NovelToon NovelToon
Embers Of The Twin Fates

Embers Of The Twin Fates

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Cinta Istana/Kuno / Reinkarnasi
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: ibar

di dunia zentaria, ada sebuah kekaisaran yang berdiri megah di benua Laurentia, kekaisaran terbesar memimpin penuh Banua tersebut.

tapi hingga pada akhirnya takdir pun merubah segalanya, pada saat malam hari menjelang fajar kekaisaran tersebut runtuh dan hanya menyisakan puing-puing bangunan.

Kenzie Laurent dan adiknya Reinzie Laurent terpaksa harus berpisah demi keamanan mereka untuk menghindar dari kejaran dari seorang penghianat bernama Valdrik mortis

hingga pada akhirnya takdir pun merubah segalanya, kedua pangeran itu memiliki jalan mereka masing-masing.

> dunia tidak kehilangan harapan dan cahaya, melainkan kegelapan itu sendiri lah kekurangan terangnya <

> "Di dunia yang hanya menghormati kekuatan, kasih sayang bisa menjadi kutukan, dan takdir… bisa jadi pedang yang menebas keluarga sendiri <.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Draft

Baik, aku akan menuliskan Bab 11 – Takdir Kekaisaran Laurent sesuai semua detailmu, menggunakan full monolog Kenzie, tanpa merusak kesinambungan bab sebelumnya, dengan gaya naratif yang emosional, gelap, dan mendalam.

BAB 11 – TAKDIR KEKAISARAN LAURENT

(Full Monolog Kenzie)

± 2000 kata

Entah sudah berapa lama aku menatap langit-langit kamar Penginapan Sapphire Moon. Malam tadi aku tidur—atau setidaknya mencoba tidur—di tempat ini, tetapi tubuhku terasa lebih letih daripada sebelum aku memejamkan mata. Mungkin karena potongan-potongan masa lalu selalu muncul dalam bentuk mimpi yang hancur, seperti bangunan kekaisaran yang runtuh di depan mataku… meskipun aku tidak pernah melihatnya secara langsung.

Namun aku selalu merasa seperti aku pernah ada di sana.

Seperti aku pernah berdiri di tengah kobaran api itu.

Pagi ini… sama saja. Hatiku berat, tapi Rava dan Liera sudah mengetuk pintu.

“Kenzie, kami tunggu di bawah,” kata Rava tadi.

Aku hanya mengangguk dan mengikuti.

Ibu kota Elyndor di pagi hari tampak hidup—terlalu hidup, jika boleh jujur. Riuhnya membuat hatiku makin penuh, seperti tidak ada ruang untuk bernapas. Rava tersenyum melihat kios-kios yang menjual aneka barang, sementara Liera ribut sendiri melihat kios manisan.

“Ayo lihat ini! Ayo lihat itu!”

Mereka berdua seperti anak kecil.

Aku mencoba mengikuti ritme mereka, meski dari dalam, pikiranku tidak pernah berhenti bergemuruh. Aku hanya berharap sedikit ketenangan… atau mungkin sedikit pengalihan.

Dan entah kenapa, langkah kami berhenti di tempat yang seharusnya bisa memberi kenyamanan: rumah makan di lantai bawah Penginapan Sapphire Moon.

Aku hanya ingin makan. Hanya itu. Tidak lebih.

Tetapi hari ini… takdir tidak membiarkan aku makan dalam damai.

Begitu masuk, aku mendengar suara seorang pria tua—dengan jubah taoist lusuh, rambut memutih, dan tongkat kayu yang dipenuhi ukiran. Orang-orang menyebutnya Taoist Pendongeng.

Aku tidak berniat memperhatikannya. Awalnya.

Namun kata pertama yang keluar dari mulutnya menghentikan langkahku.

“Pada malam ketika Kekaisaran Laurent runtuh…”

Dunia seolah berhenti berputar.

Nafasku membeku.

Aku bahkan tidak sadar duduk. Suara taoist itu mengalir begitu jernih dan jelas… seperti ia membuka kembali masa lalu di depan mata kami.

“Kaisar Valerius Laurent berdiri sendirian di tengah aula istana… di hadapan sahabat seperjuangannya sendiri, Zarco D’Vareth.”

Jantungku seketika mencengkeram rusukku dari dalam.

Nama itu.

Zarco D’Vareth.

Orang itu… pengkhianat itu…

Taoist itu melanjutkan, suaranya perlahan berubah menjadi getaran yang menusuk.

“Mereka bertarung seperti dua bintang jatuh yang saling menabrak. Pedang Sang Kaisar dipenuhi cahaya; pedang Zarco dipenuhi bayangan. Keduanya pernah bersumpah untuk menjaga Laurent… tetapi malam itu, janji itu pecah.”

Aku menelan ludah.

Terlalu sulit.

Aku tidak tahu cerita itu secara utuh. Ibu… kakakku… tidak pernah mengatakan apa pun. Mereka selalu menjaga aku dan Reinzie dari masa lalu itu. Dari mimpi buruk itu.

Tetapi kini, mimpi buruk itu dipaksa masuk ke telingaku.

Taoist itu menutup mata, seolah ia benar-benar melihat kejadian itu lagi.

