Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?
Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.
Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Amira
Tiga minggu berlalu, Amira benar-benar sudah pulih dan bisa beraktivitas seperti biasanya. Malah, sekarang banyak hal yang ingin dilakukan Amira salah satunya merenovasi rumah yang menurutnya sedikit suram karena dipenuhi warna-warna kesukaan Farhan. Taman yang hanya berisi beberapa tanaman hijau akan diubahnya menjadi taman penuh bunga. Proyeknya sehabis sakit cukup banyak. Nanti sore, setelah Farhan pulang kerja, ia akan membicarakan niat ini.
“Bi, masak apa hari ini?” tanya Amira pada asisten rumah tangga yang hampir sebulan ini membantunya mengurus rumah.
“Saya masak capcai dan ayam goreng serundeng untuk makan malam nanti, Mbak,” sahut Bi Sumi.
Amira mengangguk sambil tersenyum. Ia sangat cocok dengan masakan Bi Sumi rasanya pas sekali, definisi makanan rumahan yang sesungguhnya.
“Aku kepikiran mau membuat puding, kayaknya enak deh, Bi. Ditambah buah segar di dalamnya… aduh, saya jadi ngiler sendiri,” ujarnya.
Bi Sumi tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Mbak ini kayak orang lagi ngidam aja. Kalau mau, dibuat saja, Mbak. Takutnya beneran sedang mengandung, hehe,” canda Bi Sumi.
“Haha, Bibi ada-ada saja. Baru sekali, masa langsung jadi sih?” jawab Amira dengan polos, membuat Bi Sumi tertawa mendengarnya.
“Ya, siapa tahu aja, Mbak. Kalau jadi, berarti Mbak bisa segera kasih cucu untuk Ibu,” balas Bi Sumi.
“Mamah bisa menerima aku ya, Bi, kalau semisal aku bisa kasih cucu untuk mamah? Aku merasa Mamah masih belum sepenuhnya terima aku menikah sama Mas Farhan,” tiba-tiba Amira teringat perlakuan ibu mertuanya yang terang-terangan tidak menyukainya.
Bi Sumi cukup bijak dalam menjawab pertanyaan majikannya, sehingga Amira pun merasa sedikit lebih percaya diri. “Ibu itu aslinya orangnya sangat baik, Mbak. Cuma ya begitu, mulutnya kadang nggak bisa nahan kalau mau ngomong sesuatu. Ibu itu orangnya apa adanya, tidak menutupi apa yang dirasa. Saya yakin Ibu sebenarnya sudah merestui hubungan Mbak dan Mas Farhan, hanya saja butuh waktu. Sabar aja, Mbak. Rajin-rajinlah mengambil hati Ibu, pasti ibu akan luluh, seperti batu yang lama-kelamaan akan terkikis oleh tetesan air,” jelas Bi Sumi.
Amira mengangguk sambil tersenyum lebar. “Aku juga berharap hal baik itu segera datang. Sedih rasanya kalau nanti aku hamil, tapi mertuaku malah tidak suka sama cucunya,” ucapnya.
“Huss! Jangan mikir yang jauh-jauh dulu. Mana ada nenek yang tidak sayang sama cucunya. Ibu itu paling suka sama anak-anak. Setiap ada keponakan atau sepupu yang ulang tahun, pasti Ibu yang paling sibuk mengurus perayaannya di rumah, nggak mau di gedung. Soalnya ibu sangat suka melihat keramaian anak kecil,” jelas Bi Sumi meyakinkan.
“Oalah, begitu rupanya. Lega rasanya mendengarnya. Bismillah, semoga secepatnya aku bisa kasih cucu buat Mamah,” ucap Amira penuh semangat.
“Aamiin. Bibi bantu doakan ya, Mbak, biar segera dikaruniai keturunan.”
“Terima kasih ya, Bi.”
Setelah sedikit berbincang, keduanya kembali menyelesaikan tugas masing-masing karena sebentar lagi adik-adik dan suaminya akan pulang ke rumah. Amira sudah mandi dan menyiapkan keperluan untuk suaminya, seperti kopi dan air minum. Tak lupa, ia selalu menyambut kedatangan Farhan pulang kantor sebagai kebiasaan yang tidak boleh terlewatkan.
Yang pertama datang adalah kedua adik kembarnya Ammar mengendarai sepeda motor dam membonceng Amara di belakangnya, seperti biasanya.
“Kakak lagi nungguin kita ya?” tanya Amara dengan percaya diri sambil melepas helm.
Amira hanya tersenyum jahil. “Mana ada Kakak nungguin kamu. Kakak lagi nungguin Mas Farhan lah,” jawabnya.
“Ih, jahat banget! Padahal bohong sedikit nggak apa-apa biar adiknya yang habis belajar seharian ini dapat tambahan semangat,” ujar Amara sambil pura-pura merajuk. Sementara itu, Ammar hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku kakak dan adiknya itu.
