NovelToon NovelToon
Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kultivasi
Popularitas:394
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 6 badai gandum dan catur emas di atas papan kematian

Sinar matahari pagi menembus celah awan kelabu yang menggantung di atas Jinling, menyinari sisa-sisa genangan air dari badai semalam. Di depan gerbang utama Kediaman Jenderal Cang, suasana terasa jauh lebih dingin daripada udara musim semi yang seharusnya.

Kasim Wei, kepala pelayan pribadi Kaisar Yan Wudi, berdiri tegak dengan selembar gulungan sutra kuning emas di tangannya. Di belakangnya, dua barisan Pengawal Kekaisaran berdiri kaku, ujung tombak mereka memantulkan cahaya mentari pagi. Puluhan rakyat jelata berkerumun dalam radius aman, berbisik-bisik menyaksikan kejatuhan resmi salah satu pilar militer terkuat di benua ini.

Di undakan tangga batu, Nyonya Besar Yue Xinyi—ibu kandung Cang Qixuan—berlutut dengan tubuh gemetar. Wanita yang dulunya dikenal sebagai pendekar pedang wanita dari Sekte Teratai Putih itu kini tampak menua sebelum waktunya. Wajah cantiknya pucat pasi, matanya sembab oleh air mata yang ditahannya sekuat tenaga demi menjaga sisa martabat klan suaminya.

"Atas Titah Langit, Kaisar Yan menitahkan!" Kasim Wei membacakan dekrit tersebut dengan suara bernada tinggi yang menusuk telinga. "Jenderal Besar Cang Baotian gagal menjaga pos perbatasan, meninggalkan medan perang tanpa izin. Mengingat jasa masa lalu, hukuman mati ditiadakan. Segel Harimau ditarik kembali. Seluruh aset militer dialihkan ke tangan Wakil Jenderal Mu Chenghai. Gelar bangsawan Tuan Muda Cang Qixuan tetap dipertahankan, sebagai bentuk kemurahan hati tak terbatas dari Yang Mulia Kaisar. Titah selesai!"

Nyonya Yue membungkuk hingga dahinya menyentuh tanah dingin. "Keluarga Cang... menerima kemurahan hati Yang Mulia."

Tepat ketika Kasim Wei hendak melipat gulungan sutra itu dengan senyum merendahkan, sebuah suara kuapan panjang yang sangat keras terdengar dari arah dalam halaman kediaman.

"Hoam... Paman Kasim, kau membacanya terlalu cepat. Bisakah kau mengulangi bagian 'kemurahan hati' itu? Aku sedang bermimpi dikelilingi tujuh penari saat kau mulai berteriak tadi."

Semua mata menoleh ke ambang pintu. Cang Qixuan melangkah keluar dengan langkah gontai, jubah sutra biru mudanya setengah terbuka memperlihatkan dadanya, rambutnya sedikit acak-acakan. Di tangannya terdapat sebuah sangkar burung berlapis emas yang berisi seekor burung beo berbulu pelangi. Ia tampak seperti perwujudan sempurna dari seorang pemuda bangsawan yang hidupnya hanya untuk menghamburkan oksigen.

Wajah Kasim Wei berkedut menahan jijik. "Tuan Muda Cang, ini adalah dekrit kekaisaran! Sikap Anda sangat tidak pantas!"

Qixuan mengorek telinganya dengan kelingking, lalu meniup jarinya dengan santai. "Paman Kasim, kakekku sedang sakit parah di dalam, ibuku sudah berlutut menerima dekritmu, dan klan kami baru saja kehilangan sumber penghasilan utama. Kau ingin aku menangis darah berguling-guling di tanah? Maaf, sutra bajuku ini diimpor dari Selatan, harganya seribu tael emas. Sayang kalau kotor."

Burung beo di dalam sangkar Qixuan tiba-tiba berkicau keras menirukan suara tuannya. "Sayang kalau kotor! Sayang kalau kotor! Kasim jelek! Kasim jelek!"

Wajah Kasim Wei memerah padam. Para prajurit pengawal menahan tawa mereka dengan susah payah, sementara rakyat jelata di kejauhan mulai berbisik-bisik memaki betapa tidak bergunanya pewaris Jenderal Cang tersebut. Klan mereka di ambang kehancuran, dan dia masih memikirkan harga bajunya dan bermain burung!

