Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#09 Ruangan Gelap
Suara lantang itu tiba-tiba memecah kesunyian dan perdebatan di ruang tengah itu. Semua mata seketika tertuju pada pemilik suara itu, yang tak lain adalah Ayla.
“Kau?! Sejak kapan kau ada di sana?! Berani-beraninya belajar menguping pembicaraan orang tua dan kakakmu ya!” bentak Papa Bayron marah.
“Lalu kenapa?! Apakah aku harus diam saja mendengar hal yang mengejutkan dan kejam seperti itu? Selama ini aku sama sekali tidak pernah menikmati sedikit pun kemewahan atau harta kekayaan keluarga Gunawan. Aku hidup menderita, disakiti, dibenci, dan disiksa. Tapi kenapa sekarang, saat ada masalah, kalian malah ingin mengorbankan aku? Pa, Ma, Kak... kalian benar-benar tega ya?” ucap Ayla sambil berjuang menahan tangis yang hampir tumpah.
Sudah beberapa menit ia berdiri di balik dinding mendengar semuanya. Kakinya yang lemas kini terasa makin tak bertenaga, namun rasa sakit hatinya jauh lebih berat.
“Beraninya anak sial pembawa nasib buruk sepertimu bicara seterang itu di hadapan kami semua!” seru Papa Bayron, lalu bangkit berdiri dengan amarah meluap.
“Ma, Pa, Kak... aku mohon kali ini saja. Jangan korbankan aku... aku mohon sekali lagi. Aku sudah punya Kak Reyhan. Kami sudah berpacaran dua tahun lamanya, kami saling mencintai dan berjanji akan bersama selamanya...” rengek Ayla, suaranya bergetar ketakutan.
Setelah berani melawan sedikit tadi, kini ia kembali melemah, berusaha membujuk dan meluluhkan hati mereka. Namun, sepertinya usahanya itu sia-sia belaka. Karena bagaimanapun juga, ia bukanlah Alena.
"Kau tidak punya hak untuk bernegosiasi dengan keluarga ini. Lagipula, Reyhan lebih cocok dengan Alena, bukan denganmu," ungkap Adnan sambil menatap Ayla penuh kebencian.
"Ayla, Mama mohon, setujui saja ya. Keluarga Aditama adalah keluarga kaya dan terkemuka di kota ini. Menikah dengannya, bukankah itu suatu keberuntungan bagimu?" ucap sang Mama berusaha membujuk. Ia bahkan menghampiri Ayla dan menggenggam tangan putrinya itu.
"Tapi Ma, siapa yang tidak tahu kalau Tuan Muda Valen itu cacat fisik dan mental? Jika memang itu disebut keberuntungan, kenapa tidak kalian berikan saja kepada Alena, kesayangan kalian?" jawab Ayla dengan tegas. Untuk pertama kalinya, ia berani bicara setegas itu.
Plak...
Sebuah tamparan keras dari Mama Tina mendarat tepat di pipi Ayla, hingga sudut bibir gadis itu berdarah segar.
"Kau ini benar-benar keras kepala! Alena itu membutuhkan perhatian dari kami. Jika dia yang menikah, rasanya tidak adil. Dia sama sekali bukan anak kandung keluarga ini, jadi dia tidak punya tanggung jawab untuk membantu keluarga ini," jelas Mama Tina, mulai emosi.
"Mamamu benar," ucap Papa Bayron.
"Kalian juga tahu kalau Alena bukan anak kandung, tapi selama ini kenapa hanya aku yang selalu tersisihkan?" bantah Ayla lagi.
"Itu karena kau pembawa malapetaka," ucap Adnan.
Hati Ayla seperti tersambar petir mendengar ucapan kakaknya itu. Telinganya bahkan terasa berdenging hebat.
Namun di saat yang bersamaan, Bastian berdiri dari duduknya lalu menghampiri Ayla.
"Kak, aku mohon..." ucap Ayla, seolah menaruh harapan terakhir kepada Bastian.
"Ayla, Kakak minta maaf. Tapi kita semua tidak punya jalan lain. Kau harus menerima perjodohan ini," ucap Bastian sambil memegangi kedua pundak Ayla.
Seketika, pupus sudah harapan gadis malang itu. Ia kembali merasa lemah dan tak berdaya mendengar jawaban Bastian.
Adnan dan Mama Tina tersenyum tipis, senang mendengar Bastian berpihak kepada mereka.
"Tidak! Aku tidak mau! Aku sama sekali tidak mau! Aku tidak mencintai laki-laki itu, aku punya Kak Reyhan di sisiku!" ucap Ayla, masih berharap Reyhan akan berpihak padanya.
