"Jangan deket-deket gue! Inget, jarak lo satu meter." — Nicktan Megantara.
Nicktan adalah pembalap GT3 yang perfeksionis. Hidupnya diatur dengan ketat oleh ayahnya, Azeus, demi menjaga kondisi jantungnya yang sensitif. Segala bentuk "debaran emosional" adalah terlarang.
Lalu hadirlah Elea. Gadis agresif yang tak kenal takut dan hobi memancing emosi Nick. Satu tahun mereka terpisah oleh benua dan ego, Nick berubah menjadi aktor dingin yang hampa. Namun malam itu, di tengah sunyinya Jakarta, Nicktan menemukan kembali mangsa lamanya.
Sebuah kisah tentang pengabdian, rahasia keluarga Megantara yang terkubur selama dua dekade, dan perjuangan seorang pria yang mencintai wanita hingga ke titik jantungnya berhenti berdetak.
Visualisasi Nicktan terinspirasi dari Wang Yibo, namun seluruh alur cerita dan pengembangan karakter adalah murni fiksi karya penulis.
#wangyibo
Novel ini adalah Season 2 dari novel "Owned By Azeus"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Getaran di garis start
Suasana di dalam pit box terasa begitu intens. Aroma bensin dan ban yang memanas memenuhi udara, bersahut sahutan dengan deru mesin yang memekakkan telinga. Nicktan Megantara sedang dalam mode profesionalnya. Ia berdiri tegak, membiarkan dua kru menyesuaikan setelan baju balap kulitnya agar melekat sempurna.
"Tekanan ban depan oke?" tanya Nick dengan nada rendah dan serius.
"Sesuai permintaan lo, Nick. 2.1 bar," jawab mekanik sambil menunjukkan tablet data.
Nick mengangguk singkat, lalu duduk di atas jok motornya. Ia membungkuk rendah, mengecek throttle dan tuas rem dengan gerakan presisi. Saat salah satu kru melontarkan lelucon tentang setelan mesin, Nick tertawa singkat. sebuah pemandangan langka yang menciptakan aura gagah yang tak terbantahkan.
Di kejauhan, sekitar tiga meter di belakang kerumunan, Elea berdiri mematung. Ia menyelinap masuk. Dari balik punggung orang-orang, ia menatap Nick tanpa berkedip.
"Gila... keren juga kalau lagi serius begitu," bisik Elea pada dirinya sendiri.
Melihat Nick di dunianya sendiri terasa jauh berbeda dengan foto baliho yang kaku. Di sini, Nick terlihat seperti raja yang berkuasa atas aspal. Aura dingin yang biasanya menyebalkan kini berubah menjadi karisma maskulin yang sangat kuat.
CLACK!
Nick menarik turun visor helmnya, menutup wajahnya sepenuhnya. Mesin menderu garang, dan dalam hitungan detik, Nick melesat keluar dari pit lane. Kecepatannya fantastis, hanya meninggalkan garis cahaya samar dan suara ledakan angin. Elea mengikuti gerakan motor itu hingga menghilang di tikungan pertama.
Sepuluh menit berlalu. Kaki Elea mulai pegal. Ia celingukan mencari teman-temannya, tapi sadar area ini terlarang bagi mereka. Saat ia berniat untuk balik ke parkiran, sebuah tangan tiba-tiba menarik lengannya.
"Mau kemana? Penonton kehormatan nggak boleh pulang duluan," celetuk Ardan dengan seringai penuh rencana.
Elea tersentak. "Eh? Gue pegel, Kak. Lagian nggak ada temen di sini, gue dikacangin."
"Sini ikut gue. Di sini lo bisa liat dia lebih jelas, adem lagi," Ardan tidak melepaskan genggamannya, menuntun Elea menuju sebuah ruangan kaca yang lebih tinggi dari area pit.
