Cinta Caca mengajarkan Alex arti kehidupan, kebahagiaan dan kehilangan.
Namun siapa sangka, Caca meninggalkan Alex dan membawa cinta mereka ke surga.
Begitu banyak kenangan dan kebaikan yang ditinggalkan Caca.
Dia mendonorkankan matanya untuk Meli. Bahkan dia juga menitipkan cintanya pada Meli.
Akankah Meli menggantikan posisi Caca di hati Alex?
Ikuti terus kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Genik Amarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diaryku
Pena kecil menari-nari di atas lembar putih
Menorehkan kata menumpahkan rasa
Lembar demi lembar tertoreh rapih
Menampung luka menyimpan lara
Malam itu Caca sedang mengemasi diary nya dan bermaksud untuk segera tidur.
Jhoni termenung memikirkan Caca. Dia berada di posisi yang sulit sekarang.
Di pagi harinya, Caca memulai aktivitas dengan semangat. Bahkan dia berhasil menyelesaikan laporan lebih awal dari yang dijadwalkan. Latihan juga terus berjalan. Tiga hari sekali Caca selalu menyempatkan waktu utuk mengunjungi Meli.
Caca tak henti-hentinya meniupkan semangat kepada Meli. Sejak kecelakaan itu, kekasih dan teman-teman band Meli belum mengunjunginya sama sekali. Meli adalah anggota dari sebuah band bernama Star. Dia adalah vokalis dari Star Band.
Suatu hari Caca pergi mengunjungi Meli. Dia sangat senang dengan kedatangan Caca. Sepercik semangat seperti muncul setiap kali Caca datang mengunjunginya.
Caca membawa CD rekaman konser ketiganya kemarin untuk diperdengarkan kepada Meli. Meli sangat takjub mendengar lagu-lagu yang telah dikemas apik dengan konsep yang menarik.
"Andai aku masih bisa melihat, pasti aku akan semakin kagum dengan dekorasi dan kostumnya," gumam Meli sedih.
"Hei ... jangan sedih gitu dong, bukankah kamu sudah berjanji untuk meyakini kalau kamu akan bisa melihat lagi?" ucap Caca mengingatkan.
"Tentu, aku akan selalu mengingat janjiku," jawab Meli tersenyum.
Kringgg ... kriinggg ....
Rupanya kekasih Meli menelfon. Caca memberitahunya kalau pacarnya menelfon. Pacar Meli juga merupakan salah satu anggota dari Star Band. Meli sangat senang karena pada akhirnya kekasihnya menelfon.
Meli meminta Caca untuk mengaktifkan speakernya.
Ternyata keberuntungan belum berpihak kepada Meli. Kekasih Meli ternyata sedang bersama anggota Star yang lainnya.
Mereka menelfon Meli hanya untuk basa basi menanyakan kabar Meli. Dan lebih menyakitkannya lagi kekasih Meli memutuskan hubungannya dengan Meli.
Begitu juga dengan Star band, mereka juga mengeluarkan Meli dari keanggotaan Star Band. Meli sangat terluka mendengar ucapan dan keputusan mereka. Harapan indah yang dia harapkan sebelumnya dalam sekejap sirna begitu saja.
Caca memeluk erat Meli dan mencoba menenangkannya.
"Usaplah air matamu. Air matamu terlalu berharga untuk menangisi mereka. Bukankah kamu harusnya senang karena telah terbebas dari orang-orang yang ternyata tidak tulus menyayangimu. Tuhan selalu mempunyai cara terbaik untuk menunjukkan kekuasaanNya. Percayalah jika ini adalah yang terbaik bagimu," ucap Caca menenangkan.
Meli menghentikan tangisnya dan tersadar betapa buruknya orang-orang itu. Selama ini dia telah mencintai orang yang salah.
Sebelum pulang, Caca mengingatkan Meli untuk selalu bersemangat dan meminum obatnya.
Waktu berputar silih berganti. Segala persiapan konser sudah rampung. Kini tiba saatnya untuk konser keempat. Antusias penonton yang tak surut kian membakar semangat Mars dan Venus untuk menampilkan yang terbaik.
Meskipun hanya band lokal tapi mereka termasuk dalam kategori band lokal tingkat atas yang banyak digandrungi oleh sebagian besar remaja daerah itu. Pesonanya tak kalah menarik dari pesona band-band di televisi. Sudah ada banyak piala yang berhasil mereka sabet dalam beberapa festival dan kejuaraan.
