengan topeng kitsune penutup niat aslinya.

Rei, si rambut perak penyimpan rahasia terdalam.

Hana, yang menyimpan kelembutan sedingin es.

Mai, dengan tatapan penjerat jiwa yang mematikan.

Ketika cinta, darah, dan ambisi berjalin menjadi satu, setiap senyuman manis bisa menjadi jebakan yang mematikan. Siapakah di antara mereka yang akan menjadi penyelamat Kai, dan siapa yang justru menjadi duri yang menghancurkannya?

"Satu bisikan naga, satu pemuda, dan empat takdir wanita. Siapa yang akan bertahan saat rahasia terungkap?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cahaya di Atas Puing Kehidupan

Debu pertarungan perlahan terendapkan bersamaan dengan padamnya sisa-sisa kobaran api di pelataran selatan. Suasana yang tadinya dicekam histeria dan deru sihir hitam kini berganti menjadi keheningan yang sarat akan rasa ketidakpercayaan. Para prajurit pemberontak yang tersisa telah berlutut menyerahkan senjata mereka, tak berani berkutik di bawah pengawasan ketat pasukan Komandan Boma. Namun, perhatian semua orang di pelataran itu tidak lagi tertuju pada para tawanan, melainkan pada sesosok tubuh yang kini terduduk lemah di atas tanah batu.

Mai memegangi dadanya yang naik turun teratur. Udara segar yang dihirupnya terasa begitu nyata, membakar tenggorokannya yang telah lama dingin dan tak berjiwa. Jemarinya yang gemetar menyentuh permukaan tanah basah, mengusap debu dan sisa percikan darah putih keemasan yang baru saja membebaskan jiwanya dari belenggu sihir terlarang.

"Aku... aku masih bernapas?" bisik Mai lirih, suaranya parau dan terbata-bata seolah kata-kata itu harus ditarik dari kedalaman ingatan yang amat jauh.

Hana, meski wajahnya tampak pucat akibat darah yang terus mengalir dari luka sabetan di lengan atasnya, menolak untuk dituntun oleh prajurit penyembuh. Ia melangkah tertatih menghampiri Mai, berlutut tepat di hadapan sahabatnya itu. Tanpa memedulikan rasa perih yang menjalar di lengannya, Hana merengkuh bahu Mai, menyatukan dahinya dengan dahi Mai yang kini tak lagi terasa sedingin es.

"Kau kembali, Mai... Kau benar-benar kembali kepada kami," bisik Hana dengan nada suara yang bergetar hebat. Air mata kebahagiaan menetes dari sudut matanya, jatuh mengenai pipi Mai yang kini kembali merona hangat.

Mai menatap sepasang mata bening Hana yang dipenuhi ketulusan murni. Ingatan tentang bagaimana sihir hitam Rei memperalat tubuh matinya perlahan melintas, namun hangatnya darah suci Hana yang meresap ke dalam dadanya telah menyapu bersih setiap jejak kegelapan itu. Mai melingkarkan kedua tangannya di punggung Hana, membalas pelukan itu dengan dekapan erat yang dipenuhi rasa haru.

"Maafkan aku, Hana... Maafkan aku karena tubuhku telah digunakan untuk melukaimu dan mengancam tempat ini," tutur Mai dengan isak tangis yang pecah di bahu Hana.

Kai melangkah mendekat, menyarungkan kembali pedang pusakanya yang telah padam dari pendaran aura keemasan. Ia berlutut di samping kedua gadis itu, meletakkan jemari kirinya yang tegap di atas kepala Mai, lalu menggunakan tangan kanannya untuk membalut luka di lengan Hana dengan secarik kain bersih dari jubahnya.

"Itu bukan salahmu, Mai," ucap Kai dengan suara rendah yang begitu dalam dan menenangkan. "Kau adalah korban dari kelicikan yang sama yang pernah menghancurkan kita semua. Hari ini, ikatan sihir itu telah patah sepenuhnya. Kau tidak lagi menjadi alat bayang-bayang masa lalu."

Mai mendongak, menatap Kai yang berdiri sebagai sosok pelindung yang kini sepenuhnya utuh tanpa amarah dendam. "Kai... terima kasih. Terima kasih telah menjaga Hana dan tidak menyerah pada tanah perbatasan ini."

