Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Orang Pertama yang Membuatku Ingin Tetap Hidup
Deg.
Kalimat Lyra terasa seperti sesuatu yang menembus seluruh kekacauan di kepala Veyra.
Di tengah suara jutaan data.
Di tengah jeritan sistem dunia.
Di tengah langit yang hampir runtuh—
suara itu tetap terdengar paling jelas.
—
“…aku tetap bakal narik kamu balik.”
Mata Veyra membelalak kecil.
Dan anehnya—
itu lebih mengguncangnya daripada ancaman kiamat mana pun.
Karena selama ini…
ia selalu percaya satu hal.
Kalau dirinya terlalu berbahaya untuk dipertahankan.
Terlalu rusak untuk diselamatkan.
Namun Lyra—
tetap memilih bertahan di sisinya.
Bahkan setelah melihat semua sisi gelapnya.
—
Langit kembali meledak biru.
BOOOOOOMMMM!
Retakan digital makin besar.
Portal raksasa di atas kota mulai kehilangan bentuk.
Makhluk data itu meraung keras sambil glitch tanpa henti.
“INTI TIDAK STABIL.”
“INTEGRASI GAGAL.”
“EMOSI MANUSIA MENGGANGGU SISTEM.”
Selene langsung tertawa pendek meski situasinya kacau.
“Hah. Jadi cinta beneran bisa nyelametin dunia. Klise banget.”
Lyra langsung menoleh tajam.
“INI BUKAN WAKTU BERCANDA!”
“Aku bercanda supaya nggak panik.”
“AKU SUDAH PANIK!”
“Fair.”
—
Namun Veyra masih diam.
Tatapannya tidak lepas dari Lyra.
Dan untuk pertama kalinya—
ia merasa bingung dengan sesuatu yang sederhana.
Keinginan untuk hidup.
—
Selama ini ia selalu bertahan karena terpaksa.
Karena harus lari.
Karena harus melawan.
Karena dunia tidak memberinya pilihan lain.
Namun sekarang—
ada seseorang yang membuatnya ingin tetap ada.
Dan itu terasa… menakutkan.
Karena semakin besar alasan untuk hidup—
semakin besar rasa takut untuk kehilangan.
—
GLOBAL CORE MERGE : 98%
Alarm meraung di seluruh dunia.
Pesawat mulai jatuh dari radar.
Internet global nyaris mati total.
Beberapa negara mulai mengaktifkan sistem darurat nasional.
Dan di seluruh layar—
wajah Veyra masih muncul.
Orang-orang melihatnya berdiri di bawah langit retak sambil menggenggam tangan seseorang.
Pemandangan yang aneh.
Karena penyebab akhir dunia…
sedang terlihat sangat manusia.
—
Dokter Arkan memperhatikan semuanya dengan wajah dingin.
Namun di balik tatapan itu—
ia mulai cemas.
Sangat cemas.
Karena sinkronisasi sistem seharusnya sudah sempurna sekarang.
Veyra seharusnya kehilangan emosinya.
Kehilangan identitas manusianya.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Perasaannya makin kuat.
Dan itu menghancurkan semua perhitungan mereka.
—
“Tidak…”
Arkan menatap data yang terus error.
“Mustahil…”
Salah satu staf panik.
“Koneksi emosional mereka mengganggu inti sistem!”
“Pisahkan mereka!”
“Kami tidak bisa! Semua drone sudah dihancurkan!”
Deg.
Rahang Arkan mengeras.
Dan untuk pertama kalinya—
ia benar-benar merasa kalah.
—
Di luar—
makhluk digital di langit mulai berubah brutal.
Tubuhnya terus pecah dan menyatu lagi.
Wajah-wajah manusia muncul sambil menjerit.
Kode-kode berjatuhan seperti hujan.
Dan langit—
mulai menghitam total.
—
“SISTEM KEHILANGAN KENDALI.”
Suara itu terdengar semakin kacau.
“PILIHAN TERAKHIR.”
Cahaya putih besar muncul dari inti portal.
Dan semua orang langsung merasakan tekanan aneh.
Seperti dunia sedang dipaksa reboot paksa.
—
Selene langsung membelalak.
“Oh tidak…”
Lyra menoleh cepat.
“Apa sekarang lagi?!”
Selene terlihat serius sekarang.
“Sistemnya mau reset jaringan global.”
Deg.
“Apa maksudnya?”
“Itu bakal ngapus semua infrastruktur digital dunia.”
