"GADIS GILA! APA KAMU NGGA PIKIRKAN MASA DEPAN KAMU?!" bentak pemuda itu sambil menarik tangan Ana.
Ana memandang dengan takut tapi ia juga merasa lega karena sebenarnya, dia tidak berniat untuk bunuh diri.
Anabella Queena Tanaya, tidak pernah menginginkan wajah yang buruk rupa dan tidak memiliki teman itupun hanya bisa putus asa di atas atap apartemen yang sering ia kunjungi ketika merasa sedih.
Dua lelaki tampan datang ke hidupnya dan semuanya berubah dengan sangat drastis. "Apa aku bermimpi?"
Tekad gadis itu ingin jadi glow up, bukan main - main. Tahap demi tahap, bahkan ia berusaha menutupi luka masa lalu di sekolahnya yang lama, berbuah manis bahkan terlalu manis.
Tapi siapa sangka dengan dirinya yang sekarang, Ana malah dibuat bimbang dengan kejadian tak terduga di sekolah barunya.
Apa Ana akan bisa tetap menjadi Ana yang glow up tanpa ada yang tahu bahwa dia sebenernya korban pembullyan??
Atau ada seseorang dari masa lalunya yang mengetahui semua tentang Ana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Berliana Febbyola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 TRANSFORMASI ANA
Dalam mimpi itu, muncul laki - laki yang menolongnya saat di atap Apartemen tapi tak jelas wajahnya. Dan, ada laki - laki lain di sampingnya dengan mengenakan jaket kulit warna hitam, penampilan seperti geng motor dan menenteng helm di tangannya.
[Ana mengerjap, langsung membuka matanya.]
"MIMPI APA INI?!" teriak Ana, langsung memegang kedua pipinya, rasa tak percaya.
Apa yang gadis itu pikirkan tentang laki - laki yang menolongnya itu, seperti pertanda akan bertemu kembali.
Ana langsung beranjak dari tempat tidurnya dan masuk ke kamar mandi. Bersiap - siap untuk pergi ke mall, membeli makeup dan skincare yang sudah dia catat.
Di Mall, ia berjalan dengan gembira memilih warna lipstik, eyeshadow, cushion, primer yang cocok dengannya. Setelah mengunjungi beberapa toko dan membeli beberapa makeup, Ana langsung mengunjungi toko pakaian wanita.
"Wuah... Bajunya bagus."
"Kak... Ayolah, beli aku yang itu!" rengek gadis mungkin seusia dengan Raka adiknya.
"Baiklah tapi cuma kali ini aja ya. Aku bukan pelit, tapi baju-mu kan udah banyak." jawab laki - laki di sampingnya dengan penampilan yang mencolok jaket bomber, celana hitam panjang dan di telinganya membuat ia terkejut karena banyak sekali anting dan tindik.
"Buset.. kok cowoknya kayak berandalan? Kok dia mau sih, apa karena ganteng ya. Tapi.. emang putih sih tapi penampilannya itu lho." batin Ana yang pura - pura sedang memilih pakaian, ia taakan membelinya karena harganya sangat mahal.
"Aku beli jepit rambut aja deh, hehe" sahutnya sambil mengambil jepit rambut itu, tapi ada tangan lain yang juga menginginkan jepit rambut itu.
"Eh?!"
Saat ia melihat siapa orang yang menginginkan jepit rambut itu, berapa terkejutnya ia ternyata cowok berandalan yang tadi bersama gadis cantik itu.
"A-aku yang lebih dulu ngambil jepit rambutnya, Kak. Maaf bisa berikan itu?" sahut Ana.
Tatapan macam elang itu, tak berpaling darinya.
"Aku ingin membelikan ini untuk adikku. Lepaskan." sahutnya dengan nada datar.
"Tapi aku yang dulu liat jepit rambut itu, Kak." balas Ana tak ingin mengalah begitu saja.
"Aku akan membeli berapapun jepit rambut ini." jawabnya dengan suara yang makin mengerikan.
"Tapi.." belum selesai Ana bicara, laki - laki dihadapannya dipanggil oleh seorang gadis.
"Kak Nathaaann!!!! Sini, ada baju bagus buat ke pesta!" teriakan seorang gadis itu, membuat laki - laki itu membalikkan badan dan tanpa sadar mengambil jepit rambut.
Ana masih belum sadar karena melihat paras tampan laki - laki itu, terlihat laki - laki itu akhirnya sudah pergi dari hadapannya.
"Lah, jepit rambutnya." tersadar barang yang ia inginkan sudah diambil oleh laki - laki itu.
"Huft.. padahal aku suka sama jepit rambut itu." jawabnya kecewa.
__________________________
Sepulangnya dari Mall, Ana langsung pergi ke kamar dan menaruh belanjaan yang tadi ia beli.
"Huft, capek banget!"
Dreeettt...
