"Kamu hanya aib dalam hidupku!"
Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.
Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.
Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IRIK
Meysa sedang duduk di sudut sofa dengan buku terbuka di pangkuannya. Lampu ruang tamu hanya menyala satu, yang paling kecil, seadanya untuk menerangi lembar demi lembar tugas dari dosen. Matanya lelah, tapi ia paksa tetap terjaga. Karena besok tugas ini harus sudah dikumpulkan.
Meysa baru saja hendak menuliskan kesimpulan dari bacaannya, seketika pintu apartemen terbuka dengan kencang.
Bruk!
Meysa tersentak. Buku di pangkuannya hampir jatuh.
Rangga masuk dengan langkah gontai. Tubuhnya oleng ke kanan dan kiri, sesekali menyentuh dinding untuk menjaga keseimbangannya. Jaket hitamnya setengah terlepas dari bahu. Rambutnya acak-acakan. Dan dari jarak dua meter saja, Meysa sudah bisa mencium bau alkohol yang menyengat.
Meysa cepat-cepat berdiri. "Mas?"
Rangga tidak menjawab. Matanya terlihat sayu, merah di sudutnya. Ia melangkah dengan tertatih-tatih, hingga akhirnya berhenti tepat di hadapan Meysa. Lalu ia tersenyum.
"Emily..." panggil Rangga dengan suara parau.
Meysa terdiam. Dadanya terasa ditampar sesuatu yang menyakitkan.
"Emily, kamu cantik sekali malam ini..." Rangga mengulurkan tangannya, meraih pinggang Meysa.
"Mas, ini aku Meysa!" Meysa mundur selangkah, tapi Rangga menariknya kembali.
Rangga tersenyum. "Meysa? Oh, sigadis kampungan itu?" Ia menggeleng, lalu menatap mata Meysa dengan tatapan yang berbeda. "Itu bukan siapa-siapa, sayang. Dia hanya babu di apartemen ini. Tolong jangan sebut nama dia di depan aku."
Meysa menggigit bibirnya. Tangannya mulai gemetar.
"Kamu salah orang, Mas, tolong lepasin saya."
Tapi Rangga tidak mendengarnya. Ia menarik Meysa lebih kuat hingga tubuh Meysa jatuh terduduk di pangkuannya. Meysa berusaha bangkit, tapi Rangga terlalu kuat. Tangannya meraih dagu Meysa..
Lalu Rangga menciumnya.
Kening. Pipi. Bibir.
Meysa membeku. Ia tidak bisa bergerak. Tubuhnya kaku seperti patung. "Mas... jangan, Mas..."
Rangga terus melanjutkan aktivitasnya. Tangannya bergerak ke bahu Meysa, ke lehernya, ke tempat-tempat yang seharusnya tidak ia sentuh dengan keadaan seperti ini.
Meysa mencoba mendorong dada Rangga. Tapi Rangga bagai tembok. Ia mendekap Meysa erat-erat, membisikkan kata-kata manis yang jelas-jelas bukan untuknya.
"Emily... aku suka sama kamu... jangan pergi..."
Malam itu, Rangga mengambil sesuatu dari Meysa dengan cara yang paling menyakitkan, di sepanjang malam itu, yang ada di pelukan Rangga bukanlah Meysa, melainkan Emily.
"Ah, sakit, Mas..." rintih Meysa...
*
Dua jam sebelumnya...
Lampu-lampu di dalam klub malam berwarna-warni, berputar perlahan mengikuti dentuman musik yang menggetarkan seluruh ruangan. Aroma parfum dan keringat bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang hangat dan memabukkan.
Rangga duduk di sofa VIP bersama Emily di sampingnya. Namun perhatian Rangga terpecah. Ia tahu ia seharusnya pulang. Ada tugas yang harus ia selesaikan, dan besok pagi ia ada presentasi di kelas. Tapi Emily terus menatapnya dengan senyum yang membuatnya sulit berkata tidak.