Konser hari itu berjalan lancar dan kondusif. Seluruh anggota dan kru penyelenggara merasa lega setelah konser berakhir dengan lancar. Masih ada satu konser lagi yang harus mereka selesaikan.
Seusai konser, Caca ikut pulang ke rumah Alex. Dia akan menepati janjinya untuk menginap dan menemani Mamah Alex. Mamah Alex sangat senang menyambut Caca. Jika ada Caca maka Alex akan terabaikan. Alex akan diabaikan oleh dua wanita sekaligus. Yah begitulah kalau wanita berkumpul, bahkan yang di sampingnya pun seperti tak nampak hahahaha.
Malam harinya Mars dan Venus datang ke rumah Alex. Mamah Alex dan Caca sudah menyiapkan beberapa makanan dan minuman untuk mereka.
Setelah makan malam bersama, mereka beristirahat sejenak kemudian lanjut membahas konsep konser terakhir. Mereka menginginkan konser tersebut lebih berkesan.
Caca sudah memikirkan tema konser sejak beberapa hari yang lalu. Dia menyebutnya Sambung Kasih.
Dia berfikir untuk mengundang Ibu panti dan Adik-adik panti. Caca ingin mengajak mereka bernyanyi dan memperkenalkan mereka kepada penonton setia.
Dengan begitu mungkin akan menggerakkan hati penonton untuk peduli dengan orang lain dan mau berbagi. Ide apik Caca itu tak perlu diragukan lagi. Mereka semua langsung menyetujuinya.
Keesokan harinya, mereka pergi ke panti untuk menyampaikan niat mereka kepada Ibu panti. Sejak saat itu mereka berlatih dalam dua tahap. Tahap pertama latihan di studio untuk melatih bagian mereka.Tahap kedua mereka juga latihan dengan Ibu dan Adik-adik panti. Hal ini menguras lebih banyak energi mereka.
Saat sedang latihan di studio, tiba-tiba Caca pusing. Hidungnya juga berdarah. Alex yang menyadarinya segera menghentikan latihan. Dia menggendong Caca dan menurunkannya di sofa dalam studio itu. Alex segera mengambil tisu dan mengelap darah di hidung Caca. Mars dan Venus tampak khawatir.
"Sayang, kita ke rumah sakit ya?" pinta Alex.
"Bukankah dulu, aku berjanji mau dibawa ke rumah sakit jika aku pingsan? Hari ini aku hanya pusing dan mimisan. Jadi kamu nggak bisa membawaku ke rumah sakit," ucap Caca tersenyum.
"Kamu yakin nggak papa?" tanya Alex khawatir.
"Yup, aku baik-baik saja, bisakah aku meminta segelas air?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
Mhocan segera mengambilkan minuman untuk Caca. Lalu Caca meminta mereka untuk melanjutkan latihan tanpa dirinya. Dia hanya akan melihat dan beristirahat sejenak.
Hari berikutnya mereka latihan di panti. Adik-adik terlihat senang dan semangat. Mereka senang karena ini adalah untuk pertama kalinya mereka dilibatkan dalam sebuah konser. Mereka akan menampilkan beberapa lagu anak dan beberapa tarian.
Menjelang hari H segala persiapan dan kostum sudah selesai disiapkan. Konser kelima ini sedikit berbeda dengan konser sebelumnya. Ada paduan suara yang terdiri dari Adik-adik dan Ibu panti. Ada beberapa tarian juga yang akan mereka persembahkan.
Semua bersiap untuk konser hari esok. Malam itu mereka semua bermalam di Panti Tersenyum agar esoknya mereka bisa berangkat bersama.
Pagi harinya mereka bangun lebih awal. Mereka bergantian untuk mandi dan bersiap. Setelah itu mereka membantu Ibu panti untuk mempersiapkan Adik-adik. Kemudian mereka berkumpul untuk sarapan bersama.
Mereka menikmati sarapan dengan gembira meskipun dengan makanan yang sederhana.
Senyum bahagia terpancar jelas dari wajah mereka. Namun pagi itu Caca terlihat tak seperti biasanya. Wajahnya sedikit pucat dan tubuhnya lemas. Alex khawatir melihat kondisi Caca yang tak bersemangat.
"Sayang apa kamu sakit?" tanya Alex khawatir.
"Nggak kok, bentaran juga udah enakan," ucap Caca tersenyum.