"Keluarga Cang benar-benar telah tamat," desis Kasim Wei, melemparkan dekrit itu ke tanah di depan Nyonya Yue alih-alih menyerahkannya dengan pantas. "Kuharap Tuan Muda bisa terus bersenang-senang dengan emasmu yang tersisa."

Tanpa memberi salam perpisahan, rombongan istana itu berbalik dan pergi, meninggalkan Nyonya Yue yang masih memungut gulungan kuning tersebut dengan tangan gemetar.

Begitu rombongan itu hilang di ujung jalan, Qixuan segera melangkah turun, melempar sangkar burungnya sembarangan ke pelayan, dan membantu ibunya berdiri. Sentuhan tangannya lembut, sebuah kontras yang tajam dengan sikap arogannya barusan.

"Ibu, udara pagi ini tidak baik untuk paru-parumu," ucap Qixuan pelan.

Nyonya Yue menatap putranya, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. Ia memukul pelan dada Qixuan berulang kali. "Xuan'er... mengapa kau tidak bisa berubah? Kakekmu berbaring lumpuh di dalam, klannya direbut oleh pengkhianat... dan kau masih... masih berkeliling dengan burung peliharaan dan arak?"

Qixuan membiarkan ibunya memukulnya. Hatinya terasa seperti ditusuk ribuan jarum, sebuah rasa sakit yang jauh lebih menyiksa daripada saat ia menghancurkan meridiannya sendiri. Ia sangat ingin memberitahu ibunya bahwa kakeknya sudah sembuh. Ia ingin memberitahu bahwa kekuatan militernya yang hilang akan segera digantikan oleh bayangan kematian yang menyelimuti seluruh kekaisaran.

Namun ia tidak bisa. Ibunya adalah seorang wanita lurus dan penganut jalan kebenaran sekte ortodoks. Jika ia tahu putranya berubah menjadi monster perencana berdarah dingin yang baru saja meracuni ribuan prajurit kekaisaran, hati nurani wanita itu akan hancur. Lebih aman bagi Nyonya Yue untuk membenci kemalasannya daripada ikut terseret dalam pusaran konspirasi gelapnya.

"Ibu jangan menangis," Qixuan tersenyum bodoh, mengusap air mata ibunya. "Kehilangan pasukan militer justru bagus! Sekarang aku tidak perlu dipaksa belajar strategi perang yang membosankan itu. Hari ini aku berjanji akan membelikan Ibu jepit rambut giok termahal di Paviliun Mutiara. Uang saku dari kakek masih banyak!"

"Kau... kau sungguh tidak bisa diselamatkan," Nyonya Yue menepis tangan putranya dengan putus asa, berbalik dan berjalan gontai memasuki halaman dalam, diiringi pelayan pribadinya.

Qixuan menatap punggung ibunya hingga wanita itu menghilang di balik gerbang bunga. Perlahan, senyum bodoh di wajahnya luntur. Sepasang pupil matanya menyempit, memancarkan kengerian yang membuat udara di sekitar pintu gerbang terasa beku.

"Mo Chen," panggil Qixuan dengan suara sedingin baja es.

Sosok berpakaian hitam itu muncul dari balik bayangan pilar. "Hamba, Tuan Muda."

"Orang yang melatih burung beo itu agar mengumpat tadi, beri dia sepuluh keping emas sebagai hadiah. Lalu, siapkan ruang kerjaku. Aku ingin melihat laporan dari Sanniang dan Nyonya Su segera."

Ruang kerja Qixuan terletak di sebuah paviliun kecil yang dikelilingi danau buatan di dalam area Kediaman Cang. Dari luar, paviliun ini tampak seperti tempat peristirahatan biasa yang penuh dengan lukisan wanita telanjang dan botol arak yang berserakan. Tidak ada pelayan biasa yang diizinkan masuk karena alasan "privasi Tuan Muda".

Di balik rak buku tebal yang menyimpan naskah-naskah erotis kuno, terdapat sebuah pintu rahasia yang mengarah ke ruang bawah tanah berlapis timah anti-sadap.

Qixuan duduk di kursi kebesarannya yang terbuat dari kayu cendana merah. Di depannya berdiri Nyonya Su Liyin yang mengenakan gaun ungu elegan, dan Lin Sanniang yang baru saja kembali dari perbatasan.

