Follow Ig : @panda.sweety10
Kanaya mengetahui dirinya hamil seminggu sebelum acara pernikahannya, dan ayah dari calon anaknya dia pun tidak tau hingga pernikahan dengan kekasihnya harus batal karena kehamilannya.
Apakah Kanaya akan bersama dengan ayah dari anak? Dan siapa pri itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Panda Sweety, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU MASIH MEMBENCIMU
Siang tadi pertemuan dua keluarga di tunda karena Alex masih sibuk, dan malam ini keluarga besar Handoko dan Sanjaya sudah ada di Restaurant milik keluarga Handoko.
"Pa, ma Alex ingin mengumumkan sesuatu." Evelyn pun tampak bahagia, dia mengira Alex akan mengumumkan pernikahan mereka.
"Ah, sebelumnya saya minta maaf kepada keluarga om Sanjaya. Saya tidak bisa menikahi Evelyn, karena saya memiliki wanita yang ingin aku nikahi dan kami pun sudah memiliki anak." Semua orang terlihat kaget kecuali Andra.
"Apa?" Tuan Sanjaya mengepalkan kedua tangannya.
"Kak Alex." Evelyn menggenggam tangan Alex.
"Maka dari itu pertunangan ini aku batalkan."
"Tidak, kak Alex aku tidak mau. Kita tetap akan menikah kan kak?"
"Maaf Evelyn, aku sudah memiliki anak." Alex melepaskan tangan Evelyn.
"Apa ini penghinaan atas keluarga kami tuan Handoko?" Tuan Sanjaya menatap tuan Handoko yang duduk di depannya.
"Penghinaan atas dasar apa tuan Sanjaya? Putraku sudah memiliki anak, lau apa yang harus kami lakukan?"
"Alex dan Evelyn sudah bertunangan 5 tahun dan sekarang dengan seenaknya putramu memutuskan pertunangan itu dengan alasan mempunyai anak."
"Tuan Sanjaya, kakakku memang sudah memiliki anak."
Tuan Sanjaya menatap tajam Andra yang ikut berbicara, dengan rasa marah dia membawa Evelyn dan istrinya pergi meninggalkan keluarga Handoko.
Tuan Handoko dan nyonya Handoko menatap Alex untuk meminta penjelasannya.
"Nak, apa benar mama mempunyai cucu lain?" Alex mengangguk.
"Kenapa kamu tidak membawanya bertemu kami, dan kenapa kamu menutupinya dari papa dan mamamu."
"Dia membenci Alex, karena aku sudah merusak hidupnya."
Alex pun menceritakan semuanya dari awal tuan Sanjaya memasukkan obat dalam minumannya saat menghadiri pesta menyambut rekan bisnisnya di kota X.
Tuan Handoko sangat marah saat mengetahui keluarga Sanjaya telah melakukan hal yang menjijikkan terhadap putra sulungnya.
"Papa bersyukur akhirnya keluarga Handoko terlepas dari keluarga Sanjaya."
"Iya pa, mama ingin bertemu dengan cucu mama, apa kamu bisa mempertemukan kita nak?"
"Alex akan usahakan ma, tapi untuk sementara belum bisa karena Kanaya masih membenci Alex."
Di kediaman keluarga Sanjaya "Papa aku tidak ingin kehilangan kak Alex." Evelyn menangis saat mereka masuk kedalam rumah.
"Mereka sekarang bermain-main dengan keluarga Sanjaya."
"Pa bagaimana pun caranya aku ingin pernikahanku dengan kak Alex tetap dilaksanakan." Evelyn memeluk papanya.
****
Kira, Adara dan Kavin sudah berada di sekolah, mereka bertiga kini berada di dalam kelas mengikuti kegiatan belajar.
"Adara paman besarku akan menjemput kita nanti." Bisik Kira lalu menoleh kearah Kavin yang sedang menatapnya.
"Aku tidak bisa Kira, bunda menyuruhku dan kak Kavin untuk pulang bersama." Ucap Adara sedih.
"Kenapa?" Adara menganggkat bahunya.
"Baiklah anak-anak sekarang semuanya istirahat dan bermain." Ucap guru pembimbing.
Nyonya Handoko mendatangi toko kue Kanaya dan Jenni, dia sudah tau bahwa pegawai yang pernah melayaninya adalah ibu dari cucunya. Alex sudah menceritakan semuanya termasuk alamat rumah Kanaya dan alamat tokonya, nyonya Handoko keluar dari mobilnya dan berjalan kepintu masuk toko kue.
"selamat siang nyonya." Kanaya memberikan senyuman manis kepada nyonya Handoko.
"Kanaya bisa berbicara sebentar."
"Baiklah nyonya." Mereka berdua duduk di meja tak jauh dari kasir.
"Ada apa nyonya."
"Aku mamanya Alex."
DEG...
Raut wajah Kanaya berubah dia tidak ingin berurusan dengan keluarga pria itu, tapi dia tidak mungkin kurang ajar dengan orang tua.
