Rosline gadis berusia 20 tahun yang terlahir bukan dari keluarga berada. Dia memiliki hidup yang sulit, bukan hanya menanggung beban hidupnya sendiri, tapi juga menanggung beban keluarganya. Suatu ketika Rosline mendapat tawaran kerja partime di salah satu rumah mewah untuk menjaga kakek tua, tapi tanpa diduga rumah itu ternyata rumah seorang Mafia kejam...
Rosline semakin bingung harus bertahan atau harus pergi dari sana. Sementara dia sangat butuh uang untuk keluarganya....
Apa yang terjadi selanjutnya dengan Rosline?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 : Kakek Alberto Menyebalkan
Setelah sarapan selesai, Rosline kembali menemani Kakek Alberto di ruang tengah mansion untuk minum obat pagi.
Pria tua itu duduk santai di sofa sambil memegang tongkatnya. Sedangkan Rosline berdiri di depannya membawa segelas air hangat dan beberapa obat yang sudah disiapkan.
"Tuan Besar, ini obatnya diminum dulu.” ucap Rosline lembut seperti biasa.
Kakek Alberto langsung mengerucutkan bibir tidak suka. “Aku bosan minum obat.”
Rosline menahan senyum kecil. “Dokter bilang harus rutin.”
Pria tua itu mendengus kecil seperti anak kecil yang dipaksa belajar. Namun akhirnya tetap meminum obatnya satu per satu.
Rosline menghela napas lega. “Nah begitu dong…”
Namun baru saja ia ingin membereskan gelas, Alberto kembali bersandar sambil berkata santai,
“Aku bosan.”
Rosline berkedip bingung. “Bosan?”
“Aku mau makan buah segar.”
“Oh, baik Tuan Besar.” Rosline langsung mengangguk cepat. “Saya ambilkan pepaya ya?”
“Tidak mau.”
Rosline berhenti.
“Aku ingin apel.”
“Oh… baik.”
“Tapi kulitnya dikupas.”
Rosline masih sabar mengangguk. “Baik, Tuan.”
“Dicuci tiga kali. Pakai air mineral. Bukan air keran.”
Kini senyum Rosline mulai menegang tipis.
Sedangkan Alberto masih melanjutkan santai tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Lalu potong kecil-kecil. Aku malas menggigitnya kalau terlalu besar.”
Rosline langsung memaksakan senyum manis. “Baik… Tuan Besar…”
Begitu berjalan menuju dapur, wajah gadis itu langsung berubah lemas. “Astaga…” gerutunya pelan sambil mengambil apel dari kulkas. “Pantas saja banyak perawat tidak betah…”
Ia mulai mengupas apel dengan wajah pasrah. “Selain cerewet…” lanjutnya kecil sambil mengupas kulit apel agak kesal. “Tuan Besar banyak maunya…”
Kupasan apel itu nyaris putus karena Rosline terlalu kesal sendiri. “Belum lagi cucunya,” gumamnya lagi pelan. “Galak sekali…”
Rosline mulai mencuci apel di bawah air mineral kemasan besar sambil terus mengomel kecil sendiri.
“Tatapannya menyeramkan,” lanjutnya kesal. “dan juga suka mengancam…”
“Siapa yang mengancam?” Suaranya terdengar pelan dan sangat dekat.
Rosline membeku perlahan sebelum menoleh kaku ke belakang. Dan benar saja, Bara berdiri tepat di ambang pintu dapur sambil menatapnya datar dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana.
Wajah Rosline langsung pucat. “Tu-Tuan Bara?!”
Tatapan Bara turun ke apel di tangan Rosline lalu kembali ke wajah gadis itu. “Aku mengancammu?” tanyanya datar.
Rosline langsung panik setengah mati. “Ti-tidak! Saya hanya sedang berbicara sendiri!”
“Oh, jadi itu hobi kamu. Suka berbicara sendiri,” katanya sambil mengangguk.
