NovelToon NovelToon
Joni Fighter

Joni Fighter

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Game
Popularitas:960
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Dunia telah berubah sejak terbukanya Arcane Nexus—sebuah celah dimensi misterius yang menghubungkan bumi dengan dunia monster yang ganas. Demi bertahan hidup, umat manusia mendirikan tiga akademi elit untuk melatih para petarung faksi (Brawler, Swordsman, Archer, dan Shaman) agar mampu menyelaraskan getaran energi Ki mereka, yang dikenal sebagai sistem RAN (Resonance of Arcane Nexus).
​Joni, seorang mahasiswa baru faksi Brawler di Kampus Sacred Gate, awalnya hanya ingin fokus berlatih demi meneruskan jejak mendiang ayahnya. Namun, ia justru terseret ke dalam pusaran konspirasi gelap yang melibatkan kekuatan korporasi raksasa, militer kampus saingan, hingga ambisi berbahaya yang mengancam kestabilan dinding dimensi. Di tengah ancaman duel hidup-mati melawan rivalnya yang menggunakan kekuatan terlarang, Joni harus menjalani penempaan ekstrem di kedalaman wilayah tak bertuan untuk membangkitkan resonansi murni tubuhnya dan mengungkap kebusukan yang terstruktur di puncak kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Sore itu Joni pulang ke rumah seperti biasa. Jalannya masih pincang, wajahnya penuh lebam, bibirnya pecah, bahkan beberapa giginya terasa grepes akibat sparing melawan Master Johan. Bedanya, kali ini ia pulang sambil menyeringai lebar seolah baru menang undian.

Begitu pintu dibuka, emaknya langsung menoleh dari dapur. Bukannya panik melihat kondisi anaknya, wanita itu malah tertawa puas.

"Waduh, mantap betul! Nah, gini dong anak emak. Namanya juga Brawler, pulangnya jangan mulus-mulus amat."

Lalu ia mengangkat alis sambil menunjuk Joni.

"Heh, gimana? Udah naik level belum? Kalau belum, gue ceburin lo ke sumur."

Joni malah terkekeh.

"Hehehe..."

"Lah, malah ngakak. Udah apa belum?"

"Nih, Mak. Joni tunjukin."

Joni berjalan ke tengah ruang tamu. Ia mengenakan Iron Gauntlet pemberian Master Johan, lalu mengepalkan tangan kanannya. Perlahan aura tipis berwarna keemasan mulai menyelimuti kepalannya. Melihat itu, emaknya ikut memasang wajah penasaran.

"Heavy Punch!"

BOOOMMMM!!

GUSRAAAKKK!!

BLEDAAARRR!!

Gelombang pukulan menghantam udara dan langsung menjebol tembok ruang tamu. Ledakannya terus melesat hingga menghancurkan dinding dapur. Batu bata beterbangan ke mana-mana, sementara debu memenuhi seisi rumah.

Joni langsung membeku. Wajahnya pucat melihat rumah mereka kini berlubang besar dari depan sampai belakang. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.

"Waduh... mampus. Kali ini gue beneran diceburin ke sumur."

Beberapa detik suasana berubah sunyi. Emaknya hanya menatap lubang besar di dinding tanpa berkedip. Joni bahkan sudah bersiap lari kalau sapu atau panci mulai melayang.

Tiba-tiba...

"BUWAHAHAHAHAHA!"

Emaknya malah tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perut. Air matanya bahkan hampir keluar karena terlalu senang.

"Nah, gitu dong! Akhirnya anak emak bisa juga dapat skill Level 7!"

Ia menepuk bahu Joni berkali-kali sambil tersenyum bangga. Tatapannya kembali mengarah ke tembok yang sudah jebol.

"Jon, emak nggak nyangka. Lo memang baru Level 7, tapi daya ledak pukulan lo bukan kelas Level 7. Ini udah mendekati kekuatan Brawler Level 30."

Joni menatap kepalan tangannya sendiri dengan wajah tak percaya. Ia memang tahu Heavy Punch kuat, tetapi tidak menyangka hasilnya sedahsyat itu.

"Latihan lo ternyata nggak sia-sia," lanjut emaknya. "Terus pertahanin. Jangan balik jadi pemalas lagi. Kalau terus berkembang begini, suatu hari nanti lo bisa jadi Brawler yang jauh lebih hebat dari emak."

Mendengar itu, Joni tersenyum lega. Jantungnya yang tadi hampir copot akhirnya kembali tenang. Rumah memang jebol, tetapi melihat senyum bangga emaknya, ia merasa semua rasa sakit dan latihan keras selama ini benar-benar terbayar.

