"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".
Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.
Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.
Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Tiba-tiba dada Kaenan terasa sesak, air mata nya luruh tak terbendung lagi.
"Ibu!… ibu!… Kae kangen ibu, Kae ingin di peluk ibu lagi!" bisik nya parau.
Bu Shanty menangis tergugu, hatinya terasa teramat perih, melihat anak yang terlahir dari rahim nya, justru merindukan wanita yang lain sebagai ibu nya.
"Yang penting adik sembuh dahulu, nanti kita sama sama menjenguk ibu ya" bujuk Aisyah.
Akhirnya tuan Irfan mengalah, mau mendengarkan nasehat Kiai Nuruddin, tidak memaksakan kehendak mereka pada Kaenan.
Meskipun tuan Irfan ingin memindahkan Kaenan ke ruang VVIP, namun Kaenan menolak nya.
Setiap hari Bu Shanty menjenguk Kaenan, mengajak anak muda itu bercengkrama, sambil menikmati buah buahan yang dia bawakan.
Begitu juga dengan Aisyah, hampir setiap hari dia menjenguk Kaenan, membersihkan tubuh anak muda itu dengan kain basah.
Bahkan acara penyerahan ijazah tanda kelulusan dan perpisahan pun tidak bisa dihadiri oleh Kaenan, karena dia masih di Rumah Sakit dalam rangka penyembuhan nya. Untung saja tidak ada tulang yang patah, karena mobil itu keburu terbentur tubuh bu Limah.
Teman yang lulus seangkatan, tidak ada yang datang menjenguk anak muda ini, hanya Syarif seorang yang datang.
Meskipun tuan Irfan dan Syafea membujuk Kaenan untuk tinggal bersama mereka, ditambah Kiai Nuruddin, ummi Nazeha dan Aisyah juga turut memberikan pengertian, namun jiwa terluka Kaenan tidak mudah melupakan apa yang telah mereka lakukan kepada nya.
"Kakak!, meski bukan di pondok, saya bisa tinggal dimanapun juga, asal jangan bersama tuan Irfan dan nona Syafea!" ucap Kaenan.
"Tapi nak, mereka kerabat dekat mu, pak Irfan ayah kandung mu, bu Shanty ibu kandung mu, kau tidak boleh menolak mereka, dosa nak!" bujuk Kiai Nuruddin.
"Maaf Kiai, saya tidak memungkiri semua itu, tetapi dengan mengakui mereka, bukan berarti saya bersedia hidup bersama mereka, biarlah saya hidup dengan diri saya sendiri, saya anak sampah, putra seorang wanita penderita gangguan jiwa, saya sudah menerima semua hujatan dan hinaan itu, biarkan saya dengan Dunia saya, jikapun Kiai sudah tidak mau menerima saya, saya akan mencari tempat lain yang mau menerima saya apa adanya" ucap Kaenan.
"Astaghfirullah nak!, tidak pernah terlintas sedikitpun di pikiran Abi tentang itu, Abi menerima diri mu apa adanya, Abi hanya meminta nak Kaenan mau memikirkan sekali lagi, walau bagai manapun juga, mereka orang tua mu yang sudah menjadi penyebab kau terlahir ke Dunia ini, jangan menjadi anak durhaka nak" ucap Kiai Nuruddin lagi.
Kaenan memutar kepala nya, menatap kearah sang Kiai.
"Kiai!… itu karena Kiai tidak berada di posisi saya, sakit tubuh saya masih terasa karena deraan dari siksaan mereka, suara lenguhan ibu saya saat terakhir kali nya pun masih saya dengar, pedih Kiai, tidak puas mereka memfitnah dan menghina saya, tubuh saya mereka sakiti, belum juga puas dengan itu, satu satu nya harta yang saya miliki direnggut dengan paksa, saya tidak bisa melupakan dengan begitu saja, kalaupun benar saya adalah putra mereka, maka hari ini saya mengakuinya, tetapi untuk hidup bersama mereka, saya tidak sanggup Kiai, suara jeritan ibu hingga detik ini masih saya dengar kiai, dan tahukan kiai, disaat saat terakhir, saya masih sempat melihat pria itu keluar dari mobil nya, membalik tubuh saya dengan kaki nya, lalu tertawa gembira sambil menelpon seseorang, saya yakin itu ada sangkut pautnya dengan mereka" suara Kaenan terdengar bergetar, menahan sesak di dadanya.
