NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 ​Ketakutan di Balik Kemudi

Langkah kaki Aruna yang tergesa-gesa membelah pelataran gedung konvensi akhirnya terhenti tepat di samping pintu taksi daring yang baru saja ia pesan. Namun, sebelum jemari mungilnya sempat menyentuh tuas pintu, sebuah tangan kekar dengan cepat mencengkeram pergelangan tangannya. Tidak kasar, namun memiliki tekanan yang mutlak.

​Baskara berdiri di sana dengan napas yang sedikit memburu, sepasang netra elangnya memancarkan kilatan emosi yang campur aduk. Tanpa memedulikan tatapan bingung dari sang sopir taksi, Baskara membatalkan pesanan tersebut secara sepihak dengan memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu kepada sang pengemudi, lalu menuntun Aruna dengan paksa namun hati-hati menuju mobil sedan hitam miliknya.

​Begitu pintu mobil tertutup rapat dan mengunci mereka berdua di dalam kabin yang kedap suara, benteng kesabaran Aruna yang ia pertahankan sejak di dalam gedung akhirnya runtuh total. Ia membalikkan tubuhnya, menatap Baskara dengan tatapan yang sarat akan kilatan amarah yang berapi-api.

​"Puas?!" desis Aruna tajam, napasnya naik turun menahan emosi yang bergejolak hebat di dalam dadanya.

​Baskara yang baru saja hendak menyalakan mesin mobil seketika tertegun. Ia menoleh, mengerutkan keningnya yang tegas dengan raut wajah penuh kebingungan. "Apa maksudmu, Aruna?"

​"Jangan berlagak bodoh, Pak Baskara! Puas mempermalukanku di depan orang lain?! Di depan teman lamaku?!" seru Aruna, suaranya naik satu oktaf, memecah keheningan kabin. "Siapa Bapak sebenarnya? Atas dasar apa Bapak mengatur dengan siapa aku boleh berbicara dan bersikap seposesif itu di depan umum?!"

​Baskara menghela napas pendek, mencoba menekan egonya yang sempat tersulut oleh kehadiran Vano tadi. Ia menatap Aruna dengan tatapan yang melunak, sarat akan rasa ingin melindungi yang teramat besar. "Aku tidak bermaksud mempermalukanmu, Aruna. Aku hanya... aku hanya berusaha melindungimu dari pria asing yang tidak jelas asal-usulnya. Kondisi fisikmu belum pulih total, dan aku tidak mau seseorang memanfaatkan kelengahanmu."

​Mendengar kalimat pembelaan diri yang keluar dari bibir Baskara, sudut bibir Aruna justru terangkat, menciptakan sebuah seringai sinis yang teramat tajam dan menyakitkan. Ia menatap mantan dosennya itu dengan pandangan yang menguliti seluruh harga diri sang CEO.

​"Melindungiku?" sindir Aruna dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat tenang namun menusuk hingga ke ulu hati. "Dulu di London, Bapak memperlakukanku seperti sampah yang tidak berguna. Sekarang di Jakarta, Bapak memperlakukanku seolah-olah aku adalah barang milik Bapak yang bisa diatur sesuka hati. Tolong beri tahu aku, Pak Baskara... di antara kedua perlakuan itu, bedanya apa?"

​Deg.

​Kalimat pendek yang sarat akan sinisme mutlak itu seketika menghantam dada Baskara dengan telak. Seluruh argumen yang sudah tersusun di ujung lidahnya mendadak menguap tanpa bekas. Rahang Baskara mengetat kokoh, namun sepasang matanya tidak bisa menyembunyikan rasa sakit dan keterkejutan yang teramat sangat. Kata-kata Aruna barusan bagai cermin besar yang dipaksa berdiri di hadapannya, menelanjangi kenyataan bahwa di mata Aruna, kepedulian dan keposesifannya hari ini tidak lebih baik dari kekejamannya di masa lalu. Keduanya sama-sama merenggut kebebasan dan harga diri gadis itu.

​Baskara memalingkan wajahnya, mencengkeram kemudi dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih sempurna. Ia tidak membalas ucapan Aruna. Keheningan yang pekat dan mencekam kembali merayap di antara mereka sepanjang perjalanan pulang.

​Sementara itu, di dalam aula konvensi yang mulai lengang, Vano Brahmanta masih berdiri di posisi yang sama. Sepasang netranya menatap kosong ke arah selasar tempat Aruna dan Baskara menghilang di balik pintu keluar. Sebagai seorang arsitek yang terbiasa menganalisis struktur secara mendalam, Vano tahu ada sebuah 'keretakan' yang sangat besar di dalam hubungan Aruna dan pria bernama Baskara tersebut. Sikap defensif Aruna yang terlampau dingin dan keposesifan Baskara yang tidak sehat memicu rasa penasaran yang besar di dalam benaknya.

