Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.
Delapan tahun berlalu.
Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Kael
“Besok pagi Tuan Kael ingin datang secara pribadi,” ujar Edgar tenang.
Rina langsung menahan napas, mulutnya seolah sulit untuk sekedar mengeluarkan kata-kata.
“Untuk apa?” tanyanya pelan.
“Hanya ingin berbicara dengan anak itu.”
"Anak itu, maksudnya Kai."
Tatapan Rina langsung jatuh pada pintu kamar Kai yang tertutup rapat, tanpa sadar ia langsung menggelengkan kepalanya sendiri.
“Saya harap kalian tidak mencoba menghilang lagi,” lanjut Edgar sopan. “Karena kali ini Tuan Kael sudah menemukan orang yang ia cari.”
Tut.
Panggilan terputus. Seketika suasana rumah kayu itu langsung berubah sunyi. Alena terlihat benar-benar pucat sekarang. Sedangkan Rina perlahan menurunkan ponselnya dengan jantung berdegup kacau.
“Aku bilang juga apa…” gumamnya pelan. “Dia gak akan berhenti.”
Senna langsung berdiri emosi. “Memangnya dia siapa seenaknya datang begitu?!”
“Senna!” Anne buru-buru menahan sahabatnya.
Namun Alena justru terlihat semakin diam. Tatapan wanita itu kosong mengarah ke lantai kayu rumah mereka. Karena jauh di dalam hatinya. Ia tahu Kael memang seperti itu.
Pria itu selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.
☘️☘️☘️☘️
Keesokan paginya.
Alena hampir tidak memejamkan mata semalaman. Setiap kali mengingat suara Edgar, dadanya kembali dipenuhi kecemasan yang sulit dijelaskan.
Di ruang tamu, Senna dan Anne terlihat lebih pendiam dari biasanya. Bahkan Rina yang biasanya paling tenang beberapa kali terlihat melamun.
Tidak ada yang benar-benar siap menghadapi kedatangan Kael Ardion.
Berbeda dengan orang-orang dewasa di rumah itu. Kai justru masih tertidur pulas di dalam kamarnya sambil memeluk trofi kemenangan festival.
Wajah kecilnya terlihat damai seolah tidak ada satu pun masalah di dunia yang mampu menyentuhnya.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Beberapa saat kemudian suara langkah kecil mulai terdengar dari dalam kamar.
Kai keluar sambil mengucek matanya pelan.
Begitu melihat layang-layang barunya bersandar di sudut ruang tamu, rasa kantuknya langsung menghilang.
"Mama, Kai mau main sebentar!"
Tanpa menunggu jawaban, bocah itu langsung berlari keluar rumah sambil membawa layang-layang kesayangannya.
Tak ada seorang pun yang menyadari bahwa pagi itu akan mengubah banyak hal dalam hidup mereka.
Angin pantai bertiup cukup kencang sejak pagi. Langit terlihat cerah, membuat beberapa layang-layang kecil milik anak-anak tampak menari di udara. Sementara itu Kai terlihat paling bersemangat.
Bocah kecil itu memainkan layang-layang barunya—hadiah kemenangan festival kemarin.
“Tinggi lagi! Tinggi lagi!” serunya antusias.
Tawa Kai terdengar begitu lepas. Hingga tiba-tiba— Sebuah mobil hitam mewah berhenti tidak jauh dari rumah mereka. Kai langsung menoleh penasaran.
Pintu mobil terbuka perlahan. Dan pria tinggi itu kembali turun dengan aura dingin yang langsung membuat beberapa warga sekitar diam memperhatikan.
Kael Ardion.
Kai memiringkan kepalanya kecil. “Om yang kemarin,” gumam bocah itu polos.
Kael melangkah mendekat perlahan. Tatapannya tidak lepas dari Kai sedikit pun. Entah kenapa semakin melihat anak itu, semakin terasa aneh di dalam dadanya.
“Kamu suka layang-layang?” tanya Kael pelan.
Kai langsung mengangguk semangat.
“Iya! Kai menang kemarin!”
“Hebat.”
Bocah itu langsung tersenyum bangga. “Kai bisa bikin sendiri juga.”
Untuk pertama kalinya sudut bibir Kael benar-benar terangkat tipis, bahkan tanpa tes apapun ia sudah bisa menyimpulkan kemiripan itu meskipun dalam hati ia masih belum mampu untuk mengakui.
“Boleh Om lihat?”
Kai langsung menunjukkan gulungan benang layang-layangnya dengan antusias. Sedangkan Kael memperhatikan anak itu diam-diam.
Tatapan mata, cara anak itu tersenyum bahkan ekspresi saat bersemangat semua tidak bisa dihindari lagi.
“Kamu tinggal sama Mama?”
Kai mengangguk lagi.
“Papa?” Pertanyaan itu membuat Kai diam sebentar. Namun bocah itu tetap menjawab polos.
