Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.
Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.
Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.
Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Inara tidak pernah benar-benar mengerti bagaimana cara takdir bekerja. Semuanya terasa seperti sebuah alur cerita yang dipaksakan berjalan, aneh, tetapi terlalu nyata untuk disebut kebetulan.
Baru saja ia merasa dibuang oleh anak dan lelaki yang selama empat tahun menjadi dunianya, namun di saat yang sama, seorang anak kecil yang baru ia temui justru menggenggam tangannya seolah tidak ingin melepaskannya.
"Tante baik hati… mau jadi ibu Baba?"
Pertanyaan polos itu membuat Inara terdiam sejenak. Senyum canggung perlahan terbit di wajahnya, sementara hatinya terasa seperti disentuh sesuatu yang lembut sekaligus menyakitkan. Ia lalu mengangkat pandangannya, menatap Altaf yang berdiri tak jauh dari mereka. Tatapan lelaki itu sulit dibaca, tetapi cukup untuk membuat Inara sadar bahwa situasi ini tidak sesederhana yang terlihat.
Ia kembali menunduk, menatap Baba dengan lembut.
"Baba…" suaranya pelan, hati-hati, seolah memilih setiap kata yang akan ia ucapkan. "Tidak semua orang baik hati bisa jadi ibu, ya. Dunia orang dewasa itu… tidak sesederhana itu. Tidak bisa langsung bilang ‘iya’ begitu saja."
Baba menatapnya, alis kecilnya berkerut, jelas belum benar-benar mengerti.
Inara tersenyum tipis, lalu mengusap rambut anak itu dengan lembut. "Jadi lain kali, Baba jangan bilang seperti itu ke sembarang orang, ya," lanjutnya, masih dengan nada lembut.
"Tapi Baba mau Tante jadi ibu Baba," ulang anak itu keras kepala, suaranya mulai melemah, seolah takut ditolak lagi.
Ada jeda singkat.
Inara menarik napas pelan, lalu menahan sesuatu di dadanya sebelum kembali berbicara. "Baba anak pintar," ucapnya lembut. "Tante punya kehidupan sendiri dan Tante juga punya anak yang harus Tante jaga. Jadi Tante tidak bisa jadi ibu Baba."
Ia berhenti sejenak, memastikan ucapannya tidak terdengar melukai. "Tapi…" lanjutnya, sedikit menghangatkan suaranya, "kalau Baba mau, kita bisa berteman. Nanti Tante kenalkan Baba sama anak Tante. Pasti seru."
Baba terdiam, masih menggenggam tangannya, meski kini tidak seerat sebelumnya.
Di sisi lain, Altaf memperhatikan semuanya dalam diam. Tatapannya tak lagi sekadar dingin atau kesal, melainkan lebih dalam, seperti ada sesuatu yang tersentuh, meski ia sendiri enggan mengakuinya. Ia tahu, jika dibiarkan, anaknya tidak akan berhenti di sini.
"Baba, sudah," ucapnya akhirnya, suaranya tegas, memotong suasana. "Tidak semua yang kamu mau bisa kamu dapatkan. Sepertinya Ayah terlalu memanjakanmu."
"Ayah…" suara Baba melemah, matanya kembali berkaca-kaca.
"Ayo, pulang. Jangan seperti ini lagi." Tanpa memberi ruang untuk bantahan, Altaf melangkah mendekat. Tangannya meraih Baba, melepaskannya perlahan dari genggaman Inara, lalu mengangkat tubuh kecil itu.
Baba sempat menoleh, menatap Inara dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak sempat terucap. Sementara itu, Altaf sudah berbalik dan melangkah pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Inara masih berdiri di tempatnya, menatap ke arah mobil yang perlahan menjauh membawa dua lelaki beda usia itu hingga akhirnya menghilang dari pandangan.
"Sungguh aneh," gumamnya pelan.
Ia menghela napas, lalu berbalik hendak melanjutkan langkah pulang. Namun belum jauh ia berjalan, ponselnya tiba-tiba berdering. Inara segera merogoh tasnya dan melihat layar ponsel. Nama Reno tertera di sana. Tanpa ragu, ia langsung mengangkat panggilan itu.
"Inara, keterlaluan kamu!"
Nada suara Reno terdengar naik satu oktaf dan penuh amarah, membuat Inara tersentak.
"Ke… kenapa, Mas? Apa yang terjadi? Apa yang aku lakukan?" tanyanya panik, suaranya mulai bergetar.
"Kamu mau tahu?" balas Reno dingin. "Kembali ke rumah sakit. Sekarang."
Belum sempat Inara berkata apa-apa, sambungan sudah lebih dulu terputus. Inara menatap ponselnya sejenak, jantungnya mulai berdebar kencang. Rasa cemas perlahan merayap, memenuhi pikirannya dengan berbagai kemungkinan buruk, Zidan.
