Jodoh Yang Allah Tuliskan Untukku
“Farin, Fathan kecelakaan… semalam waktu pulang dari kampus. Sekarang dia koma, dirawat di RS Medika,” kata Aisha dengan suara bergetar, menahan tangis.
“Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh…” ucap Farin refleks, syok mendengar kabar itu.
Tiba-tiba Aisha memeluknya erat. Tangisnya pecah begitu saja, membuat Farin semakin bingung. Ada kesedihan yang terasa begitu dalam… terlalu dalam untuk sekadar rasa prihatin seorang teman biasa.
Fathan adalah kakak kelas mereka semasa SMA. Lulusan S1 Harvard yang kini melanjutkan studi S2 di Al Azhar, Kairo. Selain itu, ia juga menjadi dosen di salah satu kampus ternama. Karena sebagian mahasiswanya mengambil kelas malam, Fathan sering pulang larut.
Namun malam itu, takdir berkata lain, dalam perjalanan pulang, moge yang dikendarainya ditabrak dari belakang oleh motor yang melaju kencang. Pengendaranya adalah sekelompok remaja yang sedang balap liar.
Benturan keras di bagian kepala menyebabkan pendarahan hebat. Tulang paha kaki kanannya pun patah. Kini, Fathan tengah berjuang di antara hidup dan mati.
Farin masih terpaku. Ia belum benar-benar memahami arah emosi kesedihan Aisha. Bukankah Aisha adalah istri Zafran, dan Zafran sahabat Fathan? Tapi air mata itu… terasa terlalu pilu. Tatapan kosong itu… seolah menyimpan sesuatu.
“Yuk ke rumah sakit. Kita jenguk Fathan. Mas Zafran mana?” tanya Rachel pelan.
“Udah di sana dari tadi malam,” jawab Aisha cepat. “Ayo, kita nyusul.”
*****
Sesampainya di rumah sakit, mereka hanya bisa menemui keluarga Fathan. Fathan sendiri masih berada di ruang ICU dan belum boleh dijenguk sembarang orang.
Di antara keluarga yang berkumpul, Farin melihat seorang perempuan berhijab dengan wajah anggun dan pembawaan tenang. Senyumnya ramah meski matanya sembab karena menangis.
Farin dan Aisha menghampiri Ibu Fathan, mencoba menguatkan beliau. Mereka berbincang ringan tentang Fathan, tentang prestasinya, semangat hidupnya, dan semua hal membanggakan yang pernah ia capai.
Di tengah obrolan itu, Ibu Fathan tiba-tiba berbisik lirih.
“Sebenarnya… kami sedang menyiapkan kejutan buat Fathan. Rencananya bulan depan, pas dia pulang…”
Beliau menoleh ke arah gadis di sampingnya.“ Ini Alea, anak sahabat ibu. Dia juga kuliah di Kairo. Mereka sempat dekat… dan ibu berencana menjodohkan mereka.”
Suara beliau mulai bergetar, lalu terpotong oleh tangis yang tak lagi mampu ditahan. Alea segera menggenggam tangan Ibu Fathan lembut.
“Bu… yang penting sekarang kita doakan Mas Fathan dulu. Semoga beliau segera sadar dan sehat kembali,” ucapnya menenangkan.
Farin mengangguk pelan. Namun dari sudut matanya, ia menangkap kegelisahan Aisha. Sahabatnya itu tampak tidak tenang. Sesekali mencuri pandang ke arah dirinya, seolah ingin mengatakan sesuatu yang tak mampu diucapkan.
Ruang tunggu rumah sakit terasa sesak oleh kesedihan. Tangis tertahan, doa-doa lirih, dan harapan yang menggantung memenuhi udara.
Tak lama kemudian, Aisha menggamit tangan Farin. “Rin, yuk… kita pamit dulu,” bisiknya pelan.
Mereka pun berpamitan dan berjalan menuju lobi rumah sakit. Namun langkah keduanya terhenti saat berpapasan dengan Zafran.
“Mas Zafran, aku pulang dulu. Mas ikut nggak?” tanya Aisha lembut.
“Nggak, Dek. Mas masih di sini dulu. Kamu anter Farin, ya. Jaga diri baik-baik.”
Lalu Zafran menatap Farin dalam-dalam. “Farin… yang sabar, ya. Kita nggak pernah tahu seperti apa takdir esok hari. Tapi percaya… semua yang Allah tetapkan pasti punya maksud baik.”
Farin mengerutkan keningnya bingung mendengar kata-kata suami sahabatnya itu, ia hendak menjawab, tetapi sebelum sempat membuka suara, Aisha sudah menarik tangannya menjauh.
“Assalamu’alaikum, Mas. Kita jalan dulu,” ucap Aisha setelah mencium tangan suaminya kemudian berlalu.
“Aisha…” Farin menghentikan langkahnya di taman rumah sakit. “Aisha, kenapa sih kamu narik aku? Aku kan masih mau ngomong sama suami kamu. Tadi maksud Mas Zafran ngomong begitu apa coba?”
Nada bingung jelas terdengar dari suara Farin, sejak tadi, ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan darinya.
Aisha berhenti melangkah. Angin sore mengibaskan ujung hijabnya yang mulai basah oleh air mata. “Kamu… benar-benar nggak ngerti, Rin?” tanyanya lirih.
Farin menggeleng pelan. “Nggak. Aku bingung sama sikap kalian.”
Senyum pahit terukir di wajah Aisha. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi. “Dia… Fathan.”
Suara Aisha nyaris seperti bisikan. “Fathan adalah laki-laki yang sedang ta’aruf denganmu sekarang, Farin.”