Handphone-nya bergetar, terlihat pesan dari Citra. Dalam pesan tersebut tertulis :
('Kakak pulang larut malam ini ya. Kalau ada kurir paket, uangnya ada di lemari. Bye..')
Ana menghela nafas, "pasti paket alat gym lagi, hm.."
Ana langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian yang nyaman, mengikat rambut dan duduk dikursi melihat ke mejanya yang disulap jadi meja rias penuh makeup.
"Abracadabra... Tinggal satu sulap lagi. Sulap merubah wajah jadi cantik." pekiknya.
Setiap langkah cara makeup di video, ia lakukan dengan teliti dan sesuai.
Sampai pada akhirnya...
Mata yang dulu seperti panda, kita tampak lebih indah dengan makeup natural yang cocok dengannya.
"Dulu aku kayak badut di pesta ulang tahun, sekarang aku mirip boneka barbie hehe..." sahut Ana dengan percaya diri, puas dengan hasilnya.
"Gak sia - sia, aku beli ini semua dan nonton tutorial sampai larut malam." timpalnya.
Disaat kesenangan itu terjadi, tiba - tiba dari bawah terdengar suara barang yang pecah.
PRAAANGGG!!!
"Eh! Mak Oy! Suara apa itu?!" terkejut Ana sampai lompat dari kursi.
Dengan cepat bergegas turun, memeriksa apa yang terjadi.
Sesampainya di ruang tengah, terlihat Ayahnya sedang membersihkan pecahan piring dan Ibunya tampak duduk di sofa dengan ekspresi sangat marah.
"Rentenir itu datang ke Kedai-ku! Asal kamu tau, semua uang yang ada padaku diberikan untuk melunasi hutang orang tuamu itu!" geram Ibu, Ana hanya bisa terdiam tak berani mendekat takut ditelan bulat - bulat.
"A-aku nggak tau soal itu, sayang. Aku juga kaget orang tuaku punya hutang sebesar itu."
Belum selesai Jordi menjelaskan, Mikaila langsung berdiri dan menghampirinya.
"Sudah banyak orang tuamu menghinaku dulu. Tapi apa? Coba lihat sekarang, hutang - hutangnya harus kita yang membayar. Kurang apa aku?" nada itu terlihat sudah sangat muak.
"Raka pulang.." suara dari pintu depan, ternyata itu adiknya Ana yang baru saja pulang nongkrong.
Melirik ke arah Ana dan memberikan isyarat, "ada apa?"
Ana hanya menaikkan bahu, "Nggak tau."
"Rumah ini. Terpaksa aku jual, daripada Bisnisku hancur. Sekarang juga kemasi barang - barang kalian, dan tunggu Citra pulang. Setelah itu, Raka dan Citra juga pindah sekolah." tegas Ibu masih dengan tatapan marah.
"A-APA?! Nggak bisa gitu dong Bu! Aku nggak mau pindah sekolah!" tegas Raka menolak.
"Emangnya Ibu mau meninggalkan rumah impian ibu yang sekarang? Ibu terpaksa, kalau bukan karena ulah Ayahmu dan keluarganya, kita nggak akan pindah dari sini." sahut Ibu sambil melirik tajam ke arah suaminya.
Ana sedih tapi disisi lain ia senang, mungkin dari sini ia bisa menjadi dirinya yang sekarang tanpa mengingat kejadian masa lalu dan identitasnya yang dulu sebagai korban bullying.
Tapi Raka..
"Ayolah Bu. Jangan kayak gini penyelesaiannya." sahut Raka mencoba membujuk.
"Maaf Nak, tapi kalau bukan rumah ini terus kita mau bayar pakai apa lagi? Hutangnya 200 juta." jawabnya lagi, disitu Ayah masih berdiri sambil memegang sapu dan menunduk.
Jordi tampaknya sangat kesal dan tak menyangka, keluarganya bisa setega itu melemparkan tanggung jawab membayar hutang - hutang yang ia tak pernah tau.
"Bu. Raka nggak bisa pindah dari sini, Bu."
Ibu sempat terdiam dan tak lama ia hanya bisa menghela nafas dan menggeleng pelan.
Raka beranjak dari sofa, ia terlihat marah namun mencoba untuk tetap diam.
Dalam hati Ana, "Raka kayaknya nggak terima harus pindah sekolah dan rumah. Hm.."
Di dalam kamar, Raka menelfon seseorang dan suaranya seperti seorang perempuan.
"Nes, aku harus pindah sekolah. Ibu tiba - tiba paksa aku pindah sekolah karena ada urusan keluarga." sahut Raka
Suara wanita itu tampak sangat kesal dan membuat wajah Raka menjadi semakin merah padam, tapi tetap berusaha diam.
"Baik nes, nanti kita bicara lagi ya. Kamu jaga diri baik - baik." jawab Raka, lalu menutup telfon.
#Bersambung...