Demi takhta tertinggi Klan Zhou, Zhou Yu dijebak oleh konspirasi kejam. Menggunakan ramalan palsu, para tetua mengasingkannya ke Pulau Sunyi—tempat para biksu tanpa kekuatan kultivasi, tempat di mana masa depannya sengaja dikubur hidup-hidup.
Enggan membiarkan takdirnya mati dalam kesunyian, Zhou Yu nekat melarikan diri ke Hutan Keramat yang tabu. Di sana, di balik kabut abadi, dia menemukan kerangka naga raksasa yang terantai.
Siapa sangka, setetes darah Zhou Yu justru menghancurkan segel kuno dan membangkitkan takdir yang sebenarnya: Garis Keturunan Iblis Kuno yang ditakuti langit dan bumi! Dengan tulang naga iblis di tubuhnya dan dendam yang membara di hatinya, Zhou Yu berjalan keluar dari pulau pengasingan.
"Kalian membuangku karena takut aku merebut takhta? Bersiaplah, karena sekarang aku kembali untuk meratakan seluruh klan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Identitas Rahasia dan Ibu Kota
Zhou Yu tetap berdiri tegak di posisinya, menatap datar ke arah pelayan tua bernama Mu Rong yang sedang menjura hormat di hadapannya. Ekspresi wajahnya di balik tudung jubah hitam tidak menunjukkan riak emosi sedikit pun.
Di dunia kultivasi, pujian dan rasa terima kasih yang berlebihan sering kali merupakan awal dari sebuah penyelidikan yang berbahaya.
"Hanya seorang pengawal pengembara bernama Yu Ling," jawab Zhou Yu, suaranya terdengar berat dan dingin. "Aku bertindak karena burung itu menghalangi jalanku menuju kabin, bukan untuk mencari pujian dari siapa pun."
Mendengar jawaban yang begitu acuh tak acuh, Mu Rong tidak merasa tersinggung. Sebaliknya, kilatan kekaguman di matanya semakin pekat.
Seseorang yang memiliki kekuatan brutal luar biasa namun tetap mampu menjaga kerendahan hati—atau lebih tepatnya, keangkuhan yang tenang—bukanlah kultivator sembarangan.
Gadis berbaju ungu di samping Mu Rong melangkah maju setengah langkah. Dia menjinjitkan gaun sutranya sedikit dan membungkuk dengan sangat anggun.
"Terlepas dari apa alasan Anda, Tuan Muda Yu Ling, Anda telah menyelamatkan dek ini dari pertumpahan darah yang lebih parah. Saya Mu Rong Xue, dan ini adalah pengawal setia keluarga saya, Paman Rong."
Mu Rong Xue menatap Zhou Yu dengan sepasang mata indahnya yang jernih.
"Keluarga kami adalah Klan Mu Rong. Kami mengelola beberapa jaringan paviliun perdagangan di berbagai benua. Perjalanan kami ke Ibu Kota Langit Timur kali ini adalah untuk memenuhi undangan VIP dari Klan Zhou yang akan menggelar Turnamen Penerus Klan mereka bulan depan."
Mendengar nama klan dan tujuannya, Zhou Yu menyipitkan mata di balik tudung.
Klan Mu Rong adalah raksasa ekonomi yang posisinya sejajar dengan Kamar Dagang Sembilan Surga. Dukungan atau koneksi dari mereka bukanlah hal yang buruk, terutama saat dia harus menyusup ke sarang musuh tanpa memicu alarm faksi Zhou Gung lebih awal.
Menadari Zhou Yu adalah tipe pria yang tidak suka membuang kata-kata, Mu Rong Xue merogoh sebuah benda dari kantong penyimpanannya. Sebuah token kecil yang terbuat dari batu giok ungu murni, diukir dengan lambang naga yang melingkari sekuntum bunga teratai.
"Tuan Muda Yu Ling, ini adalah Token Giok Ungu kehormatan dari Klan Mu Rong," ucap Mu Rong Xue sembari menyodorkannya dengan kedua tangan.
"Jika Anda membutuhkan informasi, tempat tinggal, atau akses khusus apa pun di Ibu Kota nanti, Anda hanya perlu menunjukkan token ini di Paviliun Dagang Mu Rong mana pun. Tolong jangan menolaknya."
Zhou Yu menatap token giok tersebut sejenak sebelum akhirnya mengulurkan tangan kanan yang berselimut lengan jubah hitam untuk menerimanya.
"Baik. Anggap saja ini sebagai bayaran atas hilangnya gangguan burung tadi."
