Hanya anak muda yang ingin mendapatkan kebaikan dalam hidupnya, mencintai wanita tapi tak seorangpun menginginkannya. Cakka, fisik tubuhnya memanglah idaman semua kaum hawa. Namun wajahnya? terdapat bintik-bintik merah yang timbul dari kulit yang seharusnya menjadi rupa pertama dari setiap pertemuan. Selain itu, kulit wajahnya seperti lelehan plastik yang tak bisa terbentuk rapih mengikuti rahang. Buruk rupa, itu sebutan orang-orang untuk Cakka. Sejak kecil, sejak ia lahir kedunia. Hidupnya nelangsa, bukan karena wajahnya saja tapi karena ayah ibunya pergi lebih dulu darinya. Belum lagi Gempa, yang berhasil menghancurkan rumah tempat berlindungnya dan merenggut sang nenek yang mengasuhnya sejak kecil. Sedih, kesepian, dan sebatang kara. Itu yang Cakka alami ketika usianya beranjak sebelas tahun. Apakah Cakka akan berputus asa dengan hidup yang terus menerus di uji? Apakah wajah Cakka akan tetap seperti itu untuk melanjutkan hidup? Simak ceritanya Di Dua Dimensi!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya bisa diam 21+
Berbaring, Debo menatap langit kamar. Cakka, matanya terpejam merasakan sakit dan ada kadar ngantuk yang menyerang matanya.
"Sebelum tidur disini, tidur lu nyenyak nggak, Cak?"
"Mmmm...."
"Dulu, mau makan saja harus mikir besok cari uang kemana? Harus mikir berkali-kali karena pekerjaan nya beresiko tinggi, harus waspada dan cari orang lemah. Sama seperti kita, orang lemah."
"Itu takdir kita, Deb. Adakalanya kita harus bersyukur disaat genting seperti dulu dan belajar untuk tidak melakukannya lagi"
"Mungkin... Ini hukuman buat gue yang sudah mengambil dompet orang"
Debo bibirnya tersenyum namun mengejek. entahlah, Cakka sendiri bingung. Dia mengejek kehidupannya yang dulu atau sekarang. Debo, tangannya mengelus kening Cakka.
"Lu kalau punya cewek bilang aja sama gue, gak usah pura-pura jomblo"
Mata Cakka langsung terbuka lebar, setengah badannya naik untuk menatap wajah Debo.
"Aku sudah bilang dari awal, gak ada perempuan disini. Kok pikiran kamu tetap kesana sih?!"
Debo tersenyum selengeh, ia mengusap wajah Cakka kasar.
Slurp!!
"Bukannya gue gak percaya, tapi tadi tuh berasa ada. Lu kalau lagi begitu, kedengarannya udah lihai. Pengalaman lu begituan sama cewek udah berapa kali Cak?"
Kini Cakka duduk dengan benar, dia tak berani menatap Debo lagi.
"Gak... Gak Pernah gue begitu sama cewek. Cewek yang mana?"
Cakka terbiasa jujur. Namun kini, ia berbohong. Maksud hati ingin menyembunyikan kejadian tadi dari Debo. Tapi rupanya, di ujung ruangan Aulia menatap Cakka dengan tatapan sedih, dan kecewa.
Wajah Cakka memelas, meminta agar Aulia mengerti. Tapi tak direspon, Aulia hanya menunduk dengan bibir yang cemberut. Debo. Ia bangun, menepuk bahu Cakka.
"Lu kenapa? Lihat apa sampai segitunya?"
Dengan cepat Cakka langsung berubah ekspresi, menggelengkan kepalanya sebagai jawaban 'Tidak.'
"Gue tahu jatuh cinta itu rumit, makanya lu bohongkan sama gue?"
Cakka melepas tangan Debo dari bahunya. Ia masih mengelak, "Apa sih? Nggak ada ya!." Namun Debo tersenyum. Rupanya ia bisa membaca ekspresi wajah Cakka.
"Hati-hati loh! Lu begitu nanti pacar lu denger, sakit hati dia bakalan ngambek."
Cakka hanya berdecak, kemudian dia mengalihkan pembicaraannya dengan Debo.
"Kamu datang ke kamarku ada apa?"
Debo menarik nafas lalu mengeluarkannya secara perlahan.
"Omongan gue yang tadi, gimana? Lu mau gak kabur dari sini?"
Terdiam... Cakka tak bisa menjawab. Ia malah menatap Aulia, seperti sedang menunggu jawaban. Debo, menepuk kembali bahu Cakka.
"Gimana? Mau kabur gak?"
Cakka menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Duh! Gimana ya?"
"Gue bukannya nggak mau lu sukses, Cak. Hanya saja dari pengalaman gue, mending... Lu... Kabur maksud gue, kita. Kita kabur, Cak!"
"H-hari ini?"
Debo mengangguk, ia menatap Cakka begitu dalam.
"Kamu.. kalau mau pergi lebih dulu silahkan, Deb. Aku masih mau disini beberapa hari"
"Yah.. Jangan! Nanti peraturan rumah ini ketat. Kamu gak bisa kemana-mana, mumpung aku masih disini, mending kita pergi sama-sama. Biarkan Obit dan yang lain yang jadi korban."
