Andra dan Diana sudah menikah selama lima tahun. Namun selama itu pula Diana memilih untuk menunda kehamilannya. Dengan alasan jika saat ini sedang berada di puncak karir yang selama ini dia impikan.
Selain karena tekanan dari kedua orang tua Andra yang ingin segera punya cucu. Dalam hati kecilnya, Andra juga ingin segera punya anak. Hingga akhirnya dia bertemu sahabat lamanya bernama Nadhira.
Entah ada pikiran dari mana hingga tiba-tiba Andra meminta Nadhira hamil anaknya. Jelas Nadhira menolak apalagi Andra sudah menikah.
Apakah rencana Andra aka berhasil untuk mendapatkan anak dari keturunannya sendiri. Apakah Nadhira akhirnya akan setuju? Lalu bagaimana dengan Diana dan keluarga Andra?
Konflik apa lagi yang akan terjadi setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahim Untuk Sahabat 9
Nadhira menatap angka-angka di kertas itu hingga pandangannya mengabur. Angka dua puluh juta itu seolah-olah berubah menjadi raksasa yang siap menelan nyawanya dan nyawa ibunya.
Di saku blazernya, dia meraba ponsel tua dengan layar retak. Di dalamnya hanya ada saldo tabungan sisa gaji bulan lalu tak sampai lima ratus ribu rupiah.
Dia bahkan tidak punya perhiasan untuk digadaikan. Cincin kawin ibunya sudah lama dijual untuk membayar kontrakan bulan lalu yang menunggak.
"Mbak? Bagaimana?" suara petugas administrasi memecah keheningan.
"Uang dari Pak Andra masih menggantung di sistem. Kalau Mbak setuju, saya tinggal memprosesnya dan pengobatan ibu Mbak bisa langsung dilanjutkan tanpa hambatan."
Tenggorokan Nadhira tercekat. Saat dia berusaha mempertahankan harga dirinya, beradu dengan realita pahit di depan mata. Bayangan ibunya yang tersengal-sengal mencari udara, wajah pucat pasi yang kini bergantung pada mesin, menghantam kesadarannya.
"Saya..." Nadhira menjeda, suaranya hilang ditelan isak tangis yang ia tahan di pangkal tenggorokan.
"Beri saya waktu sepuluh menit."
Nadhira melangkah menjauh dari loket dengan kaki gemetar. Dia jatuh terduduk di kursi tunggu yang dingin. Dia menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan yang kasar karena terlalu banyak mencuci piring dan bekerja serabutan beberapa bulan terakhir sebelum pada akhirnya bekerja di kantor.
Tiba-tiba, ia teringat kata-kata Andra. 'Jangan egois dan keras kepala!'
"Ya Tuhan..." rintihnya pelan.
"Apakah aku harus menukar ketenangan hidupku dengan uang dari pria yang istrinya membenciku?"
Dia tahu Diana. Di balik senyum manis wanita itu, ada tatapan penuh ancaman setiap kali mereka tak sengaja bertemu. Jika Nadhira menerima uang ini, dia akan selamanya menjadi peminta-minta di mata Diana. Dia akan selalu punya utang budi yang bisa ditarik kapan saja oleh Diana untuk mempermalukannya.
Namun, jika ia menolak, besok pagi dia mungkin akan melihat ibunya keluar dari rumah sakit ini dengan kain kafan putih.
Nadhira mengeluarkan dompet kainnya yang sudah mulai mengelupas. Dia membongkar isinya. Hanya ada beberapa lembar uang sepuluh ribuan dan kartu asuransi yang ternyata tidak berdaya melawan penyakit berat. Kemiskinan bukan lagi sekadar status bagi Nadhira. Malam ini, kemiskinan adalah vonis mati.
Dia menoleh ke arah koridor menuju ruang ICU. Di sana, di balik tembok beton itu, satu-satunya alasan dia bertahan hidup sedang berjuang melawan maut.
Dia kembali menatap ponsel di genggamannya. Tidak ada nama lain yang bisa dia hubungi. Dia tak punya teman, saudara dari kedua orang tuanya juga tak peduli kepada mereka. Tabungannya bahkan tidak sampai seperempat dari angka yang tertera di kertas itu.
