(Tokoh utama Pria+Wanita)
Raka Pradipta adalah seorang suami yang selama menikah hanya menjadi alat penghasil uang bagi keluarga istrinya, ia di paksa membiayai kehidupan seluruh keluarga istrinya. Tapi karena rasa cinta yang sangat besar Raka menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, ketika sebuah kenyataan pahit menghantamnya, rasa sayang yang selama ini hanya ia simpan untuk istrinya lenyap seketika ketika istrinya lebih memilih berkhianat dengan seorang pria yang lebih segalanya darinya, Raka pun di paksa menceraikan sang istri lalu ia di usir tanpa hormat oleh keluarga istrinya itu.
Namun, tak ada yang menyangka jika Raka adalah seorang anak dari penguasa jaringan bisnis di negaranya, dan apakah identitas aslinya itu akan di ketahui keluarga mantan istrinya?
ayo simak cerita baru author yang satu ini, semoga para reader suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Mantan?
Sementara itu, pagi di kantor pusat Pradipta Grup berjalan lebih sibuk dibanding biasanya. Sejak kedatangan Raka sehari sebelumnya, ritme kerja berubah terasa lebih cepat.
Beberapa kepala divisi terlihat keluar masuk ruang rapat membawa berkas tambahan, sementara staf operasional tampak jauh lebih berhati-hati saat mengirim laporan.
Di lantai eksekutif, ruang kerja utama yang sebelumnya lama kosong kini kembali terisi.
Raka duduk di balik meja besar berwarna gelap, beberapa layar laporan terbuka di hadapannya. Jas formal hitam kembali melekat rapi di tubuhnya, ekspresinya tenang seperti biasa saat membaca evaluasi keuangan, laporan proyek, hingga data internal yang sejak pagi terus masuk tanpa jeda.
Jack berdiri beberapa langkah di samping sambil sesekali menjelaskan poin tertentu.
“Divisi logistik sudah mulai menyesuaikan aturan baru, Tuan muda,” lapornya singkat. “Namun beberapa kepala cabang tampaknya masih mencoba menunda pelaporan.”
Raka mengangguk kecil tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen. “Catat nama mereka,” ucapnya datar. “Aku tidak suka keterlambatan yang disengaja.”
“Baik, Tuan muda.”
Tak lama kemudian pintu ruang kerja diketuk pelan.
Selina masuk sambil membawa tablet dan dua map tebal, ekspresinya terlihat sedikit lelah tetapi tetap sigap.
“Laporan restrukturisasi selesai,” ucapnya sambil meletakkan dokumen di meja. “Dan ya, beberapa orang jelas tidak suka keputusanmu.”
Raka melirik sekilas. “Aku juga tidak bekerja untuk disukai.”
Selina mendecak kecil. “Aku tahu, makanya wajahmu cocok jadi poster ancaman perusahaan.”
Jack menundukkan kepala sedikit, berusaha menahan ekspresi.
Raka hanya mengangkat alis tipis. “Kalau kau selesai candaanmu, letakkan dokumennya.”
Selina langsung menyipitkan mata. “Ish! Menyebalkan.”
Namun tetap saja ia duduk di sofa kecil dekat meja sambil mulai menjelaskan beberapa poin laporan.
Jam demi jam berlalu cukup cepat, menjelang siang, setelah serangkaian pertemuan singkat dan evaluasi tanpa henti, suasana kantor mulai sedikit melambat memasuki waktu istirahat. Sebagian besar karyawan turun menuju area kantin premium dan lounge makan di lantai bawah.
Raka akhirnya berdiri dari kursinya setelah hampir sejak pagi tidak benar-benar berhenti bekerja.
“Kamu mau makan?” tanya Selina sambil merapikan berkas.
“Nanti saja,” jawab Raka singkat.
“Kamu bilang begitu terus lalu ujung-ujungnya lupa untuk makan,” gerutu Selina pelan.
Namun Raka sudah lebih dulu melangkah keluar ruang kerja.
Koridor lantai eksekutif terlihat lebih sepi dibanding biasanya, Raka berjalan tenang menuju lounge khusus di area bawah, berniat sekadar mengambil kopi dan mengosongkan pikirannya beberapa menit.
Begitu pintu lift terbuka di lantai lounge, aroma kopi hangat langsung menyambut, suasana cukup tenang, beberapa pegawai duduk berbincang pelan sambil menikmati makan siang.
