Dipaksa pamannya menikah setelah lulus SMA, kehidupan Andara yang sudah yatim piatu tidak menjadi lebih baik.
Setelah difitnah sudah tidak perawan, dituduh berzinah saat hamil setelah 3 bulan menikah, Andara menjadi janda di usia sembilanbelas tahun.
Penderitaan tidak berhenti di situ, rumah peninggalan orangtua Andara diambil paksa oleh keluarga Irfan, mantan suaminya dengan alasan melunasi hutang-hutang orangtua dan paman Andara.
Dikucilkan karena dianggap aib dan pembawa sial membuat Andara memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta dalam keadaan hamil.
Bagaimana kehidupan Andara selanjutnya ?
Apakah nasib Andara bisa berubah setelah bertemu dengan bayi Lily yang kehilangan ibunya saat ia dilahirkan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Sudah hampir sebulan Andara bekerja di rumah Baskara tapi belum pernah ia bertemu dengan pria itu.
Deswita sendiri baru dua kali berkunjung, hanya sebentar dan entah kenapa Deswita memilih waktu di saat Daisy sedang berada di sekolah.
Hati kecil Andara sering bertanya-tanya, sebetulnya ada masalah apa dengan pernikahan Baskara dan Fanny sampai Daisy dan Lily seperti anak yatim piatu setelah ibu mereka meninggal.
Tidak ada seorang pun di rumah itu yang bersedia menjawab rasa ingin tahu Andara, tidak terkecuali Sumi, pelayan paling senior yang sebelumnya bekerja di kediaman Deswita.
“Bayi Lily.”
Lamunan Andara langsung buyar dan ia pun berdiri mengikuti perawat masuk ke ruang praktek dokter Dita.
Dokter Dita sempat kaget lalu tersenyum dengan wajah penuh kemenangan.
“Sudah saya bilang kalau ibu Mira pasti akan mencarimu untuk jadi pengasuh sekaligus ibu susunya Lily.”
Kepala Andara menggeleng membuat dokter Dita mengerutkan dahi.
“Bukan ibu Mira tapi bu Deswita, mamanya pak Baskara yang mempekerjakan saya. Sekarang Lily tinggal di rumah orangtuanya tapi sampai hari ini saya belum pernah bertatap muka dengan pak Baskara.”
“Kok bisa ? Bagaimana caranya bu Deswita menemukanmu ? Tidak ada seorang pun yang menghubungi saya, bertanya soal kamu.”
“Dari Rio. Ternyata diam-diam dia menyuruh orang menyelidiki saya sampai masalah mantan suami di kampung, dia juga tahu.”
Dokter Dita tertawa sambil beranjak dari kursinya menuju tempat periksa dimana Lily sudah dibaringkan.
Lily sempat menangis saat disuntik tapi hanya sebentar.
“Kamu sendirian ?”
“Hhhhmmm…. “ Andara hanya mengangguk.
Dokter Dita langsung paham dengan sikap Andara yang tidak nyaman berbicara apa adanya karena ada perawat di dalam ruangan itu.
“Habis ini mau kemana ?”
“Tidak kemana-mana, dokter. Mau traktir saya makan siang ?” canda Andara sambil tertawa.
“Seharusnya kamu yang mentraktir saya dengan gaji pertamamu.”
“Belum gajian. Bagaimana kalau minggu depan saya datang lagi khusus untuk mengajak dokter makan siang.”
“Saya cek jadwal dulu, secepatnya akan saya kabari.”
“Terima kasih dokter. Saya pamit dulu.”
“Hhhmmm.”
Andara meninggalkan ruangan dokter Dita menuju bagian administrasi untuk menyelesaikan pembayaran.
Sambil menunggu petugas mencetak kuitansi, Andara mengajak Lily bicara. Bayi yang mulai aktif berceloteh itu sangat menggemaskan.
“Berapa biaya yang harus saya bayar ?”
Merasa kenal dengan suara yang sedsng berbicara, spontan Andara menoleh, matanya membola melihat sosok pria yang selama ini hanya dilihatnya lewat foto.
“Pak Baskara ?”
Mendengar namanya disebut, pria itu menoleh, kedua alisnya menaut, mencoba mengenali perempuan yang menyapanya.
Keterlaluan ! Bagaimana mungkin diaa tidak tahu seperti apa wajah anaknya sendiri, batin Andara dengan perasaan miris.
“Saya Andara dan ini….”
“Saya tidak kenal anda !” potong Baskara kembali membuang muka.
Sepertinya Baskara sadar siapa Andara dan bayi yang sedang digendongnya namun tidak mau mengakui apalagi sampai ada orang yang melihatnya.
Tiba-tiba seorang perempuan berpenampilan modis datang menghampiri dan langsung mengamit lengan Baskara.
“Aku takut Bas.” Perempuan itu mulai menangis.
“Tunggu sebentar, aku bereskan administrasinya dulu.”
Andara terpaku, enggan mengalihkan pandangannya malah terang-terangan memperhatikan apa yang terjadi di antara Baskara dan perempuan itu. Andara yakin keduanya memiliki hubungan khusus, bukan sekedar teman atau kenalan biasa.
Tiba-tiba saja Andara merasa hatinya sakit saat meihat perempuan itu tanpa sungkan memeluk Baskara dan pria itu balas merengkuh bahkan tangan kekarnya mengusap-usap punggung si perempuan.
