NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Sang Raja Mafia

Pengantin Pengganti Sang Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Syahrul Mulia

Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Arunika Maheswari terpaksa menggantikan kakaknya menikah dengan Arsen Valentino, seorang CEO sekaligus Raja Mafia paling berkuasa. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan itu membawa Arunika masuk ke dunia penuh rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya setiap saat.

Di tengah bahaya yang terus mengintai, hubungan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang tak terduga. Namun, mampukah Arunika bertahan sebagai istri sang Raja Mafia, atau justru menjadi kelemahan terbesar yang akan menghancurkan Arsen?

Disclaimer : Novel ini dibuat semata-mata untuk hiburan. Seluruh isi cerita merupakan imajinasi penulis dan tidak untuk ditiru atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penyalahgunaan isi novel di luar tujuan sebagai bacaan hiburan.

Terima kasih dan selamat menikmati cerita. ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrul Mulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 - Benang Merah yang Ternoda

Lobi utama mansion Valentino yang biasanya sunyi dan megah seketika berubah menjadi neraka fungsional yang bising. Aroma anyir darah segar menguar pekat, mengalahkan wewangian aromaterapi mahal yang terpasang di sudut ruangan. Suara derit sepatu bot para penjaga yang berlarian, teriakan panik tim medis internal yang datang membawa tandu, serta suara rintihan tertahan Baskoro berbaur menjadi satu simfoni yang memekakkan telinga.

"Siapkan defibrilator! Tekanan darahnya merosot tajam!" teriak salah satu dokter pribadi keluarga Valentino, jemarinya dengan cepat menggunting kemeja Baskoro yang sudah basah kuyup oleh darah.

"Ayah! Ayah, lihat aku!" Arunika histeris. Dia mencoba menerobos barisan penjaga, melupakan fakta bahwa dia hanya mengenakan kemeja sutra hitam kebesaran milik Arsen. Kakinya yang telanjang terasa dingin menyentuh lantai marmer yang kini mulai tergenang cairan merah.

"Aruni..." Bisikan Baskoro nyaris tak terdengar di antara kericuhan itu. Pria tua itu terbatuk, memuntahkan darah hitam dari sela-sela giginya yang patah. Sepasang matanya yang bengkak menatap Arunika dengan tatapan yang begitu kosong, seolah jiwanya sudah setengah melangkah keluar dari raga.

"Jangan banyak bergerak, Tua Bangka, atau kau akan mati sebelum sempat meminta maaf pada anakmu," potong Arsen dingin. Pria itu berdiri kokoh di samping Arunika, sama sekali tidak tersentuh oleh drama kekeluargaan yang tragis di depannya. Di tangannya, selembar kertas suram pembawa pesan maut itu masih tercengkeram erat.

Arunika menoleh ke arah Arsen, matanya menyalang penuh kebencian dan keputusasaan yang campur aduk. "Dia sekarat, Arsen! Apa yang ada di dalam surat itu?! Katakan padaku!"

Alih-alih menjawab, Arsen justru melipat kertas itu dengan gerakan lambat, memasukkannya ke dalam saku celananya. "Bukan sesuatu yang perlu didengar oleh gadis cengeng sepertimu."

"Dia ayahku!" jerit Arunika, suaranya melengking memecah ketegangan di lobi. Emosinya benar-benar terkuras habis. Dalam satu malam, dia dikhianati, ditumbalkan, hampir dibunuh, dan sekarang dipaksa menyaksikan satu-satunya darah dagingnya hancur di depan mata. Rasa takutnya mendadak menguap, digantikan oleh kemarahan defensif yang meledak-ledak.

Arunika memukul dada bidang Arsen dengan tinju kecilnya. "Kau bilang kau kuat! Kau bilang kau penguasa! Tapi melihat musuhmu mengobrak-abrik keluargaku di depan hidungmu sendiri, kau hanya diam seperti patung! Kau pengecut, Arsen Valentino!"

*Plak!*

Suara tamparan tidak terjadi. Sebaliknya, pergelangan tangan Arunika ditangkap di udara oleh Arsen dengan kecepatan yang nyaris tak kasatmata. Cengkeraman pria itu kali ini jauh lebih menyakitkan dari sebelumnya. Arsen menarik tubuh Arunika hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.

"Jaga mulutmu, jalang kecil," desis Arsen, suaranya merendah hingga ke titik paling mengintimidasi. Sepasang mata elangnya berkilat berbahaya. "Jika bukan karena utang dua puluh miliar yang belum lunas ini, aku sendiri yang akan menembak kepala ayahmu seketika dia menginjakkan kaki di sini dengan membawa sial. Kau hidup karena aku mengizinkanmu hidup. Pahami posisimu."

Detak jantung Arunika mendadak melambat karena ketakutan yang kembali menyerang. Aura mematikan Arsen sanggup meredam seluruh kericuhan di lobi sejenak. Di depan pria ini, dia benar-benar bukan siapa-siapa. Hanya seonggok umpan hidup.

"Tuan Arsen! Sinyal jantungnya melemah!" seru sang dokter, memutus ketegangan di antara kedua orang itu. Tim medis dengan cekatan mengangkat tubuh Baskoro ke atas tandu, bersiap membawanya ke ruang operasi bawah tanah yang tersembunyi di balik mansion.

"Bawa gadis ini ke kamarku, kunci dari luar," perintah Arsen kepada Marco tanpa mengalihkan pandangannya dari Arunika. "Dan pastikan dia tidak melakukan tindakan bodoh jika tidak ingin melihat ayahnya langsung dikirim ke tempat pembuangan sampah."

"Baik, Tuan," Marco maju, memegang lengan Arunika dengan tegas namun penuh sopan santun yang dipaksakan. "Mari, Nona Arunika."

