NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan

Hakim Dari Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / TKP
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang Seorang pengusaha dan pengacara terkenal.Di malam hari dia menjadi Vigilante untuk membalaskan dendam kematian keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Dengan Keluarga

Pagi itu di sebuah rumah besar bergaya tradisional Minangkabau, suasana terasa hangat dan damai. Sinar matahari baru saja menembus celah-celah daun rindang di halaman, menerpa dinding kayu berukir yang telah berdiri kokoh selama puluhan tahun. Di ruang tengah yang luas, meja makan panjang sudah terhidang dengan berbagai hidangan khas: nasi kapau, gulai ayam, rendang daging yang dimasak perlahan hingga bumbu meresap sempurna, sambal hijau yang menggugah selera, serta ketupat dan sayur nangka muda. Keluarga besar Sikumbang dan Chaniago sedang berkumpul menikmati sarapan bersama, sebuah kebiasaan yang selalu dijaga sebagai wujud memelihara kebersamaan dan ikatan persaudaraan.

Di ujung meja duduk Arlan Rasyad Sikumbang, kepala keluarga yang dihormati karena bijaksana dan berwibawa, namun tetap lembut hatinya kepada setiap anggota keluarga. Di sampingnya terlihat istrinya, Sarlina Wati Chaniago — seorang wanita anggun, pandai mengatur rumah tangga, dan menjadi tempat berbagi cerita serta nasihat bagi semua orang di rumah itu. Tidak jauh dari mereka, duduk Erwin Rasyad Chaniago, putra sulung yang kini mulai tumbuh menjadi Remaja dewasa dengan pemikiran yang matang. Di samping Erwin duduk dua anak kembar yang menjadi kebanggaan seluruh keluarga, Bhumi dan Bayu, yang wajahnya tampak ceria sambil sesekali bertukar pandang dan berbicara dengan nada riang. Di ujung barisan duduk pula adik bungsu, Ainun Rasyad Chaniago yang baru berusia Lima tahun; dengan rambut dikepang rapi dan mata yang bersinar penuh rasa ingin tahu, ia menyimak percakapan orang-orang di sekelilingnya dengan penuh perhatian.

Suasana makan yang tenang dan akrab itu tiba-tiba terhenti ketika terdengar suara ketukan pintu yang lembut namun tegas, disusul bunyi langkah kaki yang melangkah mendekati teras rumah. Sarlina wati segera berdiri dan melangkah membuka pintu, disertai rasa penasaran yang terlintas di wajah semua orang yang sedang duduk. Begitu daun pintu terbuka lebar, mata Sarlina wati melebar terkejut, lalu senyum lebar dan tulus segera terukir di bibirnya.

“Ya Allah… Tirta! Benarkah itu kamu?” serunya dengan suara yang sedikit bergetar karena rasa gembira yang tak terkira.

Di ambang pintu berdiri seorang pria berperawakan tegap dan berkarisma, mengenakan pakaian rapi yang mencerminkan jabatannya sebagai seorang perwira menengah kepolisian. Ia adalah Iptu Tirta Aji Pamungkas, anak semata wayang dari AKBP Andi Rajo Alam Sikumbang — saudara kandung Arlan yang masih sehat dan aktif mengabdi di tempat penugasannya. Di samping Tirta berdiri seorang wanita cantik dengan perut yang mulai membesar, tanda ia sedang mengandung tujuh bulan. Wanita itu adalah Diah Ayu Kadita Arka Denta, istri Tirta sekaligus putri kedua dari keluarga terhormat Arka Denta.

Sarlina Wati segera mempersilakan mereka masuk dengan tangan terbuka, lalu memanggil seluruh anggota keluarga untuk berkumpul menyambut tamu istimewa itu.

“Arlan, Erwin, Bhumi, Bayu, Ainun… cepatlah kemari! Ada tamu yang sudah lama kita nantikan datang menjenguk kita semua,” panggilnya dengan suara lantang namun tetap lembut. Dalam sekejap, seluruh keluarga beranjak dari tempat duduk dan bergerak mendekati pintu untuk menyambut kedatangan mereka.

Begitu melihat sosok Tirta, Arlan langsung melangkah maju dan merangkul keponakannya itu dengan erat.

“Tirta, anakku… sudah lama sekali kita tidak bertemu. Sehatkah kau dan juga ayahmu, Andi Rajo Alam? Semoga semuanya selalu dalam lindungan Tuhan,” tanya Arlan dengan nada hangat yang sarat kasih sayang. Tirta membalas pelukan pamannya itu dengan penuh rasa hormat dan rindu yang mendalam.

“Alhamdulillah, Paman Arlan. Kami semua sehat dan baik-baik saja. Ayah pun selalu mengirim salam dan doa untuk seluruh keluarga di sini. Rindu yang teramatlah yang akhirnya membawa kami melangkah kembali ke rumah ini,” jawab Tirta dengan suara yang tulus dan tenang.

