Bagus , seorang pemuda yang di tolak cintanya dengan cara menyakitkan, mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cintanya. apa yg terjadi ? jika ternyata semua yang dia dapatkan hanya kenikmatan semu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 : Kedatangan di Rumah Dedi
Motor Beat karbu tua milik Bagus Sanjaya akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah minimalis berpagar besi hitam di kawasan pemukiman padat pinggiran kota. Begitu Bagus mematikan mesin motornya dan melepas helm ojolnya, dahi pemuda itu langsung berdenyut sangat kencang. Saraf di antara kedua alisnya menegang kaku. Meskipun matahari siang memancarkan sinar yang cukup terik, namun atmosfer udara di sekitar pekarangan rumah tinggal Dedi terasa sangat dingin, pengap, dan diselimuti oleh aroma anyir busuk yang samar-samar tercium oleh indra penciumannya.
Bagus menarik napas pendek dengan sangat tenang. Kepekaan batinnya yang sudah matang menangkap bahwa sisa-sisa gelombang energi negatif khodam Jaran Goyang milik Ki Demang bener-bener telah mendarat dan mengunci rumah ini sebagai area teror gaib sejak semalam.
Belum sempat Bagus mengetuk pintu pagar, pintu utama rumah sudah terbuka lebar. Dedi melangkah keluar dengan tergesa-gesa dengan raut wajah yang sangat kusut, pucat, dan sepasang mata yang merah akibat tidak tidur semalaman.
"Mas... Mas Bagus! Akhirnya Mas datang juga! Mari, Mas, langsung masuk ke dalam," sapa Dedi dengan nada suara yang sangat bergetar lirih, menjabat erat tangan Bagus laksana menemukan seberkas lilin penolong di tengah kegelapan gulita.
Bagus mengangguk tegap, melangkah mendampingi Dedi masuk menembus ruang tamu rumah yang suasananya terasa sangat suram dan mencekam. Begitu melangkah masuk ke dalam area ruang keluarga, pandangan mata Bagus langsung tertuju pada sosok wanita paruh baya yang sedang duduk bersandar lemas di atas sofa panjang dengan selimut tebal yang membungkus seluruh tubuhnya.
Wanita itu adalah Ratna, istri Dedi. Kondisi batin Ratna siang ini bener-bener tampak sangat mengenaskan. Wajahnya yang biasanya selalu memancarkan guratan ketus dan hobi mencaci maki suaminya, kini terlihat sangat pucat pasi laksana kertas putih tanpa ada rona darah sedikit pun. Sepasang kelopak matanya tampak hitam cekung, dengan pandangan mata yang bergerak liar, ketakutan, dan kosong menatap ke arah setiap sudut jendela rumah. Tubuhnya masih terus bergetar hebat akibat trauma psikologis akut setelah menyaksikan penampakan visual khodam bermata merah semalam.
"Mas Dedi... siapa orang ini? Kenapa ada kurir ojek online yang kamu bawa masuk ke dalam rumah?!" tanya Ratna dengan nada suara yang sangat lemah, serak, dan bergetar ketakutan, menyembunyikan sebagian wajahnya di balik lipatan kain selimut.
Dedi dengan sigap duduk di samping istrinya, memegang lembut jemari tangan Ratna yang terasa sangat dingin laksana es. "Ratna, dengarkan Mas dulu. Ini Mas Bagus, sosok pemuda bersahaja yang kemarin Mas ceritakan di warung kopi. Mas Bagus sengaja datang ke sini melalui jalur langit untuk membantu membersihkan rumah kita dan menyembuhkan sisa ketakutan di dalam jiwamu semenjak semalam. Kamu jangan takut lagi, ya?"
Ratna menatap wajah Bagus dengan pandangan mata yang penuh dengan rasa ragu, cemas, berbaur dengan ketakutan gaib yang masih mengunci sistem saraf kepalanya. Di dalam sudut pandang mata batin Bagus yang telah diasah ilmu hikmah di tanah Wetan, ia melihat ada segumpal kabut hitam tipis tak kasat mata yang masih menempel lekat melingkari pundak dan leher Ratna—sebuah residu energi pembenci kiriman Ki Demang yang sengaja ditinggalkan agar Ratna selalu dirundung rasa panik, cemas, dan berhalusinasi buruk tiada henti.
Bagus melangkah maju dua langkah, lalu berdiri tegap dengan pembawaan yang sangat bersahaja namun memancarkan aura kewibawaan spiritual yang sangat tenang dan meneduhkan. Sepasang matanya menatap lembut ke arah Ratna, memancarkan pilar Ihsan yang tulus tanpa ada sedikit pun rasa tersinggung melihat keraguan wanita tersebut.
"Mbak Ratna," sapa Bagus dengan nada suara yang sangat dalam, berat, dan berwibawa tegap. "Saya tahu batin Mbak saat ini merasa sangat sesak, pening, dan ketakutan setengah mati karena bayangan hitam semalam seolah masih berdiri mengintip di luar jendela. Tapi ketahuilah, Mbak, teror mistis yang membuat rumah ini terasa panas dan pengap semalam bukanlah hal yang tidak bisa dikalahkan. Itu hanyalah ujian kiriman dari luar yang memanfaatkan celah kekosongan batin di dalam rumah tangga kalian."
Mendengar kalimat Bagus yang menusuk langsung ke akar masalah batinnya, Ratna seketika tertegun membisu seribu bahasa. Ada sebuah getaran hawa sejuk alami yang mendadak mengalir lembut meredakan detak jantungnya yang semula berdebar liar ketakutan.
Bagus kemudian menolehkan wajahnya ke arah Dedi dengan raut muka yang sangat serius namun tenang. "Pak Dedi, sisa energi negatif kiriman dukun tua itu masih tertinggal pekat di dalam ruangan ini, terutama di dalam kamar tidur utama tempat Mbak Ratna diteror semalam. Kita tidak boleh membiarkan kabut hitam ini mengunci sistem saraf batin Mbak Ratna lebih lama lagi sebelum matahari terbenam nanti."
Bagus melepaskan tas ransel usangnya, meletakkannya di atas meja sudut ruang tamu, lalu mulai menggulung kedua lengan jaket hijau ojolnya hingga ke batas siku tangan. "Pak Dedi, tolong bimbing Mbak Ratna untuk duduk tegak bersila menghadap ke arah kiblat di atas karpet ini sekarang juga. Kita akan memulai proses pembersihan spiritual tahap pertama dan menghancurkan sisa sinyal hitam kiriman dari kejauhan itu langsung dari dalam rumah ini melalui kekuatan jalur doa."
Dedi mengangguk patuh dengan penuh kepasrahan mutlak, sementara Ratna yang mulai merasakan adanya rasa aman murni memancar dari pembawaan Bagus, perlahan-lahan mulai menurunkan ego manusianya dan bersedia mengikuti setiap arahan dengan batin yang mulai terbuka pasrah. Pertempuran mistis babak baru untuk membersihkan jasad dan isi rumah dari belenggu kutukan resmi dimulai siang bolong itu di bawah naungan takdir Tuhan Yang Maha Kuasa.
“Ketika kau melangkah menembus pekatnya kabut ketakutan yang mengunci kehidupan sesama hamba Allah yang sedang dizalimi, jangan pernah biarkan sistem sarafmu ikut goyah oleh aroma kegelapan. Tegakkan wibawa imanmu, karena setiap sisa energi hitam yang dikirimkan oleh dendam hawa nafsu, akan selalu lebur runtuh tak berbekas di hadapan ketulusan cahaya doa yang diridai oleh-Nya.”
— Sang Alifas Yang Merumput