Komandan Boma melangkah mendekat seraya memberi isyarat kepada tim penyembuh benteng untuk segera membawa ramuan penawar racun. "Tuan Muda, lokasi pertarungan telah sepenuhnya terkendali. Para pemberontak yang tersisa sudah diamankan di ruang tahanan bawah, dan luka Gadis Suci harus segera diobati."

Kai mengangguk pelan, lalu merengkuh tubuh Hana ke dalam pelukannya dengan sangat hati-hati, sementara Boma membantu Mai berdiri di atas kedua kakinya yang masih lemas.

Di bawah naungan langit sore yang perlahan membersihkan sisa-sisa asap hitam, rombongan itu berjalan kembali menuju kediaman utama Benteng Timur. Ancaman terakhir dari sisa-sisa pengikut Rei telah padam, bukan hanya dengan ketajaman pedang, melainkan dengan keajaiban tulus dari sebuah pengorbanan yang mengembalikan kehidupannya yang sempat hilang.

⛓️ ── ❄️ ── ⛓️ ── ❄️ ── ⛓️

Keheningan yang mengendap di aula kediaman utama terasa begitu mencekam, jauh lebih dingin ketimbang angin malam yang berembus di luar selasar benteng. Aroma ramuan herbal dan kain kasa basah mengisi udara ruangan, menandai pertolongan pertama yang baru saja diberikan pada luka di lengan Hana. Di sudut ruang berlantai batu, Mai duduk di atas kursi kayu dengan kepala menunduk dalam. Jemarinya bertaut erat di pangkuan, menunjukkan kecanggokan dan rasa bersalah yang teramat sangat atas keberadaannya di tempat itu.

Namun, di hadapannya, Kai berdiri tegak dengan tangan kanan yang tak pernah lepas dari hulu pedangnya. Manik mata hitam pemuda itu menatap Mai tajam, membias gurat kecurigaan mutlak yang tak tergerus sedikit pun oleh linangan air mata atau gurat kelemahan yang ditunjukkan gadis itu.

"Kai, lukaku sudah dibalut dan penawar racunnya sudah bekerja," ucap Hana pelan seraya melangkah mendekati Kai, mencoba meraih pergelangan tangan pemuda itu. "Mai bukan lagi sosok yang diperalat sihir hitam. Darah murni itu telah memutus belenggunya. Kau bisa melihat sendiri pendaran matanya yang kini murni."

Kai tidak mengalihkan pandangannya dari Mai, suaranya mengalun dingin dan rendah, memotong pembelaan Hana. "Setetes darah suci mungkin bisa menghidupkan kembali jantungnya yang mati, Hana, tapi itu tidak serta-merta menghapus rekam jejak pengkhianatan yang pernah ia perbuat di masa lalu."

Mai mendongak pelan, bibirnya bergetar saat menatap Kai. Wajahnya pucat, membias rasa sakit bukan karena fisik, melainkan karena kebenaran dari ucapan Kai yang menghantam jiwanya. "Aku tahu aku tidak pantas mendapatkan pengampunan darimu, Kai... Dulu, sebelum sihir terlarang itu merenggut nyawaku, aku memang memilih berjalan di samping Rei. Aku dibutakan oleh ambisi dan kebencian hingga tega mengkhianati kalian berdua."

"Dan bagaimana aku bisa yakin bahwa penyesalanmu saat ini bukan bagian dari sandiwara baru?" tukas Kai dengan nada tajam yang menghujam udara. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, mengintimidasi Mai dengan aura kepemimpinannya yang pekat. "Dulu kau tersenyum di balik punggung Hana sementara kau membocorkan rahasia Kuil Lembah Bintang kepada musuh. Kini, setelah kau diberi kesempatan bernapas kembali, kau mengharapkan kami mempercayaimu begitu saja?"

"Kai, cukup!" sela Hana tegas, berdiri tepat di antara Kai dan Mai. Ia menatap Kai dengan mata beningnya yang dipenuhi permohonan sekaligus keteguhan. "Aku mengenalnya sejak kecil. Aku merasakannya saat darahku menyatu dengan dadanya tadi, kebencian dan kegelapan itu sudah benar-benar lenyap. Jika kita tidak memberi ruang bagi jiwa yang ingin bertobat, lalu apa bedanya kita dengan mereka yang menghancurkan perbatasan ini?"