"Pusaran ketiga telah stabil," pikir Qixuan dalam hati, merasakan aliran energi yang padat memompa darahnya dengan kekuatan sepuluh naga. Pencapaian tingkat Pembentukan Fondasi membuat pikirannya bekerja seratus kali lipat lebih jernih dari orang jenius biasa. Setiap angka, setiap laporan intelijen, dan setiap nama musuh terukir jelas dalam ingatannya tanpa celah.

"Laporankan situasi Utara," Qixuan memerintah sambil menuangkan teh pahit ke dalam cangkirnya.

Lin Sanniang melangkah maju, membuka gulungan peta militer yang dipenuhi titik-titik merah. "Tuan Muda, sesuai prediksi Anda, Mu Chenghai telah resmi mengambil alih komando Pasukan Naga Hitam siang ini. Namun, keadaan di barak sangat kacau. Selama lima tahun terakhir, Tuan Besar Cang secara rahasia memberikan tunjangan tambahan berupa pil penyembuh luka tingkat rendah dan jatah daging dua kali seminggu untuk prajurit garda depan. Dana itu seluruhnya berasal dari kantong Jaring Bayangan kita."

Sanniang tersenyum sinis. "Pagi ini, Mu Chenghai menghentikan semua fasilitas itu karena perbendaharaan resmi kekaisaran tidak memiliki anggaran yang cukup. Para prajurit tingkat bawah mulai bergolak. Mereka mempertanyakan mengapa Jenderal Cang yang dianggap pengkhianat justru jauh lebih peduli pada perut mereka daripada jenderal baru utusan Istana."

Qixuan menyesap tehnya perlahan. "Kesetiaan adalah anjing kelaparan. Ia hanya akan menggonggong untuk orang yang memegang sepotong tulang. Mu Chenghai mengambil jabatan kakekku tanpa menyadari beban keuangan yang menopang pasukan itu."

Pandangan Qixuan beralih pada Nyonya Su. "Liyin, bagaimana pergerakan harga gandum di empat provinsi utara?"

Su Liyin membungkuk hormat, matanya memancarkan kekaguman pada tuannya. "Rencana Tuan Muda berjalan sempurna. Menggunakan puluhan juta keping emas yang kita sita secara rahasia dari kas bawah tanah Klan Pei selama insiden kekacauan kemarin malam, Jaring Bayangan telah memborong tujuh puluh persen cadangan gandum, beras, dan daging kering di wilayah utara melalui seratus pedagang boneka berbeda."

"Bagus," Qixuan meletakkan cangkirnya. "Mu Chenghai akan mencoba menenangkan pasukannya dengan janji. Ketika janji itu gagal, dia akan menggunakan dana pribadi klannya untuk membeli persediaan logistik dari luar militer. Liyin, naikkan harga gandum di utara sebanyak tiga ratus persen mulai besok. Dalam seminggu, jadikan lima ratus persen."

Su Liyin sedikit melebarkan matanya. "Tuan Muda... jika harga naik lima ratus persen, bahkan klan bangsawan tingkat menengah akan bangkrut untuk membeli beras. Rakyat jelata..."

"Buka dapur umum rahasia atas nama 'Sekolah Teratai Buddha' untuk rakyat jelata di pinggiran kota," sela Qixuan cepat, auranya menekan. "Aku tidak berperang melawan rakyat, aku berperang melawan istana. Target kita hanya pedagang besar dan pihak militer. Jika Mu Chenghai mengirim agen untuk membeli gandum, biarkan mereka membelinya dengan harga lima ratus persen. Kuras habis kekayaan Klan Mu sampai mereka harus menggadaikan celana dalam leluhur mereka."

"Dan jika mereka menolak membeli karena harganya terlalu mahal?" tanya Mo Chen dari sudut ruangan.

Seringai mematikan muncul di wajah Qixuan. "Maka seratus ribu prajurit elit Naga Hitam akan kelaparan di tengah musim dingin. Perut yang lapar tidak bisa digunakan untuk mengangkat tombak. Ketika Gu Lie si Alkemis Sinting menaburkan racun *Embun Pemutus Dao* ke sumber air mereka minggu depan... pasukan kebanggaan Kaisar Yan akan menjadi sekumpulan orang cacat yang tak berguna. Saat Suku Barbar menyerang, mereka akan dibantai seperti babi."