Tuan Irfan dan Syafea yang semula bersikeras ingin mengajak Kaenan pulang ke Rumah mereka, seketika terdiam. Apa yang telah mereka lakukan kepada anak ini memang sudah sangat keterlaluan sekali. Tak ada satupun manusia yang bisa membenarkan tindakan itu.
Syafea sebenarnya tahu, jika semua teman nya, baik laki laki atau perempuan, sangat suka menjahili Kaenan, berbuat keonaran, lalu mengkambing hitamkan Kaenan.
Yang aneh nya, dia malahan merasa senang dan sangat bangga jika bisa mempermalukan anak yang sebenarnya tidak pernah membuat masalah dengan nya itu. Bahkan selama ini berbicara saja mereka tidak pernah.
Setelah sepuluh hari di Rumah Sakit, akhirnya Kaenan pun diperkenankan pulang oleh dokter.
Meskipun secara diam diam, tuan Irfan telah membayar lunas semua biaya Rumah Sakit, Kaenan tidak terlalu perduli.
Siang itu, dengan di temani oleh Syarif, Kaenan datang ke pusara bersama dengan Aisyah.
Kaenan bersimpuh di samping pusara ibu nya, air mata nya jatuh deras membanjiri kedua pipi nya.
Masa masa terakhir kehidupan sang ibu, dimana saat itu dia untuk pertama kalinya merasakan kebahagiaan yang utuh, saat ibu nya bisa berpikir waras. Namun kebahagiaan itu terenggut begitu saja, sang ibu tewas dalam mempertahankan kehidupan putra nya.
Tanpa kata kata, tangis Kaenan terdengar pilu menyayat hati, membuat Aisyah tak kuasa menahan tangis nya.
Tidak terlalu jauh dari tempat itu, Syafea memperhatikan dari balik cungkup sebuah kuburan.
Hati nya terasa perih, dahulu dia sangat mendambakan kehadiran seorang adik, hingga dia sering merengek, meminta adik kepada mamah nya.
Hingga pada saat sang mamah hamil juga pada akhirnya, kebahagiaan itu terasa benar benar lengkap.
Namun setelah kehilangan itu, perlahan tapi pasti, pribadi Syafea mulai berubah sedikit demi sedikit, mudah marah, suka merajuk, dan lama kelamaan, menjadi manja, sombong, angkuh dan otoriter serta egois.
Air mata Syafea mengalir keluar, bayangan saat Kaenan tanpa sengaja mencium bibir nya, hal yang sebenarnya sudah dia ketahui jika itu adalah ulah Jhonatan, namun rasa dengki dengan prestasi anak muda itu, menutupi akal budi, dan pikiran nya, sehingga Dimata nya, apapun tentang Kaenan, selalu melahirkan rasa benci di hati nya.
Kini semua nya telah terjadi, anak muda ini telah menumbuhkan rasa kebencian luar biasa di dalam hati nya, ulah dari benih yang dia semaikan sendiri.
Syafea berlutut di sisi makam itu, terbayang bagai mana sulitnya hari hari yang dilalui adik nya selama ini, hidup dalam keterbatasan, ditambah tekanan dari luar yang datang menerpa nya seakan tidak mau berhenti. Hancur, benar benar hancur rasa hati Syafea, karma yang berbuah manis, sikap arogan, egois, sombong, justru memukul adik yang sejati nya orang yang paling di sayangi nya itu, manusia yang selalu hadir menghiasi alam angan angan dan khayalan nya selama ini.
Selama ini dia selalu berkhayal jika dia kelak bisa bertemu dan berkumpul kembali dengan sang adik.
Namun saat pertemuan itu terjadi jua, diri nya dan sang adik justru berada ditepi jurang yang berbeda, bukan sebagai kakak adik, tetapi sebagai dua orang seteru yang selalu ingin menghancurkan.
"Duhai langit!, teramat kejam takdir mu ini untuk ku" ratap Syafea tersedu di sisi pusara tempat nya berlindung.