Kai mengepalkan tangannya rapat-rapat, mengalihkan pandangannya ke arah jendela luar dengan raut wajah yang mengeras. Ketegangan di dalam dadanya bergolak hebat; logika perang dan naluri pelindungnya menolak keras kehadiran sosok yang pernah menghancurkan kepercayaan benteng, meski hati kecilnya menyaksikan keajaiban murni yang baru saja terjadi.

"Dia boleh tinggal di dalam benteng ini hanya demi memulihkan kondisinya, Hana," ujar Kai akhirnya, suaranya berat dan dingin bagaikan ikrar batu. "Tapi dia berada di bawah pengawasan penuh Komandan Boma. Jika ada satu saja langkahnya yang mencurigakan, aku sendiri yang akan memastikan dia tidak mendapatkan kesempatan ketiga."

Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, Kai memutar badannya dan melangkah keluar dari aula, meninggalkan langkah kakinya yang bergema berat di sepanjang lorong batu. Mai hanya bisa menunduk pasrah, menerima tatapan dingin itu sebagai konsekuensi atas masa lalunya, sementara Hana merengkuh bahunya pelan, menyalurkan kehangatan di tengah dinding rasa curiga yang masih membentang tinggi.

1
ginevra
kenapa semuara orang mau bikin gara2 sama kai sih
ginevra
anggun sekali penggambarannya
Aquarius97 🕊️
buat saja Hana menjadi istrimu Kai ... atau mengamuk saja dulu, mereka pasti tunduk
Aquarius97 🕊️: hihihi siapp akak 🙏🏻
total 2 replies
Xlyzy
pergi gitu aja mai tinggalkan jejak gitu Tah berupa ayam bakar mungkin 😁
Sarifah_Aini97: Haha bisa aja nih! Kalau jejaknya ayam bakar, yang ada malah langsung habis dicemilin sebelum ketemu jalan pulangnya 😂 Makasih ya udah mampir dan baca!
total 1 replies
Miu.Nuha
haish Hana punya rasa takut juga ya ternyata 🤭 tadi sok2 berwibawa saat bicara berdua, hehe...
Miu.Nuha
apakah naga di dalam tubuh kai pernah keluar dan mengamuk?? 😱
Sarifah_Aini97: belum sampai kesitu isi ceritanya
total 1 replies
Rain Aricia
Kok aku merasa si Hana ada rasa ga suka gitu ya sama Kai? Apa mereka saling benci
Sarifah_Aini97: Pertanyaan bagus! Apakah mereka saling benci atau ada alasan lain di balik sikap mereka? Penasaran kan? Yuk, terus ikuti kelanjutannya, pelan-pelan rahasianya bakal terbuka kok! 🤗
total 1 replies
༺⬙⃟⛅ MULIANA💦
nah kan. hana sejenis mata-mata untuk melihat keadaan
Rain Aricia
Eh berarti si naga tau dong apa aja yang dipikirin sama Kai🤔
༺⬙⃟⛅ MULIANA💦
apa hana mata-mata yang dikirimkan?
Three Flowers
Mai atau Hana yang jahat?
Three Flowers: hehe iya gpp deh Thor... penasaran bikin tambah sedep nikmatin kisahnya
total 4 replies
Three Flowers
berarti Hana berada di pihak lawan?
Cimol krispy
Hei Mai, jangan asal bicara. bisa jadi Hana juga di paksa untuk datang
Cimol krispy
seolah² seisi benteng tengah mempersiapkan sesuatu yang besar dan berbahaya ya Kai
-Thiea-
jadi, semua orang pengen lihat si kai jatuh ya. karena kekuatannya sudah dianggap melemah, gak sekuat dulu. 🤔
Filan
vibenya sangat tegang tapi masih belum begitu paham masalah yang sedang mereka hadapi. Di sini hanya Hana yang bukan berasal dari klan mereka dari 4 wanita itu ya.
Mega Siregar
apakah itu peringatan😧?
Xlyzy
Apa yang mereka cari?, bisa bisa di tengah perjamuan bikin kacau
Three Flowers
apakah mereka mengincar Hana?
Three Flowers
sosok Mai ini kelihatan bar bar, kebalikan dari Hana.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!