Deg.
Seolah dunia berhenti berputar, Farin membeku. Napasnya tercekat. Beberapa bulir air mata jatuh begitu saja tanpa mampu ia tahan.
Pikirannya mendadak dipenuhi potongan-potongan kenangan yang selama ini tak pernah ia sadari. Tentang sosok lelaki yang diam-diam mulai ia selipkan dalam doa-doanya.
*****
Kala itu, di suatu sore…
“Rin, sahabat suamiku ada yang mau ta’aruf sama kamu,” kata Aisha sambil tersenyum jahil. “Dia nggak mau namanya disebut dulu. Tapi tenang aja, kita bakal buka semua tentang dia. Sifatnya, kelakuannya, kelebihannya, apalagi kekurangannya… kita bongkar semuanya biar kamu nggak nyesel nanti!”
Farin tertawa bersama Aisha dan Zafran.
“Oke, sekarang dengerin aku baik-baik,” lanjut Aisha.
“Dia… laki-laki yang diam-diam mengagumimu. Tapi dia nggak pernah memujamu berlebihan, karena cinta terbesarnya tetap untuk Rabb-nya.”
Farin mulai diam mendengarkan.
“Dia berharap kamu bersedia menjadi pendamping hidupnya. Tapi dia juga nggak pernah menjanjikan hal-hal muluk, karena dia sadar… dirinya cuma seorang hamba yang singgah sementara di dunia.”
Aisha menatap Farin lembut.
“Dia cuma ingin menawarkan kesederhanaan. Kalau kamu bersedia berjalan bersamanya dalam segala keterbatasan yang dia punya.”
“Bukan untuk dimanjakan seperti ratu… tapi untuk berdiri di sampingnya. Menjadi istri, sahabat, sekaligus teman hidup dalam suka maupun duka.”
Hati Farin terasa penuh mendengar semua itu.
“Beri aku waktu… untuk berpikir dan meminta petunjuk kepada Allah,” ucap Farin pelan.
“Tiga hari,” tawar Aisha cepat.
“Satu minggu,” balas Farin sambil tersenyum kecil. “InsyaAllah, setelah satu minggu aku kasih jawabannya.”
“Ya, satu minggu cukup,” ujar Zafran akhirnya ikut bicara. “Pertimbangkan baik-baik. Karena pernikahan adalah ibadah terpanjang dalam hidup.”
*****
Sejak malam itu, Farin menghabiskan hari-harinya di atas sajadah.
Dengan air mata yang tak jarang jatuh tanpa suara, ia menyerahkan segala kebimbangannya kepada Allah.
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Aku memohon kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu dan aku meminta sebagian dari karunia-Mu yang agung.
Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa, sedangkan aku lemah. Engkau Maha Mengetahui, sedangkan aku tidak mengetahui. Dan Engkau Maha Mengetahui segala yang gaib.
Ya Allah, apabila pernikahan ini baik untuk agamaku, kehidupanku, dan akhir urusanku, maka mudahkanlah, dekatkanlah, lalu berkahilah.
Namun jika pernikahan ini buruk bagiku, bagi agamaku, kehidupanku, dan akhir urusanku, maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkanlah aku darinya. Takdirkanlah kebaikan di mana pun berada, lalu jadikan aku ridha menerimanya.
Rabbi habli min ladunka zaujan thayyiban wayakūnu ṣāḥiban lī fid-dīni wad-dunyā wal-ākhirah.
Ya Rabb, anugerahkanlah kepadaku seorang suami terbaik dari sisi-Mu. Suami yang menjadi sahabatku dalam urusan agama, dunia, dan akhirat.”
Malam demi malam berlalu, tetapi kegelisahan itu belum juga hilang.
Hingga pada malam kelima, Farin tertidur di atas sajadahnya karena tak mampu lagi menahan kantuk.
Dalam tidurnya, ia melihat dirinya berada di sebuah pantai yang sangat luas.
Angin laut berembus lembut, memainkan debur ombak yang saling berkejaran di bawah semburat jingga senja. Tak ada siapa-siapa di sana selain dirinya sendiri.
Namun anehnya, di tempat itu Rachel merasa damai. Semua keresahan yang selama ini memenuhi dadanya seolah lenyap begitu saja.
Ombak kecil menyentuh kakinya perlahan, mengajaknya menikmati tenangnya lautan.
Tiba-tiba air laut surut perlahan, meninggalkan hamparan pasir basah yang berkilau seperti ukiran indah.
Di antara gulungan ombak yang kembali mendekat, Farin melihat sesuatu terombang-ambing ke arahnya.
Sebuah gulungan kertas kecil yang diikat anyaman daun menyerupai pita.
Karena penasaran, Farin memungutnya. Perlahan ia membuka gulungan itu.
Kosong.
Tak ada tulisan apa pun di sana.
Namun seketika, aroma harum menyeruak memenuhi indera penciumannya. Wangi lembut yang menenangkan, tetapi begitu segar dan semerbak.
Farin menoleh ke sekeliling, mencari seseorang. Namun sejauh mata memandang, pantai itu tetap kosong.
Hanya dirinya seorang.
Lalu samar-samar ia mendengar suara adzan.
Semakin lama suara itu semakin jelas… hingga perlahan membawanya kembali ke alam nyata.
Rachel tersentak bangun.
Ia masih bersimpuh di atas sajadahnya.
Namun yang membuatnya terpaku bukanlah mimpi itu.
Melainkan aroma harum tadi…
Wangi yang sebelumnya hanya ia rasakan dalam mimpi, kini masih tercium nyata di sekelilingnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments