NovelToon NovelToon
Mr And Mrs Adiputra

Mr And Mrs Adiputra

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Obsesi
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

Ruang VIP restoran hotel bintang lima itu terasa begitu mencekam. Meja oval besar di tengah ruangan telah dipenuhi oleh keluarga besar Adiputra dan keluarga Arunika. Aroma makanan mewah yang tersaji seolah tidak mampu mencairkan ketegangan yang menggantung di udara.

Thomas berdiri di depan cermin besar koridor sebelum masuk, merapikan setelan jas midnight blue yang sangat pas di tubuh tegapnya. Di sampingnya, Arunika tampak luar biasa cantik dengan gaun senada yang mereka pilih di butik kemarin. Riasannya yang flawless membuat wajahnya terlihat sangat segar dan dewasa.

"Mas, jangan pasang muka galak, ya. Senyum dikit kenapa sih? Ini kan ceritanya kita lagi jatuh cinta," bisik Arunika sambil memperbaiki letak dasi Thomas yang sebenarnya sudah sempurna.

Thomas menatap pantulan Arunika di cermin. "Aku tahu harus berakting apa, Arunika. Kamu cukup diam dan ikuti alurnya."

"Ihh, sombong banget sih! Awas ya kalau nanti aktingnya kaku kayak kanebo kering," gerutu Arunika.

Thomas tidak menjawab. Ia hanya mengulurkan sikunya, memberikan isyarat agar Arunika menggandengnya. Dengan napas panjang, Arunika melingkarkan tangannya di lengan kokoh Thomas. Pintu kayu ek besar itu terbuka, dan keduanya melangkah masuk.

Seketika, suara denting sendok dan obrolan ringan terhenti. Seluruh pasang mata—Mama Papa Thomas, Tante dan Om, orang tua Arunika, hingga Marsel yang duduk berdampingan dengan Aletta—terpaku pada mereka.

"Malam, semuanya," sapa Thomas dengan suara bariton yang tenang namun berwibawa.

Marsel adalah yang pertama kali menjatuhkan garpunya. Matanya membelalak, menatap tangan Arunika yang melingkar erat di lengan kakaknya. "Thomas? Arunika? Ini... ini maksudnya apa?"

Papa Thomas, Pak Adiputra, berdehem sambil membetulkan letak kacamatanya. "Kalian datang bersamaan? Thomas, bukannya kamu bilang asistenmu yang akan menyusul?"

"Arunika bukan sekadar asisten, Pa," jawab Thomas lugas. Ia menarik kursi untuk Arunika di sebelah posisinya, lalu duduk dengan tenang.

Mama Arunika tampak bingung sekaligus kaget. "Nika? Sejak kapan kalian... dekat? Kamu bilang ke Mama cuma magang di kantor Thomas?"

Thomas meraih tangan Arunika di atas meja, menggenggamnya dengan jemari yang hangat dan protektif. "Maaf kalau ini mengejutkan semuanya. Tapi kami memang sudah menjalin hubungan serius selama beberapa waktu ini. Hanya saja, kami memilih untuk menjaganya tetap privat sampai semuanya siap."

Aletta, yang sedari tadi diam, menyipitkan mata. "Tapi Kak Thomas, setahuku Arunika itu kan..." Ia melirik Marsel, namun tidak berani melanjutkan kalimatnya saat melihat tatapan tajam Thomas.

"Sejak kapan, Tom?" tanya Om-nya Thomas penasaran. "Kok Tante sama Om nggak pernah denger?"

"Sudah cukup lama. Sejak aku menyadari bahwa wanita yang aku cari sebenarnya ada di sebelah rumah," jawab Thomas tanpa ragu. Kalimat itu terdengar begitu tulus sampai-sapai Arunika sempat ragu, ini akting atau bukan?

Thomas menatap kedua orang tua mereka secara bergantian. "Dan kedatangan kami malam ini adalah untuk meminta restu. Kami sudah memutuskan untuk meresmikan hubungan ini."

"Kapan?" tanya Papa Thomas singkat.

"Satu minggu lagi," jawab Thomas tenang. "Kami akan melangsungkan pernikahan."

Uhuk! Uhuk!

Arunika yang baru saja menyesap air putih langsung tersedak hebat. Ia terbatuk-batuk sampai wajahnya memerah. Thomas dengan sigap mengusap punggungnya, menyodorkan tisu dengan gerakan yang sangat perhatian.

"Mas... kamu serius? Satu minggu?" bisik Arunika dengan suara parau di tengah batuknya. Di kontrak kan tertulis sebulan lagi untuk persiapan!

Thomas menoleh, menatap Arunika dengan tatapan yang begitu lembut namun menyimpan dominasi yang kuat. Ia mengusap sudut bibir Arunika yang sedikit basah dengan ibu jarinya.

"Aku serius, baby girl. Persiapannya sudah hampir selesai. Tidak ada alasan untuk menunda lebih lama, kan?"

Panggilan itu—baby girl—meluncur begitu saja dari bibir Thomas yang biasanya hanya mengeluarkan perintah dingin. Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Marsel yang semula sedang mencoba menyuap makanannya, mendadak menghentikan gerakannya di udara. Matanya menatap tajam ke arah tangan Thomas yang masih mengusap wajah Arunika. Ada rasa tidak terima yang bergejolak di dadanya, sebuah perasaan posesif yang telat muncul.

Arunika sendiri hanya bisa berkedip-kedip cepat. Ia tampak seperti sinyal ponsel yang sedang lag parah. Otaknya mencoba memproses: Barusan dia panggil apa? Baby girl? Sejak kapan skenarionya jadi se-lebay ini?!

