NovelToon NovelToon
Asisten Tak Terduga

Asisten Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Abil_

"Menjadi asisten pribadi seorang CEO paling dingin di ibu kota bukanlah rencana awal hidupku."

Bagi Kenzo, perfeksionisme adalah segalanya. Baginya, asisten bukan sekadar pembantu, tapi mesin yang harus bekerja 24/7 tanpa celah. Namun, kedatangan asisten barunya yang "tak terduga" mulai mengacaukan ritme hidupnya yang kaku.

Ia tidak menyangka bahwa di balik kopi yang selalu pas suhunya dan jadwal yang tertata rapi, asistennya menyimpan rahasia besar yang bisa menjungkirbalikkan dunia bisnisnya. Setiap babak baru dalam hubungan mereka hanyalah awal dari lapisan misteri dan percikan rasa yang lebih dalam.

Akankah hubungan profesional ini tetap pada jalurnya, atau justru terjebak dalam permainan perasaan yang tak berujung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisi Posesif Sang Penguasa Tunggal

Sinar matahari pagi yang hangat menembus gorden kamar tidur utama penthouse Aditama Group di Jakarta. Setelah perjalanan panjang dari Puncak subuh tadi, Kenzo dan Nabila akhirnya bisa kembali ke sarang mereka yang sesungguhnya. Badai besar konspirasi keluarga resmi berakhir, meninggalkan kelegaan luar biasa yang membuat tidur mereka jadi jauh lebih nyenyak.

Nabila terbangun lebih dulu. Dia mengerjapkan matanya pelan, merasakan pelukan super erat di pinggangnya. Kenzo tertidur pulas di sampingnya dengan posisi wajah yang terkubur di ceruk leher Nabila. Napas teratur pria itu terasa hangat di kulit lehernya.

Nabila tersenyum manis. Dia mengusap pelan rambut hitam Kenzo yang agak berantakan. Siapa yang menyangka kalau pria yang ditakuti seluruh pebisnis Asia Tenggara ini bisa tidur dengan posisi menggemaskan seperti anak kucing kalau lagi di dekat istrinya?

"Jangan bergerak, Bil. Gue masih mau meluk lo," suara serak khas bangun tidur Kenzo tiba-tiba terdengar, memecah kesunyian pagi. Dia malah semakin mempererat pelukannya, membuat tubuh Nabila benar-benar menempel tanpa jarak di dada bidangnya.

Nabila tertawa kecil. "Kenzo, lepasin dulu ih. Aku mau masak sarapan buat kamu. Terus kita juga harus ke rumah sakit buat jenguk Ayah, kan? Semalam Surya bilang luka Ayah udah diobatin tapi tetep harus istirahat."

Mendengar kata 'masak' dan 'jenguk', Kenzo perlahan membuka mata elangnya. Dia mendongak, menatap Nabila dengan pandangan mata yang setengah mengantuk tapi penuh kepemilikan. "Masak apa? Nggak usah masak. Gue udah suruh chef hotel bintang lima buat anterin makanan ke sini. Hari ini lo nggak boleh capek sedikit pun."

"Kenzo, aku cuma mau buatin nasi goreng, bukan mau angkat semen," gerutu Nabila sambil mencubit hidung mancung suaminya.

Kenzo langsung menangkap tangan Nabila, lalu mengecup telapak tangannya lembut. "Tetep nggak boleh. Mulai hari ini, tugas lo cuma satu: duduk manis, belanja pakai kartu gue, dan nemenin gue tidur. Paham?"

"Dasar CEO diktator!" cibir Nabila, walau hatinya sebenarnya meleleh diperlakukan seprotektif itu.

Dua jam kemudian, setelah sarapan dan berganti pakaian rapi, mereka berdua sampai di kamar VIP Rumah Sakit Pusat Jakarta. Ardiansyah tampak sudah segar, duduk di ranjang pasien sambil menikmati buah apel yang baru dikupas oleh Surya.

"Ayah!" Nabila langsung berlari dan memeluk ayahnya dengan hati-hati, takut mengenai luka memar di sudut bibir sang ayah. "Ayah beneran nggak apa-apa kan? Ada yang sakit lagi nggak?"

Ardiansyah tertawa renyah, mengusap kepala putrinya. "Ayah aman, Nabila. Cuma memar kecil. Lagipula, menantu Ayah ini kan bergerak secepat kilat semalam. Doni bahkan langsung patah hidung sebelum sempat macam-macam."

Kenzo masuk ke dalam kamar dengan langkah tegap, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan hitamnya. "Om Ardi, semua biaya perawatan dan penjagaan rumah sakit ini sudah saya bereskan. Tim Alpha juga akan berjaga di depan pintu kamar ini dua puluh empat jam."

"Terima kasih banyak, Kenzo. Kamu bener-bener bisa diandalkan," puji Ardiansyah tulus.

Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba pintu kamar VIP diketuk. Seorang dokter muda bertubuh tinggi, berwajah tampan khas blasteran dengan jas putih rapi melangkah masuk membawa papan berkas medis. Begitu melihat Nabila, mata dokter muda itu langsung berbinar senang.

"Nabila? Kamu Nabila kan? Anak pindahan dari Bandung sepuluh tahun lalu?" tanya dokter muda itu dengan nada suara yang sangat ramah dan antusias.

Nabila mengernyitkan dahinya sebentar sebelum matanya membelalak kaget. "Lho? Kak Kevin? Kakak kelas aku pas di SMA dulu? Kakak tugas di sini sekarang?"

"Iya, Bil! Wah, nggak nyangka ya kita ketemu lagi di sini setelah sekian lama. Kamu makin cantik aja sekarang," puji Dokter Kevin sambil tersenyum manis, memamerkan lesung pipitnya.

Nabila tersenyum ramah. "Ah, Kak Kevin bisa aja. Kebetulan ini ayah aku lagi dirawat..."

Nabila belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat sebuah lengan kekar tiba-tiba merangkul pinggangnya dengan sangat kasar dan posesif, menarik tubuh Nabila hingga menempel ketat di sisi tubuh seseorang.

Aura di dalam kamar rumah sakit itu mendadak turun drastis sampai ke titik beku. Kenzo berdiri di samping Nabila dengan tatapan mata elang yang sangat tajam, dingin, dan menusuk, seolah-olah siap mencabik-cabik dokter muda di depannya hidup-hidup.

"Ada keluhan medis yang mau lo sampaikan soal mertua gue, Dokter?" tanya Kenzo, suaranya terdengar sangat rendah, penuh intimidasi yang membuat Dokter Kevin langsung menelan ludah dengan susah payah. "Kalau nggak ada, silakan keluar. Istri gue... nggak suka diganggu sama orang asing."

Kata 'Istri gue' sengaja ditekankan oleh Kenzo dengan nada yang sangat amat posesif. Dokter Kevin yang baru sadar siapa pria di depannya langsung mundur satu langkah dengan wajah agak pucat. Dia melirik cincin berlian besar yang melingkar di jari manis Nabila.

"A-ah, maaf Tuan Aditama. Saya cuma memeriksa grafik kepulihan Pak Ardiansyah. Kondisinya sudah stabil dan besok sudah boleh pulang. Kalau begitu... saya permisi dulu," ucap Dokter Kevin buru-buru membalikkan badannya dan keluar dari kamar sebelum singa jantan di depannya benar-benar mengamuk.

Nabila menatap Kenzo dengan muka tidak percaya, sementara Ardiansyah dan Surya cuma bisa menahan tawa di belakang. Sisi posesif sang penguasa tunggal Aditama Group ternyata jauh lebih mengerikan daripada serangan saham internasional semalam!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!