“Aku berada di sana saat itu,” katanya pelan. “Aku mendengar percakapan mereka.”

Suara-suara di ruangan menghilang.

Semuanya.

Hanya suara taoist itu yang tersisa.

“Zarco berkata: ‘Valerius… kekaisaran ini tidak lagi pantas dipimpin olehmu. Kau terlalu lemah untuk menghadapi kegelapan yang akan datang.’”

Lemah?

Terlalu lemah?

Tangan kiriku meremas kain celanaku.

Sakit.

Taoist itu melanjutkan.

“Sang Kaisar menjawab, ‘Jika gelap datang… kita hadapi bersama, seperti dulu. Mengapa kau memilih jalan ini, sahabatku?’”

Aku memejamkan mata.

Ayah…

Benarkah itu kata-kata ayah?

Pertarungan itu digambarkan dengan detail yang menyakitkan.

Suara dentingan pedang, runtuhnya pilar istana, dan bayangan monster yang menyerbu dari segala arah.

“Tiga pelindung kekaisaran memisahkan diri,” lanjut Taoist itu.

“Dua dari mereka menahan monster yang masuk ke istana. Mereka bertarung sampai tanah dipenuhi darah…”

Orang-orang di restoran menelan ludah. Beberapa bahkan berhenti mengunyah makanan mereka.

Dan aku… aku tidak bisa berkata apa-apa.

Aku mendengar semuanya.

Semua.

Termasuk bagian ketika taoist itu terdiam sejenak lalu berkata:

“Ketika sang Kaisar jatuh berlutut… Zarco berkata kepadanya, ‘Aku melakukan ini demi dunia… kau hanya menjadi penghalang.’”

Keringat dingin mengalir di pelipisku.

Tanganku gemetaran hebat.

Dan saat cerita itu selesai…

Semua orang menatap kosong, tegang, ngeri.

Termasuk aku.

Tetapi bedanya…

Dunia dalam diriku pecah.

Aku berdiri terlalu cepat, sampai kursi bergeser keras.

Rava dan Liera terkejut.

“Ke–Kenzie?”

“Mau ke mana?”

Aku tidak bisa menjawab.

Aku hanya tahu satu hal:

Aku harus pergi.

Aku harus keluar dari ruangan itu.

Dari cerita itu.

Dari rasa sakit itu.

“Maaf… aku… aku harus pergi.”

Itu saja yang mampu keluar dari bibirku.

Tanpa menunggu jawaban, aku keluar dari restoran—meninggalkan pandangan bingung Rava dan Liera.

Aku berjalan.

Tidak tahu ke mana.

Sampai akhirnya aku keluar dari kota.

Sampai aku tiba di hutan.

Sampai hanya suara angin dan pepohonan yang tersisa.

Di sinilah kemarahanku meledak.

Aku menghunus pedangku dan mengayunkannya ke udara yang kosong.

“Hah… hah… kenapa… kenapa aku harus mendengar itu?”

“Zarco D’Vareth… pengkhianat itu…!”

Aku mengayunkan pedang lagi dan lagi.

Hingga tangan terasa mati rasa.

Aku tidak peduli.

“Aku harus menjadi kuat…”

“Aku harus… aku harus lebih kuat dari siapa pun…”

Pedangku menabrak batang pohon dan menciptakan retakan panjang.

“Hanya dengan kekuatan… aku bisa membalasnya…”

“Hanya dengan kekuatan… aku bisa menebus semuanya…”

Dadaku naik turun, napasku patah-patah.

Itu bukan hanya amarah.

Itu… ketakutan.

Kesedihan.

Harga diri yang hancur.

Dan di tengah semua itu—aku mendengar suara ranting kecil patah.

Aku menoleh.

Wulan.

Dia berdiri di balik pohon, menatapku dengan sorot yang sulit kubaca.

Ternyata dia sudah lama di sana.

Mengamati.

Menyimak semuanya.

Dia tidak mendekat.

Hanya memandangku… dengan tatapan yang tidak menghakimi.

Entah kenapa… itu lebih menusuk daripada penghakiman.

Dia akhirnya berjalan pelan mendekat.

“Kenzie…”

Aku tidak bisa menatapnya.

Aku tidak ingin dia melihatku dalam keadaan seperti ini.

Tetapi Wulan tetap melangkah.

Sampai jarak kami tinggal satu meter.

“Cerita itu… bukan hanya sekadar cerita bagimu, bukan?”

Aku terdiam.

Pedang di tanganku terasa berat.

Lalu Wulan menanyakan hal yang tidak pernah kuterima dari siapa pun selama ini:

“Siapa sebenarnya dirimu… Kenzie Laurent?”

1
Ibar, {iba'rat Askar}
singgungan para petinggi istana yang tak ingin hasil bumi di sembunyikan🤭
Ibar, {iba'rat Askar}
lelucon hirarki para petani menanam hasil panen atau barang untuk di jual kembali jika harga melonjak naik
أسوين سي
💪💪
أسوين سي
💪
أسوين سي
💪💪💪
أسوين سي
👍
Ibar, {iba'rat Askar}
keren
LanLan.CNL
ayok bantu support
أسوين سي: mudah-mudahan ceritanya bagus sebagus Qing Ruo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!