Saat sang adik yang selalu dirindukan nya itu muncul, namun dia hanya bisa menatap seperti pelangi di langit, nyata di depan mata, namun jauh tak tersentuh tangan.
Rindu!… dia ingin berlari, lalu memeluk anak muda itu, serta bermain dan bercanda seperti dahulu lagi, namun kini, dia hanya bisa menatap dari kejauhan, meski bisa saling bertatapan, namun hadir sebagai dua orang yang saling membenci, bukan sebagai dua orang saudara yang saling menyayangi dan merindukan.
Disamping pusara Bu Limah, Kaenan masih menangis memeluk gundukan tanah merah itu, seperti malam itu dia tidur damai dalam pelukan bu Limah, malam malam terakhir bersama manusia yang memiliki kasih paling tulus itu.
Hujan yang turun tak dihiraukan Kaenan, hatinya terlampau perih, hanya air mata yang keluar mewakili rasa pedih kehilangan nya.
"Bu!, kenapa ibu tinggalkan Kae bu, seharusnya ibu ajak Kae saat itu, Kae ingin ikut ibu saja, Kae tidak perlu orang lain, Kae hanya ingin ibu… bu!… jangan diam saja bu, Kae rindu suara ibu, tawa ibu, Omelan Omelan ibu, datang dan jenguk Kae bu, walau hanya lewat mimpi mimpi Kae saja" tangis Kae terdengar kian memilukan.
Aisyah duduk di samping anak muda itu, tangan nya bergetar membelai rambut Kaenan.
"Bersabarlah dik, semua sudah ditentukan oleh Allah, tak ada satu mahluk pun yang mampu menghindar dari takdir yang sudah di gariskan oleh Allah, kita hanya bisa sabar dan ikhlas menjalani nya" ucap Kaenan disela tangis nya.
Kaenan mengangkat kepalanya, menatap wajah cantik jelita wanita yang selalu hadir disetiap senyum maupun air mata nya itu, wanita yang selalu berusaha menguatkan langkah nya yang goyah, wanita yang mau berbagi rasa disaat Dunia membenci nya.
Hancur hati Aisyah melihat tatapan mata Kaenan yang kuyu, tanpa ada semangat hidup lagi.
Tanpa memikirkan apapun lagi, di raih nya kepala anak muda itu, dilabuhkan nya kedada nya, berusaha berbagi kekuatan dan semangat hidup kembali.
Meskipun dahulu, saat Kaenan berusia sekitar tiga atau empat tahun, dan dia berusia enam atau tujuh tahun, memeluk dan mencium kedua pipi Kaenan hal yang biasa bagi nya. Namun menjelang Kaenan berusia remaja, rasa itu mulai berubah seiring waktu, ada debar aneh di dada nya, setiap kali dia dan Kaenan bersentuhan secara lebih intim.
Sejak saat itulah, dia mulai membatasi diri dari bersentuhan dengan Kaenan, sebagai seorang wanita yang agamis, dia mulai menyadari jika dihati nya mulai tumbuh rasa yang lain, selain rasa persaudaraan yang selama ini dia rasakan. Ada rasa antara dua insan berbeda gender, yang dalam tuntunan agama, tidak boleh dilakukan sebelum dihalalkan.
Tapi saat ini, melihat anak muda ini sangat terpuruk kedasar jurang yang teramat dalam, pertimbangan itu hancur lebur oleh rasa sayangnya yang teramat besar.
Kedua insan beda gender itu menangis sambil berpelukan, saling menguatkan hati masing masing.
"Adik tidak sendirian, kakak akan selalu hadir setiap waktu untuk adik, percayalah!, kepedihan adik adalah luka kakak, hati kakak hancur melihat air mata adik, ayo bangkit!, bangkitlah!, meski tertatih, tetaplah melangkah, pontang panting, jungkir balik sudah biasa, tetapi kakak mohon, tetaplah melangkah, jangan menyerah"....
Kaenan mengangkat wajah nya, menatap mata gadis cantik yang sedang berurai airmata itu, ada sedikit ketenangan di dalam dada nya, saat melihat ketulusan dari gadis cantik itu. Gadis yang selalu hadir menguatkan hati nya, di saat saat dirinya terpuruk kedasar.
...****************...