NovelToon NovelToon
SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Karir / Persahabatan
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Komiatun Atun

hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 35: SISIR RAMBUT DAN PERLINDUNGAN

 

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"

BAB 35: SISIR RAMBUT DAN PERLINDUNGAN ALLAH

Setelah selesai menyampaikan nasihat-nasihat yang begitu menyentuh dan menancap di hati kami semua, Pak Bilal mengakhiri pertemuan hari itu. Beliau berdiri tegap di depan kelas, menatap kami satu per satu dengan tatapan bijaknya.

"Baiklah anak-anak, cukup untuk hari ini ya. Mari kita berdoa bersama untuk menutup pelajaran hari ini. Karena hari ini baru hari pertama masuk, jadi belum ada pelajaran inti, ya. Mulai besok kita sudah masuk belajar seperti biasa dan aktif kembali," kata Pak Bilal lembut.

Suasana kelas seketika hening sejenak, semua kepala tertunduk, hati dan pikiran kami menata niat, memanjatkan doa dan rasa syukur kepada Allah atas ilmu dan keselamatan hari ini.

"Terima kasih untuk hari ini, sampai jumpa besok. Assalamualaikum..." pamit Pak Bilal.

"Waalaikumsalam..." jawab kami serentak dan keras.

Semua murid pun bergegas membereskan buku dan alat tulis, bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing. Aku pun berjalan pelan di barisan paling belakang, seperti kebiasaan yang selalu kulakukan. Di tengah keramaian itu, samar-samar aku mendengar bisikan-bisikan teman di belakangku.

"Dasar guru galak... Galak amat sih, semoga kita gak kena omelan tiap hari deh kalau dia yang ngajar," bisik Lilla kepada temannya Nurkaya.

Aku hanya mendengar saja, tak menoleh sedikit pun. Lalu Nurkaya menyenggol punggungku sambil menulis di punggung buku tulisku, atau sekadar bersuara lantang supaya aku dengar. "Hei Mis... Jauh sana... Jangan dekati kami ya, kotor!"

Aku hanya diam dan terus berjalan maju. "Biarlah... Biarlah mereka menghina, biarlah mereka mencaci maki. Yang penting aku tidak pernah mengganggu mereka, aku tidak pernah berbuat salah sama mereka. Itu saja cukup buatku," gumamku dalam hati dengan hati yang lapang.

Di depan pintu kelas, kami semua berbaris salaman dengan bapak guru sebagai tanda hormat dan pamit pulang. Aku adalah yang paling terakhir mendekati Pak Bilal. Beliau menatapku lekat-lekat, menatap dalam seolah ada yang sedang dicari di ingatannya, lama sekali sehingga aku jadi merasa risih dan malu sendiri.

"Pak... Maaf, Ria izin pulang ya Pak... Assalamualaikum," ucapku pelan memecah keheningan itu.

"Eh... Iya... Iya Nak... Waalaikumsalam," jawab Pak Bilal agak gagap dan tergagap karena lamunannya buyar.

Beliau masih memperhatikan punggungku yang menjauh. "Komiria... Komiria... Nama yang tidak asing... Ya Allah... Ingat sekarang! Anak ini yang dulu sering membawa nama baik sekolah ini, anak yang pintar, cerdas, juara terus... Tapi kasihan sekali melihat penampilan dan kehidupannya yang begitu sederhana. Ya Allah... Tolonglah mereka, mudahkanlah jalan hidup kalian ya Nak..." batin Pak Bilal berdoa tulus.

Aku berjalan santai menuju pintu gerbang sekolah. Namun, baru saja langkah kakiku hampir sampai di gerbang, tiba-tiba ada Sisil—anak yang paling suka menggangguku—sengaja menjulurkan kakinya menghalangi jalanku. Tapi aku sudah punya firasat buruk sejak tadi, jadi aku dengan sigap langsung berbelok ke kanan menghindar. Namun rupa-rupanya, kelompok Sisil sudah mengadang di depan jalanku, memojokkanku supaya tak bisa lari ke mana-mana.

