NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 ​Batas di Antara Dua Sisi

Dampak dari runtuhnya draf saham Prawijaya Group di bursa efek menyebar bagai api di tengah padang ilalang kering. Hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, manuver retaliasi dari Baskara Dirgantara berhasil memaksa Deon Prawijaya duduk di meja perundingan darurat. Namun, intervensi terbesar malam itu tidak hanya datang dari hantaman angka bursa, melainkan dari kehadiran sosok pria paruh baya berambut perak yang memancarkan wibawa mutlak Hendra Dirgantara, ayah kandung Baskara.

​Di dalam ruang VIP restoran tertutup di kawasan bisnis Jakarta, Hendra duduk berhadapan langsung dengan Deon. Atmosfer di dalam ruangan begitu berat, bahkan Vano yang berdiri di sudut ruangan tidak berani mengembuskan napas terlalu keras.

​"Kau sudah keterlaluan, Deon," ujar nya, suaranya tenang namun sarat akan nada memperingatkan yang mengintimidasi. "Menyusun draf hukum untuk melabeli putrimu sendiri sebagai orang yang tidak cakap secara mental hanya demi mengamankan koridor barat? Itu bukan taktik bisnis, itu tindakan pengecut."

​Deon mencengkeram cangkir tehnya, rahangnya mengetat sempurna menahan amarah yang telanjur membakar dadanya. "Ini demi stabilitas perusahaan, Hendra! Aruna selalu bertindak impulsif dan merusak aliansi yang kita bangun. Dia harus dikendalikan!"

​"Dia tidak butuh dikendalikan oleh ambisi butamu," potong Hendra dingin, matanya menyipit tajam menatap sahabat lamanya itu. "Baskara sudah menceritakan semuanya padaku. Aruna mengumpulkan draf audit itu karena dia melihat adanya pelanggaran kemanusiaan di lapangan. Sebagai seorang ayah, seharusnya kau bangga memiliki putri dengan integritas setinggi itu, bukan malah bertindak kasar dan mencoba menghancurkan masa depannya. Jika kau tetap keras kepala melanjutkan draf dokumen bodoh itu, Dirgantara Group akan memutus seluruh sirkulasi modal di semua lini Prawijaya Group secara permanen. Pikirkan baik-baik, Deon."

​Deon terdiam, napasnya memburu penuh amarah yang tertahan. Meskipun egonya yang keras kepala menolak untuk disalahkan, kalkulasi logikanya tahu bahwa melawan peringatan keras dari Hendra Dirgantara sama saja dengan menenggelamkan kerajaannya sendiri ke dalam jurang kebangkrutan mutlak. Dengan tangan bergetar, Deon akhirnya mengisyaratkan Vano untuk menarik mundur seluruh berkas eksekusi koridor barat. Masalah agraria itu resmi selesai malam ini, dipadamkan oleh ketegasan mutlak keluarga Dirgantara.

​Sementara badai korporasi di luar sana mulai mereda, suasana di dalam kamar perawatan VVIP rumah sakit justru diselimuti oleh keheningan yang teramat tenang. Aruna duduk bersandar di atas ranjangnya, menatap rintik hujan yang mengalir di balik kaca jendela besar. Selang oksigen tambahan sudah dilepas, menyisakan rona hangat yang perlahan kembali menghiasi paras piasnya.

​Pintu kamar diketuk dua kali secara konstan sebelum perlahan terbuka. Baskara melangkah masuk dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, membawa aura dominan yang anehnya kini tidak lagi terasa mengintimidasi bagi Aruna.

​"Masalah koridor barat sudah selesai. Ayahku sudah memastikan Deon menarik seluruh draf eksekusi dan membatalkan draf hukum manipulatif milik Vano," ujar Baskara datar sembari menarik kursi untuk duduk di sisi ranjang, menjaga jarak yang teratur.

​Aruna menoleh, menatap sepasang netra elang pria itu. Ada keheningan panjang di antara mereka sebelum Aruna akhirnya mengembuskan napas pelan. "Terima kasih, Pak Baskara. Dan... maaf karena saya sempat menuduh Anda semalam."

​Baskara menatapnya lekat, sudut rahangnya yang tegas perlahan melunak. "Aku tidak butuh maafmu, Aruna. Aku hanya ingin memastikan kau tidak lagi menempatkan dirimu di garis depan dengan kondisi fisik seperti ini."

​Sejak malam itu, dinamika di antara keduanya perlahan mulai bergeser. Baskara tidak lagi menampilkan sosok dosen berdarah dingin dari London ataupun CEO arogan di meja rapat. Pria itu kerap meluangkan waktunya di sela-sela kesibukan draf bisnisnya untuk sekadar duduk di kamar perawatan Aruna, memastikan gadis itu menghabiskan draf makanan rumah sakit dan meminum pil obatnya tepat waktu. Kehadiran Baskara yang konstan, hangat, dan sarat akan perhatian terselubung perlahan-lahan mulai mengikis dinding es di hulu hati Aruna. Mereka menjadi semakin dekat, berbagi keheningan yang nyaman di tengah hiruk-pikuk kota.

