NovelToon NovelToon
Istri Seksi Gus Ibra

Istri Seksi Gus Ibra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:22.4k
Nilai: 5
Nama Author: Elma Grace

​"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"


Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.

​Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.

Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.

​​Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

​Satu minggu sejak kepindahan Safira ke Pesantren Al-Madani, suasana di koridor kantor yayasan menjadi sedikit berbeda. Sebagai lulusan universitas ternama, Safira memang tidak kesulitan beradaptasi dengan kurikulum. Gaya mengajarnya yang anggun dan artikulatif segera menyita perhatian para santriwati senior. Namun, di balik dedikasi mengajarnya, ada intensitas lain yang perlahan mulai terbaca oleh orang-orang terdekat.

​Siang itu, cuaca Jakarta cukup terik. Di dalam ruang kerja ketua yayasan yang ber-AC, Ibra sedang fokus memeriksa draf anggaran pembangunan laboratorium bahasa yang baru. Lembar demi lembar berkas ia koreksi dengan jeli menggunakan pena hitamnya.

​Tok! Tok! Tok!

​"Masuk," sahut Ibra tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di mejanya.

​Pintu kayu jati itu terbuka perlahan. Langkah kaki yang ringan dan anggun terdengar mendekat. Bukan langkah kasual Bita yang biasanya langsung diiringi suara ceria.

​"Assalamualaikum, Gus Ibra."

​Ibra mendongak. Di depannya Safira, mengenakan gamis berwarna moka dengan khimar senada yang jatuh dengan sangat rapi. Di tangannya, ada sebuah stopmap jepret tebal dan sebuah paper bag kecil.

​"Waalaikumussalam. Oh, Ustazah Safira. Ada yang bisa dibantu?" jawab Ibra, suaranya terdengar formal, datar, dan langsung menggunakan gelar mengajar Safira di pondok untuk menegaskan batasan profesional.

​Safira tersenyum manis, mengabaikan nada dingin adik iparnya itu. Ia melangkah lebih dekat dan duduk di kursi berhadapan dengan meja Ibra setelah dipersilakan dengan isyarat tangan.

​"Ini, Gus. Saya mau menyerahkan silabus tambahan untuk kelas Fiqih Wanita intensif. Ada beberapa materi kontemporer yang menurut saya perlu dimasukkan agar anak-anak santriwati yang mau lulus ke perguruan tinggi umum punya bekal kuat," jelas Safira dengan artikulasi yang tertata rapi. Ia menyodorkan draf tersebut.

​Ibra menerima map itu. "Baik, terima kasih. Nanti akan saya tinjau bersama tim kurikulum yayasan."

​Safira tidak langsung berdiri. Ia membetulkan posisi duduknya, menatap Ibra dengan pandangan mata yang sengaja dibuat selembut mungkin. "Lalu... ada satu hal lagi, Gus. Kebetulan kemarin saya baca jurnal terbaru tentang metode pengajaran bahasa Arab di Timur Tengah. Saya tahu Gus Ibra sangat konsen di bidang ini. Kalau Gus ada waktu luang sore ini, mungkin kita bisa mendiskusikannya? Di kafe depan pondok atau di mana saja yang Gus Ibra mau."

​Ibra meletakkan draf silabus itu di atas meja. Tatapan mata elangnya menatap Safira lurus, dingin tanpa riak. "Mengenai pengembangan bahasa Arab, semua diskusi harus melalui rapat pleno pengajar hari Sabtu, Ustazah Safira. Saya tidak mengadakan diskusi personal di luar jam kerja yayasan."

​Penolakan halus namun telak itu membuat senyum di bibir Safira sempat membeku selama beberapa detik. Ia meremas pelan jemarinya di bawah meja. Namun, bukan Safira namanya jika langsung menyerah. Ia buru-buru meraih paper bag kecil yang dibawanya tadi.

​"Ah, iya, saya paham, Gus. Maaf kalau saya terlalu lancang," ucap Safira dengan nada suara yang dibuat agak bersalah, taktik klasik untuk memancing simpati. "Kalau begitu, ini saja... kemarin waktu senggang, saya mampir ke toko kopi arabika langganan. Saya ingat Gus Ibra sangat suka jenis beans yang ini karena tidak terlalu asam. Jadi, saya belikan satu untuk Gus."

