Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Mitra Bisnis
Sepanjang perjalanan menuju kawasan Kuningan, Darren tidak bisa berhenti mengamati deretan gedung pencakar langit yang dibangun sempurna di sekelilingnya. Jakarta memang kota yang gila. Di satu sudut, dia nyaris meregang nyawa akibat dikeroyok di dalam gudang berdebu yang pengap. Sementara itu, hanya terpaut beberapa kilometer dari sana, orang-orang sibuk mempertaruhkan angka jutaan dolar hanya demi secangkir kopi dan tumpukan dokumen legal. Kontrasnya hal itu terasa seperti tamparan yang menyadarkannya tentang betapa dalam jurang pemisah di kota ini.
Mobil taksi yang ditumpanginya akhirnya berhenti tepat di depan sebuah gedung perkantoran mewah. Fasad kaca hitam bangunan itu memantulkan sinar matahari sore dengan kilauan yang menyilaukan mata. Darren lantas segera membayar ongkos, lalu turun sembari menatap bangunan masif itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Dia bergumam bahwa bangunan itu pasti memiliki nilai yang sangat mahal.
Pintu kaca otomatis terbuka menyambutnya. Darren berusaha keras untuk terlihat percaya diri meskipun jantungnya berdegup dengan irama yang tidak beraturan di balik jas rapi miliknya. Intinya dia tidak ingin terlihat memalukan meski rasa gugup itu sudah pasti.
Adapun Seo yeon sudah menunggu di sebuah meja yang berada tepat di samping jendela besar. Dia mengenakan blazer abu-abu yang sama, dengan rambut hitam yang tergelung sangat rapi, serta tatapan mata yang tetap tajam seperti mata elang. Sementara sebuah laptop terbuka bersanding dengan tumpukan dokumen yang tertata simetris di hadapannya. Melihat tamunya datang, wanita itu lekas-lekas menyapa pria itu dengan pujian karena dirinya datang tepat waktu.
“Anda tepat waktu, Pak Darren. Saya menghargai itu.”
Darren mengambil tempat duduk di seberang perempuan itu. “Saya adalah orang yang sangat menghargai waktu. Terima kasih.”
Lantas Seo yeon menyunggingkan senyuman tipis lalu memutar posisi laptopnya agar Darren bisa melihat layar dengan jelas. Berbagai grafik serta angka-angka sektor properti tampak bergerak dinamis.
"Setelah kejatuhan Andre Gunawan, pasar properti sektor menengah ke bawah mulai menunjukkan pergerakan menarik. Ada sekitar tujuh aset strategis yang harganya merosot tajam karena status sitaan bank. Ini adalah peluang emas," jelas Seo yeon yang jelas-jelas telah menekuni bidang ini sejak lama.
Sementara Darren mengamati data itu dengan saksama. Beruntung, pengalamannya sebagai mantan analis kredit membuatnya tidak asing dalam membaca pola angka. “Berapa modal yang dibutuhkan untuk memulai langkah ini?”
"Dua miliar rupiah adalah angka awal yang ideal. Namun, saya rasa kita masih bisa melakukan negosiasi hingga mencapai satu koma lima miliar," jawab Seo yeon.
Ucapan barusan membuat Darren mencerna angka itu sembari mengingat saldo di Rekening Sistem yang hanya sebesar Rp535 juta. Jumlah itu jelas masih jauh dari kata cukup.
"Boleh saya jelaskan skemanya secara lebih mendetail?" tawar Seo yeon.
Tentu saja Darren segera memberikan isyarat agar perempuan itu melanjutkan. Seo yeon pun mulai berbicara dengan tempo yang cepat dan penuh istilah teknis yang rumit. Sementara di sisi lain, Darren juga berusaha keras untuk mengikuti, namun pikirannya justru melayang pada asal-usul perempuan itu. Dia menyadari bahwa Seo yeon adalah orang Korea, alhasil sebuah ide muncul untuk memberikan kesan baik.
