Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.
ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.
Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.
tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Tenggelam dalam Garam, Bangun dalam Darah
Dingin. Itu adalah hal terakhir yang Amel rasakan.
Bukan dinginnya angin malam di balkon asrama, melainkan dingin menusuk tulang yang merayap dari ujung jari kaki hingga ke puncak kepalanya. Air laut yang asin dan pekat memenuhi paru-parunya, membakar tenggorokannya seperti api cair. Di atas sana, melalui permukaan air yang bergelombang dan kacau, ia melihat siluet Rina—sahabatnya sejak kecil—yang sedang berjuang melawan kram di kakinya. Tangan Rina menggapai-gapai udara, mulutnya terbuka lebar menjerit tanpa suara yang bisa menembus tebalnya lautan.
“Tahan, Rin! Aku datang!” batin Amel berteriak.
Usia dua puluh tiga tahun, masa depan yang masih terbentang luas sebagai mahasiswi seni, semuanya seolah tidak berarti dibandingkan nyawa sahabatnya. Amel menendang kuat, memaksa tubuhnya yang lelah untuk bergerak melawan arus. Jemarinya hampir menyentuh pergelangan kaki Rina. Hampir.
Namun, alam memiliki rencana lain. Sebuah ombak hitam, raksasa dan ganas, muncul dari kedalaman seperti monster purba. Ia menghantam punggung Amel dengan kekuatan yang tak masuk akal. Tulang-tulangnya terasa remuk. Napasnya habis. Dunia berputar cepat, cahaya matahari di permukaan air menjauh, digantikan oleh kegelapan absolut yang menakutkan.
Amel mencoba bergerak, mencoba berenang, tapi tubuhnya... anehnya, tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan. Seolah-olah gravitasi laut telah menggandakan kekuatannya khusus untuk menenggelamkannya. Kesadaran itu perlahan pudar, digantikan oleh rasa pasrah yang menyakitkan.
Maaf, Ibu. Maaf, Rin.
Gelap.
Lalu, ada bau.
Bukan bau garam atau lumpur laut. Tapi bau besi. Bau anyir, kental, dan memuakkan. Bau darah segar yang baru saja tumpah.
Amel membuka matanya dengan terengah-engah, expecting (mengharapkan) langit-langit kamar mayat atau mungkin neraka. Namun, yang menyambut pandangannya adalah ukiran batu granit hitam yang rumit dan mengerikan, menjulang tinggi di atas kepalanya. Cahaya redup dari lilin-lilin besar menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari di dinding, seolah-olah hantu-hantu sedang menertawakannya.
Ia mencoba duduk, tetapi tubuhnya terasa berat dan asing. Tangannya—tangan yang seharusnya kasar karena sering memegang kuas dan palet cat—terasa halus, pucat, dan dingin. Di jari-jarinya, cincin-cincin batu permata berukuran besar mencengkeram dagingnya dengan erat.
Di mana aku?
Sebuah gelombang informasi asing menyerbu otaknya seperti tsunami. Bukan ingatannya sendiri, melainkan ingatan orang lain. Ingatan seorang wanita bernama Floren Amelie.
Ratu Mobelle. Sang Eksekutor. Pembunuh Keluarga. Tiran Berdarah.
Gambar-gambar kilat melintas di benaknya: Pedang yang terhunus, kepala saudara tirinya yang menggelinding, wajah ibunya yang penuh kebencian saat dicekik hingga mati, dan sorak-sorai ketakutan rakyat yang dipaksa menyaksikan eksekusi pejabat korup di alun-alun. Floren melakukan semua itu bukan karena kegilaan, tapi karena kemarahan pada korupsi yang menghancurkan rakyatnya. Namun, rakyat tidak melihat niat baik itu. Mereka hanya melihat darah. Mereka membencinya.
Amel—kini terjebak dalam tubuh Floren—merasa mual hebat. Jantungnya berpacu kencang, bukan karena adrenalin perang, tapi karena panik murni.
"Yang Mulia..."
Suara itu gemetar. Halus. Penuh ketakutan.