Setelah menyimpan token tersebut, Zhou Yu langsung berbalik tanpa berpamitan dan berjalan masuk kembali ke dalam kabin pribadinya. Dia meninggalkan Mu Rong Xue yang tersenyum tipis dan Paman Rong yang menarik napas dalam-dalam karena lega.
Dua hari berikutnya berlalu tanpa ada gangguan berarti. Kapal Terbang Sembilan Surga melesat dengan kecepatan penuh melintasi ribuan mil daratan, membelah pegunungan tinggi dan sungai-sungai besar Benua Langit Timur.
Hingga akhirnya, pada pagi hari ketiga, kapal terbang mulai menurunkan ketinggiannya secara signifikan. Suara gemuruh pelan dari formasi kristal energi penahan lambung kapal menandakan bahwa mereka telah tiba di tujuan akhir.
Zhou Yu keluar ke dek kapal bersama kerumunan penumpang lainnya. Begitu pandangannya menembus lapisan awan tipis, sebuah pemandangan kota raksasa kuno yang luar biasa megah terhampar di bawahnya.
Kota Langit Timur. Ibu Kota dari seluruh peradaban wilayah timur.
Kota ini dikelilingi oleh tembok batu hitam raksasa setinggi puluhan meter yang dilapisi oleh formasi pelindung kuno yang memancarkan pendaran cahaya keemasan tipis. Di dalam kota, jutaan bangunan batu bertingkat berjejer rapi, dipisahkan oleh jalan-jalan lebar yang dipadati oleh manusia.
Namun, yang paling mencolok adalah bagian pusat kota. Di sana, sebuah kompleks kastil batu megah dengan arsitektur kuno berdiri di atas bukit tinggi, mendominasi seluruh lanskap kota bagaikan seekor naga raksasa yang sedang mendongak menantang langit.
Itu adalah kediaman utama Klan Zhou. Tempat di mana Zhou Yu dilahirkan, dan tempat di mana dia dikhianati.
'Aku kembali,' batin Zhou Yu.
Tangannya mengepal erat di balik lengan jubah hingga memicu getaran samar Abyssal Qi yang langsung ditekannya kembali.
Begitu kapal terbang mendarat dengan mantap di dermaga udara pusat kota, Zhou Yu bergerak cepat membaur di antara ratusan penumpang yang turun. Saat melangkah keluar dari area pelabuhan menuju gerbang pemeriksaan bawah, indra tajam Zhou Yu langsung menangkap barisan prajurit klan berbaju zirah perak berat lengkap dengan logo elang emas milik Klan Zhou di dada mereka. Mereka memeriksa dengan sangat ketat setiap pendatang yang masuk ke dalam kota.
Namun, perhatian seluruh gerbang pemeriksaan dan ribuan orang di jalanan mendadak teralihkan oleh sebuah gemuruh suara tapak kuda mistis dari arah jalan utama.
Kleng! Kleng! Kleng!
Suara lonceng perak berdenting klir di udara saat sebuah kereta kencana megah yang ditarik oleh empat ekor Kuda Pegasus bersayap putih melintas lambat membelah kerumunan.
Kereta itu dilapisi kain sutra putih bersih dengan ukiran ornamen berbentuk pedang perak yang menyilang di setiap dindingnya—lambang resmi dari Sekte Pedang Suci. Di sekeliling kereta, belasan murid elit Sekte Pedang Suci berkuda dengan ekspresi angkuh, mengawal jalannya kereta kencana tersebut menuju ke arah bukit kastil Klan Zhou.
"Lihat! Itu kereta dari Sekte Pedang Suci!"
"Peri Lin Xinyue telah tiba! Putri jenius sekte itu akhirnya datang ke Ibu Kota untuk menemui tunangannya, Tuan Muda Zhou Feng!"
Bisik-bisik kagum dan sorakan penuh gairah dari para kultivator muda di sepanjang jalan langsung bergaung riuh. Di mata dunia, ini adalah kedatangan sang putri suci yang akan bersatu dengan sang naga baru dari Klan Zhou.
Zhou Yu berdiri diam di tepi jalan raya yang padat, menarik tudung jubah hitamnya lebih dalam ke bawah. Dari balik kegelapan kain penyamarannya, sepasang mata vertikal berwarna merah darah menyala dingin, menatap lurus ke arah jendela kereta kencana yang tertutup tirai sutra tipis tersebut.
Aliansi yang megah, tunangan yang berpaling, dan klan yang siap merayakan kemenangan di atas penderitaannya.
"Nikmatilah kemegahan ini selagi kalian bisa," bisik Zhou Yu sangat pelan, suaranya lenyap tertelan oleh riuhnya sorak-sorai kota.
"Karena saat turnamen dimulai, aku akan meremukkan seluruh perayaan ini menjadi panggung pemakaman kalian."