"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Gelombang Panas di Balik Layar
Gelombang Panas di Balik Layar
Malam ini hujan turun rintik-rintik, menciptakan suasana lembap yang sempurna untuk sebuah dosa. Aku duduk di tepi ranjang king size-ku, hanya mengenakan kemeja putih tipis milik Gavin yang dulu sempat tertinggal di tumpukan laundry—kemeja yang aromanya masih menyisakan jejak maskulin pria itu.
Aku menatap layar ponselku. Pukul 23.00. Aku tahu Raka belum tidur. Tipe cowok seperti dia pasti sedang bergulung gelisah di bawah selimut, mencoba menghapus bayangan sentuhanku di ruang fotokopi tadi siang.
Aku menekan tombol Video Call.
Hanya butuh tiga detik sampai layar berubah. Wajah Raka muncul, dia berada di kamarnya yang remang-remang. Dia tampak berantakan, rambutnya acak-acakkan, dan dia hanya memakai kaos dalam putih yang basah oleh keringat.
"Arum... ngapain lo telepon jam segini?" bisik Raka parau. Suaranya terdengar sangat berat, seolah dia baru saja selesai bergulat dengan pikirannya sendiri.
"Kangen," jawabku singkat. Aku memposisikan ponselku sedikit lebih rendah, memperlihatkan dua kancing teratas kemejaku yang terbuka, mengekspos tulang selangka dan sedikit bayangan yang membuat imajinasi pria mana pun liar. "Gue nggak bisa tidur, Rak. Di rumah sepi banget. Gue ngerasa... dingin."
Raka menelan ludah. Aku bisa melihat jakunnya bergerak naik turun di layar. "Lo... lo pake baju siapa itu, Rum?"
Aku tersenyum tipis, jari telunjukku mulai bermain di kerah kemeja. "Baju Mas Gavin. Masih wangi dia, tapi gue pengennya wangi lo, Rak."
"Rum, berhenti... Bella tadi baru aja telepon gue, dia—"
"Jangan sebut nama dia sekarang," potongku lembut namun tegas. "Bella nggak ada di sini. Bella nggak tahu gimana lo ngeliatin gue di kantin tadi. Bella nggak tahu kalau sekarang lo lagi gemetar megang HP, kan?"
Aku merebahkan tubuhku di bantal, membiarkan rambutku tergerai berantakan. Aku mengarahkan kamera sedikit lebih dekat ke wajahku, membasahi bibir bawahku dengan ujung lidah secara perlahan.
"Rak... lo tahu nggak apa yang gue pikirin pas di ruang fotokopi tadi?" bisikku. Aku mulai memasukkan jempolku ke dalam mulut, menghisapnya pelan sambil menatap tajam ke kamera ponsel, seolah aku sedang menatap langsung ke matanya. "Gue pengen banget denger suara lo yang 'umhh' itu lagi. Tapi kali ini tanpa ada mesin yang berisik."
Di layar, Raka tampak memejamkan mata. Napasnya mulai memburu, terdengar jelas lewat speaker ponselku. Tangannya yang memegang ponsel tampak bergetar hebat.
"Arum... please... lo bikin gue gila..." rintih Raka.
"Gila karena apa, Sayang?" godaku. Aku mulai menggerakkan tangan kiriku, merayap masuk ke balik kemeja, mengusap kulit perutku sendiri sambil mengeluarkan desahan halus yang sangat provokatif. "Apa karena lo pengen nyentuh ini? Atau karena lo pengen gue nyentuh 'itu'?"
Aku memposisikan kamera agar dia bisa melihat kakiku yang jenjang bergerak-gerak di atas sprei putih. Aku mengusapkan telapak kakiku satu sama lain, memberikan rangsangan visual yang aku tahu adalah titik lemah Raka.
"Liat, Rak... gue ngerasa panas banget..." ucapku lirih. Aku membuka satu kancing lagi, memperlihatkan lebih banyak kulit. Aku mulai memberikan pijatan kecil di area dadaku sendiri melalui kain kemeja, membuat gerakan yang sangat detail hingga Raka terdengar mengerang tertahan.
"A-arum... gue... gue nggak kuat..." Raka menjatuhkan ponselnya ke atas kasur, tapi kamera masih mengarah ke wajahnya. Dia tampak mendongak, otot lehernya menegang, dan dia mulai melakukan sesuatu yang aku tahu adalah pelampiasan atas semua godaanku sejak siang tadi.
Aku menikmati pemandangan itu. Pria polos yang biasanya sangat menjunjung tinggi moral, kini hancur lebur di hadapanku hanya lewat layar 6 inci.
"Keluarin aja, Rak... bayangin ini tangan gue... bayangin ini bibir gue..." bisikku berulang-ulang, menambah tempo desahanku yang kini terdengar lebih nyata di telinganya.
Malam itu, di balik dinginnya layar ponsel, ada api yang membakar kewarasan Raka. Dia benar-benar "basah" luar dalam. Bukan karena keringat dingin ketakutan, tapi karena gairah yang sudah meluap melampaui batas logikanya.
Begitu semuanya selesai, Raka tampak lemas di layar. Dia menatapku dengan pandangan kosong, penuh rasa bersalah namun juga ketergantungan yang mengerikan.
"Gue benci lo, Arum," bisik Raka dengan suara yang nyaris hilang.
"Iya, gue tahu. Dan besok, lo bakal makin benci gue karena lo bakal nyari gue lagi di kampus," sahutku sambil tersenyum kemenangan. "Tidur yang nyenyak ya, Raka-nya Arum. Jangan lupa ganti celana, kayaknya udah banjir tuh."
Aku mematikan sambungan telepon. Aku melempar ponselku ke samping, lalu menatap langit-langit kamar dengan perasaan puas yang tak terkira. Bella boleh memiliki status sebagai pacar Raka, tapi malam ini, jiwanya dan raganya adalah milikku.
Dan di kejauhan sana, di sebuah hotel mewah, aku tidak tahu kalau Papaku juga sedang mengalami "gelombang panas" yang sama bersama Tiara. Malam ini benar-benar malam pengkhianatan yang paling indah.
jngan y thor