Raka baru beberapa langkah masuk ketika seseorang tiba-tiba berhenti di dekat area resepsionis lounge.
Seorang wanita.
Rambut hitam kecokelatan tergerai rapi hingga bahu, mantel terang tersampir elegan di atas pakaian formal sederhana. Wajahnya terlihat dewasa dan tenang, tetapi sorot matanya membeku sepersekian detik begitu melihat sosok yang baru keluar dari lift.
Sementara Raka sendiri ikut menghentikan langkah.
Alisnya sedikit berkerut, jelas tidak menyangka.
“…Raka?”
Suara wanita itu terdengar pelan, nyaris tidak percaya.
Raka menatap beberapa detik sebelum akhirnya mengenali wajah itu. “Nadira?”
Wanita itu langsung tersenyum kecil, campuran terkejut dan sesuatu yang sulit dijelaskan tampak sekilas di matanya.
“Aku sampai berpikir salah lihat,” ucapnya pelan sambil tertawa kecil. “Sudah bertahun-tahun… ternyata ini benar-benar kamu.”
Raka masih terlihat sedikit terdiam.
Nadira, mantan kekasihnya semasa SMA, sosok yang tiba-tiba menghilang dari hidupnya setelah memilih melanjutkan pendidikan ke New Zealand tanpa banyak penjelasan panjang.
“Aku dengar keluarga Pradipta sedang banyak perubahan besar,” lanjut wanita itu tenang. “Tapi aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini.”
Raka mengembuskan napas pendek sebelum mengangguk kecil. “Kapan kau kembali?” tanyanya akhirnya.
“Baru beberapa hari yang lalu,” jawab Nadira sambil tersenyum samar. “Dan kebetulan…” ia melirik sekitar sebentar. “Aku sedang mempertimbangkan untuk bekerja sama dengan salah satu anak perusahaan dari Pradipta Grup.”
Tatapannya kembali pada Raka, sedikit lebih lama kali ini. “Kamu banyak berubah,” katanya pelan. “Jauh lebih berbeda dari dulu.”
Raka tidak langsung menjawab.
Sementara itu, di lantai atas, Selina yang baru keluar dari lift lain tanpa sengaja menghentikan langkah ketika melihat Raka berbicara dengan seorang wanita asing.
Alisnya sedikit terangkat. “Siapa itu?” gumamnya pelan tanpa sadar.
Di bawah sana, Nadira masih berdiri dengan senyum kecil yang tampak hangat, meski ada sesuatu dalam tatapannya yang bertahan sedikit terlalu lama ketika memandang Raka.
Raka berdiri tenang dengan satu tangan masuk ke saku celana, sorot matanya tetap datar meski keterkejutan tipis tadi belum benar-benar hilang. Sudah terlalu lama sejak terakhir kali ia melihat Nadira, hingga sebagian kecil dari dirinya hampir menganggap masa itu sekadar potongan kenangan yang selesai begitu saja.
“Kamu juga terlihat banyak berubah,” ucap Raka akhirnya dengan nada tenang. “Aku hampir tidak mengenalimu.”
Nadira terkekeh kecil, jemarinya merapikan helai rambut di sisi wajah. “Semoga itu pujian.”
“Anggap saja begitu,” jawaban datar itu justru membuat Nadira tersenyum sedikit lebih lebar.
Masih sama, pikirnya dalam diam.
Dulu pun Raka tidak banyak bicara, tidak pandai merangkai kata manis, tetapi selalu punya cara membuat orang terus memperhatikannya tanpa sadar.
“Aku dengar kamu sempat pergi dari rumah sangat lama,” ucap Nadira pelan. “Dan sekarang langsung kembali memegang perusahaan keluargamu?”
Raka mengangguk kecil. “Kurang lebih begitu.”
“Hebat,” balas Nadira sambil menatapnya beberapa detik lebih lama. “Jujur saja… aku tidak menyangka kita bertemu lagi seperti ini.”
Nada suaranya terdengar ringan, tetapi matanya menyimpan sesuatu yang samar, nyaris sulit ditangkap jika tidak diperhatikan.
Sementara di sisi lain lounge, Selina masih berdiri cukup jauh sambil memegang map di dada. Tatapannya bergerak cepat antara Raka dan wanita asing itu.
Wanita cantik, elegan, jelas bukan orang biasa. Dan yang paling mengganggu, Raka terlihat mengenalnya.