​Safira mengeluarkan stoples kaca berisi biji kopi premium dan meletakkannya di atas meja kerja Ibra, tepat di sebelah tumpukan kitab.

​Ibra memandangi stoples kopi itu datar. Memori kepalanya memang mencatat bahwa dulu Safira sering berada di kafe yang sama saat ia mengadakan kajian, tapi itu tidak pernah berarti apa-apa baginya.

​Sebelum Ibra sempat merespons untuk menolak pemberian itu, pintu ruang kerja kembali terketuk, lalu terbuka lebar tanpa menunggu izin.

​"Mas Ibra! Aku bawain siomay yang di depan gang—eh?"

​Bita berdiri di ambang pintu dengan gamis santai dan jilbab instan hitam. Di tangan kanannya, ia menenteng kotak bekal plastik. Langkahnya mendadak terhenti begitu melihat keberadaan kakak kandungnya yang duduk manis di depan meja suaminya.

​Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah tegang. Safira menoleh, menampilkan senyum anggunnya kembali. "Eh, Bita. Kamu ke sini juga, Dek?"

​Ibra, yang melihat kedatangan Bita, langsung mengubah ekspresi wajahnya yang semula sedingin es menjadi jauh lebih hangat. Ia berdiri dari kursi kerjanya, berjalan memutari meja, dan langsung menghampiri Bita. Tanpa ragu di depan Safira, Ibra mengambil alih kotak bekal di tangan Bita dan menggenggam jemari istrinya yang terasa agak dingin.

​"Masuk, Sayang. Kebetulan sekali, Mas memang sudah lapar," ucap Ibra lembut, sengaja menggunakan panggilan "Sayang" dan "Mas" dengan volume yang sangat jelas terdengar ke seluruh penjuru ruangan.

​Bita sempat mengerjapkan matanya, agak kaget dengan sikap ofensif suaminya yang sangat peka melindungi perasaannya. Bita melirik ke arah meja kerja Ibra, dan matanya langsung menangkap stoples kopi arabika yang diletakkan Safira di sana.

​"Mbak Safira lagi ada urusan kurikulum ya?" tanya Bita, mencoba menetralkan suaranya agar tetap terdengar sopan namun memiliki ketegasan seorang istri sah.

​"Iya, Dek. Tadi Mbak cuma menyerahkan silabus tambahan sama ini..." Safira melirik stoples kopinya. "...kebetulan Mbak belikan kopi kesukaan Gus Ibra yang dulu sering kita beli di Jakarta."

​Bita menaikkan sebelah alisnya. Kalimat "sering kita beli" dari mulut Safira jelas sengaja diembuskan untuk memancing rasa tidak aman di hatinya. Namun, Bita bukanlah cewek yang lemah. Statusnya yang sudah menjadi istri seutuhnya bagi Ibra memberikannya rasa percaya diri yang kokoh.

​Sebelum Bita sempat membalas, Ibra sudah lebih dulu mengambil tindakan. Pria itu menuntun Bita untuk duduk di sofa panjang ruang kerja, lalu menoleh ke arah Safira dengan sikap formal yang tak tergoyahkan.

​"Terima kasih atas kopinya, Ustazah Safira. Tapi sepertinya kopi ini lebih baik dibawa ke dapur umum pengajar saja untuk dinikmati bersama ustaz yang lain," ujar Ibra tegas, memutus harapan Safira dalam satu kalimat. "Sebab sejak menikah, selera kopi saya sudah sepenuhnya disesuaikan dengan apa yang disiapkan oleh istri saya di rumah. Saya tidak lagi meminum kopi dari luar."

​Wajah Safira seketika berubah pias. Kata-kata Ibra barusan laksana tamparan tak kasat mata yang meruntuhkan harga dirinya sebagai seorang perempuan yang terbiasa dipuja. Kalimat itu menegaskan bahwa posisinya di mata Ibra tidak lebih dari sekadar seorang staf pengajar asing, sementara Bita adalah penguasa mutlak di hidup pria itu.

​Safira berdiri dengan kaku, mencoba mempertahankan sisa-sisa keanggunannya. "Ah... iya, Gus. Kalau begitu, saya permisi dulu kembali ke pondok putri karena jam istirahat sudah mau habis. Assalamualaikum."

