Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.
Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.
Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.
Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ratu di Kampus & Mata Iri
Di dalam kamar Kevin, suasana hening mencekam namun penuh makna.
Zea masih terpaku di tempatnya, punggungnya menempel rapat ke dinding. Wajahnya yang tadi memerah karena marah, kini berubah menjadi merah padam karena malu dan deg-degan. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan, seakan ingin melompat keluar dari rongga dada.
Dug... dug... dug...
"Jantungku gila ya? Kenapa berdetak secepat ini?" batin Zea panik. Ia menunduk dalam, kedua tangannya terkepal erat di depan dada. Ia tidak berani mengeluarkan suara sepatah kata pun. Mulutnya terkunci rapat, rasa takut bercampur dengan perasaan aneh yang membuatnya lemas.
Di hadapannya, Kevin justru bersikap sangat santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Pria itu menyesuaikan kerah bajunya, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu berjalan menuju meja riasnya seolah baru saja melakukan hal biasa. Wajahnya datar, dingin, dan kembali ke mode 'Kakak Kedua yang Galak'.
"Sudah selesai dramanya? Kalau sudah, cepat bersiap. Jangan sampai terlambat," ucap Kevin datar tanpa menoleh sedikitpun.
Zea hanya bisa mengangguk kaku seperti boneka. "I-iya..." bisiknya nyaris tak terdengar.
Ia segera berbalik dan melangkah keluar kamar dengan langkah gontai. Pikiran Zea kacau balau. Aura Kevin tadi... tatapan matanya... terlalu intens.
Di Halaman Kampus...
Mobil mewah keluarga Sterling berhenti tepat di depan gerbang utama universitas paling bergengsi di kota itu.
Pintu terbuka, dan keluar berturut-turut Zio dengan gaya santainya, diikuti Ziva yang tampak cantik dan elegan, serta Zea yang masih terlihat diam seribu bahasa.
Begitu kaki mereka menginjakkan kaki di area kampus, seketika semua aktivitas mahasiswa di sekitar seakan berhenti. Ribuan pasang mata tertuju pada ketiga orang itu.
"Wah, siapa cewek cantik itu? Baru pertama kali lihat!"
"Gila, auranya beda banget. Anggun banget!"
"Eh, lihat tuh! Dia jalan sama Zio lho! Kok akrab banget sih?"
Sorak-sorai dan bisikan terdengar di mana-mana. Ziva memang memancarkan pesona alami yang sulit dijelaskan. Cantik, dingin, tapi memikat.
Untuk menghindari rasa canggung dan menunjukkan kedekatan, Ziva dengan santai melingkarkan lengannya ke lengan Zio, kakak kembarnya. Mereka berjalan berdampingan, terlihat sangat serasi dan manis.
Tapi pemandangan indah itu bagai duri dalam daging bagi seseorang yang sedang memperhatikan dari kejauhan.
Di bawah pohon besar, berdiri seorang gadis cantik dengan gaya modis dan wajah yang terlihat manja. Dia adalah Viona. Putri orang kaya yang selama ini mengejar-ngejar Zio.
Viona mengepalkan tangannya kuat-kuat. Matanya memancarkan api kecemburuan yang besar melihat Ziva bergandengan lengan erat dengan pria yang selama ini ia idamkan.
"Siapa wanita itu?! Berani-beraninya dia menggandeng lengan Zio! Pamer kemesraan di depan umum ya?!" gerutu Viona dalam hati. "Zio selama ini dingin sama aku, tapi sama cewek baru ini bisa seenaknya?!"
Rasa kesal dan marah membuat Viona tidak tahan lagi. Dengan wajah masam, ia berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkan kerumunan dengan langkah membabi buta.
"Awas saja kalian! Aku tidak akan membiarkan kamu merebutnya dariku!" ancamnya pelan.
Di sisi lain, Zio menyadari Zea yang berjalan di belakang mereka sangat pendiam. Biasanya gadis itu paling cerewet dan banyak tingkah, tapi hari ini mulutnya terkunci rapat. Wajahnya juga masih terlihat sedikit merah.
"Eh, Zea... kamu kenapa sih dari tadi diam aja? Sakit hati ya dimarahin Kak Kevin?" tanya Zio usil sambil menyenggol bahu Zea.
Zea tersentak, lalu mendengus kesal dan langsung mempercepat langkahnya menjauh. "Urusi saja teman barumu itu! Aku tidak apa-apa!" serunya lalu berjalan masuk ke gedung utama tanpa menoleh lagi.