Selina menyipitkan mata kecil. “Kenapa dia berdiri dekat sekali dengan Raka” gumamnya tanpa sadar sebelum langsung mengerutkan dahi sendiri.
Ia buru-buru membuang muka. “Astaga, memangnya aku peduli,” gerutunya pelan.
Namun anehnya, langkahnya tidak juga bergerak menjauh.
Di bawah, Nadira melirik jam tangan sebentar lalu tersenyum tipis. “Kamu sedang sibuk?” tanyanya.
“Selalu,” jawab Raka singkat.
“Masih sama ternyata,” ujar Nadira pelan sambil tertawa kecil. “Kalau begitu… bagaimana kalau kita makan siang sebentar saja? Untuk sedikit mengenang masalalu.”
Raka terdiam sepersekian detik, belum sempat menjawab, suara lain lebih dulu terdengar.
“Pak Raka.”
Selina muncul entah sejak kapan, berdiri tidak jauh dari sisi Raka sambil membawa tablet dan ekspresi profesional yang sedikit terlalu tenang.
“Ada dokumen yang perlu Anda tandatangani sebelum rapat sore,” ucapnya formal.
Tatapannya bergerak singkat ke arah Nadira.
Lalu kembali ke Raka. “Dan Anda juga belum makan,” tambahnya.
Raka melirik Selina sekilas, seolah langsung memahami sesuatu. “Nadira,” ucapnya tenang, “ini Selina. Rekan kerjaku.”
Selina tersenyum tipis, sopan namun rapi. “Selamat siang.”
“Nadira,” jawab wanita itu sambil mengulurkan tangan dengan senyum halus. “Teman lama Raka.”
Entah kenapa, dua kata terakhir terdengar sedikit lebih jelas, Selina membalas jabat tangan seperlunya. “Begitu ya,” jawabnya ringan.
Raka mengembuskan napas pendek sebelum berkata tenang, “Lain kali saja untuk makan siangnya.”
Nadira sedikit terdiam, meski hanya sepersekian detik, ekspresinya berubah sangat halus sebelum kembali tersenyum. “Tentu,” jawabnya lembut. “Aku juga tidak ingin mengganggu pekerjaanmu.”
Ia mengambil sebuah kartu nama dari tas kecilnya lalu menyerahkannya pada Raka. “Aku tinggal di sini untuk sementara,” katanya pelan. “Kalau ada waktu… hubungi aku.”
Raka menerima kartu itu tanpa banyak reaksi. “Baik.”
Nadira tersenyum lagi sebelum mundur satu langkah. “Senang bertemu denganmu lagi, Raka.”
Lalu wanita itu berbalik pergi dengan langkah anggun menuju pintu keluar lounge. Namun sebelum benar-benar pergi, ia sempat melirik sekali lagi ke arah Raka dari kejauhan.
Tatapannya bertahan sedikit lama, terlihat tenang di luar, tetapi di balik sorot matanya tersimpan sesuatu yang di berusaha ia sembunyikan rapat-rapat.
Sementara itu, Selina berdiri diam beberapa detik sebelum akhirnya melipat tangan.
“Teman lama?” tanyanya santai.
“Hm.”
“Mantan?” tanyanya lagi, terlalu cepat.
Raka menoleh perlahan, sambil membuang kartu nama itu ke dalam tong sampah.
Selina langsung terdiam sepersekian detik sebelum buru-buru membetulkan posisi tablet di tangannya.
“Kenapa kau membuangnya?” ucapnya cepat.
Sudut bibir Raka bergerak tipis. “Aku tidak memerlukannya,” jawabnya tenang. “Kenapa memangnya?”
“Tidak,” jawab Selina terlalu cepat.
Raka terkekeh pelan, nyaris tidak terdengar, dan entah kenapa, hal kecil itu justru membuat Selina semakin kesal sendiri.
kite cuhi2 waktu bace
masih sj menyalahkan raka
pdhal! sjk nikah raka jd sapi perah di kel rasti, tp msh tetep diam sj
Hati hati Doni mending ditabung saja, kalau perlu deposito kan.
hati 2 lo ilang, lagian raka bukannya kasih ATM sj lbh simpel ya, ni dion pergi2 bw uang banyak lo, takutnya di smbil. nenek. lampir
siap2 ya farhan km nanggung hutang jel rasti🤣🤣🤣puyeng puyeng deck km