Kini Bara melangkah masuk perlahan ke dapur.
Rosline refleks mundur sedikit sambil memegang apel erat-erat seperti sedang tertangkap basah melakukan kejahatan besar.
Bara berhenti tepat di dekat meja dapur lalu melirik botol air mineral besar di samping Rosline.
“Kau benar-benar mencucinya tiga kali?”
Rosline langsung melotot kecil tidak percaya. “Tuan Besar sendiri yang meminta!”
Dan detik berikutnya, Bara justru menghela napas kecil sambil memijat pelipisnya. “Opa memang sengaja mengerjaimu.”
Rosline langsung bengong. “Hah?”
“Dia selalu melakukan itu pada semua perawat.”
Rosline berkedip beberapa kali bingung.
“Kalau mereka mulai kesal dan membentaknya…” lanjut Bara datar. “Dia akan mengusir mereka.”
Rosline langsung terdiam. Pantas saja, Kakek Alberto tadi terlihat seperti sengaja meminta banyak hal.
Melihat ekspresi Rosline yang mulai paham, Bara justru menatapnya beberapa detik lebih lama.
“Tapi kau masih bertahan.” ucapnya pelan.
Rosline langsung salah tingkah kecil. “Ka-karena itu memang tugas saya…”
Tatapan Bara sedikit berubah samar. Sulit dibaca seperti biasa. Lalu pria itu mengambil satu potong apel yang baru dikupas Rosline tanpa izin.
“Eh itu belum selesai...”
Bara langsung menggigit apel itu santai.
Rosline membelalak kecil. Kali ini Rosline melihat sudut bibir Bara seperti tertarik tipis menahan sesuatu.
“Hm.” gumam pria itu pendek. “Lumayan.”
Lalu ia pergi begitu saja keluar dapur sambil membawa potongan apel milik Kakek Alberto.
Rosline masih berdiri membeku sambil memegang pisau apel.
Beberapa detik kemudian wajahnya langsung memerah sendiri. “Itu…” bisiknya pelan. “Apel untuk Tuan Besar.”
Rosline masih berdiri di dapur sambil memegang pisau apel dengan wajah merah malu sendiri. Sedangkan Bara sudah pergi begitu saja membawa satu potong apel milik Kakek Alberto.
“Dasar…” gerutunya kecil pelan. “Mengambil punya orang sembarangan.”
Namun akhirnya Rosline kembali melanjutkan memotong apel kecil-kecil seperti permintaan Kakek Alberto tadi. Setelah selesai, ia segera membawa piring buah itu menuju ruang tengah.
"Ini Tuan Besar, apelnya sudah selesai.”
Kakek Alberto yang tadi sedang memainkan ponselnya langsung menoleh cepat. “Sini.”
Rosline meletakkan piring apel di meja kecil depan sofa. Namun baru saja ia ingin pergi, Kakek Alberto tiba-tiba memanggil lagi.
“Rosline.”
“Iya?”
Pria tua itu langsung menyodorkan layar ponselnya dengan semangat seperti anak kecil menunjukkan sesuatu.
“Belikan aku ini.”
Rosline berkedip bingung lalu mendekat sedikit melihat layar ponsel itu. Di sana terlihat video makanan viral dengan keju melimpah dan saus pedas yang sedang ramai di media sosial.
Rosline langsung bengong beberapa detik. “Tuan Besar…” ucapnya pelan tidak percaya. “Bukannya dokter melarang makan makanan seperti ini?”
“Aku bosan makanan sehat terus.”
“Tapi ini pedas sekali…”
“Justru itu aku mau.”
Rosline langsung pusing sendiri.
Kakek Alberto bahkan mulai menunjuk layar ponselnya berkali-kali dengan wajah serius. “Yang ini juga enak.” ujarnya antusias. “Dan yang ini.”
Rosline makin melotot melihat daftar makanan viral yang ditunjukkan pria tua itu. “Tuan Besar ingin makan semuanya?”
