Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Rapat darurat berakhir setelah dua jam yang terasa seperti dua hari.
Para kepala divisi keluar satu per satu dengan wajah lelah, meninggalkan Valeria di ruang rapat yang kini sunyi. Di depan layar yang menampilkan laporan penjualan, satu kalimat terus terngiang di kepalanya:
“Rafael Aditya merasa ditipu oleh Goldenova Corporation.”
Valeria menutup laptopnya perlahan, jemarinya gemetar halus. Ia tahu ini bukan sekadar kesalahan teknis; ini murni kelalaian dari pihaknya sendiri.
Ada data yang luput, dokumen yang disembunyikan, dan tim marketing yang terlalu berani menjual janji tanpa memeriksa realitas di lapangan.
Zoya masuk lagi sambil membawa dua cangkir kopi. “Lo yakin mau ketemu dia langsung? Rafael itu lagi kebakar, Val. Komennya udah rame banget.”
Valeria mengambil cangkir itu, menatap permukaan kopi yang bergoyang. “Justru karena itu gue harus ketemu. Kalau dia kecewa, berarti kita memang gagal menjaga kepercayaan pelanggan.”
“Padahal bukan lo yang bikin janji-janji manis itu,” gumam Zoya pelan.
Valeria tersenyum miring. “Tapi nama gue yang ada di meja direktur perusahaan ini.”
Ia berdiri, merapikan jas kerjanya yang sedikit kusut. Ada bayangan lelah di matanya, tapi juga ketegasan yang tak bisa dipalsukan.
“Siapkan mobil. Gue mau ke apartemennya Rafael sekarang juga,"ucapnya datar.
Zoya menatapnya lama. “Lo nggak takut, Val?”
Valeria hanya menatap lurus ke depan. “Gue lebih takut kehilangan kepercayaan.”
Lorong apartemen itu sunyi ketika langkah Valeria terdengar di lantai marmer. Ia berjalan dengan ritme teratur, diikuti Zoya yang membawa map berisi dokumen proyek. Di sepanjang jalan, pikirannya masih tertuju pada satu hal: Emerald Tower, proyek unggulan milik Goldenova Corporation yang kini menjadi pusat sorotan.
Emerald tower awalnya dirancang sebagai simbol kemewahan kota—hunian vertikal dengan konsep “premium living without compromise.” Seluruh kampanye, dari papan reklame hingga iklan digital, memuat janji yang sama. Namun, satu keluhan dari Rafael Aditya—seorang publik figur dengan jutaan pengikut—cukup untuk mengguncang reputasi itu.
Valeria berhenti di depan pintu bernomor 1378. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum menekan bel.
Pintu terbuka, memperlihatkan Rafael yang berdiri dengan ekspresi tegang.
“Bu Valeria,” ucapnya datar. “Saya nggak nyangka Goldenova bakal datang langsung.”
Valeria membalas dengan tenang, “Saya datang karena ini menyangkut kepercayaan, Pak Rafael. Dan karena Emerald adalah tanggung jawab saya.”
Zoya diam di belakang, memperhatikan keduanya dalam hening yang terasa berat.
Rafael mempersilakan mereka masuk tanpa senyum. Ruang tamunya luas dan rapi, tapi udara di dalamnya terasa menegang. Di meja kaca tergeletak beberapa lembar foto dan dokumen kontrak pembelian.
Begitu Valeria duduk, Rafael langsung membuka pembicaraan tanpa basa-basi.
“Langsung aja, Bu Valeria. Saya beli unit di Emerald Tower dengan harga dua miliar rupiah. Harga segitu harusnya setara dengan kualitas premium, bukan kayak unit subsidi.”
Ia menyodorkan beberapa foto dengan gerakan kasar.
“Lihat ini—cat dindingnya mengelupas, ubin dapur retak, plafon bocor pas hujan pertama. Saya bahkan belum sebulan tinggal di sana.”
Zoya yang duduk di sebelah Valeria ikut menatap foto-foto itu dengan wajah menegang. Catnya tampak terkelupas lebar, dan di sudut ruangan terlihat noda lembap yang jelas berasal dari pipa bocor.
Valeria menarik napas panjang, mencoba menahan rasa bersalah yang mulai menyesakkan dadanya. “Saya minta maaf, Pak Rafael. Dari pihak perusahaan, dan secara pribadi, saya akui ini kesalahan kami.”
Rafael menyandarkan tubuhnya ke sofa, ekspresinya dingin tapi terselip nada kecewa.
“Bu Valeria, saya ini bukan cuma klien biasa. Saya publik figur. Orang beli Emerald karena lihat iklan saya juga. Dan sekarang… saya yang dituduh nipu publik gara-gara kampanye yang ternyata bohong.”
Kata-katanya menampar lebih keras dari nada suaranya.
Valeria menunduk sejenak, lalu berkata pelan tapi tegas, “Saya paham, Pak. Saya janji, semua kerusakan akan diperbaiki dalam waktu dekat. Kami akan turun langsung memastikan kualitas sesuai yang dijanjikan.”