"Yah, galak amat sih..." Zio menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Eh Ziva, ayo aku antar ke ruang administrasi dulu buat urus data kamu."
Ziva mengangguk. "Ayo."
Mereka berdua menuju ruangan Pak Wildan, kepala kampus. Begitu pintu terbuka, pria paruh baya yang memakai kacamata itu langsung berdiri dan menyambut dengan senyum lebar yang sangat ramah.
"Wah! Selamat datang, Nona Ziva! Aduh, maafkan saya tidak menyambut di depan," sapa Pak Wildan sangat sopan, bahkan sedikit membungkuk hormat.
Ziva agak terkejut dengan pelayanan yang over banget ini.
"Tidak apa-apa, Pak," jawab Ziva santai.
"Oh, silakan duduk! Minum dulu? Atau butuh apa-apa? Tenang saja, semua berkas sudah kami siapkan lengkap. Bapak sudah dapat laporan dari orang tua Nona," kata Pak Wildan ramah sekali.
Zio berbisik pelan ke telinga Ziva, "Wajar dia begitu, Va. Keluarga kita kan donatur terbesar di kampus ini. Jadi kita ini 'tuan tanah' di sini, hahaha."
Ziva tersenyum tipis mengerti. Jadi begini rasanya punya nama besar.
Tanpa perlu menunggu lama, urusan administrasi selesai dalam sekejap mata. Pak Wildan bahkan yang mengantar mereka sampai di depan pintu kelas.
"Nah, ini kelasnya, Nona Ziva. Selamat belajar, dan kalau ada yang berani ganggu, lapor Bapak ya!"
Di Dalam Kelas...
Ziva melangkah masuk ke dalam ruangan yang cukup besar. Ternyata, ia satu kelas dengan Zio dan juga Zea.
Saat masuk, semua mahasiswa menoleh. Namun tidak semua tatapan itu berisi kekaguman. Ada satu sorot mata yang penuh dengan kebencian dan rencana jahat.
Viona.
Gadis itu sudah duduk manis di barisan tengah, tepat di samping lorong jalan masuk. Ia melihat Ziva berjalan mendekat. Rasa iri dan marah membuatnya nekat.
'Hmph, mau jadi pusat perhatian? Biar aku hancurkan gengsimu di depan semua orang!' batin Viona licik.
Saat Ziva berjalan melewati tempat duduknya dengan santai, dengan cepat dan halus Viona mengulurkan kakinya yang memakai sepatu hak tinggi, menghadang jalan Ziva tanpa terlihat oleh orang lain.
Rencananya sempurna. Ziva pasti akan tersandung, jatuh tersungkur, dan wajahnya akan memalu di depan semua orang.
Bruk!
Namun... kenyataan berkata lain.
Tepat saat kaki Viona menghalang, Ziva seolah memiliki mata di belakang kepala atau insting yang sangat tajam. Tanpa menoleh, Ziva sedikit mengangkat kakinya, lalu dengan tenang menginjak ujung sepatu Viona dengan kuat tepat saat ia melangkah.
"Aww!!" Viona mendesis kesakitan menahan teriak, kakinya tertekan berat dan sakit.
Akibatnya, bukannya Ziva yang jatuh, justru langkah Ziva tetap stabil dan anggun melewati Viona seolah tidak terjadi apa-apa. Ziva bahkan tidak tersentuh sedikitpun.
Semua orang yang melihat malah bingung, kenapa tiba-tiba wajah Viona berubah kesakitan.
Ziva berhenti tepat di depan meja, lalu perlahan ia menolehkan kepalanya ke arah Viona yang masih memegang kakinya.
Wajah Ziva datar, tidak marah, tidak juga tersenyum. Tapi tatapan matanya... dingin, tajam, dan menusuk. Ada aura peringatan keras yang begitu kuat terpancar dari manik mata hitamnya.
Seolah berkata: 'Coba sekali lagi, dan aku tidak akan selembut ini padamu.'
Viona yang melihat tatapan itu seketika membeku. Darah seakan berhenti mengalir di tubuhnya. Ia merasa seolah sedang ditatap oleh predator buas yang siap menerkam. Rasa takut yang luar biasa tiba-tiba menyergapnya, membuatnya spontan menarik kakinya kembali dan menunduk tak berani mengangkat wajah.
Ziva pun berbalik dan berjalan tenang menuju kursi kosong yang disediakan, meninggalkan kelas yang hening dan Viona yang gemetar ketakutan menyadari satu hal...
Ia benar-benar salah memilih lawan.