NovelToon NovelToon
Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Trauma masa lalu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Pintu tertutup rapat, menyisakan Kyai Umar dan Humairah dalam keheningan yang menyesakkan.

Humairah tidak lagi mampu menahan bendungan air mata yang sejak tadi ia bendung di depan ayahnya.

Ia menangis sesenggukan, tubuhnya yang lemah berguncang hebat di balik selimut rumah sakit.

"Tumpahkan semuanya, Nak. Anggap Abah adalah tempatmu mengadu," ucap Kyai Umar lembut, suara kebapakannya menjadi pembuka kotak luka yang selama ini terkunci rapat.

Dengan suara yang terputus-putus oleh isak tangis, Humairah mulai bercerita.

Ia menceritakan bagaimana malam pertama yang seharusnya menjadi awal ibadah, justru menjadi awal dari neraka dunianya.

"Abah, sejak malam pertama, Ustadz Fathan sudah menegaskan bahwa saya tidak lebih dari sekadar tulisan di atas kertas. Beliau mengharamkan saya mengharapkan hatinya," Humairah terisak, mengingat dinginnya tatapan Fathan saat itu.

Ia menceritakan bagaimana setiap hari ia harus menelan hinaan dari Nyai Latifah tanpa pembelaan sedikit pun dari suaminya.

"Saya dianggap beban, Abah. Saya dianggap wanita yang tidak pantas bersanding dengan putranya yang terhormat. Dan Ustadz Fathan, beliau hanya diam. Beliau membiarkan saya diperlakukan seperti pelayan di rumah itu."

Puncaknya, Humairah menceritakan kejadian mengerikan sebelum ia jatuh sakit.

Suaranya gemetar hebat saat menceritakan bagaimana Fathan menuduhnya sebagai wanita murahan—hanya karena dendam masa lalu Fathan pada wanita lain yang sama sekali tidak ia kenal.

"Beliau mendorong saya, Abah. Beliau menghina kehormatan saya dengan kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh seorang suami, apalagi seorang guru agama. Saya dituduh berpura-pura, dituduh sengaja menggoda untuk mencari perhatian."

Humairah menyentuh perban di keningnya dengan tangan yang bergetar.

"Luka di kening ini akan sembuh, tapi luka di hati saya karena disebut 'wanita murahan' oleh suami sendiri, itu tidak akan pernah bisa hilang, Abah. Saya merasa jiwaku sudah mati di tangan Ustadz Fathan."

Ia juga menceritakan betapa ia merindukan pendidikan dan dunianya, namun ia simpan semuanya demi menjadi istri yang patuh, meski kepatuhannya justru dibalas dengan siksaan batin yang luar biasa.

Ia merasa seperti janda yang memiliki suami—ada namun tak pernah melindungi, hadir namun selalu menyakiti.

Kyai Umar hanya bisa mendengarkan dengan hati yang hancur.

Beliau tidak menyangka bahwa menantu yang ia pilihkan untuk putranya harus melewati penderitaan sedalam itu.

Setiap kata yang meluncur dari bibir Humairah terasa seperti tamparan bagi Kyai Umar, yang merasa telah gagal menjaga amanah dari sahabatnya sendiri.

Kyai Umar menghela napas panjang, tatapannya yang sedih menatap langit-langit kamar rumah sakit seolah sedang mencari kekuatan dari Sang Khalik.

Beliau meraih jemari Humairah yang masih bergetar, menggenggamnya dengan penuh kasih sayang seorang ayah.

"Nak, Abah paham pedihnya hatimu. Luka yang kamu bawa bukan sekadar luka fisik, tapi luka martabat," ucap Kyai Umar dengan nada rendah yang menenangkan.

"Namun, ketahuilah, pernikahan adalah mitsaqan ghalizha—perjanjian yang sangat berat di mata Allah. Meskipun perceraian itu halal dan dibolehkan, tapi itu adalah satu-satunya perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah. Arsy-Nya berguncang saat satu ikatan suci terputus."

Kyai Umar menatap lurus ke dalam mata Humairah yang masih basah.

"Fathan memang telah melakukan kesalahan besar, ia sedang buta oleh masa lalunya. Tapi, maukah kau menjadi wasilah hidayah baginya? Berikan ia ruang untuk melihat kebenaran yang selama ini tertutup egonya."

Humairah terdiam cukup lama. Ia menarik napas panjang, mencoba mengisi rongga dadanya yang terasa kosong, lalu perlahan menghapus air mata di pipinya dengan ujung jemarinya. Ketegasan muncul di wajah pucatnya.

"Baik, Abah. Satu kesempatan lagi," ucap Humairah dengan suara yang kini lebih stabil, namun penuh penekanan.

"Tapi, jika Ustadz Fathan masih tetap seperti ini—masih menghina saya, masih mendiamkan kezaliman ibunya, dan tidak menganggap saya sebagai manusia. Abah harus berjanji untuk tidak menghalangi saya pergi. Abah harus melepaskan saya tanpa syarat."

Kyai Umar tertegun, lalu menganggukkan kepalanya dengan mantap.

"Abah berjanji. Jika dia mengulanginya, Abah sendiri yang akan mengantarmu kembali ke rumah orang tuamu."

Kyai Umar kemudian berjalan menuju pintu dan membukanya.

Kemudian Beliau memanggil Abi Sasongko dan Fathan untuk masuk.

Fathan melangkah dengan tubuh lemas, wajahnya tertunduk dalam, tak berani menatap brankar istrinya.

Di dalam kamar yang kini kembali penuh, Kyai Umar berdiri tegak di antara mereka.

"Sasongko, Fathan. Humairah telah menunjukkan kemuliaan hatinya. Dia bersedia memberikan satu kesempatan lagi untuk pernikahan ini," ucap Kyai Umar.

