"Selamat, Ibu Alana. Bayinya laki-laki, sehat, dan tampan sekali," ucap sang dokter tersenyum hangat.
Alana mencium kening putranya dengan air mata yang terus mengalir. "Hai, sayang... Ini Ibu. Mulai hari ini, cuma ada kita berdua. Ibu berjanji akan menjagamu dengan seluruh hidup Ibu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LAYAR YANG MEMISAHKAN RINDU
Alana berjalan mendekat, berlutut, lalu mengambil balok lego kecil itu. Ia menggenggamnya erat-erat di dada, sementara matanya mulai berkaca-kaca.
"Baru beberapa jam, tapi rasanya rumah ini sudah sepi sekali," bisik Alana lirih pada ruangan yang sunyi.
Selama empat tahun terakhir, tidak pernah sekalipun rumah ini sesunyi ini. Biasanya, jam-jam begini akan dipenuhi oleh suara tawa melengking Arkana, rengekan manjanya yang meminta susu, atau suara langkah kaki mungilnya yang berlarian ke sana kemari. Kini, satu-satunya suara yang terdengar hanyalah detak jam dinding yang seolah berdentang dua kali lebih keras dari biasanya.
Alana berdiri dan melangkah menuju kamar tidur utama. Di atas meja rias, tatapannya tertuju pada beberapa lembar kartu kredit hitam dan seikat uang tunai yang ditinggalkan Samudera tadi pagi. Benda-benda mewah itu berkilat di bawah temaram lampu kamar, seolah sedang mengejek kesendiriannya.
Alana duduk di tepi ranjang yang terasa terlalu luas tanpa tubuh mungil Arkana yang biasa tidur meringkuk di sampingnya. Ia memeluk guling kesayangan putranya, menghirup dalam-dalam sisa aroma minyak telon dan bedak bayi yang masih tertinggal di sana. Rasa rindu seketika menghantam dadanya dengan begitu hebat, menimbulkan rasa sesak yang membuatnya sulit bernapas.
Di tengah kesunyian itu, ego Alana mulai bergolak. Sebagian dari dirinya merasa bangga karena berhasil mempertahankan prinsipnya untuk tidak langsung ikut bersama Samudera demi melindungi harga dirinya yang pernah terluka. Namun, sebagian besar dari dirinya—sisi seorang ibu—merasa begitu rapuh dan kesepian tanpa sang buah hati.
Tepat saat air mata pertamanya lolos membasahi pipi, ponsel yang ia letakkan di samping ranjang tiba-tiba bergetar kencang, memecah keheningan kamar. Nama 'Samudera' tertera di layar datar itu, seolah pria itu tahu persis kapan pertahanan hatinya mulai goyah.
Alana menatap layar ponselnya yang terus bergetar selama beberapa detik. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Setelah menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan suaranya yang sempat serak karena menahan tangis, ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo?" ucap Alana berusaha terdengar datar.
"Alana, ini aku," sahut suara bariton Samudera di seberang sana. Nada suaranya terdengar begitu tenang, namun ada kehangatan yang tidak bisa disembunyikan. "Bagaimana keadaanmu di sana?"
"Aku baik-baik saja," jawab Alana bohong, matanya melirik ke arah guling Arkana yang masih ia peluk. "Bagaimana dengan Arkana? Dia tidak rewel, kan?"
Sesuai dengan strategi yang telah ia susun di ruang kerjanya, Samudera tersenyum tipis. Ia sengaja mengubah mode panggilan menjadi video call tanpa meminta izin terlebih dahulu. Alana yang terkejut refleks menjauhkan ponsel dari telinganya dan melihat layar yang kini menampilkan wajah tampan Samudera. Pria itu sudah melepas jas formalnya, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku.
"Lihat sendiri," ujar Samudera, lalu membalikkan kamera ponselnya ke arah depan.
Layar ponsel Alana kini menampilkan pemandangan ruang tengah kediaman Wijaya yang luar biasa luas. Di atas karpet bulu yang tebal, Arkana sedang duduk bersama kakek dan neneknya. Di hadapan mereka, sebuah jalur lintasan mobil balap bertingkat yang sangat besar sudah terakit sempurna. Arkana tampak tertawa lepas, melompat kegirangan saat mobil mainannya berhasil meluncur cepat melewati putaran lintasan. Wajah bocah itu begitu ceria, tanpa ada gurat kesedihan atau ketakutan sedikit pun.
"Arka lahap sekali makan siangnya tadi. Puding cokelat buatan Mama juga habis setengah wadah," terdengar suara Samudera kembali berbicara di balik kamera. "Sekarang dia sedang pamer kemampuan balap mobilnya pada Papa."
Melihat kebahagiaan yang terpancar nyata dari wajah putranya, ada rasa lega yang luar biasa mengalir di dada Alana. Namun di saat yang sama, rasa sepi dan terasing di rumah sewanya mendadak terasa semakin mencekik. Ia merasa posisinya sebagai satu-satunya pusat dunia Arkana perlahan-lahan mulai digantikan oleh kemewahan dan kehangatan keluarga baru ini.
Samudera kembali membalikkan kamera ke arah wajahnya. Mata tajamnya menatap lurus ke dalam layar, seolah bisa menembus dinding pertahanan Alana di seberang sana. Pria itu menyadari mata Alana yang sedikit sembap dan suasana kamar sewa yang remang di latar belakang video.
"Arka merindukanmu, Alana. Begitu juga aku," ucap Samudera lirih namun sarat akan penegasan. "Rumah ini sangat luas, tapi terasa ada yang kurang karena kamu belum ada di sini. Pikirkan baik-baik tentang permintaanku tadi pagi. Aku tidak akan membiarkanmu kesepian terlalu lama di sana."