Dengan langkah gontai dan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Nadhira kembali ke loket, tidak lagi peduli pada punggungnya yang harus tetap tegak. Dia merasa kecil, remuk, dan hancur.
"Mbak..." panggilnya dengan suara parau.
Petugas itu mendongak.
"Iya, Mbak Nadhira?"
Nadhira memejamkan mata erat-erat, merasakan kehancuran martabatnya yang paling dalam. Kalimat yang keluar dari bibirnya terasa seperti belati yang menyayat lidahnya sendiri.
"Tolong... gunakan deposit dari Pak Andra. Tolong selamatkan ibu saya."
Setelah mengucapkan itu, Nadhira merosot ke lantai rumah sakit yang dingin. Dia menangis sesenggukan di sana, di tengah lalu lalang orang yang tak peduli. Dia membenci dirinya sendiri. Dia membenci kemiskinannya. Dan yang paling menyakitkan, dia tahu bahwa mulai detik ini, dia telah membuka pintu bagi Andra dan segala prahara rumah tangganya bersama Diana. Untuk kembali mengacak-acak hidupnya yang sudah hancur.
Di kejauhan, petir menyambar, mengiringi hujan yang mulai turun membasahi bumi, seolah ikut meratapi nasib seorang wanita yang terpaksa menjual harga dirinya demi napas sang ibu.
Malam itu seolah tidak memiliki ujung. Detak jam dinding di ruang tunggu ICU terdengar seperti palu yang menghantam ulu hati Nadhira. Setiap kali pintu otomatis ruang ICU terbuka dan tertutup, jantungnya mencelos. Rasa penuh harap sekaligus takut akan kabar yang dibawa oleh perawat yang melintas.
Nadhira meringkuk di kursi besi yang dingin. Tubuhnya masih gemetar mendekap tasnya erat-erat. Seolah benda itu bisa melindunginya dari tatapan menghakimi yang dia ciptakan sendiri di dalam kepalanya.
Sekitar pukul dua dini hari, seorang dokter muda keluar dengan wajah lelah. Nadhira langsung tegak, kakinya yang lemas dipaksa berdiri hingga ia nyaris tersungkur.
"Keluarga Ibu Mila?" panggil dokter itu. Nadhira tersedak ludahnya sendiri saat menjawab.
"Saya... saya putrinya, Dok. Bagaimana keadaan Ibu saya?"
Dokter itu menghela napas pendek, sebuah isyarat yang membuat napas Nadhira tertahan di tenggorokan.
"Krisisnya sudah lewat. Reaksi tubuhnya terhadap obat-obatan tambahan yang baru saja kita berikan cukup positif. Saat ini kondisinya mulai stabil, meski masih harus dipantau ketat di ruang ICU."
Lutut Nadhira benar-benar lepas.
Dia merosot kembali ke kursi. Air mata yang sejak tadi tertahan kini tumpah lagi. Kali ini dengan rasa syukur yang bercampur dengan kepahitan yang amat sangat. Setidaknya keadaan ibunya sudah jauh lebih membaik. Menjelang jam Lima pagi, Nadhira menitipkan pesan kepada perawat. Jika terjadi sesuatu kepada ibunya meminta mereka segera menghubungi.
Dia harus pergi bekerja, walau bagaimanapun keadaannya. Dia harus bertanggung jawab dengan pekerjaannya di kantor. Apalagi tumpukan berkas yang harus dia audit juga belum selesai.
Dia naik ke angkutan umum yang masih sepi. Di pojok bangku, Nadhira menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang bergetar. Dia memejamkan mata, berusaha membuang bayangan wajah Diana yang muncul seperti hantu di balik kelopak matanya.
Tiba di kantor pukul delapan kurang sepuluh menit, Nadhira langsung menuju meja kerjanya. Lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa disembunyikan meski dia sudah membasuh muka berulang kali di toilet. Walau tak ada siapapun yang peduli dengan keadaannya itu di sana.
Tumpukan berkas audit di depannya adalah satu-satunya pelarian yang masuk akal. Dia mulai memeriksa angka-angka, berharap logika matematika bisa membungkam kegelisahan hatinya. Namun, fokusnya pecah saat sebuah bayangan berdiri di depan mejanya.
"Nadhira."
percuma kaya raya tp ga punya penerus atau keturunan mh