Begitu pintu geser otomatis terbuka, udara dingin dari AC langsung menyambut. Team Hospitality Unit. Ruangan mewah ini kedap suara dan memiliki monitor raksasa yang menampilkan sudut pandang kamera dari helm Nick.
"Duduk di sini. Nick bakal masuk sebentar lagi buat sesi istirahat pertama," Ardan menunjuk sofa empuk. "Lo tunggu, jangan kemana-mana kalau nggak mau gue tagih ganti rugi mobil tiga miliar itu sekarang juga."
"Dasar tukang palak," gerutu Elea, tapi ia tetap duduk manis. Matanya terpaku pada layar monitor. Kecepatan Nick menyentuh 290 km/jam. "Gila... dia nggak takut mati apa ya?"
15 menit kemudian, pintu ruangan terbuka. Nick melangkah masuk dengan napas memburu. Ia sudah melepas helm dan sarung tangannya, membiarkan rambutnya yang basah oleh keringat menutupi dahi. Tanpa melihat sekitar, ia langsung menuju meja dispenser.
Ehem.
Elea berdehem kecil sambil berdiri dengan percaya diri, menghalangi pandangan Nick ke arah air.
"Kakak Pembalap... haus ya?" tanya Elea sambil menyodorkan botol air mineral yang sudah ia buka tutupnya.
"ANJING!"
Nick tersentak hebat sampai hampir menabrak meja di belakangnya. Ia membeku, botol di tangannya nyaris terlepas. Matanya melotot tajam menatap Elea yang berdiri santai di depannya.
"Lo... ngapain di sini?!" tanya Nick dengan suara serak, berusaha mati matian menahan detak jantungnya yang kembali mengalami glitch parah.
"Nungguin lo lah. Emang lo pikir gue di sini mau nyapu?" jawab Elea enteng. "Udah minum dulu. Muka lo udah kayak ban gosong, kaku banget."
Nick menelan ludah, lalu menatap wajah gadis itu. "Gue tanya... siapa yang izinin lo masuk ke ruangan pribadi gue?"
"Tuh, temen lo yang minta ganti rugi 3 miliar," Elea menunjuk ke arah pintu dengan jempolnya.
Nick mengumpat dalam hati. Ardan sialan. Ia meneguk air dalam botol dengan gerakan kaku, berusaha menghindari sentuhan kulit dengan Elea. "Keluar. Gue mau istirahat."
"Galak banget sih? Padahal tadi pas di sirkuit gue puji-puji loh kalo kakak pembalap itu keren banget," Elea justru mendekat, membuat Nick terpaksa mundur hingga punggungnya menabrak dispenser. "Kenapa? Salting lagi ya liat gue?"
"Gak. Gue cuma gerah," kilah Nick cepat. Ia menenggak air itu dengan rakus, mencoba mendinginkan suhu tubuhnya yang mendadak naik drastis.
"Masa gerah? AC-nya dingin gini kok," Elea menyeringai, matanya menatap intens ke arah Nick. "Atau... kakak pembalap masih kepikiran kejadian di parkiran tadi?"
UHUK!
Nick Tersedak air yang baru saja diminumnya. Ia terbatuk-batuk dengan wajah yang kini lebih merah daripada baju balapnya. "Lo..!!. diem nggak?! Pergi sana!"
"Tuh kan, beneran kepikiran," Elea tertawa renyah, merasa sangat puas bisa merusak ketenangan sang pembalap pro. "Gue nggak bakal pergi sampai lo bilang makasih karena gue udah nungguin lo di sini."
Nick menatap Elea dengan tatapan sebal yang dicampur kegemasan yang luar biasa. Ia merasa sistem pertahanannya benar-benar sedang berada di ujung tanduk. "Makasih. Sekarang keluar," ucapnya sangat kaku.
"Nggak tulus. Ulangi!" tantang Elea.
Nick mengerang frustrasi, menutup wajahnya dengan sebelah tangan. Bagaimana bisa ia fokus latihan jika gangguan secantik ini ada di dalam markasnya sendiri?