"Orang lama menang karena sejarah, tapi orang baru menang karena masa depan."
Azeant Apolo-valerio kehilangan cintanya, namun menemukan kembali harga dirinya. Kata "Putus" dari Claudia Astor seharusnya menjadi akhir, namun bagi pewaris tunggal keluarga Valerio ini, itu hanyalah sebuah awal dari pembebasan.
Apolo adalah pria yang hidup dalam presisi rumus teknik, namun ia gagal menghitung variabel ego seorang wanita yang hanya haus akan validasi.
Segalanya berubah saat sebuah notifikasi dari aplikasi kencan masuk, membawa nama Veronica Brooklyn.
Gadis itu adalah anomali; dia tidak memuja ketampanan Apolo, malah menantangnya dengan kejujuran yang Brutal.
Veronica hadir bukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Claudia, melainkan untuk menciptakan standar baru yang tak pernah Azeant Apolo-valerio bayangkan sebelumnya.
Apolo belajar bahwa terkadang, orang yang datang paling akhir adalah satu-satunya yang layak menjadi yang pertama.
🦋
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#9
Pagi di gedung Fakultas Manajemen selalu memiliki aroma yang sama: campuran antara parfum mahal, kopi latte yang baru diseduh, dan ketegangan kompetitif antar mahasiswa.
Namun, di barisan kursi tengah, suasana jauh lebih panas daripada biasanya. Bukan karena materi kuliah Manajemen Strategi yang akan disampaikan, melainkan karena teriakan histeris seorang Theana.
"OH, TIDAK! Apa dia benar-benar se-powerful itu sampai pagi?!"
Suara Theana menggema di ruang kelas yang langit-langitnya tinggi, membuat beberapa mahasiswa yang sedang asyik dengan tablet mereka menoleh serentak.
Veronica refleks menutup mulut sahabatnya itu dengan telapak tangan, wajahnya memanas bukan karena malu, tapi karena ia tahu betapa tajamnya telinga para "serigala" di kelas ini.
Veronica baru saja membisikkan ringkasan malam keduanya bersama Azeant. Ia mengangguk pelan, memberikan konfirmasi kecil yang membuat mata Theana hampir keluar dari kelopak matanya.
Dari sudut matanya, Veronica bisa melihat beberapa gadis populer di barisan belakang—kelompok yang selalu menghinanya sebagai "anak panti asuhan"—menatapnya dengan pandangan sinis yang menusuk. Mereka mungkin menganggap Veronica sedang membicarakan hal yang tidak pantas, padahal mereka sendiri sering membicarakan hal serupa dengan bumbu kemewahan yang palsu.
"Kau gila, Vea. Benar-benar gila," bisik Theana setelah Veronica melepaskan tangannya. "Tapi tunggu... bicara soal pria perkasa, kau tahu tidak? Si Apolo, tadi pagi dia dikejar-kejar lagi oleh Claudia di depan lobi utama. Drama mereka benar-benar tidak ada habisnya."
Veronica mengerutkan kening, mencoba menggali ingatannya. "Siapa Apolo?"
Theana memutar bola matanya dengan gemas. "Apel! Si Apel, Veronica! Pria Bangsawan dari kelompok B5 itu. kau ini memang keterlaluan, bagaimana bisa kau selalu melupakan nama pria paling tampan di universitas ini?"
Veronica mengedikkan bahu. "Aku tidak tertarik pada apel atau buah-buahan lainnya di kampus ini, Thea."
Theana mendengus, lalu wajahnya berubah menjadi ekspresi yang sangat mesum—ekspresi yang sudah menjadi ciri khasnya.
"Uhhh... he has a big dick!" ucapnya dengan suara rendah namun penuh penekanan gila.
Veronica menganga, nyaris tersedak air mineral yang baru saja diteguknya. "Astaga, Theana! Dari mana kau tahu ukurannya sebesar itu? Kau sudah pernah melihatnya?!" tanya Veronica dengan nada polos yang jarang ia tunjukkan.
"Nebak saja," jawab Theana santai sambil mengangkat bahu. "Dilihat dari celananya yang sering ketat di bagian itu... kau tahu kan, anatomi pria tidak bisa berbohong. Tonjolan itu bicara banyak, Sayang."
Veronica menggelengkan kepala berkali-kali. Temannya yang satu ini memang jagonya berpikir mesum.
Namun, sedetik kemudian, Veronica terdiam. Ia baru menyadari sesuatu yang mengerikan: dirinya sendiri tidak jauh berbeda.
Sejak tadi malam, pikirannya tidak bisa berhenti membayangkan bagaimana cara agar pada pertemuan ketiga nanti, ia bisa mencoba berbagai gaya baru bersama Azeant. Ia memikirkan bagaimana rasanya jika mereka melakukannya di balkon apartemen Tribeca yang menghadap lampu kota, atau mungkin di atas meja marmer dapur.
"Dasar gila... semua orang di New York sudah gila," gumam Veronica pada dirinya sendiri.
Di sisi lain kampus, tepatnya di sebuah gazebo eksklusif dekat danau buatan Fakultas Teknik, suasana jauh lebih melankolis.
Rombongan B5 sedang berkumpul, namun kali ini keriuhan Sander dan Dorian sedikit mereda karena melihat wajah Ailen yang tampak mendung.