Mendengar itu, Fathan mendongak dengan binar harapan yang rapuh di matanya. Namun, kalimat Kyai Umar belum selesai.

"Tapi ada syaratnya, Fathan. Kesempatan ini adalah yang terakhir. Jika sekali lagi kamu menyakiti perasaannya, jika sekali lagi kamu membiarkan dia menangis karena lisanmu atau lisan keluargamu, maka detik itu juga hubungan kalian berakhir. Humairah bukan milikmu untuk kamu injak-injak, dia adalah amanah yang jika kamu sia-siakan, maka kamu berhadapan langsung dengan Abah dan Allah."

Fathan jatuh berlutut di samping tempat tidur Humairah, mencoba meraih tangan istrinya, namun Humairah tetap diam mematung, menatap kosong ke depan seolah kesempatan ini hanyalah sebuah masa percobaan yang sangat dingin.

Kyai Umar menepuk bahu Abi Sasongko dengan pelan, seolah memberikan kode agar pria itu memberikan ruang bagi pasangan muda di depan mereka.

"Sasongko, mari kita ke kantin sebentar. Biarkan mereka bicara, kita juga butuh sedikit asupan untuk menjaga tenaga," ajak Kyai Umar dengan nada bijak.

Abi Sasongko sempat melirik tajam ke arah Fathan, seolah memberikan peringatan terakhir sebelum akhirnya mengangguk dan melangkah keluar bersama Kyai Umar.

Kini, kamar itu kembali hening. Hanya ada bunyi detak jam dinding dan desah napas yang berat. Fathan menarik kursi, duduk perlahan di samping ranjang istrinya.

Ia menatap tangan Humairah yang terbebat selang infus dengan perasaan hancur.

"Humairah..." panggil Fathan lirih. Ia mencoba meraih jemari istrinya, namun Humairah menariknya pelan, menyembunyikannya di balik selimut.

"Terima kasih, sudah memberiku satu kesempatan lagi. Aku berjanji akan memperbaiki semuanya," ucap Fathan dengan suara parau, matanya berkaca-kaca menatap wajah pucat wanita yang dulu ia abaikan itu.

Humairah tidak menoleh. Ia tetap menatap lurus ke arah jendela, bibirnya melengkung membentuk senyuman hambar yang penuh sindiran.

"Jangan terlalu percaya diri, Ustadz. Jangan berpikir kesempatan ini datang karena aku masih memiliki sisa cinta atau rasa hormat untukmu."

Fathan tertegun, dadanya terasa sesak mendengar nada bicara istrinya yang begitu dingin.

"Aku hanya tidak mau langit Arsy berguncang karena perbuatan seorang ustadz yang mengaku paham agama tapi gagal menjaga lisannya," lanjut Humairah tajam.

Matanya kini beralih menatap Fathan, namun tak ada lagi binar kekaguman di sana, yang ada hanyalah kehampaan.

"Aku memberimu kesempatan karena aku menghargai Abah, bukan karena aku menghargaimu. Bagiku, kamu masih pria yang menyebut istrimu sendiri sebagai wanita murahan. Jadi, jangan harap aku bisa kembali menjadi Humairah yang dulu, yang selalu menunggumu dengan senyum di depan pintu."

Setiap kata yang keluar dari bibir Humairah terasa seperti duri yang menusuk ulu hati Fathan.

Ia sadar, meski fisiknya diizinkan tinggal, hati Humairah telah ia kunci rapat-rapat di balik tembok yang ia ciptakan sendiri.

"Makanlah buburmu, Ustadz. Jangan sampai kau ikut sakit, nanti orang-orang akan berpikir aku istri yang tidak berbakti lagi," sindir Humairah lagi sebelum memejamkan matanya, mengakhiri percakapan yang terasa lebih menyakitkan daripada keheningan.

1
Mundri Astuti
gitu dong kyai tegas jadi laki, jangan diem bae bininya dzolim, lagian y umimu ga tau terimakasih sama Humairah dah ditolongin anaknya
Dede Dedeh
tah kitu atuh abah tegas,, dasar mak lampir rasakn......
Mundri Astuti
lagian udah nikah masih nyampur bae sama ortu Fathan, palagi sama modelan umimu
Fitra Sari
lanjut KK doubel upp 🙏
Mundri Astuti
kyai Umar juga ga bisa ngedidik istrinya ... bukan anak"nya doang yg salah
Fitra Sari
lanjut KK
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
keynara
update lagi thor makin seru 🙏
keynara
update lagi thor🙏
keynara
nah akhirnya Humairah tegas nyesal nggak tu ustadz Fathan..
Yensi Juniarti
nah begitulah harusnya kau bersikap Humairah...
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
Yensi Juniarti
penyesalan mu tak berguna Fatan... udah kalau aku JD Humairah ya mending pisah Ajja...
dari pada dari pada..
Yensi Juniarti
kasih karma instan aja si laki modelan begitu ya...
Yensi Juniarti
tinggal minggat Ajja neng laki modelan begitu mah buang Ajja ke pemambunagn sampah
keynara
aduh nyai sihir udah menyiapkan rencana semoga hati humaira lebih kuat lg💪😭
keynara
nyai sihir sama ustadz Fathan mulutnya pengin tak gosok pake cabe🤣🤣
lanjut thor🙏
Yensi Juniarti
kena azab instan Ajja si laki modelan begitu...
keynara
nyai Latifah seorang istri kyai sukanya menghina Jan tak patut tak patut
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
Yensi Juniarti
ya Allah...
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭
Yensi Juniarti: saya selalu sabar dan selalu standby 🤭🤭🤭
total 2 replies
Arga Putri Kediri
bagus
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Himna Mohamad
sdh mampir baca kk
my name is pho: Terima kasih kak🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!