"Ayok, Rangga, tambah lagi minumnya," kata Emily dengan suara manis, parasnya yang cantik bersinar di bawah lampu temaram. Ia mengenakan gaun hitam tipis yang sedikit terbuka di bagian d4d4, berbeda jauh dengan penampilan rapinya di kampus.
Emily menuangkan cairan bening ke dalam gelas Rangga.
"Ayo, habiskan. Ini pesanan khusus bartender untuk kita," ujarnya sambil tersenyum nakal.
Rangga menghela napas. "Sudah cukup, Emily. Kamu sudah terlalu banyak memberiku minuman ini."
"Ah, masa sih? Baru tiga gelas, Ga."
"Empat. Kamu hitung aja sendiri.
Emily tertawa, suaranya terdengar renyah di sela dentuman musik. "Kamu laki-laki, yang katanya di gandrungi sama semua mahasisiwi di kampus, masa cuma minum segitu aja udah KO!"
Namun Rangga tahu batasnya. Ia mengingat pesan dokter tiga tahun lalu, saat ia masih sering masuk rumah sakit karena kondisi lambungnya yang sensitif dan tensi yang mudah drop. "Hindari alkohol berlebihan, Rangga. Tubuhmu tidak seperti anak muda lain."
"Emily, tolong. Aku tidak mau mabuk. Besok aku ada presentasi," tegas Rangga, berusaha terdengar santai tapi tetap menunjukkan penolakan.
Emily mendekat. Tubuhnya merapat ke lengan Rangga, dan uap parfum bunga-bunga memenuhi indra penciuman Rangga.
"Lagian, kenapa sih kamu nolak terus? Kamu nggak suka aku?" tanya Emily dengan nada cemberut manja. "Aku kan sudah repot-repot datang ke sini buat nemenin kamu."
"Bukan begitu..."
"Lalu kenapa? Kamu takut Ayah kamu? Atau..." Emily menyipitkan matanya, "...kamu sudah punya pacar?"
Rangga terdiam. Pikirannya melayang ke Meysa. Bukan karena ia merindukannya, tapi karena tiba-tiba ia ingat bahwa ia sudah menikah. Sebuah pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.
"Tidak," jawab Rangga. "Aku tidak punya pacar."
Emily tersenyum puas. "Nah,yaudah ayok kita lanjutin"
Ia mengangkat gelasnya, menyentuhkan bibir gelas ke gelas Rangga. "Cheers, Ga."
Dua gelas kemudian, Rangga mulai kehilangan kendali. Matanya sayu, tubuhnya oleng, dan tawa canggung mulai keluar dari mulutnya tanpa alasan yang jelas.
Emily memperhatikan dari samping. Senyumnya kini berbeda, ada rasa kepuasan dalam dirinya ketika melihat Rangga yang sudah tak sadarkan diri..
Diam-diam, ia meraih ponsel dari tas kecilnya, ia membuka kamera, lalu mengarahkan lensa ke arah Rangga yang berada dipelukannya.
Cekrek..
Posisi Rangga bersandar pada d4d4nya Emily, sementara Emily terlihat memejamkan matanya, seolah sedang menikmati momen itu.
Emily tersenyum tipis. Ia menyimpan foto itu ke dalam folder rahasia..
Rangga tidak menyadari apa-apa. Pikirannya sudah terlalu kacau untuk berpikir jernih. Ia hanya ingin pulang. Tapi kakinya tidak mau diajak bekerja sama.
"Emily... aku mau... pulang..." gumamnya terbata-bata.
Emily tidak menjawab. Ia justru memesan satu gelas lagi untuk Rangga, sambil terus tersenyum manis. Seolah ia adalah perempuan paling perhatian di dunia.
"Besok, semua orang akan melihat idolanya hancur, batin Emily. Biarkan mereka tahu bahwa Rangga tidak lebih dari pecandu alkohol yang tak bisa mengendalikan diri."
Ia merapikan rambutnya, lalu kembali duduk manis di samping Rangga, bersiap untuk babak berikutnya dari rencananya.
semoga setelah ini Meysa sadar dan mau meninggalkan si Rangga
jangan lemah mey