Arunika hanya bisa pasrah saat tubuhnya diseret kembali menaiki tangga koridor yang panjang. Dari atas tangga, dia sempat melirik ke bawah.

Arsen tidak mengikuti tim medis. Pria itu justru berjalan menuju ruang kerjanya dengan langkah tegap, mengeluarkan ponselnya, dan mulai memberikan perintah-perintah perang kepada seluruh faksi bawah tanahnya. Kericuhan di lobi perlahan surut, digantikan oleh persiapan sunyi menuju pertempuran yang jauh lebih besar.

Di dalam kamar mewah Arsen, Arunika dilemparkan ke atas sofa kulit tempatnya berada beberapa saat lalu. Pintu ganda dikunci dengan bunyi *klik* yang berat dari luar.

Kesunyian kamar ini mendadak terasa mencekik setelah kericuhan masif di lantai bawah. Emosi Arunika berangsur-angsur turun dari kemarahan yang meluap menjadi kehampaan yang luar biasa dingin. Dia memeluk lututnya, menatap noda darah samar yang tertinggal di kemeja hitam yang dia kenakan—darah pembunuh bertato yang tewas di tangan Arsen tadi.

Dua jam berlalu seperti siksaan yang lambat. Tidak ada kabar tentang ayahnya. Tidak ada tanda-tangan kehadiran Arsen. Hingga jarum jam menunjukkan pukul empat pagi, badai di luar telah sepenuhnya reda, menyisakan kabut tebal yang menyelimuti tebing di luar jendela mansion.

*Cklek.*

Pintu kamar terbuka. Arsen Valentino melangkah masuk. Wajahnya tampak sedikit lelah, namun sorot matanya tetap tajam dan tidak terbaca. Dia melepaskan jam tangan Rolex-nya, meletakkannya di atas meja kerja, lalu berjalan mendekati sofa tempat Arunika meringkuk.

Arunika mendongak, matanya yang sembap menatap Arsen dengan pandangan kosong. "Bagaimana... bagaimana keadaan Ayah?"

Arsen menatapnya diam dari atas ke bawah. "Dia selamat. Tim medis berhasil mengeluarkan tiga peluru dari kakinya. Tapi dia tidak akan bisa berjalan lagi seumur hidupnya."

Mendengar kata 'selamat', setitik rasa lega sempat menyergap dada Arunika. Setidaknya, dia tidak sepenuhnya sebatang kara di dunia ini. Namun, kalimat Arsen berikutnya langsung merenggut sisa ketenangannya.

"Dan sekarang, giliranmu untuk membayar harga dari keselamatan ayahmu," ucap Arsen sambil merogoh saku celananya, mengeluarkan kembali kertas pesan berdarah yang sempat disembunyikannya tadi. Pria itu melemparkan kertas tersebut ke pangkuan Arunika.

Dengan tangan bergetar, Arunika membuka lipatan kertas yang berbau besi berkarat itu. Tulisan di dalamnya berantakan, ditulis dengan coretan darah yang pekat. Namun, Arunika bisa membaca setiap hurufnya dengan jelas.

*“Arsen Valentino. Mainan barumu, Arunika, memiliki tanda yang sama dengan apa yang kau cari selama sepuluh tahun ini. Periksa bahu kirinya. Dia bukan sekadar pengantin pengganti. Dia adalah anak perempuan dari pria yang membantai seluruh keluargamu.”*

Arunika terbelalak, napasnya tercekat di tenggorokan. "Ini... ini bohong... Ini tidak mungkin!"

Arsen perlahan berlutut di depan sofa, membuat posisinya kini sejajar dengan Arunika. Namun, tidak ada kehangatan dalam gestur itu. Tangan kokoh Arsen bergerak perlahan, mencengkeram kerah kemeja sutra hitam yang dikenakan Arunika, lalu menariknya ke samping dengan satu sentakan kasar, menelanjangi bahu kiri gadis itu.

Di atas kulit putih mulus bahu kiri Arunika, terdapat sebuah tanda lahir berwarna merah pekat berbentuk menyerupai bulan sabit yang terpotong—tanda yang sejak kecil selalu dianggapnya sebagai hal biasa.

Arsen menatap tanda itu dengan mata yang menyipit tajam. Rahangnya mengeras hingga terdengar derit gigi yang beradu, sementara cengkeramannya pada kemeja Arunika mengencang hingga kain sutra itu berderit siap robek.

"Pesan ini dikirim oleh faksi Volkov," desis Arsen, suaranya bergetar oleh kombinasi amarah purba dan dendam yang selama sepuluh tahun ini dia pendam dalam kegelapan. "Dan mereka tidak pernah salah mengenali tanda milik sang pembantai."

Arsen menundukkan wajahnya, ujung hidungnya nyaris menyentuh leher Arunika, sementara tangan kanannya perlahan bergerak naik, mencengkeram leher ramping gadis itu dengan tekanan yang perlahan-lahan membunuh aliran udaranya.

"Katakan padaku, Arunika..." bisik Arsen, matanya merah menyala oleh hasrat membunuh yang murni. "Siapa nama asli ibumu sebelum dia menikah dengan Baskoro?"

_____________________________

**Bersambung ke Bab 6...**

*Rahasia kelam apa yang sebenarnya disembunyikan oleh mendiang ibu Arunika hingga tanda di bahunya membangkitkan dendam masa lalu sang raja mafia? Apakah Arunika kini benar-benar telah berubah dari sekadar pengantin pengganti menjadi musuh utama yang harus dihabisi oleh Arsen Valentino dengan tangannya sendiri? Jangan lewatkan badai konspirasi dan ketegangan yang semakin memuncak di bab berikutnya!*

1
lee eun ji
😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!