"Baiklah kalau begitu. Kau tidak perlu makan sampai kau setuju untuk menikah," ucap sang Papa. Ia kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Ayla.
Orang tua itu langsung menarik tangan Ayla dan membawanya ke tempat biasa. Ya, ke mana lagi kalau bukan ke ruang kurungan. Tempat yang gelap gulita itu adalah tempat di mana Ayla selalu dikurung untuk menerima hukuman.
"Pa..." ucap Bastian, hendak mencegah.
"Biarkan saja," potong sang Mama, lalu menahan Bastian agar tidak berbuat apa-apa.
Sementara itu, Adnan hanya tersenyum tipis melihat kejadian itu.
"Lepaskan, Pa! Aku mohon, jangan kurung aku, Pa! Lepaskan aku, aku mohon!" jerit Ayla, namun teriakannya sama sekali tidak dihiraukan.
Tubuh kurusnya terpelanting masuk ke dalam ruangan yang sangat gelap itu. Pintu pun ditutup rapat, dan ia dikunci di sana tanpa diberi makanan maupun minuman.
"Kau hanya boleh keluar jika kau sudah setuju," ucap Papa Bayron, lalu meninggalkan tempat itu.
"Pa! Buka pintunya, Pa! Aku mohon jangan kurung aku! Pa! Ma!" jerit Ayla sambil menggedor-gedor pintu kayu itu sekuat tenaga.
Namun, tak ada satu pun yang mempedulikannya. Seolah-olah semua orang di luar sana tuli dan tidak mendengar apa pun.
Ayla pun akhirnya menyerah. Ia duduk bersandar di pojok ruangan sambil memeluk kedua lututnya. Percuma saja ia memberontak; hal itu hanya akan membuatnya semakin tersiksa, karena mereka tidak akan pernah berhenti memaksanya melakukan apa pun yang mereka inginkan.
Malam harinya.
Reyhan dan Alena tiba kembali di rumah. Kepulangan Alena sebenarnya membuat Papa, Mama, dan yang lainnya sedikit terkejut, karena mereka mengira Alena akan menghabiskan waktu lebih lama berduaan dengan Reyhan di rumah sakit.
"Ma, Pa, Kakak... aku kembali," ucap Alena dengan wajah yang terlihat sangat gembira.
"Om, Tante," sapa Reyhan, sambil masih menenteng tas berisi pakaian ganti milik Alena.
"Astaga, Alena, kau sudah kembali? Kenapa begitu cepat? Mama pikir kau akan dirawat lebih lama sampai benar-benar pulih," ucap Mama Tina, bergegas menghampiri putri angkatnya itu.
"Aku bosan di rumah sakit, Ma. Lagipula, sekarang aku sudah merasa enakan," jawab Alena sambil tersenyum manis.
"Syukurlah kalau begitu. Alena sudah kembali," ucap Papa Bayron lega.
"Bintang keberuntungan akhirnya pulang. Rumah ini bisa bersinar kembali," lanjut Adnan dengan nada suara yang sangat manis.
"Reyhan, terima kasih banyak sudah menjaga Alena," ucap Bastian.
Reyhan tersenyum lalu mengangguk. Sosok Ayla yang tidak terlihat di sana sama sekali tidak menimbulkan pertanyaan sedikit pun di benak Reyhan, seolah-olah ia sudah melupakan keberadaan gadis itu begitu saja.
"Kalau begitu, aku permisi pulang dulu, Tante, Om," ucap Reyhan, hendak beranjak pergi.
"Tunggu, Reyhan," cegah Alena sambil memegangi pergelangan tangan laki-laki itu.
"Ada apa?" tanya Reyhan sambil berbalik badan.
"Sebaiknya kau pergi setelah makan malam saja. Anggap saja ini ucapan terima kasihku karena kau sudah menemaniku seharian penuh," ucap Alena dengan tatapan penuh harap.
"Alena benar. Ayo makan. Kebetulan sekali, kami semua juga belum makan. Ayo makan bersama, setelah itu baru kau pulang," sambung Papa Bayron.
"Baiklah, aku tidak bisa menolak tawaran itu," jawab Reyhan. Ia tak tega menyakiti hati Alena dengan menolak permintaannya.
Akhirnya, mereka pun berkumpul di meja makan minimalis yang ada di ruang makan rumah itu.
****
Maaf sebelumnya aku salah up bab
bukan satu atau dua alur cerita begini jadi udah malas ma ceritanya