"Satu minggu?!" suara Marsel meninggi, membuat Aletta di sampingnya tersentak. "Mas, ini nggak masuk akal! Nikah itu bukan main-main. Arunika masih kuliah, dia bahkan belum wisuda!"

Thomas memutar kepalanya perlahan, menatap adiknya dengan tatapan meremehkan. "Aku tahu apa yang aku lakukan, Marsel. Arunika tetap bisa menyelesaikan kuliahnya sambil menjadi istriku. Justru dengan begini, aku bisa memastikan masa depannya terjamin."

"Tapi kalian bahkan nggak pernah kelihatan pacaran!" bantah Marsel lagi.

"Memangnya cinta harus selalu dipamerkan di depanmu?" balas Thomas pedas. "Tidak semua orang suka mengumbar kemesraan seperti remaja yang baru tahu cara berkencan. Kami lebih suka kualitas daripada publikasi."

Mama Arunika mulai terisak kecil karena haru. "Tante nggak nyangka... Thomas yang Tante kenal kaku banget ternyata bisa se-romantis ini sama Nika."

"Thomas memang penuh kejutan, Jeng," sahut Mama Thomas sambil tersenyum lebar. Ia tampak sangat puas dengan pilihan putranya. "Thomas, kalau memang sudah siap satu minggu lagi, Mami akan bantu semua urusan katering dan dekorasi."

Thomas mengangguk. "Terima kasih, Mi. Semua sudah diatur oleh timku, Mami cukup datang dan memberikan restu."

Di bawah meja, Arunika meremas paha Thomas, memberikan kode 'jelasin-maksudnya-apa'. Thomas justru menangkap tangan Arunika dan mengaitkan jari-jari mereka, membawanya ke atas meja untuk diperlihatkan pada semua orang.

"Kamu tenang saja, sayang. Semuanya akan sempurna," ujar Thomas sambil mengecup punggung tangan Arunika.

Marsel membanting serbetnya ke atas meja. "Aku mau ke toilet sebentar," pamitnya ketus lalu berjalan keluar dengan langkah gusar. Aletta mencoba memanggilnya, namun Marsel mengabaikannya.

Arunika menatap punggung Marsel yang menghilang, lalu kembali menatap Thomas. Pria itu sedang menyesap anggurnya dengan ekspresi kemenangan yang sangat nyata.

"Mas... satu minggu itu beneran?" bisik Arunika sekali lagi saat orang tua mereka mulai sibuk mengobrol soal detail teknis.

Thomas mendekatkan wajahnya ke telinga Arunika, membiarkan napasnya menyentuh kulit leher gadis itu hingga membuat Arunika merinding.

"Tentu saja. Kenapa? Kamu takut tidak bisa akting selama itu?"

"Bukan gitu... tapi satu minggu itu mepet banget!"

"Lebih cepat kamu menjadi milikku secara sah, lebih cepat aku bisa menyingkirkan lalat-lalat pengganggu di sekitarmu," ujar Thomas dengan suara rendah yang sangat posesif. "Bukankah kamu ingin Marsel menyesal? Lihat mukanya tadi. Itu baru permulaan."

Arunika terdiam. Ia melihat ke arah pintu tempat Marsel keluar, lalu ke arah Thomas yang ada di sampingnya. Untuk pertama kalinya, Arunika menyadari bahwa Thomas tidak sedang bermain-main dengan 'permainan' ini. Pria ini sedang melancarkan serangan total untuk memenangkannya.

Dan yang paling menakutkan bagi Arunika adalah... ia mulai tidak keberatan dengan panggilan 'baby girl' itu, meskipun ia tahu itu mungkin hanya bagian dari sandiwara hebat sang CEO.

"Makanlah, Arunika. Kamu butuh tenaga untuk menjadi pengantin paling cantik minggu depan," ujar Thomas sambil memindahkan sepotong daging terbaik ke piring Arunika.

Arunika hanya bisa mengangguk pasrah, sambil terus bertanya-tanya dalam hati: Ini beneran nikah kontrak, atau aku baru saja masuk ke dalam jebakan Batman yang bernama Thomas Adiputra?

1
Alex
ku tunggu thor🤭
merry
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/nungu dh lm tu ank org Ardi 🤣🤣🤣 dh lm bljr juga jdi bisa bkin ank perwan org baper🤣🤣🤣
merry
klo dh cinta diksh hal kcil pun dh bhgia y tom 🤭🤭🤭🤭
merry
moga aj nika gk terpengaruh lg sm Marcel biar Marcel nyesel dan Aleta nyesel yg di incar bukn CEO🤣🤣🤣
merry
msh polos 🤣🤣🤣mklum blm pnh pcran trs yg di kejar mn cuek Bebek
merry
jgn hrpin mercel lg nika,, trs jjur aj sm pernikahan mu sm orgtua mu
Alex
wkwkwkwkwkwkwk
gagal
coba lagi dong 🤭
Alex
sweet bgts pak CEO ini
Alex
suka bgtss ceritanya
Nasya
selamat pegantin baru
Dyou Tatik
lanjut kak
Nasya
diihh marsel 🙄
Nasya
🤣
bunga citra
sabar ya mas Thomas
bunga citra
bagus
bunga citra
lanjut
Nasya
aaawww so cutee 🥰
English Lesson
Kak, nggak update?
Nasya
co cuit mas thomas, smngat 😁💪🏻💪🏻
English Lesson
Sweet💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!