NovelToon NovelToon
Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Terlarang
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wandhansari

Veliora tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah ibunya menikah dengan pria paling berbahaya di dunia elite Jakarta.
Kaelric Vorn.
Pria dingin yang dikenal sebagai penguasa bisnis internasional itu memiliki segalanya, kekuasaan, uang, dan dunia gelap yang tidak tersentuh orang biasa.
Namun di balik mansion mewah, tatapan tajam, dan nama besarnya…
Kaelric menyimpan sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Seekor black panther betina bernama Nyx.
Dan anehnya, binatang liar itu memilih Veliora.
Awalnya Veliora hanya ingin bertahan hidup di dunia baru yang terasa asing baginya.
Namun semakin lama dia berada di sisi Kaelric…
semakin dia menyadari bahwa pria itu bukan sekadar ayah tirinya.
Kaelric terlalu protektif.
Terlalu dominan.
Dan perlahan mulai memperlakukannya seperti sesuatu yang tidak ingin dia lepaskan.
Di tengah dunia elite penuh rahasia, pengkhianatan, dan kekuasaan…
Veliora terjebak di antara rasa cinta terhadap Ayah Tirinya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wandhansari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 : Rencana Yang Mulai Berjalan

Hari itu masih pagi, Ravian datang ke kantornya yang baru, yaitu Adiwinata Corporation. Suasana masih sepi, baru satu atau dua orang yang datang.

Lusiana, sekretaris pribadinya menyerahkan map berisi berkas untuk ditandatangani.

Banyak sekali pekerjaan hari itu.

"Selamat pagi, Pak!"

"Ya, pagi juga Lus. Ada kabar apa pagi ini?"

"Untuk sementara belum ada, Pak. Hanya saja, ada beberapa perusahaan ingin mengajukan kontrak kerjasama."

"Ya, letakkan saja diatas meja. Nanti saya periksa."

"Baik, Pak."

Setelah map diletakkan di atas meja, Lusiana pun keluar dari ruangannya. Ravian segera duduk di kursinya.

Dibukanya satu persatu lembaran berkas di mejanya. Tatapan matanya kosong, mendadak kosong. Dia akui Tuan Adiwinata, orangnya benar-benar mengagumkan. Tidak mungkin, dulu sebegitu dekat dengan Papi Bosnya. Apalagi, sampai membantu membenahi sistem kinerja di perusahaan Papi Bosnya dulu.

Dan sekarang, Bosnya itu berusaha ingin membantu melindungi perusahaan Adiwinata Corporation dari incaran orang-orang yang ingin menguasainya.

Dan di hari itu, di hari kelima. Dia memimpin perusahaan Adiwinata Corporation.

Tatapan matanya mengarah pada layar laptop di depannya.

Dia memperhatikan detail saham yang terpampang di layar. Angka-angka itu masih bergerak stabil belum ada perubahan. Namun, menjelang pukul 10 pagi itu. Menurun hingga ke angka seper sekian persen.

“Ini bukan fluktuasi pasar,” gumam Ravian Kestler pelan.

Grafik di layar terlihat normal bagi orang yang tidak tahu apa yang harus dicari. Tapi baginya itu terlalu rapi dan terukur.

Seolah setiap naik dan turun sudah ditentukan sebelumnya. Ia bersandar perlahan di kursinya. Dia tidak perlu menebak terlalu jauh.

Karena hanya ada satu orang yang bermain seperti ini.

Ravian agak terkejut. Namun, dia diam saja.

Belum hilang rasa terkejutnya, Lusiana mengetuk pintu.

"Masuk!" Kata Ravian.

"Pak, perusahaan Margahayu Sentosa dan PT. Asia Bakti minta mengundurkan diri. Mereka tidak bisa melanjutkan kerjasama dengan perusahaan kita."

"Ya, aku tahu itu." Jawab Ravian singkat.

"Lalu....??"

"Ya sudah. Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan."

"Baik Pak."

Lusiana lalu keluar dari ruangan Ravian. Dengan seribu tanda tanya. Bukankah dua perusahaan itu mengundurkan diri? Tapi, kenapa Pak Ravian masih sesantai itu?? Hellooooo!!.

Ditengah kebingungan, Lusiana masih berpikir. Kalau benar Adiwinata Corporation diambang kehancuran. Tapi, kenapa dia masih bekerja disitu dan gajinya masih full dia terima setiap bulannya. Sungguh, ini membuat dirinya tidak percaya.

Lagipula, kalau betul-betul bangkrut. Mestinya juga banyak karyawan yang dirumahkan. Tetapi, nyatanya tidak. Mereka masih bekerja dan menerima gaji seperti biasanya. Lusiana menggelengkan kepalanya.

