Kristella Duan tak menyangka jika pekerjaannya sebagai penulis novel erotis membawanya terjebak dalam pusaran obsesi mafia kejam Dominic Stralerr. Ketua klan mafia terbesar yang hanya bisa bergairah karena membaca novel yang dia buat.
Bagaimana Kristella di tekan untuk membuat cerita- cerita hanya untuknya, dan demi membangkitkan gairahnya yang telah mati. Hingga sebuah ide gila muncul yang Kristella kira bisa membuatnya lepas dari tekanan tersebut, namun justru membuatnya semakin terjerat dan tak bisa lepas.
"Bagaimana kalau kita praktekan saja secara langsung, Tuan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenah adja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shock Therapy
Ella baru mencapai pintu kamarnya saat mengingat jika buku catatannya tertinggal di kamar Dominic. Jadi dia memutar langkahnya kembali ke kamar Dominic untuk mengambil bukunya yang tertinggal.
Namun saat membuka pintu suara tembakan terdengar membuatnya menjerit dan berjongkok dengan memegangi telinganya.
Dor!!!
Peluru bersarang di kepala seorang wanita yang nyaris telanjang di depan Dominic.
Mata Ella terbelalak terkejut dengan batin yang terguncang. Lagi, dia melihat pembunuhan di depannya.
Terlihat asap tipis dari ujung moncong pistol menandakan benda itu baru saja meluncurkan pelurunya.
"Kenapa kau kembali?" Suara itu nampak tenang, berbanding terbalik dengan Ella yang bergetar ketakutan.
Ella masih tak melihat wajah Dominic, pria itu masih berdiri di titik gelap yang hanya memperlihatkan tubuhnya dari dada ke bawah.
"A— aku ... b—bukuku ketinggalan." Ella masih terdiam di sana di posisi yang sama dengan tubuh bergetar.
"Kalau begitu, cepat ambil. Dan pergilah!" Ella berusaha bangkit, namun tubuhnya gemetar hebat hingga kembali terjatuh.
Dengan perasaan takut dan lemas, Ella bergerak meski tubuhnya masih berjongkok di lantai. Bergerak perlahan hingga dia tiba di dekat mayat wanita yang tergeletak di lantai dengan kepala bolong tertembus peluru, juga mata yang melotot.
'Astaga! Ini gila!' Ella menjerit dalam hati.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Suara dingin itu menusuk membawa kesadaran Ella kembali hingga dia menoleh pada Dominic yang masih nampak tenang di kursinya.
Saat tangannya meraih buku catatannya di meja beberapa pengawal masuk dan menyeret tubuh wanita tersebut tanpa perasaan seolah dia tak berharga, tubuh itu hanya di seret kedua tangannya begitu saja.
Mata Ella masih melihat hal itu hingga suara Dominic kembali terdengar, "Kamu tahu, orang yang terlalu banyak tahu akan akan lebih cepat mati."
Mata Ella terbelalak, lalu segera berkata dengan tergagap. "A—aku tidak melihat apapun." Dengan sisa tenaganya Ella menyeret tubuhnya hingga ke pintu, saat tiba di luar pintu dia segera berlari secepat yang dia bisa ke arah kamarnya lalu mengunci pintu.
Bersandar di pintu tubuh Ella tiba-tiba merosot ke lantai sebab kakinya terasa lemas seperti jelly.
"Apa itu? A—apa? Apa tadi itu ... Astaga, pembunuhan, ini pembunuhan!"
Namun tiba-tiba dia teringat ucapan Dominic barusan.
"Kamu tahu, orang yang terlalu banyak tahu akan akan lebih cepat mati."
Lagi- lagi ucapan itu, ucapan yang juga selalu di ucapkan Bobby. Perkataan yang selalu berhasil membungkamnya dan pura-pura tak tahu.
Ella meremas rambutnya, lalu menggeleng. "Aku tidak melihat apapun, tidak! Aku tidak melihatnya, tidak!" Ella terus bergumam dengan menutup telinganya. Rasanya suara pistol itu masih terngiang di kepalanya.
Jadi, suara yang hampir setiap malam dia dengar benar-benar suara peluru, suara tembakan yang membunuh entah siapa.
Mata Ella berkedip saat mengingat para wanita yang ada di ruang sebelah kamar Dominic.