Amel menoleh kaku. Di hadapannya, berbaris rapi puluhan pelayan istana. Pria dan wanita. Mereka semua menundukkan kepala begitu rendah hingga dahi mereka menyentuh lantai marmer yang dingin. Tidak ada yang berani menatapnya. Tubuh mereka gemetar hebat, seolah-olah kehadiran Amel adalah racun yang bisa mematikan mereka kapan saja.
Di sudut ruangan, tumpukan mayat—atau mungkin hanya pakaian berlumuran darah—masih terlihat samar. Udara di ruangan ini pengap, dipenuhi aroma kematian yang belum sempat dibersihkan.
Aku... aku ada di dalam tubuh Ratu Tirani? batin Amel histeris. Dan orang-orang ini takut padaku sampai mati?
Insting Amel sebagai manusia modern yang normal, yang belum pernah bahkan berpacaran apalagi membunuh, memberontak keras. Ia ingin menangis. Ia ingin bertanya pada siapa pun kenapa ini terjadi. Tapi memori Floren memberikan peringatan keras: Jangan tunjukkan kelemahan. Jangan tunjukkan keraguan. Jika kau lemah, mereka akan memakanmu hidup-hidup.
Amel menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang liar. Ia mengingat kuliah psikologinya: Kontrol napas. Kontrol fokus. Jadilah observator.
Ia melihat para pelayan itu. Ketakutan mereka nyata. Jika ia tetap diam, ketakutan itu akan berubah menjadi kecurigaan, lalu menjadi pemberontakan. Ia harus mengambil kendali. Sekarang.
Dengan usaha keras, Amel memaksakan tubuhnya yang lemas untuk berdiri. Gaun sutra berwarna biru tua pekat—yang kini ternoda bercak darah kering di bagian bawah—jatuh dengan anggun mengelilingi kakinya. Ia merasakan dinginnya lantai melalui telapak kakinya yang telanjang.
Para pelayan semakin gemetar. Salah satu pelayan wanita, yang tampak paling tua, memberanikan diri untuk berbicara tanpa mengangkat kepala.
"Yang Mulia... apakah Anda membutuhkan... pembersihan? Atau... hiburan?" Suaranya hampir tak terdengar. Kata 'hiburan' diucapkan dengan nada jijik terselubung, mengacu pada harem pria yang menjadi aib istana.
Amel merasa bulu kuduknya merinding. Memori Floren tentang "hiburan" itu sangat jelas: Pria-pria tampan yang diperlakukan seperti barang, disentuh sembarangan, dipaksa menari untuk kepuasan sesaat Ratu lama yang keji. Rasa jijik yang mendalam, warisan trauma Floren kecil yang melihat ibunya bermain-main dengan pria di depannya, tiba-tiba bangkit di dada Amel. Ditambah dengan kepribadian Amel sendiri yang konservatif dan belum pernah memiliki pasangan, kombinasi itu menciptakan dinding penolakan yang solid.
"Tidak," kata Amel. Suaranya keluar serak, lebih dalam dan lebih dingin daripada suara aslinya. Itu adalah suara Floren.
Para pelayan menegangkan tubuh mereka, menunggu perintah selanjutnya. Apakah akan ada hukuman? Apakah akan ada teriakan?
Amel menatap mereka. Ia tidak ingin melihat ketakutan itu. Ia butuh ruang. Ia butuh waktu untuk memahami kekacauan ini sendirian.
"Keluar," perintahnya pendek.
Para pelayan terdiam sejenak, bingung. Biasanya, Ratu akan memerintahkan sesuatu yang spesifik.
"Saya bilang, keluar!" suara Amel sedikit meninggi, meniru nada otoriter yang tersimpan dalam memori otot Floren. "Tinggalkan aku sendiri. Bersihkan lorong luar. Jangan ada siapa pun yang masuk tanpa panggilanku. Pergi!"
Tanpa menunggu perintah kedua, para pelayan bangkit dengan sigap, berjalan mundur sambil tetap menunduk, dan menghilang di balik pintu ganda raksasa yang terbuat dari kayu eboni. Suara engsel pintu tertutup berat, mengunci Amel sendirian di dalam Ruang Takhta Kecil yang sunyi dan berbau darah.