Cakka tahu, Cakka sudah tahu maksud dari perkataan Debo. Ia tak mau terlihat sudah menguping kejadian tempo hari, ia berusaha terlihat aneh, heran, dengan kata 'Korban.'
"Maksud kamu gimana?"
"Jadi, soal makan malam itu....."
Debo menjelaskan kejadian naas yang menimpanya. Dari mulai dilucuti pakaiannya, oleh seorang penata rias. Diganti dengan pakaian yang tersedia disana. Di ancam akan dibunuh jika membicarakan kejadian malam kemarin dengan siapapun. Dan, ia menceritakan puncak traumanya.
Ia dipukuli ajudan sang petinggi, kedua tangannya diikat. Lalu di bungkukkan ke kemeja, disanalah lubang anus dirobek oleh rudal pendek namun besar. Debo, mulutnya disumpal. Sehingga tak bisa menjerit kesakitan, hal itu dilakukan didepan semua orang. Debo tidak mau, Cakka. Orang baik yang pernah menolong seorang ibu dipasar ikut terseret juga.
"Setiap gue ngeliat lu, gue selalu merasa bersalah. Gara-gara gue... Lu dipukulin dipasar."
Cakka terdiam, benar-benar terdiam setelah mendengar cerita Debo. Ia tidak bisa mengeluarkan pendapat apapun. Mendengarkan semua dari a-z, membuat Cakka bingung, takut dan bimbang.
"Jadi gimana? Mau gak? Gue cuma cerita sama lu aja, jangan sampai yang lain tahu! Kalau yang lain tahu, makin hancur gue."
Cakka hanya mengangguk tapi bukan untuk menyetujui soal kabur dari rumah Bv. Dia masih bingung, akan melanjutkan perjalanannya dirumah ini atau tidak. Jika kabur, Kleo bisa dengan mudah menemukannya. Jika tetap disini, ia pun merasa takut kalau kejadian buruk itu menimpanya.
"Cak! Gue gak mau, lu ngerasain hal yang sama!"
Cakka memejamkan kedua matanya, menarik nafas lalu dikeluarkan secara perlahan.
"Aku tidak tahu, Deb. Untuk saat ini sepertinya aku akan tetap disini dulu. Pasti nanti, kalau aku sudah siap. Aku juga akan kabur. Bagaimanapun caranya, aku akan menjauhi rumah ini"
"Lu gak akan bareng sama gue?"
"Ya!"
"Tapi lu percaya kan sama cerita gue?"
"Iya, aku percaya"
Debo tersenyum, setidaknya dia didengar oleh orang lain. Dia tidak memendam kejadian buruk itu sendirian.
"Kalau begitu gue pergi dulu ya, nanti kalau putusan lu sudah tepat, sudah bulat. Kabarin gue, gue nungguin lu"
Debo menumpuk paha Cakka berkali-kali sebelum pergi, tak lupa senyum merekah tanda pertemanan mereka mulai terjalin dekat. Debo, perlahan langkahnya keluar dari kamar Cakka. Ia menutup pintu rapat-rapat.
Clek!
Cakka menyisir rambut menggunakan jari-jarinya. Ia juga takut. Tapi Cakka, selalu berpikir bahwa, Kleo tidak akan pernah berani melakukan itu kepadanya.
Belum lagi si cantik yang tiba-tiba marah. Dia berjalan kekasur, membantingkan tubuhnya untuk bisa tertidur dengan tenang. Cakka menatapnya, mencoba memeluk dari samping tapi ternyata Aulia masih marah. Ia membelakangi Cakka.
"Jangan kayak gitu dong! Aku cuma mau menutupi kehadiran kamu disini"
"Ya tahu!"
"Itu tahu! Jangan marah!"
"Gimana gak marah? Minimal kamu jelasin kek, pernah pacaran, pernah bercumbu sama perempuan bernama Aulia! Kamu bilang sama Debo seolah aku itu benar-benar tidak ada! Perempuan mana yang tidak marah?!"
"Maaf deh maaf, aku janji itu tidak akan terulangi lagi"
"Gak percaya aku!"
"Kok gak percaya? Aku saja sepenuhnya percaya sama kamu"
"Habisnya... "
"Apa?"
Aulia menggelengkan kepala, menutup kedua matanya. Cakka, tak merayu perempuannya lagi. Ia malah menatap langit kamar. Kembali ke kebiasaanya. Berfikir, akankah dengan kabur ia menyelamatkan hidupnya? Ah! Dibuat bimbang dengan kejadian Debo.
Tiba-tiba Aulia kembali berbicara tanpa diminta.
"Tenang, kamu di sini akan baik saja. Ceritamu dan Debo berbanding terbalik"
"Kenapa?"
"Kamu lihat saja besok!"
"Ada apa?"
"Lihat saja! Kalau aku jelaskan sekarang, kabar besok bukanlah kabar istimewa untuk kamu. Aku meyakinkan kamu dari sekarang, agar kamu tidak kabur dari rumah ini."
Lagi-lagi Cakka hanya bisa diam, ia dibuat pusing.