Mereka wanita. Yang di bunuh setiap malam adalah wanita.
Iblis!
Neraka!
Rumah ini benar-benar neraka. Dia tak bisa terus disana. Kalau tidak, dia juga akan berakhir sama seperti para wanita itu.
Ella menggigiti kukunya gelisah. Sekarang bagaimana?
Mereka akan benar-benar membunuhnya?
Ella mencoba berdiri, namun kakinya yang masih lemas hanya bisa membuatnya merangkak menuju ranjang lalu menenggelamkan dirinya di dalam selimut. Tubuhnya gemetar hebat meski tersembunyi di balik kain tebal itu.
....
Ella menyingkirkan selimut dari tubuhnya lalu duduk. Hari sudah pagi dan dia harus segera bangun untuk mulai menulis kembali.
Matanya berkedip lemah, dengan lingkaran hitam di sekelilingnya menunjukkan jika dia tak tidur semalaman. Terang saja, dia lagi- lagi melihat pembunuhan di depan matanya. Akibatnya dia hanya bisa bersembunyi di balik selimut tebalnya meski tidak tertidur sekalipun.
"Aku harus segera buat novel yang memuaskannya." Ella menurunkan kakinya dan melangkah ke arah meja kerjanya.
Duduk disana dan mulai menyalakan laptop...
Satu menit...
Dua menit...
Lima menit, dia masih disana. Otaknya seperti blank dan tak bisa berpikir, dia justru hanya menatap kosong layar di depannya.
"Apa- apaan ini?" Ella memukul- mukul kepalanya. Kenapa yang ada di pikirannya hanya kematian.
Ketakutan saat bayangan moncong pistol itu mengarah padanya.
"Ayolah, Ella ... kalau bab kali ini memuaskannya, dia akan melepaskanmu!" Ella kembali memukul kepalanya, lalu jari- jarinya mulai mengetik.
....
Dominic keluar dari kamarnya, dan menemukan Bobby di depan pintu menunduk hormat dengan memegang tab di tangannya, dan seperti biasa membacakan jadwal hari ini.
"Jadwal penerbangan hari ini langsung menuju Italia. Di awali dengan pertemuan dengan ketua klan Moretti membicarakan kesepakatan sebelumnya tentang 'barang' kita yang masih meraka tahan."
"Pukul 14.00 Pertemuan dengan Christopher Williams, dia meminta dana tambahan untuk kampanye wali kota bulan depan dan berjanji akan memuluskan pasokan senjata jika dia kembali menjabat."
"Agenda terakhir, pukul 20.00, pertemuan rahasia dengan Mario, dia membawa sampel 'barang' baru..." Bobby terus membacakan jadwal Dominic hari ini, meski Dominic tak menjawab namun telinganya tetap menangkap dengan serius apa saja yang Bobby ucapkan.
Saat melewati koridor kamar Ella, Dominic berhenti sesaat, lalu menatap pintu di ujung koridor. "Bagaimana dengannya?"
Bobby mendongak menatap ke arah tatapan Dominic. "Nona Ella tidak keluar sejak semalam, Tuan."
"Dia juga tidak sarapan?"
Bobby sedikit mengerutkan keningnya, sejak kapan Tuannya ini peduli pada hal- hal sekecil ini?
"Sepertinya belum." Dominic masih melihat pintu kayu itu beberapa saat, hingga suaranya kembali terdengar.
"Katakan pada pelayan aku sarapan diluar." Setelah itu Dominic melanjutkan langkahnya.
"Baik, Tuan." Bobby menggerakan tangannya membuat pelayan dengan sigap mendekat.
"Katakan pada Nona Ella, dia boleh sarapan di ruang makan. Dan tuan tidak akan pulang malam ini."
Pelayan mengangguk. "Baik, Tuan."
Setelah mengatakan itu Bobby segera menyusul langkah Dominic yang sudah beberapa meter di depannya.
kan kamu yg ngawalin....
jadi ketagihan kan itu Dom..🤭
ada musuh atau emang sengaja diledakin sama Dom buat ngehapus jejak 🤔🤔
kamu malah bikin Ella jadi takut sama kamu..
bakal kangen dunks kak ....
aq dah vote kamu nih..
semoga retensi kamu bagus ya..