“Nek,” protes Ryuhan. “Aku ini CEO muda. Masa harus nikah sama seorang dukun?”
Seroja adalah gadis muda yang berprofesi sebagai dukun beranak dan terapis saraf. Hidupnya berubah saat suami dari masa kecilnya, Ryuhan Kai Zander, CEO muda dari keluarga konglomerat datang menjemput.
Seroja harus menerima kenyataan, bahwa Ryu sudah memiliki pujaan hati. Clara.
Sebuah kecelakaan membuat Ryu lumpuh dan impoten. Kenyataan itu menghancurkan harga diri Ryu. Apalagi saat Clara memutus hubungan setelah kecelakaan itu.
Saat Ryu mulai menerima Seroja, muncul seorang pria yang diam-diam menyukai dan menghargai Seroja.
Akankah Seroja tetap bertahan di sisi suaminya… atau memilih pergi bersama pria yang benar-benar menginginkannya?
Dan apakah Ryu akan melepaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Gadis Desa yang Tak Sederhana
Ryu menatap nama di layar ponselnya sedikit lebih lama sebelum akhirnya menerima panggilan.
"Halo," ucap Ryu datar.
"Ryu, kenapa kemarin ponsel kamu gak aktif?" tanya Clara dari seberang.
"Aku kemarin di tempat yang susah sinyalnya," sahut Ryu masih dengan nada yang sama.
"Lalu kenapa tadi gak angkat teleponku, gak baca, apalagi balas chat aku?" cecar Clara.
Dulu, pertanyaan seperti ini ia anggap sebagai perhatian atau kekhawatiran Clara.
Tapi sekarang?
Ryu menatap ke arah pintu tempat Seroja beberapa saat lalu menghilang. Ia mengingat interaksi mereka tadi. Entah kenapa, Seroja selalu berhasil membuatnya penasaran. Perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan.
"Kenapa aku malah mikirin dia?" pikir Ryu.
"Ryu? Kau masih di sana?" suara Clara kembali terdengar.
"Ya," sahut Ryu pendek.
"Kamu lagi banyak kerjaan, ya?" tebak Clara.
"Hm," jawab Ryu lagi-lagi hanya satu kata. Jujur, ia merasa aneh.
"Setelah lima tahun menjalin hubungan, kenapa sekarang aku merasa percakapan kami seperti rutinitas?" tanya Ryu pada dirinya sendiri.
"Oke, kalau begitu--"
"Clara," Ryu memotong kata-kata Clara dengan suara rendah dan tenang. "Aku akan mengurus beberapa hal yang mendesak di perusahaan. Nanti aku akan menemuimu setelah jadwalku sedikit longgar."
"Benarkah? Kau akan ke Singapura?" tanya Clara memastikan.
"Iya," jawab Ryu tanpa ragu. "Tapi aku akan selesaikan urusan di sini dulu."
"Oke, aku tunggu kamu. Miss you," ucap Clara terdengar riang.
Ryu terdiam beberapa detik. Biasanya, tanpa berpikir, ia akan langsung menjawab hal yang sama.
Tapi kali ini kata-kata itu terasa tertahan di tenggorokannya.
"Hm," sahut Ryu akhirnya. Singkat, tanpa mengatakan 'miss you too' seperti biasanya.
Lalu--
Tut.
Ryu mengakhiri panggilan.
"Maaf," gumam Ryu lirih.
Sementara itu, Seroja menuruni tangga. Ia melihat Nyonya Hanifah berjalan dengan tongkatnya.
"Nek," panggilnya seraya menghampiri wanita itu.
Nyonya Hanifah menoleh. Bibirnya yang keriput langsung melengkung saat melihat Seroja. Ia memerhatikan pakaian yang dikenakan gadis itu.
"Kamu suka baju yang nenek siapkan untukmu?"
"Iya. Terima kasih, Nek. Aku suka," ucap Seroja tulus.
"Syukurlah kalau kamu suka."
Seroja mengerutkan dahinya. "Kok Nenek bisa tahu ukuran dan seleraku?"
Nyonya Hanifah tertawa kecil. "Sebelum membeli, Nenek tanya dulu sama Bu Dhe kamu," jawabnya jujur.
Bibir Seroja melengkung tipis. "Pantas saja cocok dan pas."
"Ingin lihat-lihat rumah?" tanya Nyonya Hanifah. "Biar Nenek panggil Muji."
"Nggak usah, Nek," tolak Seroja lembut. "Besok saja. Aku mau ke dapur, lihat oleh-oleh dari warga desa tadi."
"Terserah kamu saja," ucap Nyonya Hanifah. "Tapi kalau capek jangan dipaksa."
"Iya, Nek," sahut Seroja. "Aku ke dapur dulu, Nek."
Kebetulan Nyonya Hanifah melihat Bi Muji melintas.
"Itu ada Muji. Biar dia yang antar."
"Mari saya antar, Nyonya," ucap Bi Muji sopan.
"Terima kasih, Bi," ucap Seroja.
Nyonya Hanifah hanya tersenyum melihat punggung gadis itu yang semakin menjauh.
"Gadis yang menyenangkan," gumamnya pelan.
Malam itu, hidangan sudah tersaji rapi di atas meja makan. Nenek Hanifah sudah duduk di kursinya. Seroja menuangkan air putih ke gelas.
"Biar pelayan saja," ujar Nyonya Hanifah.
"Nggak apa-apa, Nek," sahut Seroja.
Ryu masuk ke ruang makan lalu duduk di kursinya. Ia menatap masakan yang tersaji, lalu mengernyit saat melihat dua mangkuk sayur yang masakannya tidak pernah ia lihat.