“Sudah-sudah, masuk sana! Segera bersihkan diri, sebentar lagi adzan Maghrib. Setelah selesai salat, kita makan malam. Kakak mau nunggu Mas Farhan dulu, kayaknya sebentar lagi dia sampe,” perintah Amira lembut.
“Ihhh, dasar bucin! Yaudah, ayo, bang, masuk. Nanti kita malah jadi obat nyamuk kalau di sini terus,” ajak Amara.
***
Tak lama kemudian, mobil Farhan terlihat masuk ke dalam garasi. Hari ini ia tampak sangat lelah raut wajahnya pun terlihat kurang bersahabat. Namun, Amira belum menyadari sepenuhnya. Ia tetap menyambut Farhan seperti biasa, dengan ceria dan penuh senyum.
“Sudah pulang, Mas?” sapa Amira.
Farhan hanya mengangguk dengan lesu.
Amira mengambil jas dan tas kerja milik suaminya, tak lupa membantunya melepas sepatu. “Mas mau ngopi dulu atau mandi?” tanyanya menawarkan diri.
“Aku mau mandi air hangat, tolong siapkan ya. Badanku rasanya pegal-pegal semua, siapa tahu habis mandi jadi lebih enak” sahut Farhan sambil berjalan menuju kamar, diikuti oleh Amira.
“Baik, Mas. Aku siapkan dulu ya.”
Farhan hanya mengangguk singkat.
Sepuluh menit kemudian, air mandi yang disiapkan Amira sudah siap digunakan. Amira benar-benar memperhatikan kebiasaan suaminya dan melakukannya dengan baik, berusaha tidak melakukan kesalahan sedikit pun. Ini adalah wujud pelayanan terbaik seorang istri untuk suaminya.
“Mas, airnya sudah siap.”
“Hmmm,” sahutnya pelan sambil berdeham.
Farhan pun segera menikmati mandi air hangat yang disediakan istrinya. Ia merasa rileks, rasa pegal di sekujur tubuhnya perlahan berkurang. Ditambah lagi dengan aroma minyak esensial yang diteteskan Amira, membuat Farhan rasanya ingin saja tertidur di dalam bak mandi.
Ia berendam cukup lama, hingga waktu salat Maghrib terlewat dua puluh menit. Baru setelah itu ia selesai dan segera menunaikan ibadah salat. Usai salat, ia bergabung dengan istri serta kedua adik iparnya.
Suasana di meja makan berjalan seperti biasanya, tenang dan hening. Mereka makan dengan khidmat. Lauk yang dimasak Bi Sumi pun habis disantap, soalnya bi sumi selalu masak sesuai porsi kebutuhan keluarga, sehingga tidak ada makanan yang terbuang atau mubazir.
Setelah selesai makan, mereka berkumpul di ruang keluarga untuk mengobrol, bercanda, atau sekadar saling bertanya kegiatan sehari-hari dan hal-hal lainnya. Namun malam ini, Farhan terlihat jauh lebih banyak diam dibanding biasanya. Hal itu tentu membuat Amira merasa penasaran.
“Mas, kenapa diam saja? Ada masalah ya di kantor?” tanya Amira ingin tahu.
Farhan menoleh ke arah istrinya dan berusaha menutupi persoalan yang sedang ia hadapi hari ini.
“Aku baik-baik aja. Cuma di kantor lagi banyak kerjaan aja. Kamu tidak perlu khawatir, aman kok,” jawabnya.
“Beneran?” tanya Amira memastikan.
“Iya, beneran. Aku baik-baik aja. Oiya, bagaimana sekolah kalian? Lancar, kan?” tanya Farhan beralih topik kepada si kembar setelah menjawab singkat pertanyaan istrinya.
“Alhamdulillah, semuanya lancar, Mas,” sahut Amara, yang disetujui oleh Ammar.
“Syukurlah. Kalau kamu gimana? Masih ada yang di rasa nggak, semacam ga enak badan atau perasaan ga nyaman?” tanya Farhan beralih pada Amira.
“Alhamdulillah udah nggak ada, Mas. Aku sudah sehat banget sekarang. Oiya Mas, aku mau minta izin nih mau merenovasi rumah ya. Aku mau ganti warna cat dinding, sama menambah tanaman bunga di taman biar ada warnanya hijau-hijau saja,” kata Amira antusias.
Farhan terkejut mendengar ucapan itu. Bagaimana mungkin tempat tinggalnya yang selama ini ditata rapi sesuai selera dan kenyamanannya, akan diubah oleh seseorang yang baru beberapa minggu menjadi bagian dari keluarganya? Jujur saja, bagi Farhan yang berkepribadian tertutup, hal ini terasa sangat tidak nyaman.