Sunyi.
Bahkan pasukan militer ikut pucat mendengarnya.
Karena di era sekarang—
itu hampir sama seperti menghapus peradaban.
—
Veyra langsung merasakan hal yang sama.
Dan yang lebih buruk—
ia tahu sistem itu mampu melakukannya.
Karena sekarang dirinya adalah kunci utamanya.
—
“Kalau ini lanjut…”
Tatapannya perlahan kosong.
“…semuanya bakal hilang.”
Lyra langsung menggenggam tangannya lebih erat.
“Kita cari cara lain.”
Veyra tertawa kecil.
Lelah.
“Kamu selalu ngomong kayak masih ada harapan.”
“Karena memang ada.”
“Dari mana kamu seyakin itu?”
Lyra diam sesaat.
Lalu menjawab pelan—
“Karena kamu masih di sini.”
Deg.
Dan sialnya—
kalimat itu lagi-lagi menghancurkan pertahanan Veyra.
—
Makhluk digital tiba-tiba bergerak turun.
Cepat.
Terlalu cepat.
“SUBJEK V-27 HARUS MENYELESAIKAN INTEGRASI.”
Puluhan tangan data raksasa muncul dari portal.
Mencoba meraih Veyra.
Namun sebelum menyentuhnya—
BOOOOOOMMMM!
Cahaya biru langsung meledak dari tubuh Veyra.
Seluruh tangan digital itu hancur seketika.
—
Mata Veyra kini berubah total.
Biru terang.
Namun tidak dingin lagi.
Ada sesuatu yang berbeda di sana sekarang.
Keinginan.
Kemauan.
Pilihan.
—
“Aku bukan milik kalian.”
Suara Veyra menggema ke seluruh dunia.
Dan setiap kata membuat sistem glitch lebih parah.
“Aku bukan senjata.”
Ledakan kecil muncul di langit.
“Aku bukan Tuhan baru kalian.”
Portal retak besar.
“Aku juga bukan monster yang kalian ciptakan.”
BOOOOOOMMMM!
Makhluk digital langsung meraung kesakitan.
Karena untuk pertama kalinya—
inti sistem kehilangan kendali atas dirinya.
—
Dokter Arkan membanting meja.
“Tidak!”
Wajahnya akhirnya pecah oleh emosi.
“KAMU DICIPTAKAN UNTUK INI!”
Veyra perlahan menoleh ke layar.
Tatapannya sangat dingin sekarang.
“Salah kalian sendiri.”
Deg.
“Kalian ngajarin aku cara melawan.”
Sunyi.
Dan kalimat itu—
menghancurkan sisa kesombongan Arkan.
—
Namun tepat saat Veyra mulai mengambil alih sistem—
tubuhnya mendadak membeku.
“UGH—!”
Retakan cahaya di tubuhnya menyebar brutal.
Lebih cepat dari sebelumnya.
Data-data mulai terlepas dari wajah dan tangannya.
Dan Lyra langsung panik lagi.
“VEYRA!”
Veyra jatuh berlutut.
Napasnya kacau.
Karena sinkronisasi tadi terlalu berat.
Tubuh manusianya mulai hancur.
—
GLOBAL CORE MERGE : 99%
Angka merah itu muncul besar di seluruh dunia.
Satu persen lagi.
Dan semuanya selesai.
—
“Aku nggak punya banyak waktu…”
Suara Veyra melemah.
Namun Lyra langsung menggeleng keras.
“Jangan ngomong kayak gitu!”
“Lyra…”
“Aku serius!”
Air matanya jatuh lagi.
“Aku capek denger kamu nyerah terus!”
Deg.
Veyra membeku.
Karena kalimat itu—
anehnya terasa benar.
—
Selama ini ia selalu berpikir mengorbankan diri adalah solusi paling mudah.
Paling aman.
Paling benar.
Namun sekarang—
untuk pertama kalinya—
ia mulai bertanya.
Bagaimana kalau bertahan hidup justru pilihan yang lebih sulit?
—
Makhluk digital di langit kembali meraung.
Portal makin tidak stabil.
Seluruh dunia tinggal beberapa detik dari kehancuran total.
Dan di tengah semuanya—
Veyra akhirnya menutup mata pelan.
Lalu menarik napas panjang.
Keputusan besar mulai terbentuk di kepalanya.
Bukan untuk mati.
Melainkan—
untuk melawan hidup-hidup.