Dan perubahan tidak selalu datang dalam bentuk yang mencolok. Terkadang, ia hadir perlahan nyaris tak terlihat, namun cukup untuk menggeser keseimbangan yang selama ini dianggap stabil.

Di Adiwinata Corporation, pergerakan mulai terasa. Grafik saham menunjukkan pola yang tidak biasa. Aliran dana yang nampak muncul beberapa waktu yang lalu, dan tekanan dari luar datang tanpa pernah benar-benar menjatuhkan.

Bagi sebagian orang, ini hanyalah dinamika bisnis yang wajar. Namun bagi Ravian Kestler, semuanya terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Seseorang sedang bermain.

Perubahan itu datang bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk mengendalikan.

Sementara itu, di sisi lain, Bismantaka mulai melihat peluang. Ia percaya langkahnya mulai membuahkan hasil. Mulai dua perusahaan lokal yang menarik diri dari Adiwinata Corporation, hingga perusahaan asing yang sekarang meninggalkan perusahaan Ravian.

Tanpa menyadari… bahwa setiap langkah yang ia ambil, justru semakin membawanya masuk ke dalam rencana yang telah disusun jauh sebelum ia bergerak.

Dan di balik semua itu ada seseorang yang tidak pernah benar-benar terlihat,

namun selalu berada di setiap pergerakan yang terjadi.

Kaelric.. Mengamati setiap pergeseran yang ada dari jarak jauh. Bahkan, media sosial pun tak luput dari perhatiannya. Agar tahu perkembangan berikutnya.

Ravian pulang sore itu, dia buka handphone. Lalu menulis pesan singkat.

Ravian Kestler : Begini amat, Boss. Aku pikir dengan jadi CEO disana akan menarik perhatian calon mertua.

Kaelric Vorn : Sabar, bro. Aku bilang juga harus sabar. Kamu jangan khawatir, sesuatu yang sudah menjadi takdir milikmu. Pasti gak akan pergi kemana.

Ravian Kestler : Bos, aku kasihan sama Tuan Adiwinata.

Kaelric Vorn : Stop! Stop!. Beliau aman ditanganku. Yang ada, kamu yang harus berjuang. Percayalah!! Ikuti alur permainan ini. Disana nanti ada Eryndor Hale, rekan bisnisku yang sudah sangat lama. Kamu pasti mengenalnya.

Ravian Kestler : Iya, saya kenal dia Bos.

Kaelric Vorn : Percaya sama Bosmu ya?

Akhirnya mereka menutup handphone masing-masing.

Ravian Kestler pulang menuju Penthouse-nya. Dia ingin istirahat, tidur yang sangat lama sekali. Agar dia bisa melupakan semuanya. Tapi, Adisti?. Mana mungkin dia akan meninggalkan gadis manis itu?. Dia sudah terlanjur ikut Bosnya masuk ke pusaran air yang mengalir. Jadi, dia harus ikut sekalian. Kasihan Adisti dan ayahnya. Ayah Adisti adalah orang yang baik yang ia kenal.

Apalagi Bosnya sudah janji padanya, Adiwinata Corporation pemiliknya sudah tak lagi muda. Beberapa waktu dekat ini saja, Bosnya sudah banyak membantu baik itu dari segi pemikiran atau segi lainnya.

Dan Kaelric pun tak keberatan dengan hal itu. Dia sudah menyayangi dan menghargai Tuan Adiwinata sedari dahulu. Sebelum dia terjun ke lembah hitam. Yang seharusnya, dia tidak kesana tapi justru itulah yang membuat dia ditakuti dan disegani.

Bismantaka yang licik tidak mengetahui hal itu. Yang dia tahu, bahwa pengganti Adiwinata sekarang adalah Ravian Kestler, anak kemarin sore. Asisten dari Kaelric Vorn.

Rupanya, demi kekuasaan Bismantaka bisa melakukan apa saja yang menurutnya benar.

Lain Ravian, lain pula Kaelric. Sore itu dia ingin segera pulang. Dia ingin minta omelette buatan Veliora. Tadi di kantor dia buru-buru ingin pulang. Kasihan Ravian, dia harus melakukan pekerjaan di dua tempat.

Seharusnya, dia pulang ke Penthous yang nyaman. Tapi, Bosnya minta sore itu harus ke kantor. Ada pekerjaan mendadak yang harus dia kerjakan.

"Oh ya, Ravian. Boleh kamu bawa pulang. Pelajari detailnya, jangan terburu-buru. Biar Bismantaka puas dengan pekerjaannya. Nanti, kalau teriakannya sudah kencang. Baru kita bungkam."

"Baik, Bos."

Sungguh hatinya jadi lega. Karena, benar-benar ingin merebahkan tubuhnya yang sudah lelah.

Sore itu, Veliora di taman belakang paviliun. Menemani Ibu Gerard. Sesuatu di luar dugaan terjadi hari itu.

