NovelToon NovelToon
Beyond The Contract

Beyond The Contract

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Agatha soul

Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Beberapa hari telah berlalu sejak insiden malam itu. Aku sengaja tidak mencari gara-gara atau mengulur waktu saat Aruna mengantarkan berkas ke ruanganku. Ada sedikit rasa kasihan yang terselip di hatiku mengingat betapa hancurnya dia malam itu setelah putus cinta. Aku memberikan gadis itu ruang untuk bernapas, membiarkannya menyelesaikan urusan administrasi tanpa perlu pulang dengan mata sembab lagi karena diamuk Danu.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama karena sebuah badai besar justru menghantam ruang kerjaku sendiri.

Ariana, melakukan kesalahan fatal yang tidak bisa ditoleransi. Dia salah menginput data krusial dalam kontrak kerja sama bernilai miliaran rupiah dengan investor asing, dan parahnya, dia mencoba memalsukan tanda tangan verifikasi untuk menutupi kelalaiannya.

Bagiku, tidak ada kesempatan kedua untuk sebuah ketidakjujuran. Hari itu juga, aku memecatnya tanpa pesangon tambahan.

Dampaknya langsung terasa. Tanpa adanya asisten yang menyaring jadwal dan mengurus dokumen masuk, tumpukan pekerjaan langsung menguras hariku. Aku menjadi sangat sibuk, bahkan tidak punya waktu sedetik pun hanya untuk sekedar memikirkan cara membuat Aruna kesal.

Kesibukan gila-gilaan yang berlangsung selama beberapa hari ini akhirnya menumbangkan pertahanan Gavin, sahabat sekaligus manajer operasional yang terpaksa ikut terseret arus kekacauan ini.

Malam ini, jam sudah menunjuk angka sepuluh. Suasana kantor sudah sepi, menyisakan ruang kerjaku yang masih terang benderang. Gavin duduk di sofa dengan dasi yang sudah ditarik longgar, penampilannya berantakan dengan lingkaran hitam di bawah mata karena ikut-ikutan lembur beberapa hari terakhir.

"Gue bisa gila kalau kayak gini terus, Yan!" gerutu Gavin frustrasi, melemparkan map laporan ke atas meja kopi dengan sisa tenaga yang dia punya. "Pekerjaan lo berantakan, dan imbasnya ke gue juga! Banyak agenda yang tertunda gara-gara lo gak ada asisten yang pegang kendali!"

Aku tidak beralih dari layar laptop, jemariku masih menari cepat di atas keyboard. "Gue lagi usahain beresin jadwal minggu ini, Vin."

"Usaha lo gak bakal cukup, Yan!" potong Gavin dengan nada meninggi karena terlanjur lelah. "Bulan depan lo ada dinas penting ke luar kota, Yan. Jadwal perjalanan, janji temu dengan klien di sana, belum lagi presentasi produk baru, siapa yang mau urus? Gue? Gak ya, tugas gue udah numpuk!"

Aku menghentikan ketikan jariku, memijat pangkal hidung yang terasa pening. Apa yang dikatakan Gavin ada benarnya. Menghadapi dinas luar kota tanpa asisten pribadi adalah tindakan bunuh diri.

"Besok gue bakal suruh orang HRD buat cariin lo asisten baru. Mau dari luar atau promosi internal terserah, yang penting minggu ini posisi itu harus terisi. Gue gak mau mati muda karena lembur tiap hari bantu urusin kerjaan lo," cerocos Gavin lagi, menyandarkan kepalanya ke bantalan sofa sambil memejamkan mata, tampak benar-benar kehabisan energi.

Mendengar ucapan Gavin tentang mencari asisten baru, entah mengapa otakku mendadak memutar kembali memori beberapa minggu yang lalu.

Hari pertama gadis itu bekerja di Aurora Corporation.

Karena sebuah kesalahpahaman konyol dan salah duga dia sekertaris baruku, Aruna yang sebenarnya staf biasa malah ditarik masuk ke dalam ruang rapat direksi bersamaku di hari pertamanya bekerja.

Sudut bibirku tanpa sadar terangkat tipis di tengah rasa frustrasi malam ini. Aruna memiliki ketelitian yang bagus, mental baja, dan yang paling penting, dia tidak pernah memandangku dengan tatapan penuh kepalsuan seperti wanita-wanita lain.