Ruang bawah tanah itu diselimuti keheningan yang mencekam. Tiga bawahan terkuat Jaring Bayangan tersebut menelan ludah. Strategi ini bukan hanya brilian; ini adalah kejahatan perang yang sangat mengerikan, dilancarkan bukan menggunakan pedang, melainkan dari balik tumpukan emas dan manipulasi pasar.

"Liyin, ada satu hal lagi," Qixuan mengalihkan topik, menatap gulungan lain di atas mejanya. "Bulan depan adalah Upacara Penghormatan Leluhur Musim Gugur di Pemakaman Kerajaan Gunung Sembilan Naga. Kaisar Yan akan membuka altar suci tempat Bunga Jiwa Hitam tumbuh. Hanya keluarga inti kerajaan dan menteri tingkat satu yang diizinkan masuk. Aku membutuhkan akses ke dalam altar itu."

Su Liyin mengerutkan kening. "Itu akan sangat sulit, Tuan Muda. Dengan status Jenderal Besar yang sedang dibekukan, Klan Cang bahkan tidak akan menerima undangan untuk berdoa di pelataran luar, apalagi memasuki altar suci."

Qixuan terkekeh, berdiri dari kursinya dan berjalan memutari meja. "Berapa banyak uang yang dianggarkan oleh Departemen Ritual Kekaisaran untuk upacara tahun ini?"

"Akibat skandal korupsi Klan Pei yang menahan sebagian besar kas negara sebagai barang bukti, Departemen Ritual mengalami defisit parah. Anggaran mereka dipotong setengahnya. Menteri Ritual saat ini, Zhao He, dikabarkan hampir gantung diri karena tidak bisa menyediakan sesajen yang layak untuk Kaisar."

Mata amber-emas Qixuan berbinar penuh kelicikan. "Sempurna. Penderitaan orang miskin adalah taman bermain bagi orang kaya. Liyin, siapkan cek emas senilai tiga juta tael. Kirim surat rahasia kepada Menteri Zhao He."

Qixuan menatap Su Liyin dengan senyum yang bisa membuat iblis menangis. "Katakan padanya, seorang dermawan misterius yang juga merupakan 'kolektor seni sejarah' bersedia mendanai seluruh biaya Upacara Penghormatan tahun ini. Sesajen dari emas murni, dupa spiritual dari kayu naga, hingga perjamuan ribuan biksu... semuanya ditanggung. Syaratnya hanya satu: Sang dermawan ingin mendapatkan status 'Tamu Kehormatan Langit' dan diizinkan mengikuti iring-iringan Kaisar hingga ke dalam altar suci leluhur untuk melihat peninggalan kuno."

"Membeli jalan masuk ke makam leluhur Kaisar?!" Lin Sanniang nyaris berseru. "Tuan Muda, ini penghinaan absolut terhadap martabat kerajaan!"

"Kekaisaran yang tidak punya uang untuk memberi makan leluhurnya sudah kehilangan martabat sejak awal," sahut Qixuan ringan. "Zhao He akan menerimanya. Dia lebih takut kepalanya dipenggal Kaisar karena gagal mengadakan upacara daripada menerima uang dari sponsor. Pastikan transaksi ini diwakilkan oleh boneka pedagang kita. Aku akan muncul pada hari H dan mengejutkan seluruh istana."

Tiga hari kemudian, langit ibukota mulai dipenuhi udara musim gugur yang sejuk. Kabar mengenai Tuan Muda Cang yang masih sibuk berfoya-foya setelah kakeknya jatuh dari kekuasaan telah menjadi lelucon sehari-hari di kedai teh.

Siang itu, Qixuan tidak berada di paviliun hiburan. Berkat pusaran ketiganya yang menuntut asupan teknik bela diri baru, ia mengunjungi Paviliun Kitab Surgawi—pusat perpustakaan bela diri dan pelelangan naskah terbesar di ibukota, yang dikelola secara independen oleh Akademi Bintang Jatuh.

Paviliun ini menjulang tujuh lantai, terbuat dari kayu giok putih yang harum. Qixuan melangkah masuk sendirian, mengenakan jubah putih bersih berlapis emas, menutupi sebagian wajahnya dengan kipas berukir puisi murahan. Mo Chen berjaga di luar, berbaur dengan bayangan pohon besar.