Nama itu langsung terlintas, membuat napasnya terasa berat. Tanpa menunda lagi, Inara segera berbalik arah. Langkahnya yang tadi sempat melambat kini berubah tergesa, hampir berlari, dengan satu ketakutan yang terus menghantuinya, jangan sampai terjadi sesuatu pada anak itu.
***
Sesampainya di rumah sakit, Inara langsung bergegas menuju ruang rawat Zidan tanpa sempat menenangkan napasnya. Begitu pintu terbuka, langkahnya terhenti sesaat.
Di dalam ruangan itu, dokter dan beberapa perawat masih sibuk memantau kondisi Zidan yang terbaring lemah di atas ranjang. Sementara itu, Zoya tampak bersandar di pundak Reno, wajahnya dibuat sendu seolah ikut merasakan penderitaan anak itu.
"Mas…" panggil Inara pelan.
Reno yang tidak menyadari kedatangannya tampak tersentak. Ia segera memperbaiki posisinya, sedikit menjauhkan diri hingga kepala Zoya tidak lagi bersandar di pundaknya.
Belum sempat Inara mendekat, Zoya lebih dulu angkat bicara. Suaranya lembut, tetapi sarat dengan nada terluka yang dibuat-buat.
"Inara… sebenarnya kamu punya masalah apa dengan Zidan?"
Pertanyaan itu membuat Inara mengernyit bingung. "Masalah? Aku tidak punya masalah apa-apa. Kenapa kamu bicara seperti itu?"
Kali ini Reno yang menatapnya, tatapannya dingin dan penuh penilaian.
"Kamu masih mau pura-pura?" ucapnya rendah. "Jadi ini yang kamu maksud peduli dan sayang?"
Inara semakin tidak mengerti arah pembicaraan itu. Dadanya mulai terasa tidak nyaman.
"Mas, kalau bicara itu yang jelas. Aku tidak paham. Apa yang aku lakukan? Dari semalam aku sudah—"
"Inara!" Zoya memotong cepat, tidak memberi kesempatan Inara melanjutkan. Ia sedikit maju, ekspresinya berubah menjadi penuh tuduhan.
"Zidan langsung diare hebat setelah makan bubur yang kamu bawa," ucapnya, suaranya bergetar seolah menahan tangis. "Kalau kamu punya dendam karena Zidan lebih memilihku, seharusnya kamu lampiaskan ke aku, bukan ke anak kecil. Zidan itu masih kecil, Inara."
Ucapan itu seperti tamparan. Inara refleks mundur selangkah. Kepalanya terasa kosong sesaat, tetapi ia sangat yakin dengan apa yang ia lakukan.
"Aku… aku membuat bubur itu seperti biasa," ucapnya pelan, namun tegas. "Tidak ada bahan aneh yang aku tambahkan. Aku tidak mungkin menyakiti Zidan. Tapi… kenapa bisa sampai diare seperti itu?"
"Kamu masih bertanya?" Reno menyahut dingin, nada suaranya menusuk. "Harusnya kami yang tanya itu."
Ia melangkah mendekat, menatap Inara tanpa sedikit pun kelembutan. "Inara, aku sudah berusaha berdamai denganmu setelah kejadian kamu membuat Zidan syok. Tapi kenapa kamu malah berulah lagi sampai seperti ini?"
"Tapi, Mas… sungguh aku tidak melakukan itu," ucap Inara, suaranya bergetar menahan emosi yang sejak tadi ia tekan. Dadanya naik turun, napasnya terasa berat. Untuk sesaat ia menatap Reno, berharap ada sedikit saja kepercayaan yang tersisa.
Namun yang ia temui hanya tatapan dingin. Perlahan, pandangan Inara bergeser ke arah Zoya. Kali ini, ia tidak menahan dirinya lagi.
"Zoya… ini semua pasti ulah kamu, kan?" ucapnya tegas, suaranya mulai meninggi. "Zidan itu anakmu sendiri. Kenapa kamu bisa melakukan hal seperti ini?"
Zoya tampak terkejut, matanya membesar seolah tidak menyangka tuduhan itu akan diarahkan padanya. Namun sebelum ia sempat membela diri, Inara sudah melangkah mendekat, emosinya benar-benar meluap.
"Bahkan serigala pun masih menyayangi anaknya," lanjut Inara, suaranya bergetar, antara marah dan terluka. "Tapi kamu? Kamu justru menjadikannya alat?"
Suasana ruangan seketika menegang. Beberapa perawat saling berpandangan, sementara Reno langsung mengeras. Tatapannya beralih tajam ke arah Inara, jelas tidak terima dengan tuduhan itu.
"Inara, jaga ucapanmu!" potongnya tegas.
Namun Inara tidak lagi mundur. Ia berdiri di hadapan mereka tanpa menahan apa pun yang selama ini ia pendam. Sayangnya keberanian itu justru dibalas dengan sebuah tamparan.