​Namun, setiap kali jemari kokoh Baskara bergerak secara refleks untuk merapikan selimut wolnya, atau saat sepasang netra mereka bertatapan terlalu lama hingga memicu debar aneh yang tak beraturan di dadanya, Aruna dengan cepat menarik dirinya kembali.

​"Sudah malam, Pak Baskara. Sebaiknya Anda pulang," ujar Aruna lirih pada suatu malam, matanya sengaja dialihkan menatap draf berkas di pangkuannya.

​Baskara menghentikan gerakannya yang hendak menuangkan air hangat ke dalam gelas. Ia tahu persis apa yang sedang dilakukan Aruna. Gadis itu sedang membangun kembali benteng pertahanan energinya. Aruna sengaja menahan batas di antara mereka, sebuah garis demarkasi tak kasat mata yang mempertegas bahwa meskipun rasa benci itu telah luruh berganti rasa nyaman, memori kelam masa lalu di London tetaplah sebuah jangkar yang menahan hatinya untuk melangkah lebih jauh.

​Aruna terikat oleh trauma, dan ia menolak untuk terlihat lemah dengan menyerahkan seluruh hatinya pada pria yang pernah menjadi sumber rasa sakitnya. Bagi Aruna, menjaga jarak aman adalah satu-satunya cara untuk melindungi sisa-sisa harga dirinya yang telanjur retak.

​Baskara perlahan meletakkan gelas tersebut di atas nakas. Pria itu tidak marah ataupun mendesak ego maskulinnya maju. Ia justru berdiri, menatap Aruna dengan sorot mata yang sarat akan intensitas emosional yang mendalam namun penuh penghormatan mutlak pada batasan yang dibuat gadis itu.

​"Tidurlah yang nyenyak, Aruna," ucap Baskara teramat rendah, suaranya mengalun bagai desau angin malam yang menenangkan. "Aku tidak akan melanggar batas yang kau buat. Aku akan tetap berdiri di sini, di balik garis ini, menjadi perisai yang memastikan tidak ada satu pun singa di luar sana yang bisa melukaimu lagi."

​Baskara melangkah mundur, menutup pintu kamar dengan perlahan. Di dalam kesunyian kamarnya, Aruna mencengkeram ujung selimutnya erat-erat, membiarkan air mata tipisnya jatuh tanpa suara. Perang di koridor barat mungkin telah usai berkat ketegasan Baskara, namun laga emosional di dalam hatinya baru saja memasuki babak yang jauh lebih menguras batin, sebuah dilema rumit antara rasa nyaman yang kian tumbuh dan benteng trauma yang mati-matian ia pertahankan agar tidak runtuh untuk kedua kalinya.

1
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ
Hi hi gemes bgt, Ade tp unik jdx, 1 lari, 1 mengejar 🤭👍🥳
Anonim
lanjut ka 😍
Desi Santiani
apa sbnrnya isi flasdisk itu, apaa ad hubungannya sikap bagaska saat dlondon terhadap arunaa ?
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ
Aduh, jd bulan-bulann para warga 🤭🤦🙈
Anonim
cerita author x ini tak kalah menarik seru bgt 🥰🥰
Ra H Fadillah: halo terima kasih atas bintang 5 nya semoga kamu selalu suka dengan ceritanya ya 💞😉
total 1 replies
Anonim
jadi kepo thorrr
Anonim
ceritanya seruuuuuu😍
Desi Santiani
apa sebenarnya isi flasdisk itu, apa rahasia bagaskara yg selama ini pura2 jahat n kejam krna adanya tekanan atau apa, ahh dbuat skot jantung bacanya
Desi Santiani
semakin seruu thor
Desi Santiani
semangat trus thor up nyaa 😍💪
Desi Santiani
semakin seruuu, dtunggu selalu thor update kisah mereka😍
Desi Santiani
terima kasih thor, untuk up kisah mereka dgn lgsg bbrp bab, selalu dtunggu cerita mereka, sehat selalu thor /Heart/
Ra H Fadillah: Sama-sama 😉 Semoga kamu suka dengan ceritanya !
total 1 replies
Desi Santiani
semangat up nya trus thor, alur ceritanya sgt seru
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentar mu yang sangat positif 😉 💞
total 1 replies
Ra H Fadillah
Terima kasih sudah bantu ngeramein💕 Semoga betah terus marathon bacanya ya!😇
Desi Santiani
up lg thor... ceritanya keren
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ
Mantap, Aruna, tunjukkan 'pesona'mu 🔥🔥🔥
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ: Cama², Ade, Siap, kami tunggu, udh gk sabar liat 'Karma' utk yg udh nyakitin Tuan Putri ❤️🤗😘
total 2 replies
Anonim
sepele bgt ni dosen 😡
Anonim
masuk tata rias aja lu michel 😡
Anonim
wahhhh 💞 cerita baru lagi dri author kesygn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!