NovelToon NovelToon
Kembaranku Penggantiku

Kembaranku Penggantiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 — Orang yang Mengendalikan Semua dari Balik Bayangan

Hutan malam itu terasa terlalu sunyi.

Hanya suara hujan dan napas panik mereka yang terdengar jelas.

Lampu mobil menyinari wajah semua orang dengan cahaya putih menyilaukan.

Dan pria tua berkacamata itu berdiri di tengah genangan air seperti seseorang yang sudah memegang kemenangan.

Tatapannya lurus ke arah Raka.

Dingin.

Menghitung.

“Akhirnya…”

Senyumnya tipis.

“…kita ketemu lagi.”

Raka langsung gemetar hebat.

Tubuhnya refleks bersembunyi di belakang Nadira.

“Kak…”

Nadira langsung memeluk adiknya erat.

Jantungnya berdetak sangat keras sekarang.

Karena firasatnya buruk sekali.

“Pak Surya…”

Suara Pak Rudi melemah.

Pria tua itu menoleh santai.

“Sudah lama ya.”

Tatapannya penuh ejekan.

“Kamu ternyata masih hidup.”

Pak Rudi langsung menunduk.

Dan itu cukup membuat semua orang sadar—

Pria ini jauh lebih berbahaya daripada yang mereka bayangkan.

“Siapa dia?”

tanya Nayla pelan.

Tak ada yang langsung menjawab.

Sampai akhirnya Arsen bicara dingin,

“Orang yang ada di atas semuanya.”

Deg.

Nadira langsung menoleh.

“Apa?”

Pak Surya tersenyum kecil mendengar itu.

“Pintar.”

Tatapannya jatuh ke Arsen.

“Kamu lebih mirip ayahmu daripada yang kamu kira.”

Kalimat itu langsung membuat rahang Arsen mengeras.

“Jadi semua ini…”

Nadira menatap pria tua itu penuh marah.

“…karena kamu?”

Pak Surya tertawa kecil.

“Hidup nggak sesederhana cari kambing hitam.”

Namun matanya tetap dingin.

“Orang tuamu rakus.”

“Adrian emosional.”

Tatapannya bergeser ke Arsen.

“Dan ayah Arsen terlalu pengecut buat keluar.”

Deg.

Sunyi.

“Sedangkan aku…”

Pria itu tersenyum tipis.

“…cuma menjaga bisnis tetap hidup.”

Nadira langsung muak mendengarnya.

Bagaimana seseorang bisa bicara soal hidup manusia seperti bicara angka?

“Kamu bunuh banyak orang.”

Suara Nadira bergetar.

Pak Surya mengangkat bahu santai.

“Dan dunia tetap berjalan.”

Jawaban itu langsung membuat bulu kuduk semua orang berdiri.

Karena pria ini benar-benar tidak punya rasa bersalah.

Sedikit pun tidak.

“Kenapa kejar Raka?”

tanya Arsen tajam.

Tatapan Pak Surya perlahan berubah dingin.

“Karena anak itu lihat sesuatu yang tidak boleh dia lihat.”

Raka langsung memegang tangan Nadira makin erat.

Napasnya mulai tidak teratur lagi.

“Aku takut…”

bisiknya pelan.

“Nggak apa-apa.”

Padahal Nadira sendiri hampir panik.

“Waktu kecelakaan itu…”

Pak Surya mulai berjalan perlahan mendekati mereka.

“Harusnya semua selesai.”

Tatapannya jatuh ke Raka.

“Tapi anak kecil ini terlalu sial buat mati.”

Deg.

Papanya langsung marah.

“Dia masih anak-anak!”

“Makanya saya bilang sial.”

Pria tua itu tersenyum kecil.

“Karena sekarang semuanya jadi ribet.”

Damar langsung mengangkat pistol.

“Gue tembak aja orang tua ini.”

Namun sebelum sempat bergerak—

Belasan pistol langsung diarahkan ke kepala mereka.

Suasana langsung membeku.

“Jangan gegabah,” ujar Pak Surya santai.

“Saya sudah terlalu tua buat drama tembak-tembakan.”

“Kamu nggak bakal bisa tutup semuanya lagi.”

Suara Arsen dingin.

“Polisi udah tahu.”

Pak Surya tertawa pelan.

“Polisi?”

Tatapannya penuh hiburan.

“Banyak dari mereka kerja buat saya.”

Deg.

Nadira langsung merasa tubuhnya dingin lagi.

Karena semakin lama…

Semua terasa makin mustahil dilawan.

“Apa yang kamu mau?”

tanya Nayla dengan suara gemetar.

Pak Surya diam beberapa detik.

Lalu menunjuk Raka.

“Anak itu.”

“Nggak!”

Nadira langsung menarik Raka ke belakang.

Tatapannya penuh kebencian.

“Kalian nggak akan sentuh dia lagi!”

Pak Surya menghela napas kecil.

“Kalau begitu…”

Tatapannya berubah tajam.

“…semua di sini mati.”

Mamannya langsung menangis lagi.

Sedangkan Raka mulai gemetar hebat.

“Kak…”

Anak itu memegang baju Nadira pelan.

“Aku nggak mau Kakak mati…”

Kalimat itu langsung menghancurkan hati Nadira.

“Cukup.”

Arsen melangkah maju.

Berdiri tepat di depan mereka semua.

“Kalau mau ambil Raka…”

Tatapannya dingin sekali sekarang.

“…lewati gue dulu.”

Deg.

Pak Surya memperhatikan Arsen cukup lama.

Lalu tersenyum kecil.

“Akhirnya anak Wijaya belajar melawan.”

“Jangan samain gue sama keluarga gue.”

“Oh?”

Tatapan pria tua itu menusuk.