Ailen duduk menyandar, menatap kosong ke arah air danau. Ia baru saja menceritakan betapa sulitnya ia untuk move on dari mantan kekasihnya saat SMA.
Selama ini, Dorian dan Sander selalu bertanya-tanya, siapa gadis yang sanggup membuat seorang Ailen—pria yang ditaksir ribuan wanita—menjadi seorang pertapa cinta.
"Aku benar-benar tidak bisa melupakannya," lirih Ailen. "Setiap sudut kota ini, setiap aroma parfum tertentu, selalu membawaku kembali padanya."
Gavin, yang biasanya sibuk menebar pesona pada mahasiswi yang lewat, tiba-tiba menoleh dengan tatapan liar yang nakal. "Tunggu dulu, Len. Jangan bilang alasanmu se-melankolis ini karena... apa dia orang pertama yang kau tiduri?"
Deg.
Pertanyaan itu menghantam suasana seperti bom. Sander dan Dorian langsung menegakkan punggung, sementara Apolo, yang duduk di samping Ailen sambil mengotak-atik ponselnya (mungkin menunggu pesan dari 'Vea'), tidak tampak kaget. Apolo sudah terbiasa dengan kegilaan sahabat-sahabatnya.
Ailen terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Hanya dia... hanya dia wanita yang pernah naik ke ranjangku."
"HOOOOOOOO!"
Sander dan Dorian berteriak serentak, membuat beberapa burung yang bertengger di pohon terbang ketakutan.
"Luar biasa Ailen kita! Ternyata ini alasannya dia menolak semua gadis cantik di fakultas seni!" seru Sander sambil memukul meja. "Ternyata dia sedang menjaga kesetiaan pada pengalaman pertama!"
"Di mana dia sekarang?" tanya Dorian dengan antusiasme yang meledak-ledak. "Apa dia di Paris? Sedang sekolah model di Milan? Atau di Amsterdam bersama para seniman gila?"
Ailen menatap sahabat-sahabatnya satu per satu, lalu menghela napas panjang. "Dia satu kampus dengan kita."
"WHAT?!" Teriak mereka bersamaan, bahkan Gavin sampai menjatuhkan kacamata hitamnya.
"Siapa dia? Apa dia seorang model terkenal di sini? Apa dia anak profesor Psikologi yang galak itu? Atau mahasiswi kedokteran yang jarang keluar lab?" cecar Sander. "Jawab, brengsek! Jangan biarkan kami mati hampa karena penasaran!"
Ailen hanya menggelengkan kepala, enggan membuka identitas gadis itu lebih jauh. Ia tahu jika ia menyebutkan nama gadis itu, suasana kampus akan menjadi kacau balau, dan ia belum siap untuk itu.
Apolo, yang sejak tadi hanya menjadi pendengar pasif, akhirnya meletakkan ponselnya. Ia melihat betapa rapuhnya Ailen saat ini.
Tanpa sepatah kata pun, Apolo mengulurkan tangannya dan memeluk bahu sahabatnya itu dari samping—sebuah gestur dukungan khas pria yang tenang. Ia tidak ikut mendesak, ia tidak ikut berteriak. Ia hanya ingin Ailen tahu bahwa mereka ada di sana.
"Biarkan dia bicara saat dia siap," ucap Apolo pendek, suaranya yang bariton dan stabil langsung menenangkan keriuhan Sander dan yang lainnya.
Sander mendengus kecewa, namun ia menghargai kata-kata Apolo. "Baiklah. Tapi kau, Ailen... kau berhutang satu cerita lengkap pada kami."
Apolo tersenyum tipis, matanya kembali melirik ponsel. Di sana, belum ada balasan dari Vea. Ia meraba dadanya, tepat di balik kemeja mahalnya, di mana tanda baru kemerahan buatan Vea masih ada di sana. Ia berpikir, apakah dirinya juga akan berakhir seperti Ailen? Terjebak dalam ingatan tentang wanita pertama yang memberikannya rasa "hidup" yang sebenarnya?
Ia melihat Ailen yang hancur karena masa lalu, dan ia melihat dirinya sendiri yang sedang membangun masa depan yang penuh rahasia dengan seorang anonim.
Di Universitas New York yang megah ini, setiap orang memiliki medan perangnya masing-masing. Ailen berjuang melawan kenangan, sementara Apolo sedang berjuang melawan kecanduan.
Dan di gedung Manajemen, Veronica Brooklyn baru saja memberikan jari tengahnya kepada seorang pria yang mencoba menggodanya, sama sekali tidak menyadari bahwa di balik gazebo teknik, pria yang ia sebut "Apel" sedang memeluk sahabatnya dalam keheningan yang penuh rahasia—rahasia yang suatu saat akan mempertemukan mereka dalam ledakan yang tak terelakkan.
"Thea, berhenti memperhatikan celana orang lain," ucap Veronica ketus saat mereka berjalan keluar kelas.
"Tapi Vea, kau harus mengakui kalau bayangan itu benar-benar—"
"Tutup mulutmu!"
Veronica mempercepat langkahnya, merasa detak jantungnya sendiri berkhianat. Ia memikirkan Azeant. Ia memikirkan malam ketiga. Dan ia tidak tahu, bahwa Azeant yang ia inginkan adalah Bangsawan yang baru saja menunjukkan sisi kemanusiaannya di bawah pohon mapel kampus.