Perhatian pun segera beralih kepada Diah Ayu yang berdiri setia di samping suaminya. Sarlina wati segera mendekat dan menyambutnya dengan lembut, menggenggam kedua tangannya dengan perasaan sayang.

“Selamat datang di rumah ini, Diah. Wah, kandunganmu sudah terlihat besar sekali. Semoga Ibu dan calon bayi selalu sehat dan selamat sampai hari persalinan nanti,” ujarnya sambil tersenyum ramah.

Diah Ayu mengangguk lembut, membalas genggaman tangan itu dengan senyum yang tenang dan bersyukur.

“Terima kasih banyak, Bibi Sari. Kami sangat senang dan lega bisa sampai di sini dengan selamat setelah perjalanan yang cukup jauh,” jawabnya dengan nada sopan.

Namun momen yang paling mengharukan terjadi ketika Tirta menoleh ke sekeliling ruangan dan matanya tertuju pada dua sosok kembar yang berdiri agak di belakang, yaitu Bhumi dan Bayu. Wajahnya seketika bersinar cerah, dan tanpa ragu ia melangkah mendekati mereka.

“Bhumi… Bayu… adik-adik kembar kesayangan Abang Tirta." ucapnya lembut dengan nada yang penuh rindu.

Tanpa menunggu lama, Tirta membuka kedua lengannya lebar-lebar, dan kedua anak itu langsung berlari masuk ke dalam pelukan hangat kakak sepupunya itu. Rasa rindu yang terpendam selama bertahun-tahun karena jarak dan kesibukan tugas akhirnya tercurah sepenuhnya dalam pelukan yang erat dan tulus itu.

“Kami sangat merindukan Abang Tirta! Sudah lama sekali kami ingin bertemu lagi,” seru mereka hampir bersamaan dengan suara yang riang.

Setelah melepaskan pelukan dengan Bhumi dan Bayu, Tirta segera beralih menyambut Erwin Rasyad Chaniago. Keduanya berjabat tangan dengan kuat, lalu saling merangkul sebagai tanda persaudaraan yang tak akan pernah luntur meski dipisahkan oleh waktu dan tempat.

“Kau makin dewasa, gagah, dan berwibawa, Erwin. Paman dan Bibi pasti sangat bangga melihat perkembanganmu,” puji Tirta dengan tulus.

Erwin pun tersenyum bangga sekaligus senang.

“Terima kasih, Kak Tirta. Kami semua sering menanyakan kabar Kakak dan juga Paman Andi Rajo Alam. Kami sangat bersyukur akhirnya Kakak bisa datang ke sini,” jawabnya dengan nada hormat.

Selanjutnya, Tirta berlutut sedikit agar posisinya sejajar dengan Ainun Rasyad Chaniago, si bungsu keluarga yang matanya masih memandang dengan rasa kagum dan penasaran.

“Dan ini pasti Ainun, adik bungsu yang sering disebut-sebut dalam setiap kabar yang kami terima. Kau sudah menjadi gadis yang cantik, sopan, dan bersinar matanya,” ucap Tirta sambil mengusap kepala Ainun dengan lembut dan penuh kasih sayang.

Ainun tersenyum malu-malu namun dengan sorot mata yang sangat gembira.

“Selamat datang, Kak Tirta dan Kak Diah. Semoga betah di rumah kami,” ucapnya pelan namun terdengar jelas dan manis.

Setelah semua salaman dan berpelukan, seluruh keluarga dipersilakan duduk melingkar di ruang tamu yang telah disiapkan dengan rapi. Suasana dipenuhi tawa, senyum, dan percakapan yang akrab seolah tak ada jarak yang pernah memisahkan mereka selama ini. Arlan mempersilakan Tirta dan Diah Ayu duduk dengan nyaman, sementara Sarlina wati segera memerintahkan pembantu rumah tangga untuk menyajikan minuman hangat dan makanan ringan agar tamu tidak merasa kekurangan apapun.

Dalam percakapan yang berlangsung hangat itu, Tirta kemudian menjelaskan alasan di balik kedatangannya yang membawa kebahagiaan bagi seluruh keluarga.

“Sebenarnya, baru saja ada perubahan dalam penugasan dinas saya. Saya dipindahkan ke wilayah yang tidak terlalu jauh dari sini. Begitu mendengar kabar itu, saya langsung berusaha mengurus segala sesuatunya secepat mungkin. Rindu yang teramat dalam pada tanah kelahiran, pada tradisi yang kami junjung, dan terutama pada keluarga besar di Minangkabau inilah yang menjadi alasan utama saya sangat berusaha agar bisa ditugaskan kembali ke daerah ini. Saya tidak ingin melewatkan kesempatan emas untuk berkumpul lagi dengan kalian semua,” ujar Tirta dengan nada yang tulus dan meyakinkan.

Mendengar penjelasan itu, wajah seluruh anggota keluarga tampak semakin berseri-seri.