"Gamsahamada," kata Darren tiba-tiba di tengah penjelasan Seo yeon. Maksudnya sebenarnya hanya untuk mengapresiasi penjelasan nan berbobot dari wanita sekaligus menutupi jika dirinya tidak sepenuhnya paham.
Lantas wanita itu menyipit penuh kebingungan. "Maaf? Saya tidak mengerti maksud Anda."
"Itu... a-anu... ucapan terima kasih dalam bahasa Korea, kan?" Darren mencoba menjelaskan dengan wajah yang mulai terasa panas.
"Pengucapan Anda salah, Pak Darren. Seharusnya Kamsahamnida," koreksi Seo yeon, datarnya wajah wanita itu menambah rasa malu Darren sebanyak dua kali lipat.
Darren yang merasa kikuk lalu mencoba lagi untuk memperbaiki suasana. "Ahaha, kalau begitu... bagus itu bahasa koreanya, Arigato?"
Seo yeon menatapnya dengan pandangan yang benar-benar hambar. "Itu bahasa Jepang, Pak Darren. Bukan Korea."
Kesalahan memalukan itu cukup untuk menghancurkan sisa kepercayaan diri Darren dalam sekejap. Dia pun segera meminta maaf dan mengaku bahwa pikirannya sedang campur aduk. Sedangkan Seo yeon menghela napas panjang, menyatakan bahwa hal itu tidak menjadi masalah, lalu kembali melanjutkan penjelasannya. Meski begitu, setidaknya Darren sempat melihat sudut bibir perempuan itu naik sedikit.
“Sial, aku baru saja mempermalukan diriku sendiri di depan orang paling profesional yang pernah kutemui, mana cantik pula,” pikir Darren dengan perasaan dongkol.
Darren mengerutkan kening sembari menatap Seo yeon. "Ngomong-ngomong... kenapa seorang jurnalis lepas seperti Anda mau bersusah payah membantu orang asing sepertiku? Apa untungnya bagi Anda?"
Seo yeon menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Ekspresi kaku itu sedikit memudar. "Saya tidak sedang membantu orang tidak dikenal, melainkan berinvestasi pada mitra bisnis potensial. Keuntungan saya adalah lima belas persen dari laba bersih setiap transaksi yang berhasil."
"Tapi kenapa harus aku?"
Seo yeon sampai terdiam kala menatap Darren dengan jujur. "Karena Anda muncul mendadak dari ketiadaan tanpa jejak kredit, namun tiba-tiba memiliki uang ratusan juta. Itu menarik. Selain itu, saya juga butuh pembuktian."
"Pembuktian untuk siapa?"
"Keluarga saya memiliki standar tinggi. Saya harus membuktikan bahwa saya mampu sukses tanpa bantuan nama besar keluarga Han. Membantu Anda membangun kerajaan dari titik nol adalah jalan saya," jawab Seo yeon.
Darren kini memahami bahwa Seo yeon adalah seorang wanita yang sedang berperang melawan dominasi keluarganya sendiri. Akhirnya, Darren menyetujui kerja sama itu. "Begitu ya... baiklah. Tapi dengan satu syarat, Anda dilarang menyelidiki asal-usul uang milik saya."
Seo yeon memberikan persetujuan dengan sebuah anggukan. "Kesepakatan tercapai. Namun, saya beri waktu satu bulan bagi Anda untuk menyiapkan modal minimal satu miliar rupiah. Jika tidak, kerja sama ini akan dibatalkan."
Darren pun mengangguk tanpa ragu. Lalu setelah Seo yeon pamit, Darren hanya mampu duduk terdiam sambil mengamati interior tempat itu. “Satu bulan ya. Aku harus melipatgandakan saldo sistem atau mencari target besar lainnya.”
Di dalam taksi yang melaju menuju arah Bekasi, Darren membayangkan gambaran hidupnya untuk satu tahun ke depan. Dia berencana membeli sebuah rumah yang nyaman untuk Cello, rumah dengan halaman belakang yang luas agar anak itu bisa berlari bebas tanpa perlu takut kotor. Dia juga ingin membeli mobil, tidak perlu mewah, namun cukup untuk mengantar Cello sekolah dan membawa Lastri melakukan kontrol rutin ke rumah sakit.