"Baiklah, Veliora. Ibu mau tinggal di rumah utama. Sampaikan ini pada Tuan Kaelric. Aku sangat menyayanginya, meski aku hanya ibu susu Papi kamu."

Veliora menatap tak percaya.

"Tidak, bu. Tidak. Aku sungguh bahagia. Aku jadi tidak kesepian."

"Daddy beberapa hari ini sibuk. Bahkan pulang larut. Aku jadi sendirian."

"Kenapa kalau kesepian, kamu tidak kesini?"

Veliora menggeleng.

"Daddy gak kasih ijin, bu. Malam aku harus di rumah utama. Daddy juga kesepian."

"Dia memang seperti itu, Veliora."

"Habis menikah dengan Mami. Daddy kayaknya gak bahagia. Mami juga gak kasih kabar. Atau sekedar ingin tahu aku bagaimana?."

"Seraphina, Mamimu itu juga begitu. Kalau dia diam-diam saja disana. Berarti, dia memang sudah menitipkan dirimu ke orang yang tepat. Makanya, pikiran Mamimu tenang. Apalagi, Mami kamu itu sering harus bepergian ke luar negeri. Bukan cuma sehari atau dua hari. Tapi kadang sampai berbulan-bulan."

"Andaikan, waktu itu kamu dititipkan pada Ibu, Ibu pun siap menerima kamu seperti anak Ibu sendiri."

"Ibu mengenal Mamiku?"

Ibu Gerard tertawa sumringah.

"Siapa yang tidak mengenal Seraphina Aurelisse??? Pemilik brand cosmetic ternama di Indonesia??"

"Aku bahkan mengenal Mamimu sedari kecil."

Veliora menganggukkan kepala perlahan.

"Oke, Ibu. Sudah hampir petang. Sebentar lagi, Daddy pasti pulang. Aku ke rumah utama ya?"

Ibu Gerard tersenyum lalu mengangguk.

Veliora kembali ke rumah utama. Hari semakin gelap. Lampu-lampu di halaman mulai dinyalakan.

Begitu masuk ke ruang tengah, tiba-tiba matanya ditutup dari belakang. Dia ingin berteriak. Tapi, tidak bisa. Matanya terlanjur ditutup kain.

Veliora agak jengah juga. Tapi, dia sangat mengenal aroma tubuhnya.

Dengan perlahan, orang asing itu meraih tengkuk Veliora. Lalu mencium bibirnya. Lidahnya menari didalam mulut Veliora. Meraih lidah Veliora dan dihisapnya kuat.

Veliora hampir tak bisa bernapas.

Setelah beberapa menit baru dibuka penutup matanya.

"Ih, Daddy gak asyik!"

"Rupanya mau yang asyik-asyik, hmm??!!"

"Daddy bikin terkejut saja!"

'Tapi, kamu suka kan?. Buktinya kamu diam saja waktu kusentuh tadi?"

"Habisnya, aku mengenali Daddy."

"Bagaimana kamu bisa mengenali kalau itu tadi adalah aku?"

Veliora lalu mendekati Kaelric. Tangannya dia lingkarkan ke pinggang Kaelric. Dengan mata genit, dia mengatakan :

"Dari bau parfum Daddy... "

Lalu dia bergerak mengendus tubuh pria itu. Dari mulai wajah, ceruk leher, dada, perut hingga kemudian turun ke bawah.

Dia lingkarkan lagi tangannya. Dengan kepala menghadap perut. Nafas Kaelric memburu.

"Kamu mau apa?"

Mata Veliora melihat lurus ke depan. Ke arah sesuatu yang menyembul di dalam sana. Kaelric hampir tertawa.

Kemudian dia berbisik di telinga Kaelric dengan manja.

"Aku mau lolipop, Daddy. Sepertinya enak!"

Kaelric tak tahan lagi, tapi tidak mau tertawa keras-keras.

"Nanti malam tidur di kamar Daddy boleh ya?"

Kaelric mengangguk.

"Veliora, malam ini aku mau ommelet. Kamu buatin ya?"

Veliora yang mengangguk.

"Tentu, Dad!"

"Sekarang aku siapkan."

Veliora mau beranjak. Tapi, ditahan Kaelric. Hingga Veliora duduk terjatuh di pangkuan Kaelric.

"Sebentar saja Veliora. Hari ini aku agak pusing!"

Veliora lalu dihujani ciuman oleh Kaelric. Hingga Veliora kebingungan sendiri. Tahu-tahu panty hitamnya sudah turun ke bawah. Veliora menggelinjang karena kegelian. Desahan demi desahan pun lolos dari bibirnya.

Dasar Kaelric, katanya suruh bikin ommelet, eeehh gak taunya dia mau ommelet yang lain. Hehehe....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!