"Itu apa, Nek?" Ryu menunjuk mangkuk dengan sayuran hijau. "Kok kayak tanaman hias depan rumah? Dan yang itu..." Ia menunjuk mangkuk berisi potongan ikan berwarna cokelat tua. "Ikannya gosong?"
Seroja dan Nyonya Hanifah spontan tertawa kecil. Bi Muji dan seorang pelayan muda menahan senyum.
"Itu bukan tanaman hias, tapi sayur pakis. Beda sama yang ditanam untuk hiasan," jelas Seroja. Lalu ia menunjuk ikan yang dikatakan Ryu gosong. "Yang ini gulai ikan gabus asap. Bukan ikan gosong. Kalau diasapin, warnanya memang begini."
"Apa enak?" Ryu menatap dua mangkuk itu ragu.
"Coba dulu." Seroja mengambil piring Ryu dan menyendokkan nasi. Ia membubuhkan gulai ikan dan tumis pakis di atasnya.
Ryu menyendoknya, membuka mulut hendak menyuapinya, tapi berhenti tepat di depan bibirnya.
"Coba dulu. Enak, loh," Nenek Hanifah meyakinkan.
Karena penasaran, akhirnya Ryu memakannya. Perlahan ia mengunyahnya. Rasa gurih santan dan ikan bercampur menggoyang lidah. Lalu tumis pakisnya, rasa gurih dan pedas dari bumbunya meresap di sayur dan terasa pas.
"Bagaimana rasanya?" tanya Nyonya Hanifah. "Itu yang masak Seroja, loh."
"Lumayan unik," sahut Ryu datar.
Ia tidak mengakui enak. Tapi dari caranya makan, jelas pemuda itu menyukainya.
Makan malam berjalan tenang. Sesekali Ryu melirik Seroja. Gadis itu makan dengan tenang, sama seperti waktu di restoran. Cara makannya juga seperti neneknya, penuh etika.
"Padahal cuma gadis desa," batin Ryu. "Kenapa bisa seanggun itu?"
Makan malam akhirnya selesai. Nyonya Hanifah menatap Seroja.
"Ternyata kamu pintar masak, ya," pujinya puas.
"Sedikit, Nek," sahut Seroja.
"Nenek mau duduk di teras dulu," kata Nyonya Hanifah.
Namun saat ia bangun dari duduk, lututnya terasa nyeri. Ia menahannya, lalu melanjutkan langkah dengan bantuan tongkat.
Seroja refleks memerhatikan cara berjalannya. "Nenek kenapa? Nenek sakit?" tanyanya khawatir. Ia bergegas menghampiri wanita tua itu.
Nyonya Hanifah berhenti dan menoleh. "Biasa, tulang tua. Suka nyeri lutut," sahutnya ringan meski menahan sakit.
"Nyeri di lutut kanan lebih sering kambuh habis bangun tidur ya, Nek?"
Nenek Hanifah kaget karena tebakan Seroja benar.
Ryu mulai melirik.
"Coba kita duduk dulu." Seroja memapah Nyonya Hanifah ke arah sofa.
Wanita tua itu menurut, sedangkan Ryu mengekor di belakang keduanya. Seroja akhirnya membantu Nyonya Hanifah duduk dengan hati-hati.
"Boleh aku periksa nadi, Nenek?" tanya Seroja lembut.
"Kamu bisa melakukan pemeriksaan lewat nadi?" tanya Nyonya Hanifah.
Ryu mengerutkan dahinya.
"Sedikit, Nek," jawab Seroja.
"Tentu saja boleh," kata Nyonya Hanifah sambil mengulurkan tangannya.
Ryu tertawa pendek tanpa humor. Ia melipat tangan di dada. "Periksa lewat nadi itu teknik orang China zaman dulu. Yakin kamu bisa?"
Seroja tak menanggapi. Ia menempelkan jarinya di nadi Nyonya Hanifah, lalu diam seolah sedang mendeteksi sesuatu dari nadi itu.
"Kamu beneran bisa? Jangan-jangan kamu kebanyakan nonton drama China," sinis Ryu.
"Mau percaya atau tidak, itu terserah kamu. Aku hanya memeriksa kondisi tubuh Nenek." Seroja beralih menyentuh lutut Nyonya Hanifah, seperti mengecek titik tertentu.
"Memangnya kamu bisa tahu sakit Nenek apa?" tanya Ryu dengan nada meremehkan.
"Keluarga Seroja turun-temurun adalah dukun. Mereka mengerti cara menyembuhkan beberapa penyakit," jelas Nyonya Hanifah.
Ryu belum percaya. "Nek, kalau Nenek ingin berobat, akan aku carikan dokter terbaik."
"Nenek sudah berobat beberapa bulan ke dokter spesialis, tapi gak ada perubahan." Nyonya Hanifah menghela napas pelan. "Mungkin karena sudah tua."
“Ini bukan cuma faktor usia, Nek," kata Seroja lembut. "Ada bagian saraf yang tertarik. Dan sendi Nenek juga terlalu sering menahan beban.”
"Kamu bisa mengobati lutut Nenek?" Ada secercah harapan dalam sorot mata Nyonya Hanifah.
...🔸🔸🔸...
...“Hati bisa berubah dan mencintai lagi. Tapi ia akan kembali pada rumah yang membuatnya merasa pulang.”...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Semangat Kak Nana.. Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏
Bagus Seroja... Lanjutkan lah lagi kuliahmu itu! Sayang loh, kslau nggk di lanjutkan!:😂😂😂