Bukan karena hatinya sudah jatuh cinta pada Baskara tapi Andara teringat pada kejadian yang pernah menimpanya di saat Irfan tidak mau mengakui janin yang ada di dalam rahim Andara adalah benihnya malah menuduh Andara berzinah.
Pasangan yang seperti sedang kasmaran itu meninggalkan meja administrasi sambil berangkulan.
Entah mendapat kekuatan darimana, Andara mengejar keduanya dan menahan lengan Baskara.
“Pak Baskara.”
Langkah mereka tertahan dan sama-sama menoleh.
“Pak Baskara sepertinya lupa pada saya. Maaf kalau saya mengganggu. Saya hanya mau menyampaikan turut berduka cita atas kepergian ibu Fanny.”
Tidak peduli Baskara melotot kepadanya dan perempuan itu mengernyit, tatapannya penuh selidik, Andara tetap tersenyum dan berusaha tenang.
“Saya sempat datang ke rumah bapak tapi sayangnya kita tidak pernah ketemu. Sekarang saya paham alasannya.”
Andara melirik ke arah perempuan itu dengan senyuman manis.
“Saya permisi dulu.” Andara menganggukkan kepala lalu meninggalkan keduanya.
“Siapa Bas ?”
Baskara tidak langsung menjawab. Tatapan tajamnya tertuju pada Andara yang sedang berjalan menuju pintu keluar.
“Bas.”
“Maaf.” Baskara tersenyum. “Kita urus papa sekarang.”
Dengan wajah dibuat sesedih mungkin perempuan bernama Savira itu menganggukan kepala.
Sekilas matanya menyipit saat melihat Andara masuk ke dalam mobil yang dikenali Savira sebagai milik Fanny.
**
Setelah memastikan ayah Savira masuk kamar inap dan ditangani dengan baik, dengan alasan ada urusan kantor, Baskara meninggalkan rumah sakit.
Mobil yang menjemputnya sudah menunggu di lobi dan Rio sendiri yang jadi sopirnya.
“Sudah aku katakan kalau perempuan itu akan jadi masalah ! Segera usir dia dari rumah dan jangan biarkan dia dekat-dekat keluarga Adiguna !”
Rio mengerutkan dahi, tidak menduga kalau yang membuat Baskara minta dijemput adalah Andara.
“Andara buat masalah apa Pak ?”
“Tadi aku bertemu dengannya di rumah sakit. Berani-beraninya dia pura-pura kenal Fanny, berlagak berbelasungkawa padahal aku yakin dia sengaja melakukannya di depan Vira.”
Rio membuang muka sambil mengulum senyum.
“”Tidak mudah memecat Andara karena dia….”
“Tidak bisakah kamu bicara tanpa menyebut namanya ?” bentak Baskara.
“Maaf Pak.”
“Apa susahnya tinggal pecat. Dia cuma pembantu, tidak ada aturan seperti di kantor. Kalau dia menolak, berikan saja bonus 3 bulan gaji. Aku yakin tujuan utamanya cuma uang.”
“Tapi bukan pak Bas yang mempekerjakannya sebagai pengasuh nona Lily.”
“Tinggal bilang sama mama kalau dia sudah bertindak seperti nyonya rumah !”
“Sebaiknya pak Bas yang bicara pada nyonya.”
Baskara melengos sebal, memalingkan wajahnya yang kemerahan ke arah jendela samping.
“Kemana kita sekarang pak ?”
Baskara menghela nafas, bingung menjawabnya. Gara-gara Savira telepon mengabarkan ayahnya kena serangan jantung, Baskara menyuruh Rio membatalkan semua janji dan mengosongkan jadwal. Tidak disangka pertemuan dengan Andara membuat rencana Baskara buyar.
“Boleh saya bicara Pak ?” tanya Rio yang menunggu Baskara tidak juga menjawab.
“Asal jangan tentang perempuan itu !” tegas Baskara.
“Justru saya ingin memberi masukan masalah Andara.”
Sebelah alis Baskara terangkat, ditatapnya Rio dengan mata menyipit.
“Agak sulit membujuk nyonya Deswita untuk memecat Andara tapi saya yakin nyonya tidak akan bisa membujuk Andara untuk tetap tinggal kalau dia sudah memutuskan untuk berhenti kerja.”
“Lalu bagaimana caranya membuat perempuan si**a**lan itu sukarela berhenti ?”
“Hanya pak Bas yang bisa membuatnya mungkin terjadi bahkanmenjauhkn dia dari keluarga Adiguna.”
“Caranya ?” Dahi Baskara berkerut dan matanya menyipit.
“Bapak kembali tinggal di rumah dan lakukan apapun yang membuat Andara menyerah.”
“Asal bicara kamu ! Sembarangan !”
“Maaf, hanya ide Pak.”
Sesaat Baskara terdiam sambil menatap ke luar jendela. Rio yakin boss-nya sedang berpikir bukan kesal pada idenya.
“Menurutmu berapa lama dia bakalan menyerah.”
“Jujur saya tidak tahu Pak tapi dari percakapan kami, saya lihat meski keras kepala, emosinya gampang tersulut. Kalau sudah marah biasanya dia akan memilih pergi daripada bertahan.”
“Yakin ?”
“Tujuhpuluh lima persen pak.”
Baskara berdecak sebal apalagi saat asistennya menjawab sambil tertawa pelan.
“Aku pikir-pikir dulu.”