​Vano merogoh ponsel dari saku kemejanya, lalu menghubungi salah seorang rekannya yang bekerja di bidang penasihat hukum keluarga konglomerat di Jakarta.

​"Halo, Dik? Tolong cari tahu latar belakang pria bernama Baskara Dirgantara. Hubungannya dengan keluarga Prawijaya, dan... semua rekam jejaknya saat berada di London beberapa tahun lalu. Aku butuh datanya malam ini," perintah Vano dengan nada suara yang tenang namun tegas di balik kacamata berbingkai hitamnya.

​Hanya butuh waktu beberapa jam bagi Vano untuk mendapatkan berkas digital tersebut. Malam harinya, saat duduk di studio arsitekturnya, Vano membaca setiap lembar laporan yang dikirimkan oleh rekannya. Lembar demi lembar informasi itu sukses membuat dahi Vano berkerut dalam, dan sepasang matanya menyipit tajam.

​Ia terkejut saat mengetahui bahwa Baskara Dirgantara bukanlah pria sembarangan, dia adalah CEO bertangan dingin yang memimpin dinasti bisnis raksasa Dirgantara Group. Namun, fakta yang paling membuat Vano tertegun adalah kenyataan bahwa Baskara merupakan mantan dosen pembimbing Aruna selama berkuliah di London. Laporan itu juga melampirkan beberapa catatan saksi mengenai bagaimana kejamnya cara mengajar Baskara yang berulang kali menjatuhkan mental, menghina, dan merobek kerja keras Aruna di depan ruang kuliah hingga membuat gadis itu didera stres berat sebelum akhirnya mengalami insiden jatuh yang menyebabkannya koma.

​Vano meletakkan ponselnya di atas meja gambar dengan helaan napas berat. Sorot matanya yang biasanya santai dan ramah, kini berubah menjadi sangat serius.

"​Jadi, pria posesif itu adalah sumber trauma yang membuat Aruna berubah menjadi sedingin es sekarang?" batin Vano bersuara, rahangnya mengetat samar. Dari titik inilah, Vano merasakan sebuah dorongan dan alasan kuat yang murni di dalam hatinya, ia harus melindungi Aruna, teman sebangkunya yang dulu ceria, agar tidak kembali jatuh ke dalam jeratan pria kejam yang sedang mencoba berpura-pura menjadi malaikat pelindung itu.

​Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang semakin menegangkan bagi Baskara. Sejak pertengkaran di mobil hari itu, rasa takut yang teramat sangat mulai menggerogoti sudut-sudut hatinya.

​Selama ini, sejak Aruna terbangun dari koma dan kembali ke Indonesia, Baskara selalu memupuk keyakinan di dalam dadanya bahwa Aruna masih sendiri. Ia merasa, sejauh apa pun Aruna menjauh dan sedingin apa pun dinding es yang dibangun gadis itu, pada akhirnya tidak akan ada pria lain yang berani mendekat karena nama besar keluarga Prawijaya dan penjagaan ketat dirinya. Baskara merasa ia memiliki waktu yang cukup untuk menebus kesalahannya secara konsisten.

​Namun, kehadiran Vano Brahmanta meruntuhkan seluruh rasa percaya diri sang mantan profesor.

​Untuk pertama kalinya di dalam hidupnya yang selalu penuh kendali, Baskara merasakan lumpuhnya rasa aman. Ia tidak marah atas provokasi Vano, melainkan didera oleh ketakutan yang teramat besar yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Setiap kali memejamkan mata, bayangan Aruna yang tertawa lepas dan tulus saat menatap Vano di pameran tempo hari kembali menghantui pikirannya. Baskara tersadar dengan kenyataan yang paling menakutkan, “Kalau aku terus-menerus terlambat karena dinding es yang tak kunjung runtuh ini, akan ada pria lain yang datang membawa selembar kertas putih bersih, dan merebut kesempatan yang seharusnya menjadi milikku untuk membahagiakannya.”

​Ketakutan Baskara itu menjelma menjadi kenyataan yang mengerikan hanya berselang beberapa hari kemudian.