“Kai gak punya Papa, tapi Kai punya empat Ibu yang hebat," sahut anak itu.
"Empat Ibu?" ulang Kael.
Kai segera mengangguk cepat. "Iya,empat Ibu yang selalu menjaga dan memastikan Kai bahagia," sahutnya pelan . "Ya meskipun kadang banyak yang mencibir karena gak punya ayah.
Deg.
Untuk beberapa saat Kael tidak langsung menjawab. Kalimat sederhana itu justru terasa lebih menyakitkan daripada tuduhan apa pun.
Seorang anak kecil sedang menceritakan hidupnya dengan begitu polos. Tentang cibiran juga tentang ketiadaan sosok ayah.
Dan selama ini ia bahkan tidak pernah tahu.
Belum sempat pria itu berbicara lagi tiba-tiba...
“KAI!” Suara Alena terdengar dari arah rumah.
Wanita itu berjalan cepat dengan napas tidak beraturan. Wajahnya langsung berubah pucat saat melihat Kael benar-benar berada di dekat anaknya.
“Kai masuk dulu ke dalam.”
“Tapi Ma—”
“Sekarang.”
Nada suara Alena membuat Kai langsung diam.
Bocah itu akhirnya menurut sambil membawa layang-layangnya masuk ke rumah kayu meski masih sempat menoleh penasaran pada Kael.
Barulah setelah Kai masuk— Alena berdiri tepat di hadapan Kael dengan tatapan dingin penuh waspada.
“Saya pernah bilang jangan dekati anak saya.”
Namun Kael justru terlihat tenang. Tatapan pria itu lurus menatap Alena seolah tidak ingin kehilangan wanita itu lagi.
“Kita perlu bicara.”
“Tidak ada yang perlu dibicarakan.”
Alena langsung berbalik ingin pergi. Namun langkah wanita itu langsung terhenti saat suara Kael kembali terdengar.
“Jangan pernah menghalangiku lagi, Alena.”
Kalimat itu sukses membuat suasana sekitar terasa menegang. Alena perlahan membalikkan tubuhnya lagi. Tatapan wanita itu mulai dipenuhi luka lama yang selama ini berusaha ia kubur.
“Jangan menghalangi?” ulangnya lirih.
Lalu tanpa sadar Alena tertawa kecil penuh ironi. “Bukannya dulu Anda sendiri yang menyuruh saya menggugurkan kandungan itu?”
Dunia Kael seakan runtuh mendengar kalimat itu dan ekspresi wajahnya terlihat benar-benar berubah.
Sedangkan Alena terus menatap pria itu tanpa takut sedikit pun.
"Apa Anda lupa?" Mata Alena mulai memerah.
"Saya datang menemui Anda dengan ketakutan yang bahkan tidak bisa saya jelaskan."
"Saya bilang kalau saya hamil."
"Saya pikir setidaknya Anda akan mendengarkan."
Senyum pahit muncul di wajahnya.
"Tapi yang saya dapat justru tuduhan bahwa saya sedang menjebak Anda."
Kael mengepalkan tangannya kuat. Tatapan pria itu perlahan turun ke arah pintu rumah kayu tempat Kai tadi masuk. Dan entah kenapa… dadanya mulai terasa sesak.
“Jadi sekarang…” lanjut Alena dengan mata memerah. “Apa Anda tidak malu datang mendekati anak saya?”
Suasana mendadak sunyi. Hanya suara ombak yang datang silih berganti dari bibir pantai. Namun ketenangan laut itu sama sekali tidak mampu meredakan ketegangan di antara mereka.
Pria itu tidak marah juga tidak membela diri.
Tatapannya justru semakin dalam menatap Alena.
"Itu kesalahan terbesar dalam hidupku."
Untuk pertama kalinya tidak ada kesombongan ataupun kekuasaan dalam suara Kael. Yang ada hanya penyesalan yang terlambat.
"Aku tidak bisa mengubah masa lalu."
"Tapi kalau masih ada kesempatan..." Pria itu menatap Alena lekat. "Aku ingin memperbaiki apa yang pernah kuhancurkan."
Alena langsung menggeleng cepat. “Tidak usah.”
Wanita itu mundur satu langkah dengan tatapan penuh perlindungan. “Anakku sudah terlalu bahagia bahkan tanpa kehadiran Anda sekalipun.”
Kael terdiam, untuk beberapa saat ia bahkan tidak mampu membalas ucapan itu.
Tatapannya tanpa sadar kembali menuju pintu rumah tempat Kai tadi masuk.
Anak itu terlihat begitu dekat. Namun pada saat yang sama terasa sangat jauh.
Delapan tahun lalu, Kael memilih mengabaikan satu kehidupan yang sedang tumbuh. Dan hari ini, kehidupan itu berdiri tepat di hadapannya tanpa membutuhkan dirinya sedikit pun.
Entah kenapa, kenyataan itu terasa lebih menyakitkan daripada apa pun.
Bersambung....
Bersambung….