"Emang... emak dulu pernah sampai level berapa sih?" tanya Joni penasaran sambil memandangi lubang besar di tembok rumah.

Emaknya menyeringai bangga lalu menyilangkan tangan. "Hmm... bukannya emak mau sombong, ya. Tapi Brawler yang bisa tembus Level 120 itu jarang banget. Dulu waktu emak masih aktif, sekali mukul bukan cuma tembok yang jebol. Baja tebal juga bisa penyok. Hahaha!"

Mata Joni langsung membulat. "Hah? Berarti... emak bisa ngeratain rumah ini juga dong?"

"Mau lihat?" tanya emaknya sambil mengepalkan tangan.

"Eh! Jangan, Mak! Nanti Joni tidur di mana?"

"Hahaha... dasar penakut."

Emaknya lalu masuk ke dapur dan kembali membawa sebuah botol kaca kecil berisi cairan hijau menyala. Cairan itu berkilau aneh, bahkan sesekali mengeluarkan gelembung kecil yang membuat tampilannya lebih mirip racun daripada minuman.

"Nih, minum. Elixir warisan leluhur keluarga kita. Efeknya nggak enak, tapi besok pagi badan lo bakal segar lagi."

"Iya, Mak."

Tanpa banyak berpikir, Joni langsung menenggaknya sampai habis.

Baru dua detik berlalu...

Seluruh tubuhnya mendadak bergetar hebat.

"As... asem..."

Uap tipis keluar dari kepalanya.

Mata Joni melotot hampir keluar dari rongganya, sementara lehernya menegang seperti sedang dicekik seseorang.

"Heuakk...!"

"Hoekk...!"

"Hegghhh...!"

Bruk!

Joni ambruk telentang di lantai dan langsung pingsan.

Emaknya hanya melirik sekilas, lalu tertawa puas sambil memungut botol kosongnya.

"Bwahahaha! Baru tahu, ya, rasanya Elixir Leluhur? Memang begitu efeknya. Rasanya kayak mau mati dulu, baru sembuh. Tenang aja, besok bangun-bangun badan lo malah lebih enteng dari sebelumnya."

Malam itu Joni tidur pulas seperti kebo. Suara dengkurannya memenuhi seisi rumah, keras sampai jendela ikut bergetar pelan. Bukannya dipindahkan ke kasur, emaknya malah membiarkan Joni tergeletak begitu saja di lantai. Sementara itu, sang emak rebahan santai di sofa sambil berselimut, seolah tidak merasa bersalah sedikit pun.

Keesokan paginya, suara kokok ayam membangunkan Joni. Ia menguap panjang sambil meregangkan tubuh. Anehnya, rasa sakit yang semalam memenuhi sekujur badannya kini hilang tanpa bekas. Lebam di wajah lenyap, memar di lengan menghilang, bahkan nyeri di perut akibat pukulan Master Johan juga tidak terasa lagi. Tubuhnya justru terasa ringan dan penuh tenaga.

"Huaaah... seger banget, yak."

Baru setelah duduk, Joni sadar dirinya masih tidur di lantai ruang tamu. Ia langsung menggaruk kepala sambil manyun.

"Hadeh... tega banget emak. Masa anaknya dibiarin semalaman di lantai. Tapi... ah, badan gue enak banget. Rasanya enteng, kayak bisa terbang."

Tak lama kemudian emaknya keluar dari kamar sambil menguap kecil. Melihat Joni sudah bangun, ia langsung menunjuk meja makan.

"Udah bangun, Jon? Sarapan tuh. Emak udah siapin nasi uduk."

"Siap, Mak."

Joni langsung duduk di meja makan dengan wajah penuh semangat. Hari itu terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya. Setelah berbulan-bulan berlatih keras hingga akhirnya mencapai Level 7, kini ia resmi diizinkan memasuki Dimensi Monster.

1
Semoli Ginon
eh asa bruise jr. 👍
Semoli Ginon
wkwkwkw keluarga koplak🤣
Semoli Ginon
wahahah. ngenes amat nasib lo jon😄
Semoli Ginon
oke seru juga lanjut👍
Semoli Ginon
uhuyy 😄
Semoli Ginon
ini kan faksi2 di game ran online jadul ya?
Semoli Ginon
🤭🤭🤭
Semoli Ginon
adub baru mulai udah mirip gua 🤭
Boqin Changing
jelek. masa MC nya namnya , joni
👁Zigur👁: lah ya suka2 ku lah..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!