Hening.
Amel menghembuskan napas panjang yang tertahan. Kakinya lemas. Ia merosot kembali ke kursi takhta yang dingin dan keras. Tangannya gemetar hebat sekarang, lepas dari kendali. Ia menatap telapak tangannya yang putih bersih, kontras dengan noda darah di gaunnya.
"Aku... Amel," bisiknya pada keheningan. "Aku mati. Dan sekarang aku... dia."
Ia menutup matanya, mencoba memisahkan identitasnya dari memori Floren yang menyakitkan. Ia ingat bagaimana Floren kecil bersembunyi di lemari, menutup telinga, mendengar suara tawa ibunya dan erangan pria-pria yang dijadikan mainan. Ia ingat bagaimana Floren bersumpah tidak akan pernah menjadi seperti ibunya. Ia ingat bagaimana Floren merebut takhta, membunuh ibu dan saudara-saudaranya yang korup, demi menyelamatkan rakyat dari pajak yang mencekik.
Mereka tidak mengerti, batin Amel, merasakan sisa emosi Floren. Mereka hanya melihat darah, bukan alasan di baliknya.
Amel membuka matanya. Tatapannya berubah. Kepanikan gadis modern itu mulai surut, digantikan oleh keteguhan hati yang dingin. Ia tidak bisa menjadi Floren yang kejam. Tapi ia juga tidak bisa menjadi Amel yang lemah. Ia harus menjadi sesuatu yang baru. Sesuatu yang efisien. Adil. Dan yang paling penting... aman.
Ia berdiri lagi, kali ini dengan langkah yang lebih mantap. Ia berjalan menuju jendela tinggi di ujung ruangan. Di luar, langit ibukota Mobelle berwarna abu-abu, mendung, seolah mencerminkan suasana hati rakyatnya.
"Aku akan memperbaiki ini," gumam Amel, suaranya berbisik namun tegas. "Aku akan membuat mereka mengerti. Tapi pertama-tama... aku harus bertahan hidup."
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari luar pintu. Bukan langkah pelayan yang ringan, melainkan langkah sepatu bot militer yang tegas dan berwibawa. Pintu didorong terbuka tanpa ketukan.
Seorang wanita tinggi besar memasuki ruangan. Ia mengenakan seragam militer abu-abu gelap, dengan jubah merah darah yang berkibar di belakangnya. Rambutnya dipotong pendek, wajahnya tajam dengan bekas luka tipis di pipi kiri, dan matanya... matanya menatap Amel dengan intensitas yang membuat darah Amel membeku.
Jenderal Kaelia. Panglima Perang Mobelle. Satu-satunya orang yang tidak takut pada Floren.
Kaelia melangkah masuk, mengabaikan genangan darah kecil di lantai. Ia berhenti tepat di depan takhta, tidak membungkuk, tidak tersenyum.
"Anda terlambat tiga menit untuk rapat strategi," kata Kaelia, suaranya datar dan lugas. "Pasukan Zenthoria sudah bergerak di perbatasan Utara. Apakah Anda sudah selesai bermain drama, Yang Mulia? Atau kita masih perlu menunggu Anda pulih dari 'euforia' pembunuhan keluarga Anda?"
Amel—Floren—menelan ludah. Ini ujian pertamanya. Jika ia gagal di hadapan Kaelia, kudeta ini akan berakhir dengan kudeta balasan.
Amel menatap lurus ke mata Kaelia. Ia tidak menurunkan pandangannya. Ia tidak menunjukkan rasa takut. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia meniru dinginnya es yang ia baca dalam memori Floren.
"Drama sudah selesai, Jenderal," jawab Floren, suaranya stabil meski jantungnya berdegup kencang. "Sekarang, beri saya peta. Kita punya perang untuk dimenangkan."
Kaelia menyipitkan mata, menyelidikinya selama beberapa detik yang terasa seperti abad. Lalu, sudut bibirnya terangkat sedikit. Bukan senyuman ramah, tapi tanda persetujuan.
"Akhirnya," gumam Kaelia. "Ikuti saya."