Rafael menatapnya lama, matanya masih menyimpan bara. “Saya hargai kedatangan Anda, Bu Valeria. Tapi kalau saya lihat satu lagi laporan ditutup-tutupi, saya pastikan bukan cuma Goldenova yang jatuh… tapi nama Anda juga.”
Valeria menatap balik tanpa gentar, meski suaranya nyaris bergetar.
“Kalau itu yang harus saya hadapi demi tanggung jawab saya, saya terima, Pak Rafael.”
Keheningan menutup pertemuan itu. Tapi kali ini, bukan lagi amarah yang mendominasi—melainkan rasa hormat yang perlahan tumbuh di antara dua orang yang sama-sama menjaga harga diri dengan caranya sendiri.
Zoya menyalakan mesin mobil, suara halus mesin berpadu dengan ketukan ujung jarinya di setir. Ia melirik lewat kaca spion—Valeria duduk bersedekap di kursi penumpang, wajahnya menegang, rahang terkunci.
Begitu mobil melaju keluar dari area parkir apartemen, Valeria langsung meledak, “Ini udah kebangetan, Zoy. Dua miliar, dan hasilnya begini? Dinding ngelupas, pipa bocor, lampu mati di koridor, bahkan handle pintu longgar! Mereka pikir pembeli nggak bakal sadar apa?”
Zoya diam, matanya fokus ke jalan. Ia tahu, lebih aman membiarkan Valeria mengeluarkan semua uneg-unegnya dulu.
“Lo tau nggak,” lanjut Valeria, suaranya meninggi, “kalau Rafael tadi nahan diri buat nggak ngomong kasar. Gue bisa liat dari caranya ngegenggam meja. Gue bener-bener malu, Zoy. Goldenova bisa hancur gara-gara satu proyek yang dikerjain asal!”
Zoya menyalip pelan, lalu nyeletuk, “Terus lo mau gimana?”
“Semua orang lapangan suruh kumpul di Emerald Tower sore ini,” jawab Valeria tanpa pikir panjang. “Gue nggak peduli mau mereka lagi di proyek mana, suruh datang. Site engineer, mandor, kepala proyek—semua. Dan jangan lupa, bawa laporan material asli, bukan yang udah disunting buat laporan presentasi!”
“Siap, Bu Singa,” goda Zoya pelan, meski pandangannya tetap lurus.
Valeria mendengus, tapi matanya berkilat tajam. “Singa masih mending, Zoy. Mereka bakal liat langsung gimana bentuk amarah orang yang udah capek nutupin kesalahan timnya.”
Mobil terus melaju menuju kantor pusat Goldenova, sementara suasana di dalam mobil seperti medan tempur kecil—penuh tekanan, tapi di baliknya ada ketegasan seorang pemimpin yang nggak mau perusahaan jatuh cuma karena orang-orangnya malas mikir.
Mobil melaju cepat di jalan kompleks menuju arah kantor Goldenova ketika tiba-tiba—
“BRAK!”
Zoya menginjak rem mendadak. Kopi di cup holder muncrat, dan tubuh Valeria sedikit terdorong ke depan.
“Zoy! Apa-apaan sih—”
Belum sempat Valeria melanjutkan, matanya menangkap seorang gadis berlari menyeberang sambil tertawa, rambutnya berantakan ditiup angin. Gadis itu berhenti di tengah jalan, tampak panik sesaat sebelum seorang pria berlari menyusul dari arah berlawanan.
“Viona! Kamu nggak apa-apa?” suara pria itu terdengar jelas.
Valeria menajamkan pandangan. Gilang.
Lelaki itu mengenakan kemeja yang ia lihat semalam, napasnya sedikit tersengal tapi nada suaranya penuh perhatian. Ia menepuk bahu gadis itu—Viona, rupanya—dengan wajah khawatir yang tampak terlalu akrab.
Valeria mengerjap cepat. Sekilas, ada sesuatu yang menusuk di dadanya. Tapi ia buru-buru menarik napas panjang dan keluar dari mobil.
“Permisi,” suaranya dingin, datar tapi tegas. “Kamu sadar nggak kalau hampir ketabrak barusan?”
Viona menunduk, wajahnya memucat. “Ma—maaf, Bu. Saya nggak liat…”
“Kalau mau lari, jangan di jalan raya!” bentak Valeria tanpa meninggikan suara, tapi nada tajamnya cukup membuat gadis itu membeku.
Gilang sempat terdiam, jelas kaget melihat Valeria. Ia menatapnya sepersekian detik, seolah menimbang harus bicara atau berpura-pura tak kenal. Tapi Valeria lebih dulu memutus arah pandang. Ia menegakkan tubuh, menatap Zoya.
“Ayo. Kita masih punya urusan yang lebih penting.”
Zoya mengangguk cepat, menahan komentar.
Begitu Valeria masuk kembali ke mobil, ia menutup pintu agak keras. Dari kaca spion, ia sempat melihat Gilang berbicara lembut pada Viona, menenangkan gadis itu.
Zoya melirik sekilas, lalu bergumam, “lo kenal?”
Valeria menatap lurus ke depan. “Nggak. Cuma orang yang kebetulan lewat.”
Tapi jari-jarinya yang menggenggam tas di pangkuan sedikit mengeras.