Begitu ia masuk, pandangan merendahkan dari para kultivator muda dan murid akademi langsung tertuju padanya. Seseorang yang dikenal tidak memiliki meridian seperti dirinya dianggap mengotori tempat suci pengetahuan ini.

Qixuan mengabaikan mereka. Ia mengalirkan energi ke telinganya, menajamkan pendengaran, sambil berpura-pura melihat-lihat gulungan lukisan pemandangan di lantai dasar. Tujuannya adalah mencari petunjuk tentang teknik penempaan tulang tingkat tinggi untuk melengkapi fondasinya yang terlalu buas.

"Hahaha! Lihat siapa yang datang! Apakah Tuan Muda Buangan kita tersesat mencari rumah bordil dan malah masuk ke perpustakaan?"

Suara lantang dan penuh kesombongan itu datang dari arah tangga lantai dua. Sekelompok pemuda berzirah perak ringan turun dengan gaya pongah. Pemimpin mereka adalah seorang pemuda tampan dengan aura Pengumpulan Qi tahap puncak. Ia membawa tombak pendek di pinggangnya, lambang kepala naga hitam terukir jelas di pundaknya.

Qixuan melirik dari balik kipasnya. Ingatannya langsung mengenali wajah pemuda itu. *Mu Yan. Putra bungsu Mu Chenghai, si wakil jenderal pengkhianat.*

Tampaknya, dengan naiknya posisi ayahnya, anak anjing ini merasa dirinya telah menjadi pangeran di ibukota.

Mu Yan berjalan mendekati Qixuan, senyum mengejek tersungging di bibirnya. Beberapa murid akademi yang ingin mencari muka pada klan Mu yang sedang naik daun segera berkumpul di belakangnya, ikut-ikutan menertawakan Qixuan.

"Cang Qixuan," Mu Yan berdiri tepat di depan Qixuan, tingginya nyaris sama, namun posturnya sengaja dibuat menekan. "Aku dengar ibumu menjual perhiasannya kemarin untuk membeli obat bagi kakekmu yang sekarat. Apakah kau datang ke sini untuk menjual lukisan rongsokan keluargamu juga? Jika kau memohon sambil bersujud di kakiku, aku mungkin akan memberimu sepuluh keping perak untuk membelikan kakekmu peti mati yang layak."

Urat-urat di wajah para pengamat menegang. Penghinaan ini terlalu kejam, bahkan untuk seorang musuh. Membawa-bawa orang tua dan kematian adalah pantangan besar di dunia persilatan.

Namun Qixuan tidak marah. Matanya tidak memancarkan emosi sedikit pun. Ia menutup kipasnya perlahan, lalu menatap Mu Yan dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Kau berbau seperti gandum busuk, Mu Yan," kata Qixuan datar, suaranya tidak tinggi, namun anehnya menembus ke dalam telinga setiap orang di ruangan itu dengan sangat jelas. "Apakah ayahmu di perbatasan menyuruhmu mencari makan dari tempat sampah ibukota karena dia tidak sanggup membeli beras di utara?"

Wajah Mu Yan seketika berubah. Krisis pangan yang dialami pasukan ayahnya di Utara adalah rahasia militer yang sangat dijaga ketat. Bagaimana sampah ini bisa tahu?!

"Jaga mulutmu, Keparat!" Mu Yan menggeram, auranya sebagai kultivator Pengumpulan Qi tahap puncak meledak keluar. Gelombang qi angin yang tajam menyapu sekeliling, membuat beberapa rak buku bergoyang dan pengunjung lain mundur ketakutan.

Mu Yan mengangkat tangan kanannya, menyalurkan qi ke telapak tangannya untuk menampar wajah Qixuan. Pukulannya mengandung kekuatan memecah batu. Jika terkena manusia tanpa meridian, lehernya pasti akan patah seketika.

Tepat saat tangan Mu Yan melesat membelah udara, Qixuan bahkan tidak berkedip. Di dalam tubuhnya, Pusaran Bumi di bawah pusarnya berputar setengah putaran dengan kecepatan kilat. Sebuah untaian energi gelap yang tidak kasat mata meluncur melalui telapak kaki Qixuan, merambat di bawah papan kayu lantai, dan menembus langsung ke pergelangan kaki Mu Yan persis sebelum tamparannya mendarat.