Pikirannya terus melayang membayangkan komputer baru untuk sarana belajar anaknya, televisi besar untuk mereka menonton film bersama, hingga tumpukan mainan dan pakaian bagus yang dulu tidak pernah sanggup dia beli. “Lima ratus tiga puluh lima juta rupiah,” gumamnya. Jumlah itu jelas tidak cukup untuk mewujudkan semua mimpinya, namun ini adalah awal yang nyata.
Tangan Darren meraba-raba dua kotak kecil yang tersimpan di kantong plastik besar di antara kedua kakinya. Satu berisi boneka dinosaurus yang sudah dia janjikan untuk Cello. Satu lagi berisi sebotol parfum yang harganya tidak seberapa, parfum yang dulu sering dia berikan untuk Rina saat hubungan mereka masih harmonis. Darren menyadari bahwa pemberian itu bukan karena dirinya masih menyimpan rasa cinta, melainkan sebagai bentuk rasa terima kasih karena Rina adalah ibu dari anaknya.
Taksi akhirnya berhenti tepat di depan gang sempit menuju kediaman orang tua Rina. Begitu Darren turun, pandangannya langsung tertuju pada sebuah sedan mewah merk Eropa yang terparkir di sana. Mobil itu terlihat sangat tidak serasi berada di lingkungan pemukiman padat itu. Alhasil Darren berjalan mengendap-ngendap agar tidak menarik perhatian berlebih. Sampai dia mengintip dari celah pagar dan melihat pria tampan dengan jas mahal sedang menggendong Cello. Anak laki-lakinya itu tertawa dengan sangat lebar, sementara Rina dan ibunya menatap pria itu dengan wajah yang bersinar penuh kegembiraan.
Pemandangan itu sangat berbeda dengan sambutan yang diterima Darren setiap kali datang berkunjung. Pria asing itu membawa sebuah kotak kado besar dari merek mainan ternama yang diterima Rina dengan sumringah. Dari cara mereka berinteraksi saja, Darren langsung bisa memahami bahwa pria itu sudah mengambil alih posisi yang dulu menjadi miliknya. Kekecewaan yang berat mendadak menyergap dadanya, bercampur dengan sedikit amarah yang sulit diredam.
“Setelah semua yang kulakukan demi kesembuhan Cello, inikah yang harus kulihat?” Darren merasa perih melihat anaknya tampak begitu bahagia dalam pelukan pria lain. Kendati demikian, di sudut hatinya, dia menyadari bahwa dirinya tidak memiliki hak untuk meluapkan kemarahan karena dialah yang juga memilih untuk menjauh dari kehidupan Rina.
Akhirnya Darren memutuskan untuk berbalik arah. Dia membatalkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah itu. Boneka dinosaurus untuk Cello serta parfum untuk Rina tetap tersimpan rapat saat dirinya menyusuri gang kecil itu dengan langkah cepat, menjauh dari suara tawa bahagia yang seharusnya menjadi miliknya.
Ponsel segera dia keluarkan dari saku dan menekan nomor Seo yeon dengan mantap. Begitu suara perempuan itu terdengar di seberang sana, Darren langsung menyatakan persetujuannya untuk menjalankan kerja sama mereka tanpa tapi. Dengan suara datar yang menyembunyikan luka di hatinya, dia meminta Seo yeon untuk menyiapkan semua dokumen yang diperlukan.
“Saya setuju dengan semua tawarannya. Risiko atau tidak, saya ambil semuanya, termasuk uang satu miliar itu. Siapkan dokumennya.”
“Pak Darren? Terjadi sesuatu?” tanya Seo yeon di seberang sana.
"Tidak ada. Saya hanya tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi," jawab Darren dengan suara datar.
Telepon akhirnya ditutup. Darren menatap langit malam Bekasi yang gelap saat hatinya terasa tabah namun tetap menyimpan luka yang sulit sembuh. “Semua ini memang harus kulakukan demi masa depan Cello,” gumamnya sembari melangkah meninggalkan kawasan itu.