"Apa tujuan nyonya mencari saya." Kanaya meremas jemarinya.
"Kanaya, Alex sudah menceritakan semua kejadian yang menimpa kalian." Nyonya Handoko menyentuh tangan Kanaya.
"Saya tidak ingin masa lalu di ungkit kembali nyonya." Kanaya menarik tangannya.
"Apa kamu tidak ingin mempertemukan nenek dan kakeknya pada cucu kami."
Kanaya hanya diam mendengar ucapan nyonya Handoko.
"Jika kamu tidak ingin memaafkan Alex juga tidak apa-apa, tapi mereka tetap memiliki darah keluarga Handoko dan Alex tetap ayah mereka. Baiklah kalau begitu saya pamit Kanaya, saya harap kamu bisa berfikir jangan menolak, anak kalian butuh keluarga nantinya." Nyonya Handoko pun keluar dari toko.
Jenni pun menghampiri Kanaya yang sedang menangis di meja, Jenni mengusap bahu Kanaya.
"Jen, Aku sangat membencinya."
"Aku sependapat dengan nyonya Handoko Kanaya." Kanaya menatap Jenni.
"Pikirkan Adara dan Kavin Kanaya, mereka juga membutuhkan kasih sayang seorang ayah."
"Tanpa ayah mereka bahagia Jen."
"Itu menurutmu Kanaya, Kavin dan Adara pasti butuh sosok ayah." Jenni menyakinkan Kanaya.
Kanaya kembali menangis di pelukan Jenni, dia belum bisa memaafkan Alex tapi Jenni benar dia tidak boleh egois memikirkan dirinya sendiri sedangkan anak-anaknya membutuhkan ayah dalam hidup mereka.
***
Di kantor, Alex tampak sibuk dengan komputernya tiba-tiba ponselnya berdering tak ada nama yang tertera di layarnya.
"Halo."
"....."
"Ka-kanaya."
"....."
"Oke, aku akan kesana sekarang." Alex pun mengambil jasnya dan kunci mobilnya lalu pergi.
"Kakak mau kemana?" Andra yang melihat Alex keluar dari ruangannya mengikuti Alex sampai di depan lift.
"Aku ada urusan tolong pimpin rapat aku mempercayakanmu."
"Tapi kak."
Alex tak menghiraukan Andra dan masuk kedalam lift, Alex pun sampai di parkiran dan masuk kedalam mobilnya lalu pergi neninggalkan perusahaan.
Tak lama Alex pun sampai di sebuah Cafe dia pun masuk dan melihat Kanaya yang sudah sampai duluan, Alex pun mendekatinya dan duduk di depan Kanaya.
"Kanaya."
"Aku masih membencimu, tapi aku tidak bisa egois pada anakku terutama Adara." Ucap Kanaya tanpa basa basi.
"Apa kamu akan memberiku kesempatan Kanaya?"
Kanaya menatap Alex begitu pun dengan Alex pandangan mereka terkunci satu sama lain.
"Permisi, tuan dan nyonya ingin meminum apa?" Tanya seorang pelayan.
Kanaya langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain sedangkan Alex langsung memesan "Kopi latte panas, Kanaya kamu mau apa?"
"Ah, Coklat panas saja."
"Silahkan di tunggu tuan dan nyonya." Pelayan pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Aku akan menikahimu Kanaya."
"Apa? Tidak perlu, aku tidak membutuhkan itu cukup tuan penuhi kewajiban sebagai seorang ayah untuk Kavin dan Adara."
"Izinkan aku memberikan kalian keluarga dan kebahagiaan, kita bisa menjadi orang tua utuh untuk anak kita Kanaya."
"Aku tidak bisa." Kanaya tetap pada pendiriannya.
"Aku akan mengejarmu dan akan membuatmu mau menerimaku Kanaya." Kanaya pun hanya diam.
Tak lama pesanan mereka pun datang, Alex mulai bertanya tentang Kavin dan Adara Kanaya pun menceritakan semuanya.
"Kita akan menjemput Kavin dan Adara." Ucap Alex.
"Aku tidak bisa ikut, saat ini toko lagi ramai Jenni akan kewalahan. Aku titip Kavin dan Adara." Jawab Kanaya
"Apa aku boleh membawanya bertemu dengan orang tuaku Kanaya."
"Ya, mereka berhak melihat cucunya. Jadi aku duluan."
"Biar aku antar." Alex pun berdiri.
Mereka pun keluar dari Cafe dan menuju kemobil Alex di parkiran, dalam perjalanan tak ada percakapan yang terjadi hanya suara deru mesin mobil yang mereka dengar. Hanya 20 menit mobil Alex pun berhenti di depan toko kue yang terlihat ramai, Kanaya pun keluar dari mobil dan berjalan meninggalkan mobil Alex yang masih terparkir di depan toko.
Bersambung.....
dah bertahun2 ....
dad Al..kenapa lom ktmu jg..