"Hei...!! Anak miskin mau ke mana? Buru-buru amat sih? Lama banget gak ketemu, kira-kira abis libur sekolah penampilanmu berubah ya? Ternyata tetap sama aja, dekil, lusuh, dan miskin hahaha..." ejek Sisil dengan nada sinis.

Aku tetap tenang, menatap mereka dengan tatapan datar. "Maaf... Saya mau pulang. Jangan halangi jalan saya ya Sil... Minggir," jawabku tegas.

"Haaaaa... Buru-buru mau jadi pembantu ya? Mau buru-buru pulang ke kebun hahaha..." teman-teman Sisil ikut tertawa puas mengejek.

Aku menarik nafas panjang, lalu menjawab dengan suara lantang dan berani. "Maaf ya... Walaupun saya jadi pembantu, tapi saya bangga. Semua yang saya punya hasil keringat sendiri, hasil kerja sendiri. Gak minta sama kalian, gak minta belas kasihan kalian. Kenapa sih kalian susah banget ngurusin hidup saya? Gak ada habisnya ya..."

"Lihat nih teman-teman... Si Gembel udah bisa lawan kita ya berani-beraninya," kata Sisil kaget sekaligus marah mendengar jawabanku.

"Dorong aja dia! Biar dia rasa! Lagian besok kan dia gak punya baju sekolah lagi, pasti baju ini yang dipake lagi, lusuh dekil gini aja dipamer-pamerin," bisik salah satu temannya menyulut emosi.

Sisil pun mengangkat tangannya hendak mendorong bahuku dengan keras. Namun baru saja tangannya mau menyentuh bajuku...

Hemmmm... Hemmm... Ehem...!

Suara deheman berat terdengar begitu dekat di belakang mereka. Ternyata Pak Selamat, guru Bahasa Inggris kami, berdiri di sana sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan murid-muridnya.

"Eh... Bapak...!" Sisil dan teman-temannya langsung kaget, wajah mereka pucat ketakutan.

"Kalian ini... Apakah tadi kalian lupa sama pencerahan dan nasihat Pak Bilal tadi di kelas? Galak sekali ya mulutnya, kasar sekali kelakuannya," kata Pak Selamat dengan nada kecewa. "Ingat ya, kalau besok dan seterusnya masih ada yang mengganggu Ria atau mengganggu teman lain yang lemah, Bapak tidak akan diam. Bapak akan kasih hukuman yang berat biar kalian sadar dan tobat, biar kalian tahu rasa kalau menghina orang!"

Belum selesai Pak Selamat bicara, tiba-tiba ada sosok lari kecil dari arah kelas, langsung menghampiriku sambil tersenyum lebar. Itu Bagas, adikku.

"Kak! Assalamualaikum!" seru Bagas semangat.

"Waalaikumsalam Dik... Udah mau pulang ya? Belum belajar ya hari ini?" tanyaku lega sekali melihat wajah Bagas.

"Iya Kak, belum belajar kok. Ayo Kak kita pulang, Bunda udah nunggu di rumah tuh," ajak Bagas.

Sisil dan teman-temannya makin mundur dan minggir memberi jalan.

"Astaghfirullah... Ya Allah..." batiniku dalam hati. "Semoga Allah memberi hidayah dan petunjuk buat kalian semua... Semoga hati kalian dilembutkan..."

"Pak... Ria izin pulang dulu ya Pak... Assalamualaikum," pamitku pada Pak Selamat.

"Iya Ria... Bagas... Hati-hati di jalan ya... Waalaikumsalam," jawab Pak Selamat sambil tersenyum mengangguk.

Aku dan Bagas pun berjalan melewati mereka dengan kepala tegak, tidak peduli lagi pada tatapan sinis mereka. Belum jauh kami berjalan keluar gerbang, tiba-tiba Abang Ardiansyah datang berlari terengah-engah, nafasnya memburu karena kecepatan lari yang dipacunya.