“Alhamdulillah, ini kabar paling membahagiakan yang kami dengar dalam waktu yang lama,” ucap Arlan sambil mengangguk penuh syukur.

“Memang benar kata orang tua dahulu: darah dan ikatan persaudaraan tidak akan pernah terputus meski berapa lama pun terpisah atau seberapa jauh jarak memisahkan. Semoga tugasmu di sini berjalan lancar dan selalu diberi kemudahan,” tambahnya dengan doa yang tulus.

Sementara para pria melanjutkan percakapan tentang kabar terbaru keluarga, keadaan tanah kelahiran, hingga berbagi kenangan masa muda, Sarlina wati memperhatikan Diah Ayu yang sesekali mengusap perutnya dengan lembut, tanda ia mungkin mulai merasa lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Dengan kepekaan dan perhatian seorang ibu, Sarlina wati segera berdiri dan menyapa keponakan menantunya itu dengan lembut.

“Diah, perjalanan tadi pasti cukup melelahkan, apalagi kondisimu sedang mengandung tujuh bulan yang butuh istirahat lebih banyak. Mari, Bibi antar ke kamar istirahat yang sudah disiapkan khusus untukmu dan Tirta. Kamu bisa berbaring sebentar, mengatur napas, dan menenangkan diri sebelum melanjutkan obrolan lagi,” ajaknya dengan nada yang menenangkan.

Diah Ayu mengangguk dengan perasaan bersyukur mendalam.

“Terima kasih banyak, Bibi. Saya memang mulai merasa sedikit pegal dan berat di pinggang setelah duduk lama di kendaraan tadi,” jawabnya sopan.

Sarlina wati lalu menggandeng tangan Diah Ayu dan berjalan perlahan menuju ruang keluarga yang lebih tenang, sejuk, dan nyaman — jauh dari keramaian namun tetap dekat sehingga ia tetap bisa mendengar suara keluarga jika ingin bergabung kembali. Di sana sudah disiapkan tempat tidur dengan alas yang empuk, bantal dan selimut yang bersih, serta segelas air hangat agar ia bisa beristirahat dengan tenang dan nyaman.

Sementara itu, di ruang tamu, percakapan terus berlanjut dengan suasana yang semakin hangat dan akrab. Bhumi dan Bayu duduk tepat di samping Tirta, bertanya banyak hal dengan antusias — mulai dari kehidupan di kota tempat Tirta sebelumnya bertugas, tugas-tugas sebagai perwira kepolisian, hingga kisah-kisah menarik yang pernah dialaminya. Tirta menjawab setiap pertanyaan itu dengan sabar dan sederhana, bahkan sesekali menyelipkan cerita ringan yang membuat kedua anak itu tertawa lepas. Erwin pun ikut terlibat dalam percakapan, bertukar pikiran dengan Tirta mengenai nilai-nilai kehidupan, tradisi Minangkabau yang harus tetap dijaga, serta tanggung jawab sebagai generasi penerus keluarga. Ainun yang masih kecil pun mendengarkan dengan mata terbuka lebar, sesekali mengajukan pertanyaan sederhana yang justru membuat suasana semakin hidup dan akrab.

Arlan memperhatikan semua itu dengan hati yang penuh rasa syukur. Baginya, momen seperti ini adalah harta yang tak ternilai harganya — jauh lebih berharga daripada harta benda apapun. Di tengah kesibukan dunia dan perubahan zaman, menjaga kebersamaan dan kasih sayang dalam keluarga tetap menjadi akar yang menopang kekuatan hati setiap anggotanya. Ia melihat bagaimana Tirta tumbuh menjadi sosok yang tangguh, bertanggung jawab, namun tetap menjaga kesopanan, rasa hormat, dan kerendahan hati — mewarisi sifat baik dari ayahnya, AKBP Andi Rajo Alam Sikumbang yang juga dikenal sebagai sosok teladan.

Tak lama kemudian, Sarlina wati kembali ke ruang tamu dan melaporkan bahwa Diah Ayu sudah merasa lebih segar dan nyaman setelah beristirahat sebentar.

“Dia sudah merasa lebih baik dan ingin segera bergabung kembali bersama kita semua jika tidak mengganggu obrolan,” ujar Sarlina Wati sambil tersenyum. Tirta pun mengembuskan napas lega dan merasa sangat berterima kasih.

“Terima kasih banyak, Bibi, atas perhatian dan kebaikan hati Bibi kepada istri saya. Sungguh, kami merasa sangat diterima dan betah berada di rumah ini seolah tidak pernah pergi,” ucapnya dengan rasa terima kasih yang mendalam.

Sementara para pria melanjutkan percakapan tentang kabar terbaru keluarga, keadaan tanah kelahiran, hingga berbagi kenangan masa muda, Sarlina wati memperhatikan Diah Ayu yang sesekali mengusap perutnya dengan lembut, tanda ia mungkin mulai merasa lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Dengan kepekaan dan perhatian seorang ibu, Sarlina wati segera berdiri dan menyapa menantunya itu dengan lembut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!