​"Waalaikumussalam," jawab Ibra dan Bita bersamaan.

​Begitu pintu ruang kerja tertutup rapat, menyisakan mereka berdua, Bita langsung melepaskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya. Ia menoleh ke arah Ibra yang kini sudah duduk di sebelahnya sambil membuka kotak bekal siomay.

​"Mas Ibra beneran gak mau kopinya? Itu mahal lho, merek terkenal," goda Bita, menyenggol lengan Ibra dengan jahil, meski hatinya merasa sangat lega dan puas.

​Ibra menghentikan kegiatannya, lalu menatap Bita dengan tatapan intens yang membuat jantung Bita berdesir. Ia meraih dagu Bita lembut. "Mau semahal apa pun kopi di luar sana, tidak akan pernah bisa menandingi rasa sambal bawang dan nasi pulen yang kamu siapkan di rumah kita, Bita. Mas sudah mengunci hati Mas di sana, jadi kamu tidak perlu khawatir tentang apa pun."

​Bita tersenyum lebar, menyandarkan kepalanya di bahu tegap Ibra sambil memperhatikan suaminya yang mulai melahap siomay bawaannya. Di balik dinding yayasan Al-Madani ini, Bita tahu bahwa tantangan dari luar, bahkan dari kakaknya sendiri, akan selalu ada. Namun, selama Mas Ibra berdiri sekokoh ini di sampingnya, tidak akan ada satu celah pun yang bisa merusak rumah tangga mereka.

1
Siska Fatmawati
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 thor💪 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐮𝐩𝐝𝐚𝐭𝐞 𝐲
keynara
double update thor🙏
Della Nuri delima
thorrr jangan lama' up nya
Della Nuri delima
pasti lama nih up nyaaa
Anita Rahayu
ayo cepat biar safirot tau arti tidak dipedulikan😈😈😈😈😈😈
😈😤😡😡😡
sutiasih kasih
lanjut up banyak2 thor
sutiasih kasih
kok ak lbh setuju.... bita tak ada lgi hubungan keluarga dgn kedua org tuanya yg lucnut & sodara perempuannya yg biadab itu....
slm hidup bita diprlakukn tak adil.... sll di anggp ank sialan... 🙄🙄
sutiasih kasih
bolehkah.... bita kelak tak lgi mngenal org tuanya...
org tua yg slm ini sll mmprlakukn bita tak adil.... demi ank emasnya🙄🙄🙄
Dinda Putri
semoga kebohongan safira terbongkar semuanya kasian bita dari dulu terus teraniaya 😞🥲🔥🔥🥲
sutiasih kasih
sering2 up dunk thor....
Anita Rahayu
kapan thor kau buat gila si safirot ini karna udah ketauan busuknya kalau bisa sampai bikin malu ortunya yg dah pasang badan bela dia😤😤😤😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡
sutiasih kasih
ujian lucnut dri keluarga sndiri....
🙄🙄
harus mnambh sabar bita.... kelak saat smuanya trbongkar.... g msLah harus putus hubungan keluarga....
trkadang org lain adalah sbnrnya keluarga... wloupun tnpa ada ikatan darah....
Jas Merah
Hisss terllu berdrama..
sutiasih kasih
nungguin upnya thor
merry
takutnya ibra kena jebkn Batman gmn ya,, gk stuju ibra hrs jdi istri ke dua ya
merry
jgn jgn bita tu bukn ank kandung mu bu,, ko bisa bisa ya beda ksh syg bgtuu
merry
mkn tu ank pintar dan shalihah mu bu tar kena batu ya baru kapok dechh,,, msk hncur ngjak ngjak org
merry
tp ibra gk bodoh aku rasa. mah itu jebknn buat Safira yg bodoh kebanggaan mm bpky yg mengira bkln jdi istri muda ya ibra,,
merry
viralkan biar hncur tu kakak bgtu mah,, iblis sjj mkr mkr x sakitin sesama jin 🤭🤭🤭🤭ini rt ajj mau di embat pdhl dia ud dpt semua nya dr orgtua ya ank terlalu di manja bgtuu tu
merry
gk malu sm bju ya gk malu sm ilmunya gk malu sm adab ya,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!