“Padahal darah monster yang sama ngalir di tubuhmu.”

Rahaj Arsen langsung mengeras.

Namun kali ini…

Ia tidak mundur.

Tiba-tiba suara mobil terdengar dari belakang.

Cepat.

Banyak.

Semua langsung menoleh.

Dan beberapa detik kemudian—

Deretan mobil hitam lain muncul dari sisi jalan hutan.

Lampu mereka menyilaukan.

Pintu mobil terbuka cepat.

Puluhan pria turun.

Bersenjata.

Suasana langsung berubah tegang lagi.

Pak Surya menyipitkan mata.

Sedangkan Arsen terlihat sedikit terkejut.

Lalu—

Seseorang turun dari mobil paling depan.

Langkahnya pelan.

Jas hitamnya basah terkena hujan.

Dan Nadira langsung membeku.

Karena pria itu…

Ayah Arsen.

Masih hidup.

“Sayang sekali.”

Pria itu tersenyum tipis ke arah Pak Surya.

“Aku belum mati.”

Pak Surya langsung tertawa kecil.

“Aku tahu kamu keras kepala.”

Arsen langsung menatap ayahnya tajam.

“Ayah…”

Namun pria itu hanya melirik singkat.

“Nanti dulu.”

Tatapannya kembali ke Pak Surya.

“Lepasin anak itu.”

Suasana mendadak berubah.

Nadira langsung sadar—

Ayah Arsen dan Pak Surya tidak sedang bicara seperti bawahan dan atasan.

Mereka bicara seperti dua orang yang sudah saling mengenal lama.

Sangat lama.

“Kamu berkhianat sekarang?”

Pak Surya bertanya santai.

Ayah Arsen tersenyum tipis.

“Enggak.”

Tatapannya berubah dingin.

“Aku cuma capek bersihin kekacauan orang lain.”

Pak Surya tertawa lagi.

“Kamu ikut nikmatin uangnya juga.”

Sunyi.

Dan tidak ada yang bisa membantah itu.

“Ayah…”

Suara Arsen melemah sedikit.

“Ayah benar-benar kerja buat dia?”

Pria itu diam beberapa detik.

Lalu mengembuskan napas pelan.

“Dulu.”

Deg.

“Apa?”

“Ayah masuk terlalu dalam.”

Tatapannya kosong sekarang.

“Dan waktu sadar…”

Senyumnya hambar.

“…udah nggak bisa keluar.”

Untuk pertama kalinya…

Nadira melihat pria itu terlihat manusia.

Lelah.

Sangat lelah.

“Kamu tetap pembunuh.”

Suara Nadira dingin.

Pria itu menoleh perlahan ke arahnya.

Dan entah kenapa…

Tatapannya tidak lagi semenyeramkan tadi.

“Aku tahu.”

Jawaban itu terlalu tenang.

“Tapi kalau malam itu aku nggak ambil Raka…”

Tatapannya jatuh ke adik Nadira.

“…dia udah dibunuh Pak Surya.”

Deg.

Raka langsung membeku.

Sedangkan Nadira merasa kepalanya kembali kacau.

Jadi…

Ayah Arsen memang menyembunyikan Raka.

Tapi untuk menyelamatkannya?

“Bohong…”

Pak Surya tersenyum tipis.

“Kamu nyimpen anak itu karena takut.”

“Dan sekarang aku nggak takut lagi.”

Tatapan ayah Arsen berubah dingin.

“Aku udah terlalu banyak kehilangan.”

Kalimat itu membuat Arsen membeku.

Karena untuk pertama kalinya…

Ayahnya terdengar seperti seseorang yang menyesal.

“Kamu pikir bisa menang?”

Pak Surya bertanya santai.

Tatapannya menyapu pria-pria bersenjata milik keluarga Wijaya.

“Semua ini masih milikku.”

Ayah Arsen tertawa kecil.

“Dulu.”

Lalu perlahan…

Ia mengangkat sebuah ponsel.

Dan menekan tombol play.

Suara rekaman langsung terdengar.

Suara Pak Surya.

Jelas sekali.

Tentang pencucian uang.

Tentang pembunuhan.

Tentang perintah membunuh saksi.

Wajah Pak Surya langsung berubah.

Untuk pertama kalinya…

Pria itu terlihat panik.

Deg.

Arsen langsung menatap ayahnya tidak percaya.

“Kapan Ayah…”

“Ayah juga capek hidup kotor.”

Senyumnya kecil.

“Jadi Ayah siapin jalan keluar.”

“Bunuh dia.”

Suara Pak Surya langsung dingin.

Dan detik berikutnya—

DUARRR!

Tembakan pecah dari segala arah.

Hutan langsung berubah kacau.

Mamannya menjerit.

Nayla reflex menarik Pak Rudi berlindung.

Damar membalas tembakan sambil mengumpat.

Arsen langsung menarik Nadira dan Raka turun ke tanah.

“Nunduk!”

Peluru menghantam pohon-pohon sekitar.

Suara tembakan memekakkan telinga.

Dan Nadira langsung sadar—

Ini perang sungguhan sekarang.

“Ayah!”

Arsen berteriak saat melihat ayahnya masih berdiri di tengah baku tembak.

Pria itu justru menoleh sebentar.

Tatapannya bertemu dengan putranya.

Lalu—

Untuk pertama kalinya dalam hidup Arsen…

Ayahnya tersenyum hangat.

“Kali ini…”

Suara pria itu samar di tengah hujan dan tembakan.

“…jangan jadi kayak Ayah.”

Deg.

Dan detik berikutnya—

DUARR!

Satu peluru menembus dada pria itu.

Waktu seperti berhenti.

Tubuh ayah Arsen terhuyung pelan.

Lalu jatuh ke tanah basah.

“AYAH!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!