“Mm.”
Rosline langsung memegang dahinya pelan.
Namun sebelum ia sempat membantah lagi, Alberto berkata santai, “Tenang saja. Bara pasti mengizinkan.”
Rosline langsung menoleh cepat. “Eh jangan sembarangan begitu Tuan Besar…”
“Pergi sana meminta izin padanya.”
Rosline langsung ragu sesaat. Mengingat wajah Bara saja sudah membuatnya tegang sendiri.
Namun Kakek Alberto malah mendesak cepat, “Cepat sedikit. Sebelum aku berubah pikiran dan meminta Bara memecatmu.”
Rosline langsung panik. “Ba-baik!”
Gadis itu akhirnya berjalan cepat keluar ruang tengah sambil membawa ponsel Kakek Alberto di tangannya.
Sedangkan Kakek Alberto diam-diam tersenyum jahil melihat kepanikan Rosline.
Sementara itu…
Di ruang kerja lantai bawah, Bara masih sibuk menatap beberapa dokumen di tabletnya. Daniel berdiri di samping meja sambil melaporkan sesuatu dengan wajah serius.
“Area timur sudah diperiksa ulang, Tuan.”
“Lalu bagaimana?”
“Belum ada pergerakan mencurigakan lagi.”
Tatapan Bara tetap fokus pada layar tabletnya. “Tetap tingkatkan penjagaan.”
“Baik, Tuan.”
Tok tok.
Pintu ruang kerja diketuk pelan.
Daniel langsung menoleh. “Masuk.”
Pintu terbuka perlahan memperlihatkan Rosline yang berdiri kikuk di sana sambil memegang ponsel Kakek Alberto.
“Maaf Tuan, kalau saya mengganggu…”
Tatapan Bara langsung terangkat ke arahnya. Dan entah kenapa, Rosline langsung gugup lagi seperti biasa.
“Ada apa?” tanya Bara datar.
Rosline melangkah masuk pelan. “Saya… mau meminta izin.”
“Izin?”
Rosline langsung menyodorkan ponsel Kakek Alberto seperti sedang menyerahkan barang bukti penting.
“Tuan Besar ingin membeli makanan viral ini…”
Daniel langsung melirik layar ponsel lalu menahan ekspresi.
Sedangkan Bara perlahan menyipitkan mata melihat daftar makanan itu. “Makanan pedas. Gorengan. Minuman manis.” ucapnya datar satu per satu.
Rosline langsung mengangguk kecil gugup. “I-iya…”
Beberapa detik suasana langsung hening. Lalu Bara menghela napas panjang pelan sambil memijat pelipisnya. “Opa benar-benar banyak maunya.”
Rosline langsung menunjuk cepat membela diri. “Saya tadi sudah melarangnya, Tuan.”
Tatapan Bara langsung beralih padanya.
Rosline refleks menutup mulut lagi cepat. Daniel hampir batuk menahan tawa melihat keberanian spontan Rosline tadi.
Sedangkan Bara hanya diam beberapa detik sebelum akhirnya berkata singkat, “baik.”
Rosline langsung berkedip. “Hah?”
“Ajak Daniel pergi membeli.” lanjut Bara santai. “Tapi hanya satu makanan.”
“Eh?”
“Dan pastikan Opa tidak makan terlalu banyak.”
Rosline langsung lega setengah mati. “Baik Tuan!”
Namun baru saja ia ingin keluar. “Rosline.”
Gadis itu langsung berhenti lalu menoleh lagi.
Tatapan Bara lurus padanya. “Jangan pergi sendirian.” suaranya rendah. “Mulai sekarang, ke mana pun kau pergi harus bersama Daniel atau pengawal lain.”
Rosline langsung terdiam sesaat.
Ucapan itu terdengar seperti perintah. Tapi entah kenapa… juga terdengar seperti Bara sedang melindunginya.