​Sore itu, sebuah pameran maket pembangunan berkelanjutan dan seminar hukum agraria bagi masyarakat daerah digelar di salah satu hotel bintang lima di Jakarta. Aruna hadir di sana guna memperdalam referensi impiannya untuk membela hak-hak petani kecil. Dan di sana, takdir kembali mempertemukannya dengan Vano Brahmanta tanpa sengaja. Pertemuan itu bukanlah sebuah kencan yang direncanakan, murni sebuah ketidaksengajaan profesional karena firma arsitektur Vano menjadi salah satu perancang utama proyek tata ruang tersebut.

​Baskara, yang tentu saja selalu memantau pergerakan Aruna secara sunyi dari kejauhan, berdiri di balik pilar aula dengan tubuh yang menegang sempurna. Jantungnya berdegup dengan ritme yang menyakitkan saat menyaksikan interaksi di antara keduanya.

​Vano memperlakukan Aruna dengan cara yang sangat normal, dewasa, dan teramat santun. Tidak ada gestur posesif yang mengekang, tidak ada paksaan untuk menjawab pertanyaannya, dan yang paling krusial, Vano sama sekali tidak pernah mengungkit atau mengorek masa lalu kelam Aruna di London. Arsitek berkacamata itu hanya berdiri di samping Aruna, menjelaskan detail maket dengan bahasa yang cerdas diselingi humor ringan yang dewasa, memberikan ruang yang cukup bagi Aruna untuk bernapas dan berekspresi tanpa tekanan.

​Justru pendekatan yang santai dan penuh rasa hormat dari Vano inilah yang membuat Baskara merasa kian terancam dan hancur di tempatnya berdiri. Karena Vano, dengan segala kesederhanaan dan kedewasaannya, mampu memberikan satu hal esensial yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh Baskara sekaya atau seberkuasa apa pun dia saat ini, rasa aman yang bebas dari bayang-bayang trauma masa lalu.

​Di akhir acara pameran, saat Aruna sedang melangkah menuju toilet, Vano yang hendak mengambil berkas di dekat pilar tidak sengaja berpapasan langsung dengan Baskara yang sejak tadi mengawasi mereka.

​Kedua pria dengan dominasi yang berbeda itu kembali bersitatap. Baskara menatap Vano dengan kilatan mata elang yang sarat akan kecemasan dan kepemilikan yang tertahan. Namun, Vano tidak menunjukkan tanda-tanda keagresifan. Pria berkacamata itu justru menampilkan senyum tipis yang teramat tenang, sopan, dan dewasa.

​Vano melangkah satu jengkal melewati Baskara, lalu berhenti tepat di samping bahu sang CEO. Tanpa menoleh, ia berbisik dengan nada suara yang teramat santai namun sarat akan penekanan yang menembus dada Baskara.

​"Pak Baskara... jika Anda memang benar-benar mencintainya sekarang, saran saya hanya satu, jangan pernah paksa dia untuk mengikuti ritme Anda. Karena hati yang pernah dihancurkan, tidak akan pernah bisa disembuhkan dengan cara dikurung kembali."

​Setelah melayangkan kalimat yang meremukkan sisa-sisa keangkuhan Baskara, Vano melangkah pergi dengan santai, meninggalkan sang profesor yang berdiri membeku di dalam keheningan aula, didera oleh ketakutan terbesar dalam hidupnya bahwa ia mungkin benar-benar telah kehilangan Aruna untuk selama-lamanya.

1
Desi Santiani
semangat trus thor up nyaa 😍💪
Desi Santiani
semakin seruuu, dtunggu selalu thor update kisah mereka😍
Desi Santiani
terima kasih thor, untuk up kisah mereka dgn lgsg bbrp bab, selalu dtunggu cerita mereka, sehat selalu thor /Heart/
Ra H Fadillah: Sama-sama 😉 Semoga kamu suka dengan ceritanya !
total 1 replies
Desi Santiani
semangat up nya trus thor, alur ceritanya sgt seru
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentar mu yang sangat positif 😉 💞
total 1 replies
Ra H Fadillah
Terima kasih sudah bantu ngeramein💕 Semoga betah terus marathon bacanya ya!😇
Desi Santiani
up lg thor... ceritanya keren
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Mantap, Aruna, tunjukkan 'pesona'mu 🔥🔥🔥
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Cama², Ade, Siap, kami tunggu, udh gk sabar liat 'Karma' utk yg udh nyakitin Tuan Putri ❤️🤗😘
total 2 replies
Anonim
sepele bgt ni dosen 😡
Anonim
masuk tata rias aja lu michel 😡
Anonim
wahhhh 💞 cerita baru lagi dri author kesygn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!