"Vin," panggilku tenang, membuat Gavin membuka matanya perlahan.

"Apa? Lo punya kandidat?" tanya Gavin gontai.

Aku menyandarkan punggung ke kursi, mengetukkan pulpen dengan irama konstan yang familiar. "Gak usah repot-repot buka lowongan baru ke HRD. Gue udah tahu siapa yang bakal gantiin posisi Ariana.”

Gavin langsung menegakkan posisi duduknya di sofa. Matanya yang tadinya sayu karena mengantuk mendadak berbinar cerah penuh rasa lega.

"Serius lo? Siapa? Bagus deh kalau lo udah punya kandidat, jadi gue gak perlu repot-repot nyaring berkas pelamar besok pagi," tanya Gavin bertubi-tubi dengan dahi berkerut penasaran.

"Aruna. Anak divisi administrasi," jawabku tenang sambil menutup layar laptop.

Mendengar nama itu, ekspresi lega di wajah Gavin langsung berganti dengan kerutan yang makin dalam. Dia menatapku seolah aku baru saja kehilangan akal sehat karena terlalu lama lembur.

"Aruna? Maksud lo staf admin junior yang baru masuk sebulanan itu?" Gavin memastikan dengan nada sangsi. "Setahu gue dari data HRD, dia itu cuma lulusan SMA, Ian. Lo gak salah pilih? Posisi asisten lo itu beban kerjanya tinggi banget, harus megang semua jadwal penting lo, kok malah milih admin junior yang baru masuk?"

Aku tersenyum tipis, menyandarkan punggung ke kursi kebesaran sembari memutar pulpen di jemariku.

"Lo ingat rapat besar sama investor dari Singapura di hari pertama dia kerja?" tanyaku memancing memorinya.

Gavin tampak berpikir sejenak sebelum mengangguk. "Iya, yang si Ariana telat karena ban bocor, kan? Oh... jadi cewek yang nemenin rapat hari itu si Aruna?"

"Iya, dia orangnya," ujarku membenarkan. "Hari itu ada kesalahpahaman konyol yang bikin gue salah sangka. Gue kira Aruna itu asisten baru yang dikirim lo."

Aku menjeda kalimatku sebentar, mengingat kembali bagaimana ekspresi panik namun penuh tekad dari gadis itu di ruang rapat.

"Dia memang gak bisa bahasa Inggris, bahkan sempat kebingungan pas investor Singapura itu tanya. Tapi lo lihat sendiri kan laporan operasional fisik yang dia pegang hari itu? Kerjanya sangat rapi, catatannya teliti, dan dia bisa menangkap poin-poin penting rapat dengan cepat meskipun dalam kondisi tertekan. Kemampuan adaptasinya sangat bagus."

Gavin terdiam, menimbang-nimbang penjelasanku. Sebagai manajer operasional, dia tahu persis kalau dokumen yang disiapkan Aruna memang tidak bercelah. Lulusan SMA atau bukan, kinerja nyata di lapangan jauh lebih penting.

Tanpa menaruh curiga sedikit pun tentang alasan lain di balik keputusanku, Gavin akhirnya menghembuskan napas lega dan mengangguk setuju.

"Oke, masuk akal. Kalau lo emang udah sreg sama cara kerjanya, gue gak bakal protes. Yang penting kerjaan gue gak makin numpuk," ujar Gavin sambil beranjak berdiri dari sofa dan menyampirkan jasnya di lengan.

"Besok pagi gue bakal langsung temuin orang HRD. Gue suruh mereka bikin surat pemindahan tugas resmi buat si Aruna. Biar dia bisa langsung pindah ke sini besok," lanjut Gavin sebelum melangkah menuju pintu keluar. "Gue pulang duluan, Ian. Jangan lembur terus..."

Begitu pintu tertutup rapat, aku kembali menatap deretan berkas di mejaku. Senyuman tipis yang sulit kutahan akhirnya terbit juga. Mari kita lihat gimana reaksi Aruna besok saat surat itu sampai ke tangannya.

1
Alia Chans
Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor nulisnya😍
Agatha soul: terima kasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!