*Deg!*

Qi gelap itu bukan untuk menyerang kulit luar, melainkan menembus langsung ke dalam sistem meridian Mu Yan seperti jarum beracun.

Tangan Mu Yan tiba-tiba berhenti di udara, jaraknya hanya satu inci dari pipi Qixuan. Pria itu membelalakkan matanya dengan ngeri. Aliran qi di seluruh tubuhnya tiba-tiba berbalik arah. Sembilan meridian utamanya terasa seperti disiram lahar panas.

"Aaaaaarrgghhh!!!"

Mu Yan menjerit parau, sangat menyayat hati. Ia jatuh berlutut di depan Qixuan, mencengkeram dadanya sendiri. Pembuluh darah di leher dan wajahnya menonjol berwarna hitam pekat. Energi kultivasinya yang dikumpulkan selama lima belas tahun hancur berantakan dari dalam, bocor keluar melalui pori-porinya seperti uap air mendidih.

"T-Tuan Muda Mu!" para pengikutnya berteriak panik, bergegas maju mencoba menahan tubuh Mu Yan yang mulai kejang-kejang di lantai.

"Apa yang terjadi?! Siapa yang menyerangnya?!" seorang murid berteriak histeris, menyapu pandangan ke sekeliling. Tidak ada satu pun yang melihat serangan terjadi. Qixuan tetap berdiri diam, kedua tangannya diikat santai di belakang punggung, kipasnya kembali terbuka menutupi setengah wajahnya.

"Penyimpangan Qi," suara seorang tetua berjanggut putih yang merupakan penjaga Paviliun Kitab tiba-tiba terdengar dari lantai atas. Tetua itu melompat turun, memeriksa nadi Mu Yan dengan wajah suram. "Dia memaksakan sirkulasi energinya dalam keadaan emosi yang tidak stabil. Meridian jantung dan Dantian-nya hancur. Dia... dia sudah menjadi orang lumpuh."

Keheningan yang mematikan melanda lantai dasar perpustakaan tersebut. Orang lumpuh? Jenius muda dari Klan Mu, hancur hanya karena amarah yang tak terkendali?

Hanya Qixuan yang tahu kebenarannya. Manipulasi qi jarak jauh menggunakan elemen tanah murni adalah salah satu trik kotor dari Pembentukan Fondasi teknik Menelan Langit. Tanpa meninggalkan jejak sihir luar, ini adalah pembunuhan kultivasi yang sempurna.

"Sayang sekali," Qixuan menghela napas panjang, nada suaranya dibuat seprihatin mungkin, menatap tumpukan manusia tak berguna di lantai. "Baru saja dia ingin memberiku perak, sekarang dia malah membutuhkan tabib termahal di kota. Uang benar-benar tidak bisa menyembuhkan Dantian yang hancur, bukan?"

Qixuan merogoh kantongnya, mengeluarkan sepotong emas murni, lalu dengan sengaja menjatuhkannya tepat di atas dahi Mu Yan yang sedang setengah pingsan kesakitan.

"Ambillah, Mu Yan. Anggap ini sumbangan dariku untuk membeli kursi roda. Jika ayahmu pengkhianat itu kehabisan uang untuk mengobati kelumpuhanmu, jangan sungkan mengemis di depan gerbang Kediaman Cang."

Dengan tawa pelan yang bergema secara mengancam di keheningan ruangan, Qixuan membalikkan badannya. Jubah sutranya berdesir saat ia melangkah keluar dari Paviliun Kitab, meninggalkan kerumunan yang gemetar ketakutan melihat nasib tragis yang jatuh dari langit bagi Klan Mu.

Ia tidak mendapatkan buku teknik hari ini. Namun, meremukkan masa depan pewaris Mu Chenghai tepat di tengah ibukota memberikan kepuasan spiritual yang jauh lebih efektif daripada menguasai seni pedang kelas surga mana pun.

Langkah pertamanya melumpuhkan kekuatan militer mereka dari utara. Langkah keduanya baru saja menghancurkan harapan generasi penerus mereka. Papan catur telah diatur, bidak-bidak emas telah disebar, dan kematian merayap pelan menutupi mata para raksasa di Istana Naga Langit.

1
Sang Alang
cerita sebagus ini koq kurang peminatnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!