"Dik! Gak apa-apa kan kamu Dik? Gak ada apa-apa kan?" tanya Abang Ardiansyah cemas luar biasa.

"Assalamualaikum Bang... Iya Bang, kenapa Abang panik begitu? Ria aman kok, semua baik saja Bang," jawabku kaget.

"Heeyy... Waalaikumsalam... Harusnya Abang yang ucap salam duluan, tapi Abang panik banget tadi... Ada yang bilang kamu diganggu sama Sisil dan teman-temannya, makanya Abang langsung lari ke sini," jelas Abang Ardiansyah lega.

"Alhamdulillah gak ada apa-apa Bang... Aman kok. Tapi siapa yang bilang ke Abang kalau Ria diganggu mereka?" tanyaku penasaran.

"Itu lho... Si Bastian... Tadi Bastian kan lari pulang sekolah, terus nyamperin Abang yang mau nyusul Abang Hamza ke kebun kopi, mau ikut Bastian pulang ke rumah. Eh Bastian bilang, 'Kak Ardiansyah... Kak Ria diganggu orang di depan pintu gerbang!', makanya Abang langsung lari sekencang-kencangnya ke sini," cerita Abang Ardiansyah sambil mengusap keringat di dahinya.

Bagas langsung nyaut dengan wajah serius tapi lucu. "Kak... Emang tadi itu rombongan Sisir Rambut lagi kumpul-kumpul ganggu Kak Ria bareng teman-temannya lho..."

Aku menahan tawa. "Dik Bagas... Tadi bilang apa? Sisir Rambut? Siapa itu Dik?"

"Ya siapa lagi kalau bukan Sisil rambut itu... Yang rambutnya panjang dikuncir tapi kelakuannya kasar, namanya Sisil kan? Ya aku panggil Sisir Rambut hahaha..." jawab Bagas polos.

"Ha ha ha ha..." Aku pun tertawa lepas mendengarnya. Abang Ardiansyah pun ikut tersenyum lebar.

"Kamu ini ya Bagas... Ketularan mulut kakakmu ini ya, kocak banget panggilannya hahaha..." kata Abang Ardiansyah gemas.

"Enggak Bang... Emang dia sisir rambut kan? Suka nyisir rambut terus kalau ngomong, jadi pas banget namanya hahaha..." jawab Bagas membela diri.

Kami pun bertiga berjalan beriringan pulang ke rumah sambil tertawa dan mengobrol seru.

"Dik... Abang gini lho... Yang Abang takutin itu mereka bakal terus ganggu kamu terus-terusan, kapan aja dan di mana aja. Makanya Abang selalu waspada," kata Abang Ardiansyah serius sambil memegang bahuku pelan.

"Terima kasih ya Bang... Makasih banget perhatiannya sama Ria. Tenang aja Bang, Ria udah biasa kok, Ria kuat," jawabku tulus terharu perhatian Abangku.

Sepanjang jalan pulang kami ditemani canda dan kasih sayang satu sama lain. Begitu sampai di halaman rumah, suasana terasa sepi sekali. Tidak ada suara Bunda, tidak ada suara kegiatan seperti biasa.

"Assalamualaikum... Bunda... Bunda... Ria, Abang Ardiansyah, sama Bagas pulang nih..." seruku memanggil ke dalam rumah. Tapi sunyi senyap, tidak ada jawaban sedikit pun.

"Bang... Kayaknya Bunda lagi pergi ke sumur ya? Atau ke sungai dekat sana? Gak kelihatan sama sekali," kataku sambil melihat ke arah jalan setapak menuju sumber air, bertanya-tanya dalam hati ke mana gerangan Bunda pergi, berharap Bunda baik-baik saja.

1
KOMIATUN
"alhamdulillah,.... terimakasih banyak ya kak atas dukungan nya senang banget deh ada yang mampir dan kasih saya semangat, rasanya capek pulang kerja jadi hilang seketika lho, nanti kalau ada waktu luang pasti saya kunjungi profil nya kakak ya. sihat selalu dan sukses terus buat kakak. 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!