Alex selalu berada di sisi Caca. Meskipun Caca menegaskan dia baik-baik saja tapi Alex tetap tidak bisa tenang.
Melihat yang lain begitu antusias dan semangat, membuat Caca sedikit bertenaga.
Kiko berlari dan duduk di pangkuan Caca. Dia menceritakan betapa besar semangatnya untuk konser ini.
Wajah yang polos dengan ekspresi dan senyum yang jujur tersirat jelas pada wajah anak itu. Kiko berhasil membuat Caca kembali bersemangat.
Tekad Caca sudah bulat untuk menyelesaikan dengan baik tanggung jawabnya kepada penyelenggara.
Dia beranjak dari duduknya lalu mengajak yang lainnya untuk segera naik ke mobil.
Alex duduk di samping Caca sambil menggenggam tangannya. Caca menyandarkan kepalanya di bahu Alex.
"Sayang aku mencintaimu, percayalah apapun yang aku lakukan adalah yang terbaik untukku, untukmu dan yang lain," ucap Caca lirih.
"Hey kenapa kamu tiba-tiba bicara seperti itu. Tentu saja aku mempercayaimu dan kamu pasti juga tau betapa aku mencintaimu," jawab Alex lembut sambil mencium kening Caca.
Ucapan Caca barusan membuat Alex bertanya-tanya dalam hati. Alex merasa hari ini Caca sangat aneh. Dia berfikir bahwa Caca menyembunyikan sesuatu darinya. Alex berusaha untuk tenang dan tetap berprasangka baik pada kekasihnya itu.
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di lokasi konser. Masih ada waktu sekitar setengah jam untuk mereka melakukan persiapan di belakang panggung. Semua sibuk dengan persiapannya masing-masing.
Sementara itu Caca hanya melihat yang lain bersiap. Dia terduduk lemas dan matanya berkunang-kunang. Keringat dingin bercucuran membasahi tubuhnya.
Sesekali Caca tampak mengelap perlahan keringat itu dengan tisu. Jantungnya berdebar sangat cepat. Caca mencoba menarik nafas panjang untuk menenangkan diri.
"Sayang kamu pucet banget lho, nih minum teh hangat dulu biar nggak lemes," ucap Alex yang datang tiba-tiba.
"Oh ini karena aku belum pakai liptint," jawab Caca berbohong dan berusaha tersenyum.
Caca meraih segelas teh hangat yang diberikan Alex padanya. Rupanya teh itu membuat Caca merasa sedikit lebih baik.
Tanpa dia sadari ternyata Alex diam-diam terus mengawasinya.
Alex mencoba untuk tetap tenang dan tidak terlalu menunjukkan kekhawatirannya. Dia tidak ingin memecah konsentrasi yang lainnya karena sebentar lagi konser akan segera dimulai.
Hari ini adalah konser kelima atau lebih tepatnya konser terakhir dalam kontrak pertama. Persembahan istimewa sudah mereka siapkan untuk menggebrak konser kali ini.
Sementara itu di depan panggung sudah terisi penuh oleh penonton yang menanti konser dimulai. Panggung konser terlihat begitu menakjubkan dengan dekorasi yang indah dan berwarna.
Kiko duduk sendirian dengan kepala yang tertunduk. Caca yang melihat itu segera menghampirinya.
"Hey jagoan, kamu kenapa?" ucap Caca sambil duduk di hadapan Kiko.
Mendengar suara yang tak asing itu Kiko segera mendongakkan kepalanya dan segera memeluk Caca. Lalu Caca mendudukkan bocah lima tahun itu dipangkuannya.
"Kiko grogi ya?" ucap Caca menggoda.
"Bagaimana Kakak bisa tau, aku deg-degan nih kak." jawab Kiko sambil meletakkan tangan Caca di atas dadanya.
"Wah cepat sekali detak jantungnya, sekarang Kiko coba tarik nafas panjang lalu hembuskan perlahan dan lakukan itu tiga kali," ucap Caca sambil memberi contoh.
Kiko mengikuti apa yang diucapkan Caca. Dia mulai menghirup nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Bagaimana sayang, apa kamu merasa lebih baik," tanya Caca lembut.
"Ya, sekarang aku udah nggak deg-degan lagi lho kak," jawab Kiko sambil tersenyum.
"Anak pintar ..." ucap Caca tersenyum sambil memeluk erat Kiko.
tulisan rapi. ditambah menjabarkan adegan bagus banget